Translate To

Kamis, 11 April 2013

Teknologi Reproduksi Ruminansia Dan Unggas


PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Mamalia memiliki alat reproduksi yang lengkap dan sempurna. Pada mamalia jantan alat reproduksinya meliputi gonad (testis) dan saluran reproduksi yang meliputi duktus genitalis, kelenjar-kelenjar tambahan dan penis. Testis merupakan kelenjar tubuler kompleks yang mempunyai dua fungsi yaitu fungsi reproduksi dan fungsi hormonal. Testis dikelilingi oleh kapula jaringan penyambung kolagen, tunika albugenia. Tunika albugenia mempunyai penebalan pada bagian posterior, mediastinum testis, dimana septa fibrosa menonjol ke dalam kelenjar, membagi kelenjar menjadi 250 ruang-ruang pyramidal yang dinamakan lobulus testis. Sistem reproduksi betina terdiri atas sepasang ovarium dan saluran reproduksi betina, serta serviks.  Pada  mamalia dilengkapi organ kelamin luar (vulva) dan kelenjar, Reproduksi merupakan proses  dimana suatu individu menghasilkan individu baru,melalui genetic atau keturunan dan hal ini berguna untuk melangsungkan kehidupanspesies. Semua mamalia bereproduksi secara seksual yaitu fertilisasi internal. (Lytle andjohn.2000) Terdapat  dua  modus  utama  reproduksi  hewan.  Reproduksi  aseksual  adalahpenciptaan individu baru yang semua gennya berasal dari satu induk tanpa peleburantelur dan sperma. Pada sebagian besar kasus, reproduksi aseksual secara keseluruhanmengandalkan pembelahan sel secara mitosis. Reproduksi seksual adalah penciptaanketurunan melalui peleburan gamet haploid untuk membentuk gamet yang diploid.Gamet dibentuk melalui meiosis. (Campbell.2004).
Testis terdiri dari kelenjar-kelenjar yang berbentuk tubulus, dibungkus oleh selaput tebal yang disebut tunika albugenia. Pada sudut posterior organ ini terbungkus oleh selaput atau kapsula yang disebut mediastinum testis. Septula testis merupakan selaput tipis yang meluas mengelilingi mediastinum sampai ke tunika albugenia dan membagi testis menjadi 250-270 bagian berbentuk piramid yang disebut lobuli testis. Isi dari lobulus adalah tubulus seminiferus, yang merupakan tabung kecil panjang dan berkelok-kelok memenuhi seluruh kerucut lobulus. Muara tubulus seminiferus terdapat pada ujung medial dari kerucut. Pada ujung apikal dari tiap-tiap lobulus akan terjadi penyempitan lumen dan akan membentuk segmen pendek pertama dari sistem saluran kelamin yang selanjutnya akan masuk ke rete testis.
Dinding tubulus seminiferus terdiri dari tiga lapisan dari luar ke dalam yaitu tunika propria, lamina basalis dan lapisan epitelium. Tunika propria terdiri atas beberapa lapisan fibroblas, yang berfungsi sebagai alat transportasi sel spermatozoa dari tubulus seminiferus ke epididimis dengan jalan kontraksi. Lapisan epitel pada tubulus seminiferus terdiri dari dua jenis sel yaitu sel-sel penyokong yang disebut sebagai sel sertoli dan sel-sel spermatogonium. Sel-sel spermatogonium merupakan sel benih sejati, karena sel-sel inilah dihasilkan spermatozoa melalui pembelahan sel. Sel-sel spermatogonium tersusun dalam 4-8 lapisan yang menempati ruang antara membrana basalis dan lumen tubulus.
Sel sertoli berbentuk panjang, berdasar luas, melekat pada membrana basalis, berfungsi merawat sel spermatozoa yang baru saja terbentuk, menghasilkan semacam hormon (inhibin), menghasilkan protein pembawa hormon jantan (ABP = Androgen Binding Protein) dan menghasilkan cairan testis. Diantara lobuli pada testis didapatkan sel-sel yang berbentuk poliglonal disebut sebagai sel interstitiil atau sel leydig yang merupakan sistem endokrin testisTestes sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu 1) mengahasilkan spermatozoa atau sel-sel kelamin jantan, dan 2) mensekresikan hormon kelamin jantan, testosteron. Spermatozoa dihasilkan dalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone), sedangkan testosteron diproduksi oleh sel-sel intertitial dari Leydig atas pengaruh ICSH (Intertitial Cell Stimulating Hormone) (Toelihere, 1979).
Pemanfaatan pengawet semen mulai berkembang setelah ditemukannya gliserol oleh Polge pada tahun 1949 (Royere et al., 1996) dengan kemasan yang digunakan pertama kali berbentuk pellet. Kemasan semen lain yang berkembang selanjutnya adalah ampul, mini (0,25 ml) dan medium (0,5 ml) straw, minitub (0,25 dan 0,3 ml), macrotub (5 ml) serta kemasan plitplat (5ml) yang digunakan pada semen beku babi. Kemasan yang sekarang populer dan digunakan secara universal adalah kemasan straw 0,25 dan 0,5 ml Cassou (IMV, Prancis) dan minitub 0,25; 0,3 dan 0,5 ml (Minitub, Jerman). Di Indonesia saat ini terdapat dua balai inseminasi buatan (BIB) nasional dan beberapa balai inseminasi buatan daerah (BIBD), yang menggunakan dua kemasan straw, yaitu ministraw dan minitub.Untuk menghasilkan semen beku yang berkualitas tinggi dibutuhkan bahan pengencer semen yang mampu mempertahankan kualitas spermatozoa selama proses pendinginan, pembekuan, maupun pada saat thawing (Aboagla dan
Terada, 2004a). Karena itu, bahan pengencer semen beku harus mengandung sumber nutrisi, buffer, bahan anti cold shock, antibiotik, dan krioprotektan yang dapat melindungi spermatozoa selama proses pembekuan dan thawing. Sumber nutrisi yang paling banyak digunakan adalah karbohidrat terutama fruktosa yang paling mudah dimetabolisasi oleh spermatozoa (Toelihere, 1993). Buffer berfungsi sebagai pengatur tekanan osmotik dan juga berfungsi menetralisir asam laktat yang dihasilkan dari sisa metabolisme spermatozoa. Buffer yang umum digunakan adalah tris (hydroxymethyl) aminomethan yang mempunyai kemampuan sebagai penyangga yang baik dengan toksisitas yang rendah dalam konsentrasi yang tinggi (Steinbach dan Foote, 1967). Bahan anti cold shock yang umum ditambahkan adalah kuning telur atau kacang kedelai (Aboagla dan Terada, 2004b), yang dapat melindungi spermatozoa pada saat perubahan suhu dari suhu ruang (28oC) pada saat pengolahan ke suhu ekuilibrasi (5oC). Saat ini secara meluas telah dan digunakan bahan pengencer yang mengandung buffer seperti tris (hydroxymethyl) aminomethan yang secara universal digunakan untuk semen beku sapi (Davis et al., 1963; Anzar dan
Graham., 1995); semen kambing (Suwarso, 1999); semen domba (Hahn, 1972; Maxwell dan Salamon, 1993); semen anjing (Yildiz et al., 2000) dan semen ayam
(Sexton, 1978; Abdillah, 1999). Selain pengencer semen yang dapat dibuat berdasarkan resep, terdapat berbagai pengencer kemasan yang telah beredar dan dapat diperoleh di pasaran seperti Biochiphos dan Bioexcel (IMV, Perancis) juga triladyl, biladyl dan pengencer AndroMed (Minitub Jerman) yang menggunakan lesitin dari kacang kedelai (KK).
Agar kualitas dan fertilitas sperma tetap tinggi, maka dalam proses penyimpanan perlu ditambahkan suatu larutan atau bahan pengencer (extender) dan bahan pengawet (cryoprotectant) ke dalam sperma.  Penambahan bahan-bahan tersebut bertujuan untuk memperpanjang daya tahan hidup spermatozoa, sehingga dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama.
Penyimpanan jangka pendek biasanya cukup menggunakan extender. Extender adalah suatu bahan yang digunakan untuk melarutkan sperma ikan.  Extender sering kali disebut sebagai artificial seminal plasma, karena pembuatan extender harus mempertimbangkan bahan-bahan yang ada di dalam seminal plasma. Komposisi extender harus sama dengan komposisi yang ada di dalam seminal plasma sperma ikan yang diawetkan.
Fungsi dari bahan pengencer (extender) yang merupakan sumber energi, melindungi sperma terhadap kerusakan akibat pendinginan yang cepat, mencegah pengaruh yang merugikan seperti perubahan pH akibat terbentuknya asam laktat, mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit, menghambat pertumbuhan bakteri, mempertahankan fertilitas sperma yang disimpan, sehingga dapat digunakan untuk inseminasi dan memproduksi sel spermatozoa selama pembekuan.
Minuman ber-ion atau yang lebih dikenal dengan minuman isotonik, merupakan minuman yang mengandung berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh, seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, karbohidrat, dan vitamin yang dapat menggantikan cairan tubuh setelah beraktivitas atau yang hilang karena proses metabolisme.  Minuman ini disebut juga isotonik karena keseimbangan kepekatan larutan yang masuk sama dengan kepekatan cairan darah. Cairan isotonik dalam bidang farmasi biasanya digunakan untuk membuat larutan infus. Larutan ini dapat dibuat dengan menambahkan garam sampai kepekatan larutan mencapai  0,9 %, disebut juga larutan garam fisiologis.  Minuman ber-ion ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan extender dalam penyimpanan sperma jangka pendek karena sifatnya yang sama dengan cairan tubuh


Tujuan dan Manfaat
            Tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengenali dan mengetahui system organ reproduksi ruminansia betina dan ayam betina, mengenali dan mengetahui histology ovarium dan testis dan memahami proses ataupun jalannya pembentukan sel kelamin jantan dan betina, dan metode penampungan semen serta pengawetan semen yang dilakukan dengan menggunakan pengawet dari kuning telur dan air kelapa.


MATERI DAN METODA
Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan di Gedung C laboratorium Fisiologi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Jambi, pada hari selasa, yang dimulai pada tanggal 26 April 2011 s.d 31 juni 2011 dan dimulai pukul 10.00 WIB s.d selesai

Materi
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah saluran reproduksi jantan ternak kambing betina, saluran reproduksi ternak unggas betina, cutter, dan plastic terpal, preparat histology ovarium dan testis, mikroskop, objek gelas, dan cover gelas, semen sperma dan ayam, mikroskop, vagina buatan, air hangat, mikroskop, cover glass, objek gelas.

Metode
            Cara kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah dengan mengamati saluran reproduksi ternak kambing betina dan unggas betina sesuai dengan salurannya, yakni yang dimulai dari ovarium sampai ke vulva, kemudian dilakukan pengukuran masing-masing organ dan menuliskan hasilnya dalam bentuk laporan.
            Cara kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah dengan mengamati preparat histology testis dan ovarium, mengamati jalan pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan sel kelamin betina (ovum),  serta menggambarkan hasil yang diperoleh dalam laporan praktikum
            Cara kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah dengan melakukan penampungan semen ayam dan semen sapi dengan vagina buatan, kemudian membuat pengencer yang terbuat dari air kelapa, dan kuning telur, kemudian diawetkan dan diamati dibawah mikroskop, pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan secara mikroskpis dan makroskopis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Anatomi saluran reproduksi kambing betina
     Kambing lokal (Capra aegagrus hircus) adalah sub species dari kambing liar yang tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa. Kambing merupakan suatu jenis binatangmemamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan dan kambing liar betinamemiliki perbedaan fisik yang tampak. Umumnya kambing memiliki jenggot, dahicembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu kurus dan keras.Panjang tubuhkambing liar, tidak termasuk ekor adalah 1.3 meter – 1.4 meter, sedangkan ekornya 12cm – 15 cm. Bobot yang betina 50 kg – 55 kg, sedangkan jantan dapat mencapai 120kg Pada sebagian besar spesies mamalia organ reproduksi eksternal jantan adalahskrotum dan penis. Organ reproduksi internal terdiri atas gonad yang menghasilakangamet dan hormon, kelenjar aksesoris yang mengsekresikan produk yang esensial bagi pergerakan sperma, dan sekumpulan duktus yang membawa sperma dan sekresigrandula. Struktur reproduksi eksternal  pada betina adalah klitoris dan dua pasanglabia yang mengelilingi klitoris dan lubang vagina. Organ reproduksi internal terdiridari sepasang gonad dan sebuah sistem yang terdiri dari duktus dan ruangan untuk menghantarkan gamet dan menampung embrio dan fetus. (Campbell.2004).Testis terletak diantara dua kantong seretal dan di bawah rongga fortuneal (abdominal)yang merupakan awal dari pertumbuhan. Pada mamalia jantan testis berkembang dariperitoneal  menembus  saluran  inguinal  masuk  ke  kantung  skroatal.  Epididimisberkumpul membelit tubulus sepanjang satu bagian pada masing-masing testis yangberhubungan dengan vas deferens. Dan penis terletak hanya di bawah kulit posterior menuju ke tali umbilicus. (Lytle and John.2005)Sistem reproduksi pada hewan betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus. Sistem tersebut tidak hanya menerima telur- telur yang diovulasikan oleh ovarium dan membawa telur-telur ke tempat implantasi yaitu uterus,tetapi juga menerima sperma dan membawanya ke tempat fertilisasi yaitu oviduk. Sistem reproduksi betina terdapat sepasang ovarium. Ovarium tersebut terletak dekat ginjal, yaitu tempat ovarium pertama kali mengalami diferensiasi. Ukuran ovarium sangat tergantung pada umur dan status reproduksi betina.
Perbandingan antara gambar hasil pemotretan dengan hasil gambar mekanik melalui pengamatan hewan tersebut diamati dan digambar
Keterangan :
  1. Ovarium
  2. Oviduct
  3. Horn Uterus
  4. Uterus
  5. Kandung Kemih
  6. Serviks
  7. Vagina
  8. Anus
 
kambing2
 


                                                                                   






Gambar 3.1.1 Sistem reproduksi kambing betina


Anatomi saluran reproduksi Ayam betina
            Organ betina menempel pada permukaan dorsal pada masing-masing ovarium adalah sebuah bagian yang rumit, yaitu tuba falopi yang terletak di rongga cilia,disebut infudibulum dan berakhir di masing-masing tuba falopi. Pada bagian awal danakhir pada tuba falopi disebut abdominal ostium. Bagan  pada falopi yaitu usus, perut, pankreas dan limpa kecil. Dari hati, darah didorong menuju pembuluh darah paru-paruke vena cava dan kembali ke hati. (Lytle and John.2005)
http://pertanian.uns.ac.id/~adimagna/ReproduksiBetina.jpg

Ovarium
Ovarium pada unggas dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur 12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin.
Ovarium terbagi dalam dua bagian, yaitu cortex pada bagian luar dan medulla pada bagian dalam. Cortex mengandung folikel dan pada folikel terdapat sel-sel telur. Jumlah sel telur dapat mencapai lebih dari 12.000 buah. Namun, sel telur yang mampu masak hanya beberapa buah saja (pada ayam dara dapat mencapai jutaan buah).
http://pertanian.uns.ac.id/~adimagna/Ovarium.jpg

Folikel akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid pakan ataupun karotenoid yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun folikel menjadikan lapisan konsentris tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang merupakan sintesis asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai volikel atau ovum yang dinamakan yolk(kuning telur).
Dikenal tiga fase perkembangan yolk, yaitu fase cepat antara 4-7 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 10-8 hari sebelum ovulasi, serta pada 1-2 hari sebelum ovulasi. Akibat perkembangan cepat tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kadar xantofil dan karotenoid pada pakan yang dibelah oleh latebra yang menghubungkan antara inti yolk dan diskus germinalis.
Folikel dikelilingi oleh pembuluh darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui pembuluh darah ini, ovarium mendapat suplai makanan dari aorta dorsalis. Material kimiawi yang diangkut melalui sistem vaskularisasi ke dalam ovarium harus melalui beberapa lapisan, antara lain theca layer yang merupakan lapisan terluar yang bersifat permeabel sehingga memungkinkan cairan plasma dalam menembus ke jaringan di sekelilingnya. Lapisan kedua berupa lamina basalis yang berfungsi sebagai filter untuk menyaring komponen cairan plasma yang lebih besar. Lapisan ketiga sebelum sampai pada oocyte adalah lapisan perivitellin yang berupa material protein bersifat fibrous (berongga).
Dalam membran plasma, oocyte (calon folikel) berikatan dengan sejumlah reseptor yang akan membentuk endocitic sehingga terbentuklah material penyusun kuning telur. Sehingga besar penyusutan kuning telur adalah material granuler berupa high density lipoprotein (HDL) dan lipovitelin. Senyawa ini dengan ion kuat dan pH tinggi akan membentuk kompleks fosfoprotein, fosvitin, ion kalsium, dan ion besi. Senyawa-senyawa ini membentuk vitelogenin, yaitu prekursor protein yang disintesis di dalam hati sebagai respon terhadap estradiol.
Komponen vitelogenin lebih mudah larut dalam darah dalam bentuk kompleks lipida kalsium dan besi. Oleh adanya reseptor pada oocyte, akan terbentuk material kuning telur. proses pembentukan vitelogenin ini dinamakan vitelogenesis.
Penyusun utama kuning telur adalah air, lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur diklasifikasikan menjadi dua kategori:
1.    Livetin, yakni protein plasmatik yang terakumulasi pada kuning telur dan disintesis di hati hampir 60% dari total kuning telur.
2.    Phosvitin dan lipoprptein yang terdiri dari high density lipoprotein (HDL) dan low density lipoprotein (LDL) yang disebut pula dengan granuler dan keduanya disintesis dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari disintesis 2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesis ini dikontrol oleh hormon estrogen. Hasil sintesis bersama-sama dengan ion kalsium, besi dan zinc membentuk molekul kompleks yang mudah larut kemudian masuk ke dalam kuning telur.
Urutan perjalanan terbentuknya sebutir telur pada saluran reproduksi ayam betina adalah sebagai berikut:
a. Infundibulum/papilon : panjang 9 cm fungsi untuk menangkap ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang mengelilingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian ini berkisar 15-30 menit. Pembatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa sebelum terjadi pembuahan.

b. Magnum : bagian yang terpanjang dari oviduk (33cm). Magnum tersusun dari glandula tubiler yang sangat sensibel. Sintesis dan sekresi putih telur terjadi disini. Mukosa dan magnum tersusun dari sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam.

c.Isthmus: mensekresikan membran atau selaput telur. Panjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini berkisar 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan warna merah.

d. Uterus : disebut juga glandula kerabang telur, panjangnya 10 cm. Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu dehidrasi putih telur atau /plumping/ kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur. Warna kerabang telur yang terdiri atas sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20 – 21 jam.

e. Vagina: bagian ini hampir tidak ada sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali pembentukan kutikula. Telur melewati vagina dengan cepat, yaitu sekitar tiga menit, kemudian dikeluarkan (/oviposition/) dan 30 menit setelah peneluran akan kembali terjadi ovulasi.

f. Kloaka: merupakan bagian paling ujung luar dari induk tempat dikeluarkannya telur. Total waktu untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Ini salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari. Di samping itu, saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal. Artinya, hanya oviduk bagian kiri yang mampu berkembang. Padahal, ketika ada benda asing seperti /yolk/ (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi. Proses pengeluaran telur diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian belakang.

Histologi ovarium
Vertebrata umumnya mempunyai sepasang indung telur (ovarium) yang terletak didorsal rongga badan, kecuali spesies burung hanya mempunyai satu ovarium.Ovarium pada hewan betina merupakan gudang dan tempat produksi oosit. Setiap ovarium mengandung oosit dalam jumlah yang sangat banyak, tetapi hanya sedikit sekali dari I jumlah oosit tersebut yang dimatangkan dan diovulasikan selama masa subur atau pada masa reproduktif. Ovarium berbentuk oval dengan panjang 3 - 4 cm. Ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah pinggang. Umumnya setiap ovarium menghasilkan ovum setiap 28 hari. Ovum yang dihasilkan ovarium akan bergerak ke saluran reproduksi. Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen dan progesteron.
Ovarium mamalia berbentuk pipih bila dalam keadaan istirahat, sedang dalam masa reproduksi berbentuk bulat panjang dan pada permukaan tampak seperti bisul-bisul, itulah folikel yang masak. Fase folikel ialah masa pertumbuhan folikel sejak dari primer, sekunder, tertier, sampai folikel De Graf. Sel telur yang masih muda dikelilingi oleh 1 lapis sel folikel yang disebut folikel primer. Lapisan sel itu bertambah banyak maka disebut folikel sekunder. Akhirnya folikel tertier yang sudah mempunyai rongga antara sel-sel folikel. Folikel De Graf sudah berbentuk ketika anak umur 7 tahun, tetapi baru matang dan melakukan ovulasi setelah akil balig pada umur 12-13 tahun. Pertumbuhan folikel dirangsan oleh FSH  dan LH dari hipofosa.
Organ reproduksi luar terdiri dari:Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterusdengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan?keluarnya bayi. Sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara.Vulva merupakan suatu celah yang terdapat dibagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :Labium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak dibagian luas dan membatasi vulva. Labium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak d bagian dalam dan membatasi vulva 
Organ reproduksi dalam terdiri dari : Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam tongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormone wanita seperti : Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum.Progesterone yang berfungsi dalam memelihata masa kehamilan.
Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikelurakan oleh ovarium.

Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae. Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan abantuan silia pada dindingnya.
Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutandari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus denga bantuana silia pada dindingnya. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk sperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus. Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya. Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak terjadi pembuahan maka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang. Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada vagina. Klitoris merupakan tonjolan kecil yangt erletak di depan vulva.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXWW0JB18FQid6QukJUweAkozUPyD0-2wgt2gZBess1p8zItRoxkdLD0U0TcOzP5S_aVDSB7Ox-1x3thhZ4xKIhKrhHV4IeOQ25R44GNKGu2UKL1P_-qwxoTzWO-Oxww3MM2tMmNfnOE0c/s200/1+ovary.jpg
Ovarium







Gambar histologi Ovarium
Indung telur ovarium berjumlah sepasang, kiri dan kanan, bentuknya lonjong agak gepeng. Berada dalam rongga peritoneum, menggantung pada ligament besar oleh selaput peritoneum sendiri, disebut mesovarium. Menggantung pula pada uterus oleh ligamen ovarium. Lapisan terluar ovarium terdiri dari epitel germinal, selapis sel bentuk kubus yang berasal dari selaput peritoneum. Ovarium terdiri dari dua bagian, yaitu korteks dan medulla. Korteks adalah bagian kulit ovarium, di bawah epitel germinal. Terdiri dari jaringan ikat interstisial, yang disebut stroma. Diantara stroma terdapat banyak folikel . Folikel mengandung sel telur (oosit) dalam berbagai tingkat pertumbuhan. Setiap oosit diselaputi oleh sel folikel. Berbatasan dengan epitel germ inal, stroma memadat membentuk lapisan, disebut tunca albuginea. Stroma banyak mengandung serat retikuler dan sel bentuk gelendong mirip fibroblast (Cormack, 1994).
Medulla adalah bagian sumsum ovarium. Batas korteks dan medulla tidak tampak. Medulla terdiri atas jaringan ikat. Bagian ini banyak mengandung pembuluh darah, sehinga sumsum disebut juga zona vasculosa (Marieb, 2004).Dalam srtoma terdapat banyak folikel. Flikel sudah terbentu pada masa embrio, dan waktu wanita akil baligh jumlah folikel dalam sebelah ovarium sejumlah 20.000 butir. Ketika usia lanjut, folikelnya kian susut dan menagalami degenerasi yang disebut atresia. Ketika atresia, mitosis folikel terhenti, dan sel-sel lepas dari susunannya menyelaputi oosit. Oosit sendiri jadi mati dan autolysis. Tempat folikel yang atresia itu diisi oleh jaringan stroma (Kerr, 1998).  
Sekitar 0.25% saja folikel yang mengalami pertumbuhan sesuai dengan oosit yang dikandung. Terdapat tiga tahap pertumbuhan folikel yaitu (Yatim, 1990):


1.Folikel primordial
Terdiri dari satu oosit primer yang diselaputi oleh selapis sel folikel yang gepeng. Oosit I tumbuh dari mitosis oogonium, disusul dengan meiosis I sampai tingkat profase saja. Kemudian berhenti kemudian folikel itu menjadi dormant. Folikel tersebut akan tumbuha jika wanita telah dewasa.

2.Folikel tumbuh

Folikel primordial yang tumbuh menjadi folikel matang, kemudian terjadi ovulasi. Pertumbuhan itu terdapat tiga tahap, sehingga folikel tumbuh dibagi menjadi folikel primer, folikel sekunder dan folikel tertier. 

3.Folikel Graaf
Folikel Graaf disebut juga folikel matang. Oosit dengan selaput sel folikel yang terdiri dari beberapa lapis yang berada dalam cumulus oophorus, satu tonjolan stratum granulosum ke antrum. Antrum kini menjadi satu dan lebih luas daripada folikel tertier. Rongganya berisi cairan yang disebut liquor folliculi. Lapisan sel folkel yang menyelaputi oosit disebut corona radiata. 




Tuba fallopi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgp1kOPWQ4SRcg26RyKx0Nuv7K8szZPClv8AB6KD5fvZiyX7EpY14Rv_lba-MdBUolD11bxOL55mzffowbRT3x9wzuIVVBH-RlZ0d5eJ9eI7JdZr0bdPR2S4HG_X2c6v7D_KCkGEsanDFp3/s200/1Uterinetube1.jpg











Gambar histologi Tuba Fallopi

Tuba fallopi disebut juga tuba uterina atau oviduk. Bagian kelamin ini menampung telur yang ovulasi, tempat terjadinya pembuahan, kemudian menyalurkan oosit yang sudah dibuahi ke dalam uterus. Tuba sepasang kiri dan kanan, sesuai dengan ovarium yang sepasang. Bagian ujung yang menampung oosit disebut infundibulum dan tonjolannya yang menjarimembentuk penadah, disebut fimbriae (Yatim, 1990). 
Dinding saluran ini terdiri dari tiga lapisan yaitu tunika mucosa. Tunika muscularis dan tunika serosa. Tunika mucosa, terdiri atas jaringan epitel, yang selnya selapis bentuk batang, atau berlapis semu. Sel epitel dapat dibedakan atas dua macam, yaitu sel bersilia dan sel penggetah. Sel bersilia untuk mengayuhkan bahan yang ada dalam lumen yang berisi lendir. Sel penggetah befungsi untuk menghasilkan lendir, sebagai media bagi oosit atau spermatozoa. Sel bersilia lebih rendah daripada sel penggetah. Sel penggetah mengandung banyak granula sekresi (Marieb, 2004). 
Tunika mucosa membentuk tonjolan bercabang. Tonjolan itu membentuk beberapa alur longitudinal, yang diduga untuk melancarkan penyaluran spermatozoa atau oosit yang sudah dibuahi..Tunika muscularis terletak di bawah tunika mucosa, keduanya dibatasi oleh lapisan jaringan ikat yang tipis. Tunika ini terdiri atas serat otot polos yang terdiri dari dua lapis, sirkuler sebelah dalam, longitudinal sebelah luar. Lapisan otot ini berperan untuk kontraksi tuba, yang perlu untuk melancarkan transport spermatozoa atau oosit. Tunika serosa adalah penerusan selaput peritonium, terdiri atas jaringan ikat, dan disebelah luar dilapisi olewh sel mesotel yang gepeng (Cormack, 1994). 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh9bh6HNrnEBEuN2kmLthgzVhhe_75o1ZUeq9w5407fXUC0LCXL1AL21-uDQg0CirP7934O4LmFtd4QWB3EfUVJIOlXmNCquGOnQ296K5fjg3ZCfWhxOpjvLj8MAxSIX-iiD_kNqu6ziEMl/s200/1+uterus.jpg
Uterus








Gambar histologi uterus
Rahim atau uterus berada ditengah atau hanya ada satu. Pada bagian anteriornya bermuara tuba sepasang kiri dan kanan, dan ke bagianposteriornya bermuara vagina. Seperti pada tuba fallopi, dinding uterus juga terdiri dari tiga lapisan yaitu tunika mucosa, tunika muscularis dan tunika serosa. Tunika mucosa dikenal sebagai endometrium. Terdiri atas jaringan epitel dan lamina propia. Sel epitel berbentuk batang dan dibedakan menjadi sel bersilia dan sel penggetah. Di bawah lapisan epitel terdapat lamina propia yang mengandung banyak kelenjar yang mengetahkan lendir. Sel lebih banyak daripada serat dalam lapisan ini, sehingga disebut endometrium yang serupa dengan mesenkhim (jaringan ikat embrio). Dalam endometrium ditemukan banyak arteri yang melilit.Tunika muscularis terletak dibawah tunika mucosa, lebih dikenal dengan sebutan myometrium. Terdiri dari jaringan otot polos dan sedikit jaringan ikat. Lapisan ini sangat tebal, hingga mencapai 2-3 cm. Dapat dibedakan menjadi empat strata, yaitu stratum submucosum, stratum vaskulare, stratum supravasculare, dan stratum subserosum. Tunika serosa terdiri dari serat kolagen dan fibroblast. Terkadang juga ditemukan serat elastis dan retikulosa. Bagian terluarnya dilapisi mesotel yang merupakan terusan peritoneum




Histologi testis
Organ reproduksi dalam terdiri dari :Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan menghasilkan sel-sel sperma serta hormone testosterone. Dalam testis banyak terdapat saluran halus yang disebut tubulus seminiferus. Epididimis merupakan saluran panjang yang berkelok yang keluar dai testis. Berfungsi untuk menyimpan sperma sementara dan mematanagkan sperma.
Vas deferens merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah ke atas dan berujung di kelenjar prostat. Berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula seminalis. Saluran ejakulasi merupakan saluran yang pendek dana menghubungkan vesikula seminalis dengan urethra. Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan terdapat di penis.

Kelenjar pada organ reproduksi pria
Vesikula seminalis merupakan tempat untuk menampung sperma sehingga disebut dengan kantung semen, berjumlah sepasang. Menghasilkan getah berwarna kekukingan yang kaya akan nutrisi bagi sperma dan bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran reproduksi wanita. Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar dan menghasilkan getah putih yang bersifat asam. Kelenjar Cowper’s/Cowpery/Bulbourethra merupakana kelenjar yang menghasilkan getah berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran urethra.





https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCnhtDDIGQDn5snq08W2YZLRCJNDOO8qdR51BVzrps2pq-1KbYZPnPGYLdYtYCan7iulUcPptMrb_5xYEEYoNcEcpEzrCNh8tztYdKJGSThJ9Dtznra-W8eJx72O9v5_34Ym_EKFLw5rIH/s200/testis.jpg
Testis









Gambar histologi testis
Testis adalah kelenjar penghasil gamet, sedikit cairan mani dan hormon. Karena itu, alat ini disebut kelenjar utama. Manusia (pria) mempunyai dua testis yang dibungkus dengan skrotum. Pada tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu testis akan diturunkan, otot kremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh. Fenomena ini dikenal dengan refleks kremaster. Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi sperma (banyaknya spermatogenesis), cairan intersisial, dan produksi cairan dari sel Sertoli. Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja salah satu terletak lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini diakibatkan perbedaan struktur anatomis pembuluh darah pada testis kiri dan kanan. Testis berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin, yaitu : memproduksi sperma (spermatozoa) dan memproduksi hormon seks pria seperti testosteron.
Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau tengah berkembang. Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis. Bila mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya (semua disebut air mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan akhirnya, penis. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang disebut sel intersisial Leydig. Sel Leydig memproduksi hormon testosteron. Sawar darah testis Molekul besar tidak dapat menembus ke lumen (bagian dalam tubulus) melalui darah, karena adanya ikatan yang kuat antar sel Sertoli. Fungsi dari sawar darah testis adalah untuk mencegah reaksi auto-imun. Tubuh dapat membuat antibodi melawan spermanya sendiri, maka hal ini dicegah dengan sawar. Bila sperma bereaksi dengan antibodi akan menyebabkan radang testis dan menurunkan kesuburan.

Penampungan semen
            Penampungan semen menggunakan vagina tiruan merupakan metode yang
pa-ling efektif diterapkan pada ternak besar (sapi, kuda, kerbau) ataupun ternak kecil (domba, kambing, dan babi) yang normal (tidak cacat) dan libidonya ba-gus. Kelebihan metode penampungan menggunakan vagina tiruan ini adalah selain pelaksanaannya tidak serumit dua metode sebelumnya, semen yang diha-silkannya pun maksimal. Hal ini terjadi karena metode penampungan ini meru-pakan modifikasi dari perkawinan alam. Sapi jantan dibiarkan menaiki peman-cing yang dapat berupa ternak betina, jantan lain, atau panthom (patung ternak yang didesain sedemikian rupa sehingga oleh pejantan yang akan ditampung semennya dianggap sebagai ternak betina). Ketika pejantan tersebut sudah me-naiki pemancing dan mengeluarkan penisnya, penis tersebut arahnya dibelokkan menuju mulut vagina tiruan dan dibiarkan ejakulasi di dalam vagina tiruan. Vagina tiruan yang digunakan dikondisikan supaya menyerupai kondisi (teruta-ma dalam hal temperatur dan kekenyalannya) vagina yang sebenarnya. Mengingat ternak jantan yang akan dijadikan sumber semen harus memiliki kondisi badan yang sehat dan nafsu seksual yang baik, maka sebaiknya kita mengutamakan metode penampungan semen menggunakan vagina tiruan pada ternak mamalia (sapi, kerbau, kuda, domba, dan kambing). Sedangkan pada ternak unggas (ayam dan kalkun) pelaksanaannya akan lebih mudah menggunakan metode pengurutan

Evaluasi semen
            Evaluasi atau pemeriksaan semen merupakan suatu tindakan yang perlu dila-kukan untuk melihat kuantitas (jumlah) dan kualitas semen. Pemeriksaan semen dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pemeriksaan secara makroskopik dan pemerik-saan mikroskopik. Pemeriksaanmakroskopik yaitu pemeriksaan semen secara garis besar tanpamemerlukan alat bantu yang rumit, sedangkan pemeriksaan mikro-skopik bertujuan melihat kondisi semen lebih dalam lagi serta memerlukan alat bantu yang cukup lengkap.
Evaluasi makroskopik meliputi : volume semen, warna semen, bau semen, kekentalan semen, dan pH semen. Adapun pemeriksaan mikrokopik meliputi gerakan massa sperma, gerakan individu sperma, konsentrasi sperma dalam tiap mililiter semen, konsentrasi sperma hidup dalam setiapmililiter semen, konsentrasi sperma mati dalam setiap mililiter semen, dan persentase abnormalitas (ketidak-normalan bentuk) sperma.
Evaluasi fisik meliputi penampilan keseluruhan dari bull tersebut. Pemeriksaan dilakukan secara internal dan eksternal.
Internal: Pemeriksaan transrektal digunakan untuk mengevaluasi kesehatan organ atau saluran reproduksi skunder sapi pejantan yang meliputi Uretra, prostate, vesikula semilunalis, ampula dan vasdeferent. Abnormalitas biasanya terjadi inflamasi pada vesikula semilunalis, condisi tersebut dapat menyebabkan hewan pejantan menjadi infertile.
Eksternal: Evaluasi bentuk scrotum adalah bagian terpenting dalam pemeriksaan eksternal.  Idealnya, sapi jantan harus cukup gemuk, yang mempunyai BCS 6 merupakan standar untuk tubuh sapi sebelum dilakukan proses perkawinan. Produksi sperma hanya terjadi ketika suhu agak lebih rendah dari tubuh. Bentuk scrotum dapat mempengaruhi produksi sperma. Sebagai contoh sapi jantan yang mempunyai bentuk scrotum dan testis menempel atau melekat pada tubuh memiliki masalah dengan pengaturan suhu sehingga dapat menyebabkan subfertil. Sebagai alternative, sapi jantan dengan scotum yang terlalu menggantung dapat menyebabkan subfertil yang lebih besar karena kecenderungan mengayun dan rusak.
Palpasi testis dan epididimis dan pemeriksaan penis dapat mendeteksi abnormalitas yang dapat mempengaruhi performan dari perkawinan. Pemeriksaan kesehatan secara lengkap dari fisik atau kondisi hewan. Sapi jantan harus mempunyai bentuk yang baik dan penglihatan yang baik. Sapi sapi tersebut harus mampu berjalan dengan jarak yang panjang, kepincangan, radang sendi (Arthritis), tapak kaki abses dan penyakit pada telapak kaki tidak hanya mempengaruhi kemampuan kawin tetapi juga mempengaruhi produksi sperma apabila sapi jantan menghabiskan waktu dengan berbaring. Abnormalitas pada sapi tersebut dapat mempengaruhi kualitas dan produksi semen. 
Evaluasi semen
Motilitas semen Parameter standar untuk motilitas sperma tidak lebih dari 30%. Motilitas dari sperma tidak seharusnya digunakan sebagai ukuran kesuburan dari pejantan tersebut, hal ini dikarenakan factor dari suhu, waktu, konsentrasi, kontaminasi dan metode evaluasi dapat mempengaruhi nilai motilitas semen. 
Morpologi semen: Morpologi normal sperma adalah 70%. Abnormalitas dari semen dibagi menjadi 2 yaitu factor utama dan faktor skunder, tergantung seperti apakah cacat yang terjadi didalam testis atau setelah sperma meninggalkan testis.
Abnormalitas dapat terjadi dari berbagai factor seperti keturunan, kondisi yang stress, infeksi, meningkatnya suhu testis atau juga factor lain. Abnormalitas yang terjadi dapat bersifat sementara ataupun permanen, maka sapi pejantan harus diuji lagi 6 sampai 8 minggu kemudian.

Mortilitas Spermatozoa
Motilitas adalah gerak maju ke depan dari spermatozoa secara progresif. Oleh karena tujuan akhir dari pengencer adalah untuk kegiatan inseminasi buatan maka daya gerak spermatozoa secara progresif (maju kedepan) menjadi patokan yang mutlak diperhitungkan. Hal ini berarti sperma yang bergerak berputar-putar atau bergerak di tempat apalagi yang tidak bergerak tidak dijadikan tolok ukur penilaian kualitas semen beku atau semen cair. Artinya parameter motilitas disamping konsentarsi sperma merupakan parameter utama dalam menilai kelayakan semen yang akan digunakan dalam kegiatan IB.
Meskipun demikian penilaian terhadap motilitas spermatozoa dapat dilakukan secara subyektif (visual) yakni dengan membandingkan jumlah spermatozoa yang bergerak progresif dengan yang tidak bergerak progresif secara gamblang oleh pemeriksa melalui bantuan mikroskop dan dinyatakan dalam persen. Oleh karena itu keakuratan penilaian terhadap parameter ini berbanding lurus dengan tingkat pengalaman dan kemahiran seorang pemeriksa atau teknisi yang memeriksa kualitas (motilitas) semen. Seringkali dengan mengetahui berapa motilitas sperma dari sebuah sampel semen (semen cair atau beku) sudah dapat diketahui bagaimana kualitas semen yang akan digunakan
Sekalipun demikian semen cair dalam pengencer sitrat kuning telur dan susu segarkuning telur hari-hari terakhir penyimpanan masih memperlihatkan motilitas spermatozoa sapi Simmental di atas 40 %, namun perlu diwaspadai karena motilitas sperma pada hari kelima penyimpanan semen yang diencerkan dengan kedua bahan pengencer ini telah berada pada batas ambang minimal layak IB, yakni rata-rata 40,4 % untuk Sitra-Kuning Telur dan 40,2 % untuk Susu Segar-Kuning telur. Hasil Penelitian Nesimnasi (1994) yang mengamati tentang pengaruh lama penyimpanan semen cair sapi Brangus terhadap tingkat kebuntingan sapi Bali betina yang diinseminasi dengan semen cair yang telah disimpan selama empat hari pada suhu 3-50C tampaknya rendah dibanding hari pertama dan kedua.

Pengenceran dan pengemasan Semen
Pengenceran semen adalah satu upaya untuk memperbesar volume semen serta menurunkan kandungan sperma dalam volume tertentu sehingga akan lebih banyak dosis inseminasi dapat dibuat. Dengan demikian akan lebih banyak jumlah ternak betina yang dapat dikawini oleh seekor pejantan karena setiap ejakulatnya mampu menginseminasi banyak betina. Pengencer semen adalah larutan isotonis (memiliki tekanan osmotik yang sama dengan plasma darah) yang mengandung bahan-bahan yang bersifat buffer (memelihara larutan dari perubahan pH), bahan nutrisi bagi kelangsungan hidup sperma, dan mampu memelihara sperma dari cekaman dingin (cold shock).
Pengawetan atau preservasi semen merupakan upaya manusia memperpanjang daya hidup dan daya fertilisasi sperma sehingga masa pakai semen tersebut dapat lebih lama. Pengawetan semen dapat dilakukan untuk keperluan penyimpanan singkat pada temperatur 5o C dan penyimpanan semen untuk jangka waktu tidak terbatas pada temperatur – 196o C. Pengawetan semen pada temperature dibawah titik beku air memerlukan bahan lain yang mampu melindungi sperma karena cekaman akibat perubahan tekanan osmotik larutan (hypertonic stress) dan melindungi sperma akibat pembentukan kristal es pada saat pembekuan. Bahan yang mampu ber-peran untuk kedua maksud di atas disebut sebagai agen krioprotektan – seperti glycerol
Semen yang berkualitas tinggi dibagi tiga bagian dan masing-masing dilarutkan dengan pengencer TKT, HMT dan KK dengan dosis pengenceran 25 juta/0.25 ml (straw Cassou) dan 25 juta/ 0.3 ml (minitub). Pengenceran dilakukan satu tahap pada temperatur ruang. Semen dilarutkan dengan bahan pengencer secara perlahan-lahan tetes demi tetes. Semen yang telah dilarutkan untuk masing-masing pengencer dikemas dalam straw 0.25 ml dan minitub 0.3 ml.

Ekuilibrasi, pembekuan, dan thawing
Ekuilibrasi adalah waktu yang dibutuhkan oleh spermatozoa untuk menyesuaikan diri sebelun dilakukan pembekuan. Itu dilakukan dengan cara menempatkan straw pada temperatur 5oC selama empat jam. Setelah ekuilibrasi, ditentukan proses pembekuan, dengan cara meletakkan straw pada uap nitrogen (N2) cair, menggunakan boks styrofoam yang berukuran panjang x lebar x tinggi
masing-masing 60 x 40 x 30 cm, selama 10 menit. Setelah beku, straw dan minitub disimpan dalam kontainer N2 cair (-196oC).


KESIMPULAN
Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa saluran reproduksi ruminansia betina terdiri dari ovarium, oviduct, cornua uteri, uterus, serviks, vagina dan vulva. Sedangkan saluran reproduksi unggas betina terdiri dari ovarium, infundibulum, magnum, isthmus, uterus, dan vagina.
Ovarium mamalia berbentuk pipih bila dalam keadaan istirahat, sedang dalam masa reproduksi berbentuk bulat panjang dan pada permukaan tampak seperti bisul-bisul, itulah folikel yang masak. Fase folikel ialah masa pertumbuhan folikel sejak dari primer, sekunder, tertier, sampai folikel De Graf. Sel telur yang masih muda dikelilingi oleh 1 lapis sel folikel yang disebut folikel primer. Lapisan sel itu bertambah banyak maka disebut folikel sekunder. Akhirnya folikel tertier yang sudah mempunyai rongga antara sel-sel folikel. Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau tengah berkembang. Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen, dan epididimis
Penampungan semen dilakukan untuk memperoleh sperma dari terbak unggul untuk digunakan dalam IB untuk ternak betina dengan tujuan mendapatkan keturunan yang memiliki sifat unggyl dari pejantan yang diambil spermanya, penampungan semen dilanjutkan dengan pengawetan semen yang bertujuan untuk mengawetkan semen sebelum dilakukan IB, pengawetan semen ini dilakukan untuk memperpanjang daya simpan semen, pengawetan ini menggunakan bahan-bahan yang bersifat isotonis untuk menjaga ketahanan mikroskopik dan makroskopik spermatozoa yang diperoleh.



Saran
Praktikan menyarankan pada setiap praktikan yang ikut serta dalam pelaksanaan praktikum ini ada baiknya mempersiapkan diri terlebih dahulu supaya pelaksanaan praktikum lebih kondusif dan memperoleh hasil praktikum yang lebih akurat dan tepat.





DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2008.http://kambingIndonesia.blogspot.com/2008/11/sejarah kambing-kambing-lokal-capra.html. Diakses 02 April 2011

A, Neil Campbell, dkk.2004. BIOLOGI .Jakarta: Erlangga. Kaufman,  M.H. dan  Bard  J.B.L.2000.

Anonymous.2009.The Male Reproductive system.http:nongue.gsnu.ac.kr/~cspark/
teaching/chap3.html


Anonim a. 2008.Cyperus rotundus. http://id. Wikipedia.org/wiki/fotosintesis. Diakses 22 Januari 2008. 03:10:25 PM.html.

Anonim b. 2008. Cyperus rotundus..Materia Medika Indonesia. Diakses 22 Januari 2008. 02:01:05 PM. html.

Anantasika, A. 2007. Fisiologi Folikulogenesis dan Ovulasi. Disampaikan pada Symposium Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) III- HIFERI 24-27 Januari 2007. Yogyakarta. http://ksuheimi.blogspot.com./2008/07/ Fisiologi-Folikulogenesis-dan-Ovulasi.html. 15 September 2008. 10.19 WIB.

Abdillah. 1999. Pengaruh beberapa pengencer semen, lama penyimpanan semen dan waktu inseminasi terhadap fertilitas spermatozoa ayam buras. Tesis Program Pascasarjana IPB Bogor.

Aboagla EM-E, Terada T. 2004a. Effects of egg yolk during the freezing step of
cryopreservation on the viability of goat spermatozoa. Theriogenology 62:1160-1172 ______________________. 2004b.
Astirin, O.P. dan Muthmainah. 2002. Struktur Histologis Ovarium Tikus (Rattus norvegicus) gravid Setelah pemberian Ekstrak Momordica charantia L. Jurnal Pharmacon. Jakarta. 1(2). 26-30

Balkan, J. 2001. Aroma terapi. Dahara Prize. Semarang.

Campbell, Neil A. 2004. BIOLOGI Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta: PENERBIT ERLANGGA

General Zoology 13 th. Edition.Mc Graw HillCompanies.AmerikaLytle, F Charles dan Mejer R. John. 2005.

General Zoology 14 th Edition. Mc Graw HillCompanies. Amerika

Junquera.L.Calos,dkk.Basic Histology.1975.Appleton and Lange:USA
Nalbandov, A.V.Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas Edisi Ketiga.1990.universitas indonesia:Jakarta
System reproduksi. http://geoweek.wordpress.com/2009/06/11/sistem-reproduksi/ diakses 11 Oktober 2009



Tidak ada komentar: