PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Mamalia memiliki alat reproduksi yang lengkap dan
sempurna. Pada mamalia jantan alat reproduksinya meliputi gonad (testis) dan
saluran reproduksi yang meliputi duktus genitalis, kelenjar-kelenjar tambahan
dan penis. Testis merupakan kelenjar tubuler kompleks yang mempunyai dua fungsi
yaitu fungsi reproduksi dan fungsi hormonal. Testis dikelilingi oleh kapula
jaringan penyambung kolagen, tunika albugenia. Tunika albugenia mempunyai
penebalan pada bagian posterior, mediastinum testis, dimana septa fibrosa
menonjol ke dalam kelenjar, membagi kelenjar menjadi 250 ruang-ruang pyramidal
yang dinamakan lobulus testis. Sistem reproduksi betina terdiri atas sepasang
ovarium dan saluran reproduksi betina, serta serviks. Pada
mamalia dilengkapi organ kelamin luar (vulva) dan kelenjar, Reproduksi merupakan proses dimana suatu individu menghasilkan individu baru,melalui genetic atau keturunan
dan hal ini berguna untuk melangsungkan kehidupanspesies.
Semua mamalia bereproduksi secara seksual yaitu fertilisasi internal. (Lytle
andjohn.2000) Terdapat dua modus utama reproduksi
hewan. Reproduksi aseksual adalahpenciptaan individu baru yang semua gennya berasal
dari satu induk tanpa peleburantelur dan sperma. Pada sebagian besar kasus,
reproduksi aseksual secara keseluruhanmengandalkan pembelahan sel secara
mitosis. Reproduksi seksual adalah penciptaanketurunan melalui peleburan gamet
haploid untuk membentuk gamet yang diploid.Gamet dibentuk melalui
meiosis. (Campbell.2004).
Testis terdiri dari
kelenjar-kelenjar yang berbentuk tubulus, dibungkus oleh selaput tebal yang
disebut tunika albugenia. Pada sudut posterior organ ini terbungkus oleh
selaput atau kapsula yang disebut mediastinum testis. Septula testis merupakan
selaput tipis yang meluas mengelilingi mediastinum sampai ke tunika albugenia
dan membagi testis menjadi 250-270 bagian berbentuk piramid yang disebut lobuli
testis. Isi dari lobulus adalah tubulus seminiferus, yang merupakan tabung
kecil panjang dan berkelok-kelok memenuhi seluruh kerucut lobulus. Muara
tubulus seminiferus terdapat pada ujung medial dari kerucut. Pada ujung apikal
dari tiap-tiap lobulus akan terjadi penyempitan lumen dan akan membentuk segmen
pendek pertama dari sistem saluran kelamin yang selanjutnya akan masuk ke rete
testis.
Dinding tubulus seminiferus terdiri
dari tiga lapisan dari luar ke dalam yaitu tunika propria, lamina basalis dan
lapisan epitelium. Tunika propria terdiri atas beberapa lapisan fibroblas, yang
berfungsi sebagai alat transportasi sel spermatozoa dari tubulus seminiferus ke
epididimis dengan jalan kontraksi. Lapisan epitel pada tubulus seminiferus
terdiri dari dua jenis sel yaitu sel-sel penyokong yang disebut sebagai sel
sertoli dan sel-sel spermatogonium. Sel-sel spermatogonium merupakan sel benih
sejati, karena sel-sel inilah dihasilkan spermatozoa melalui pembelahan sel.
Sel-sel spermatogonium tersusun dalam 4-8 lapisan yang menempati ruang antara
membrana basalis dan lumen tubulus.
Sel sertoli berbentuk panjang,
berdasar luas, melekat pada membrana basalis, berfungsi merawat sel spermatozoa
yang baru saja terbentuk, menghasilkan semacam hormon (inhibin), menghasilkan
protein pembawa hormon jantan (ABP = Androgen Binding Protein) dan menghasilkan
cairan testis. Diantara lobuli pada testis didapatkan sel-sel yang berbentuk
poliglonal disebut sebagai sel interstitiil atau sel leydig yang merupakan
sistem endokrin testisTestes
sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu 1) mengahasilkan
spermatozoa atau sel-sel kelamin jantan, dan 2) mensekresikan hormon kelamin
jantan, testosteron. Spermatozoa dihasilkan dalam tubuli seminiferi atas
pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone), sedangkan testosteron diproduksi
oleh sel-sel intertitial dari Leydig atas pengaruh ICSH (Intertitial Cell
Stimulating Hormone) (Toelihere, 1979).
Pemanfaatan pengawet semen mulai
berkembang setelah ditemukannya gliserol oleh Polge pada tahun 1949 (Royere et
al., 1996) dengan kemasan yang digunakan pertama kali berbentuk pellet.
Kemasan semen lain yang berkembang selanjutnya adalah ampul, mini (0,25 ml) dan
medium (0,5 ml) straw, minitub (0,25 dan 0,3 ml), macrotub (5 ml) serta
kemasan plitplat (5ml) yang digunakan pada semen beku babi. Kemasan yang
sekarang populer dan digunakan secara universal adalah kemasan straw 0,25 dan
0,5 ml Cassou (IMV, Prancis) dan minitub 0,25; 0,3 dan 0,5 ml (Minitub,
Jerman). Di Indonesia saat ini terdapat dua balai inseminasi buatan (BIB)
nasional dan beberapa balai inseminasi buatan daerah (BIBD), yang menggunakan
dua kemasan straw, yaitu ministraw dan minitub.Untuk menghasilkan semen beku
yang berkualitas tinggi dibutuhkan bahan pengencer semen yang mampu
mempertahankan kualitas spermatozoa selama proses pendinginan, pembekuan,
maupun pada saat thawing (Aboagla dan
Terada, 2004a). Karena itu, bahan
pengencer semen beku harus mengandung sumber nutrisi, buffer, bahan anti
cold shock, antibiotik, dan krioprotektan yang dapat melindungi
spermatozoa selama proses pembekuan dan thawing. Sumber nutrisi yang
paling banyak digunakan adalah karbohidrat terutama fruktosa yang paling mudah
dimetabolisasi oleh spermatozoa (Toelihere, 1993). Buffer berfungsi
sebagai pengatur tekanan osmotik dan juga berfungsi menetralisir asam laktat
yang dihasilkan dari sisa metabolisme spermatozoa. Buffer yang umum digunakan
adalah tris (hydroxymethyl) aminomethan yang mempunyai kemampuan sebagai
penyangga yang baik dengan toksisitas yang rendah dalam konsentrasi yang tinggi
(Steinbach dan Foote, 1967). Bahan anti cold shock yang umum ditambahkan
adalah kuning telur atau kacang kedelai (Aboagla dan Terada, 2004b), yang dapat
melindungi spermatozoa pada saat perubahan suhu dari suhu ruang (28oC) pada
saat pengolahan ke suhu ekuilibrasi (5oC). Saat ini secara meluas telah dan
digunakan bahan pengencer yang mengandung buffer seperti tris (hydroxymethyl)
aminomethan yang secara universal digunakan untuk semen beku sapi (Davis et
al., 1963; Anzar dan
Graham., 1995); semen kambing (Suwarso,
1999); semen domba (Hahn, 1972; Maxwell dan Salamon, 1993); semen anjing
(Yildiz et al., 2000) dan semen ayam
(Sexton, 1978; Abdillah, 1999). Selain
pengencer semen yang dapat dibuat berdasarkan resep, terdapat berbagai
pengencer kemasan yang telah beredar dan dapat diperoleh di pasaran seperti
Biochiphos dan Bioexcel (IMV, Perancis) juga triladyl, biladyl dan pengencer
AndroMed (Minitub Jerman) yang menggunakan lesitin dari kacang kedelai (KK).
Agar kualitas dan fertilitas sperma tetap tinggi, maka dalam
proses penyimpanan perlu ditambahkan suatu larutan atau bahan pengencer (extender)
dan bahan pengawet (cryoprotectant) ke dalam sperma. Penambahan
bahan-bahan tersebut bertujuan untuk memperpanjang daya tahan hidup
spermatozoa, sehingga dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama.
Penyimpanan jangka pendek biasanya cukup menggunakan extender.
Extender adalah suatu bahan yang digunakan untuk melarutkan sperma ikan.
Extender sering kali disebut sebagai artificial
seminal plasma, karena pembuatan extender harus mempertimbangkan
bahan-bahan yang ada di dalam seminal plasma. Komposisi extender harus sama
dengan komposisi yang ada di dalam seminal plasma sperma ikan yang diawetkan.
Fungsi dari bahan pengencer (extender) yang merupakan
sumber energi, melindungi sperma terhadap kerusakan akibat pendinginan yang
cepat, mencegah pengaruh yang merugikan seperti perubahan pH akibat
terbentuknya asam laktat, mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan
elektrolit, menghambat pertumbuhan bakteri, mempertahankan fertilitas sperma
yang disimpan, sehingga dapat digunakan untuk inseminasi dan memproduksi sel
spermatozoa selama pembekuan.
Minuman ber-ion atau yang lebih dikenal dengan minuman isotonik,
merupakan minuman yang mengandung berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh,
seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, karbohidrat, dan vitamin yang
dapat menggantikan cairan tubuh setelah beraktivitas atau yang hilang karena
proses metabolisme. Minuman ini disebut juga isotonik karena keseimbangan
kepekatan larutan yang masuk sama dengan kepekatan cairan darah. Cairan
isotonik dalam bidang farmasi biasanya digunakan untuk membuat larutan infus.
Larutan ini dapat dibuat dengan menambahkan garam sampai kepekatan larutan
mencapai 0,9 %, disebut juga larutan garam fisiologis. Minuman
ber-ion ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan extender dalam
penyimpanan sperma jangka pendek karena sifatnya yang sama dengan cairan tubuh
Tujuan
dan Manfaat
Tujuan dari pelaksanaan praktikum
ini adalah mahasiswa dapat mengenali dan mengetahui system organ reproduksi
ruminansia betina dan ayam betina, mengenali dan mengetahui histology ovarium
dan testis dan memahami proses ataupun jalannya pembentukan sel kelamin jantan
dan betina, dan metode penampungan semen serta pengawetan semen yang dilakukan
dengan menggunakan pengawet dari kuning telur dan air kelapa.
MATERI
DAN METODA
Waktu
dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan di Gedung C laboratorium Fisiologi Ternak, Fakultas Peternakan
Universitas Jambi, pada hari selasa, yang dimulai pada tanggal 26 April 2011
s.d 31 juni 2011 dan dimulai pukul 10.00 WIB s.d selesai
Materi
Alat dan bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah saluran reproduksi jantan ternak kambing betina, saluran
reproduksi ternak unggas betina, cutter, dan plastic terpal, preparat histology
ovarium dan testis, mikroskop, objek gelas, dan cover gelas, semen sperma dan ayam, mikroskop, vagina buatan, air hangat,
mikroskop, cover glass, objek gelas.
Metode
Cara kerja yang dilaksanakan dalam
praktikum ini adalah dengan mengamati saluran reproduksi ternak kambing betina
dan unggas betina sesuai dengan salurannya, yakni yang dimulai dari ovarium
sampai ke vulva, kemudian dilakukan pengukuran masing-masing organ dan
menuliskan hasilnya dalam bentuk laporan.
Cara kerja yang dilaksanakan dalam
praktikum ini adalah dengan mengamati preparat histology testis dan ovarium,
mengamati jalan pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan sel kelamin
betina (ovum), serta menggambarkan hasil
yang diperoleh dalam laporan praktikum
Cara kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah dengan
melakukan penampungan semen ayam dan semen sapi dengan vagina buatan, kemudian
membuat pengencer yang terbuat dari air kelapa, dan kuning telur, kemudian
diawetkan dan diamati dibawah mikroskop, pengamatan yang dilakukan adalah
pengamatan secara mikroskpis dan makroskopis.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Anatomi saluran reproduksi kambing betina
Kambing
lokal (Capra aegagrus hircus) adalah sub species dari kambing liar yang
tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa. Kambing merupakan suatu jenis
binatangmemamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan dan kambing
liar betinamemiliki perbedaan fisik yang tampak. Umumnya kambing memiliki
jenggot, dahicembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu kurus dan
keras.Panjang tubuhkambing liar, tidak termasuk ekor adalah 1.3 meter – 1.4
meter, sedangkan ekornya 12cm – 15 cm. Bobot yang betina 50 kg – 55 kg,
sedangkan jantan dapat mencapai 120kg Pada sebagian besar spesies mamalia organ reproduksi eksternal jantan adalahskrotum dan penis. Organ
reproduksi internal terdiri atas gonad yang menghasilakangamet dan hormon, kelenjar aksesoris yang mengsekresikan produk
yang esensial bagi pergerakan sperma, dan sekumpulan duktus yang membawa sperma dan sekresigrandula. Struktur reproduksi eksternal pada betina adalah
klitoris dan dua pasanglabia yang mengelilingi klitoris dan lubang vagina.
Organ reproduksi internal terdiridari sepasang gonad dan sebuah sistem yang terdiri dari duktus dan
ruangan untuk menghantarkan
gamet dan menampung embrio dan fetus. (Campbell.2004).Testis terletak diantara
dua kantong seretal dan di bawah rongga fortuneal (abdominal)yang merupakan awal dari pertumbuhan. Pada mamalia
jantan testis berkembang dariperitoneal menembus saluran
inguinal masuk ke kantung skroatal. Epididimisberkumpul membelit tubulus sepanjang satu bagian
pada masing-masing testis yangberhubungan dengan vas deferens. Dan penis
terletak hanya di bawah kulit posterior menuju ke tali umbilicus.
(Lytle and John.2005)Sistem reproduksi pada hewan
betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus. Sistem tersebut tidak hanya
menerima telur- telur yang diovulasikan oleh ovarium dan membawa telur-telur ke
tempat implantasi yaitu uterus,tetapi juga menerima sperma dan membawanya ke
tempat fertilisasi yaitu oviduk. Sistem reproduksi betina terdapat sepasang
ovarium. Ovarium tersebut terletak dekat ginjal, yaitu tempat ovarium pertama
kali mengalami diferensiasi. Ukuran ovarium sangat tergantung pada umur dan
status reproduksi betina.
Perbandingan
antara gambar hasil pemotretan dengan hasil gambar mekanik melalui pengamatan
hewan tersebut diamati dan digambar
|
||||
![]() |
||||
Gambar 3.1.1 Sistem reproduksi kambing betina
Anatomi saluran reproduksi Ayam betina
Organ betina menempel pada permukaan dorsal pada masing-masing
ovarium adalah sebuah bagian yang rumit,
yaitu tuba falopi yang terletak di rongga cilia,disebut infudibulum dan
berakhir di masing-masing tuba falopi. Pada bagian awal danakhir pada tuba
falopi disebut abdominal ostium. Bagan pada falopi yaitu usus, perut, pankreas dan limpa kecil. Dari hati,
darah didorong menuju pembuluh darah paru-paruke vena cava dan kembali ke hati.
(Lytle and John.2005)

Ovarium
Ovarium
pada unggas dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti
buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan
bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada
saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur
12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin.
Ovarium terbagi dalam dua bagian, yaitu cortex pada
bagian luar dan medulla pada bagian dalam. Cortex mengandung
folikel dan pada folikel terdapat sel-sel telur. Jumlah sel telur dapat
mencapai lebih dari 12.000 buah. Namun, sel telur yang mampu masak hanya beberapa
buah saja (pada ayam dara dapat mencapai jutaan buah).

Folikel akan masak pada 9-10 hari
sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid pakan ataupun karotenoid yang
tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun
folikel menjadikan lapisan konsentris tidak seragam. Proses pembentukan ovum
dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang merupakan sintesis asam lemak di
hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di
ovarium sebagai volikel atau ovum yang dinamakan yolk(kuning
telur).
Dikenal tiga fase perkembangan yolk, yaitu
fase cepat antara 4-7 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 10-8 hari
sebelum ovulasi, serta pada 1-2 hari sebelum ovulasi. Akibat perkembangan cepat
tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan kadar xantofil dan karotenoid pada pakan yang dibelah
oleh latebra yang menghubungkan antara inti yolk dan diskus
germinalis.
Folikel dikelilingi oleh pembuluh
darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek
sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui
pembuluh darah ini, ovarium mendapat suplai makanan dari aorta
dorsalis. Material kimiawi yang diangkut melalui sistem vaskularisasi
ke dalam ovarium harus melalui beberapa lapisan, antara lain theca
layer yang merupakan lapisan terluar yang bersifat permeabel sehingga
memungkinkan cairan plasma dalam menembus ke jaringan di sekelilingnya. Lapisan
kedua berupa lamina basalis yang berfungsi sebagai filter
untuk menyaring komponen cairan plasma yang lebih besar. Lapisan ketiga sebelum
sampai pada oocyte adalah lapisan perivitellin yang
berupa material protein bersifat fibrous (berongga).
Dalam membran plasma, oocyte (calon
folikel) berikatan dengan sejumlah reseptor yang akan membentuk endocitic sehingga
terbentuklah material penyusun kuning telur. Sehingga besar penyusutan kuning
telur adalah material granuler berupa high density lipoprotein (HDL)
dan lipovitelin. Senyawa ini dengan ion kuat dan pH tinggi akan membentuk
kompleks fosfoprotein, fosvitin, ion kalsium, dan ion besi. Senyawa-senyawa ini
membentuk vitelogenin, yaitu prekursor protein yang disintesis di dalam hati
sebagai respon terhadap estradiol.
Komponen vitelogenin lebih mudah larut dalam darah dalam
bentuk kompleks lipida kalsium dan besi. Oleh adanya reseptor pada oocyte,
akan terbentuk material kuning telur. proses pembentukan vitelogenin ini
dinamakan vitelogenesis.
Penyusun utama kuning telur adalah air,
lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur
diklasifikasikan menjadi dua kategori:
1. Livetin, yakni protein plasmatik yang
terakumulasi pada kuning telur dan disintesis di hati hampir 60% dari total
kuning telur.
2. Phosvitin dan lipoprptein yang
terdiri dari high density lipoprotein (HDL) dan low
density lipoprotein (LDL) yang disebut pula dengan granuler dan
keduanya disintesis dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari
disintesis 2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesis ini dikontrol oleh hormon
estrogen. Hasil sintesis bersama-sama dengan ion kalsium, besi dan zinc
membentuk molekul kompleks yang mudah larut kemudian masuk ke dalam kuning
telur.
Urutan
perjalanan terbentuknya sebutir telur pada saluran reproduksi ayam betina adalah
sebagai berikut:
a. Infundibulum/papilon : panjang 9 cm fungsi untuk menangkap
ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang
mengelilingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian ini berkisar 15-30
menit. Pembatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa
sebelum terjadi pembuahan.
b. Magnum : bagian yang terpanjang dari oviduk
(33cm). Magnum tersusun dari glandula tubiler yang sangat sensibel. Sintesis
dan sekresi putih telur terjadi disini. Mukosa dan magnum tersusun dari sel
gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur
berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam.
c.Isthmus: mensekresikan membran atau selaput
telur. Panjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini berkisar 1
jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum
berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh
darah sehingga memberikan warna merah.
d. Uterus : disebut juga glandula kerabang
telur, panjangnya 10 cm. Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu dehidrasi
putih telur atau /plumping/ kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur. Warna
kerabang telur yang terdiri atas sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini
pada akhir mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20 – 21 jam.
e. Vagina:
bagian ini hampir tidak ada sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali
pembentukan kutikula. Telur melewati vagina dengan cepat, yaitu sekitar tiga
menit, kemudian dikeluarkan (/oviposition/) dan 30 menit setelah peneluran akan
kembali terjadi ovulasi.
f. Kloaka:
merupakan bagian paling ujung luar dari induk tempat dikeluarkannya telur.
Total waktu untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Ini salah satu
penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari. Di
samping itu, saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal. Artinya, hanya
oviduk bagian kiri yang mampu berkembang. Padahal, ketika ada benda asing
seperti /yolk/ (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi.
Proses pengeluaran telur diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian
belakang.
Histologi
ovarium
Vertebrata umumnya mempunyai
sepasang indung telur (ovarium) yang terletak didorsal rongga badan, kecuali
spesies burung hanya mempunyai satu ovarium.Ovarium pada hewan betina merupakan
gudang dan tempat produksi oosit. Setiap ovarium mengandung oosit dalam jumlah
yang sangat banyak, tetapi hanya sedikit sekali dari I jumlah oosit tersebut
yang dimatangkan dan diovulasikan selama masa subur atau pada masa reproduktif.
Ovarium berbentuk oval dengan panjang 3 - 4 cm. Ovarium berada di dalam rongga
badan, di daerah pinggang. Umumnya setiap ovarium menghasilkan ovum setiap 28
hari. Ovum yang dihasilkan ovarium akan bergerak ke saluran reproduksi. Fungsi
ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen dan
progesteron.
Ovarium mamalia berbentuk pipih
bila dalam keadaan istirahat, sedang dalam masa reproduksi berbentuk bulat panjang
dan pada permukaan tampak seperti bisul-bisul, itulah folikel yang masak. Fase folikel ialah masa pertumbuhan folikel
sejak dari primer, sekunder, tertier, sampai folikel De Graf. Sel telur yang
masih muda dikelilingi oleh 1 lapis sel folikel yang disebut folikel primer. Lapisan sel itu
bertambah banyak maka disebut folikel
sekunder. Akhirnya folikel tertier
yang sudah mempunyai rongga antara sel-sel folikel. Folikel De Graf sudah
berbentuk ketika anak umur 7 tahun, tetapi baru matang dan melakukan ovulasi
setelah akil balig pada umur 12-13 tahun. Pertumbuhan folikel dirangsan oleh FSH dan LH dari
hipofosa.
Organ
reproduksi luar terdiri dari:Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ
uterusdengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran
persalinan?keluarnya bayi. Sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di
dalam vagina ditemukan selaput dara.Vulva merupakan suatu celah yang terdapat
dibagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :Labium mayor merupakan
sepasang bibir besar yang terletak dibagian luas dan membatasi vulva. Labium
minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak d bagian dalam dan membatasi
vulva
Organ
reproduksi dalam terdiri dari : Ovarium merupakan organ utama pada wanita.
Berjumlah sepasang dan terletak di dalam tongga perut pada daerah pinggang
sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormone
wanita seperti : Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat
sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel
ovum.Progesterone yang berfungsi dalam memelihata masa kehamilan.
Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium
berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum
yang telah matang yang dikelurakan oleh ovarium.
Infundibulum
merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan berdekatan
dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh
fimbriae. Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang
bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus
dengan abantuan silia pada dindingnya.
Oviduct
merupakan saluran panjang kelanjutandari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat
fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus denga bantuana silia pada
dindingnya. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk sperti
buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat
pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan
yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu
:Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.
Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi
dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap
bulannya. Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah
merah. Bila tidak terjadi pembuahan maka dinding endometrium inilah yang akan
meluruh bersamaan dengan sel ovum matang. Cervix merupakan bagian dasar dari
uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim.
Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin
dari uterus menuju saluran vagina.
Saluran
vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada
vagina. Klitoris merupakan tonjolan kecil yangt erletak di depan vulva.

Ovarium
Gambar histologi Ovarium
Indung telur ovarium berjumlah
sepasang, kiri dan kanan, bentuknya lonjong agak gepeng. Berada dalam rongga
peritoneum, menggantung pada ligament besar oleh selaput peritoneum sendiri,
disebut mesovarium. Menggantung pula pada uterus oleh ligamen ovarium. Lapisan
terluar ovarium terdiri dari epitel germinal, selapis sel bentuk kubus yang
berasal dari selaput peritoneum. Ovarium terdiri dari dua bagian, yaitu korteks
dan medulla. Korteks adalah bagian kulit ovarium, di bawah epitel germinal.
Terdiri dari jaringan ikat interstisial, yang disebut stroma. Diantara stroma
terdapat banyak folikel . Folikel mengandung sel telur (oosit) dalam berbagai
tingkat pertumbuhan. Setiap oosit diselaputi oleh sel folikel. Berbatasan
dengan epitel germ inal, stroma memadat membentuk lapisan, disebut tunca
albuginea. Stroma banyak mengandung serat retikuler dan sel bentuk gelendong
mirip fibroblast (Cormack, 1994).
Medulla adalah bagian sumsum
ovarium. Batas korteks dan medulla tidak tampak. Medulla terdiri atas jaringan
ikat. Bagian ini banyak mengandung pembuluh darah, sehinga sumsum disebut juga
zona vasculosa (Marieb, 2004).Dalam srtoma terdapat banyak folikel. Flikel
sudah terbentu pada masa embrio, dan waktu wanita akil baligh jumlah folikel
dalam sebelah ovarium sejumlah 20.000 butir. Ketika usia lanjut, folikelnya
kian susut dan menagalami degenerasi yang disebut atresia. Ketika atresia,
mitosis folikel terhenti, dan sel-sel lepas dari susunannya menyelaputi oosit.
Oosit sendiri jadi mati dan autolysis. Tempat folikel yang atresia itu diisi
oleh jaringan stroma (Kerr, 1998).
Sekitar 0.25% saja folikel yang
mengalami pertumbuhan sesuai dengan oosit yang dikandung. Terdapat tiga tahap
pertumbuhan folikel yaitu (Yatim, 1990):
1.Folikel primordial
Terdiri dari satu oosit primer yang
diselaputi oleh selapis sel folikel yang gepeng. Oosit I tumbuh dari mitosis
oogonium, disusul dengan meiosis I sampai tingkat profase saja. Kemudian
berhenti kemudian folikel itu menjadi dormant. Folikel tersebut akan tumbuha
jika wanita telah dewasa.
2.Folikel tumbuh
Folikel primordial yang tumbuh
menjadi folikel matang, kemudian terjadi ovulasi. Pertumbuhan itu terdapat tiga
tahap, sehingga folikel tumbuh dibagi menjadi folikel primer, folikel sekunder
dan folikel tertier.
3.Folikel Graaf
Folikel Graaf disebut juga folikel
matang. Oosit dengan selaput sel folikel yang terdiri dari beberapa lapis yang
berada dalam cumulus oophorus, satu tonjolan stratum granulosum ke antrum.
Antrum kini menjadi satu dan lebih luas daripada folikel tertier. Rongganya
berisi cairan yang disebut liquor folliculi. Lapisan sel folkel yang
menyelaputi oosit disebut corona radiata.
Tuba
fallopi
Gambar histologi Tuba Fallopi
Tuba fallopi disebut juga tuba
uterina atau oviduk. Bagian kelamin ini menampung telur yang ovulasi, tempat
terjadinya pembuahan, kemudian menyalurkan oosit yang sudah dibuahi ke dalam uterus.
Tuba sepasang kiri dan kanan, sesuai dengan ovarium yang sepasang. Bagian ujung
yang menampung oosit disebut infundibulum dan tonjolannya yang menjarimembentuk
penadah, disebut fimbriae (Yatim, 1990).
Dinding saluran ini terdiri dari
tiga lapisan yaitu tunika mucosa. Tunika muscularis dan tunika serosa. Tunika
mucosa, terdiri atas jaringan epitel, yang selnya selapis bentuk batang, atau
berlapis semu. Sel epitel dapat dibedakan atas dua macam, yaitu sel bersilia
dan sel penggetah. Sel bersilia untuk mengayuhkan bahan yang ada dalam lumen
yang berisi lendir. Sel penggetah befungsi untuk menghasilkan lendir, sebagai
media bagi oosit atau spermatozoa. Sel bersilia lebih rendah daripada sel
penggetah. Sel penggetah mengandung banyak granula sekresi (Marieb,
2004).
Tunika mucosa membentuk tonjolan
bercabang. Tonjolan itu membentuk beberapa alur longitudinal, yang diduga untuk
melancarkan penyaluran spermatozoa atau oosit yang sudah dibuahi..Tunika
muscularis terletak di bawah tunika mucosa, keduanya dibatasi oleh lapisan
jaringan ikat yang tipis. Tunika ini terdiri atas serat otot polos yang terdiri
dari dua lapis, sirkuler sebelah dalam, longitudinal sebelah luar. Lapisan otot
ini berperan untuk kontraksi tuba, yang perlu untuk melancarkan transport spermatozoa
atau oosit. Tunika serosa adalah penerusan selaput peritonium, terdiri atas
jaringan ikat, dan disebelah luar dilapisi olewh sel mesotel yang gepeng
(Cormack, 1994).
Uterus
Gambar histologi uterus
Rahim atau uterus berada ditengah
atau hanya ada satu. Pada bagian anteriornya bermuara tuba sepasang kiri dan
kanan, dan ke bagianposteriornya bermuara vagina. Seperti pada tuba fallopi,
dinding uterus juga terdiri dari tiga lapisan yaitu tunika mucosa, tunika
muscularis dan tunika serosa. Tunika mucosa dikenal sebagai endometrium.
Terdiri atas jaringan epitel dan lamina propia. Sel epitel berbentuk batang dan
dibedakan menjadi sel bersilia dan sel penggetah. Di bawah lapisan epitel
terdapat lamina propia yang mengandung banyak kelenjar yang mengetahkan lendir.
Sel lebih banyak daripada serat dalam lapisan ini, sehingga disebut endometrium
yang serupa dengan mesenkhim (jaringan ikat embrio). Dalam endometrium
ditemukan banyak arteri yang melilit.Tunika muscularis terletak dibawah tunika
mucosa, lebih dikenal dengan sebutan myometrium. Terdiri dari jaringan otot
polos dan sedikit jaringan ikat. Lapisan ini sangat tebal, hingga mencapai 2-3
cm. Dapat dibedakan menjadi empat strata, yaitu stratum submucosum, stratum
vaskulare, stratum supravasculare, dan stratum subserosum. Tunika serosa
terdiri dari serat kolagen dan fibroblast. Terkadang juga ditemukan serat
elastis dan retikulosa. Bagian terluarnya dilapisi mesotel yang merupakan
terusan peritoneum
Histologi
testis
Organ reproduksi dalam terdiri dari
:Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan
menghasilkan sel-sel sperma serta hormone testosterone. Dalam testis banyak
terdapat saluran halus yang disebut tubulus seminiferus. Epididimis merupakan
saluran panjang yang berkelok yang keluar dai testis. Berfungsi untuk menyimpan
sperma sementara dan mematanagkan sperma.
Vas deferens merupakan saluran
panjang dan lurus yang mengarah ke atas dan berujung di kelenjar prostat.
Berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula seminalis. Saluran ejakulasi
merupakan saluran yang pendek dana menghubungkan vesikula seminalis dengan
urethra. Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan
terdapat di penis.
Kelenjar
pada organ reproduksi pria
Vesikula seminalis merupakan tempat
untuk menampung sperma sehingga disebut dengan kantung semen, berjumlah
sepasang. Menghasilkan getah berwarna kekukingan yang kaya akan nutrisi bagi
sperma dan bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam
saluran reproduksi wanita. Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar
dan menghasilkan getah putih yang bersifat asam. Kelenjar
Cowper’s/Cowpery/Bulbourethra merupakana kelenjar yang menghasilkan getah
berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam
dalam saluran urethra.
Testis
Gambar histologi testis
Testis adalah kelenjar penghasil
gamet, sedikit cairan mani dan hormon. Karena itu, alat ini disebut kelenjar
utama. Manusia (pria) mempunyai dua testis yang dibungkus dengan skrotum. Pada
tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang apabila berkontraksi akan
mengangkat testis mendekat ke tubuh. Bila suhu testis akan diturunkan, otot
kremaster akan berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh. Fenomena ini dikenal
dengan refleks kremaster. Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai
spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi sperma (banyaknya
spermatogenesis), cairan intersisial, dan produksi cairan dari sel Sertoli.
Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja salah satu terletak
lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini diakibatkan perbedaan struktur anatomis
pembuluh darah pada testis kiri dan kanan. Testis berperan pada sistem
reproduksi dan sistem endokrin, yaitu : memproduksi sperma (spermatozoa) dan
memproduksi hormon seks pria seperti testosteron.
Testis dibungkus oleh lapisan fibrosa yang disebut tunika
albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran yang disebut tubulus
seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma yang sudah atau
tengah berkembang. Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk
diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen,
dan epididimis. Bila mendapat rangsangan seksual, spermatozoa dan cairannya
(semua disebut air mani) akan dikeluarkan ke luar tubuh melalui vas deferen dan
akhirnya, penis. Di antara tubulus seminiferus terdapat sel khusus yang disebut
sel intersisial Leydig. Sel Leydig memproduksi hormon testosteron. Sawar darah
testis Molekul besar tidak dapat menembus ke lumen (bagian dalam tubulus)
melalui darah, karena adanya ikatan yang kuat antar sel Sertoli. Fungsi dari
sawar darah testis adalah untuk mencegah reaksi auto-imun. Tubuh dapat membuat
antibodi melawan spermanya sendiri, maka hal ini dicegah dengan sawar. Bila
sperma bereaksi dengan antibodi akan menyebabkan radang testis dan menurunkan
kesuburan.
Penampungan semen
Penampungan
semen menggunakan vagina tiruan merupakan metode yang
pa-ling efektif diterapkan pada ternak
besar (sapi, kuda, kerbau) ataupun ternak kecil (domba, kambing, dan babi) yang
normal (tidak cacat) dan libidonya ba-gus. Kelebihan metode penampungan
menggunakan vagina tiruan ini adalah selain pelaksanaannya tidak serumit dua
metode sebelumnya, semen yang diha-silkannya pun maksimal. Hal ini terjadi
karena metode penampungan ini meru-pakan modifikasi dari perkawinan alam. Sapi
jantan dibiarkan menaiki peman-cing yang dapat berupa ternak betina, jantan
lain, atau panthom (patung ternak yang didesain sedemikian rupa sehingga oleh
pejantan yang akan ditampung semennya dianggap sebagai ternak betina). Ketika
pejantan tersebut sudah me-naiki pemancing dan mengeluarkan penisnya, penis
tersebut arahnya dibelokkan menuju mulut vagina tiruan dan dibiarkan ejakulasi
di dalam vagina tiruan. Vagina tiruan yang digunakan dikondisikan supaya
menyerupai kondisi (teruta-ma dalam hal temperatur dan kekenyalannya) vagina
yang sebenarnya. Mengingat ternak jantan yang akan dijadikan sumber semen harus
memiliki kondisi badan yang sehat dan nafsu seksual yang baik, maka sebaiknya
kita mengutamakan metode penampungan semen menggunakan vagina tiruan pada
ternak mamalia (sapi, kerbau, kuda, domba, dan kambing). Sedangkan pada ternak
unggas (ayam dan kalkun) pelaksanaannya akan lebih mudah menggunakan metode
pengurutan
Evaluasi semen
Evaluasi
atau pemeriksaan semen merupakan suatu tindakan yang perlu dila-kukan untuk
melihat kuantitas (jumlah) dan kualitas semen. Pemeriksaan semen dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu pemeriksaan secara makroskopik dan pemerik-saan mikroskopik.
Pemeriksaanmakroskopik yaitu pemeriksaan semen secara garis besar
tanpamemerlukan alat bantu yang rumit, sedangkan pemeriksaan mikro-skopik bertujuan
melihat kondisi semen lebih dalam lagi serta memerlukan alat bantu yang cukup
lengkap.
Evaluasi makroskopik meliputi
: volume semen, warna semen, bau semen, kekentalan semen, dan pH semen. Adapun
pemeriksaan mikrokopik meliputi gerakan massa sperma, gerakan individu
sperma, konsentrasi sperma dalam tiap mililiter semen, konsentrasi sperma hidup
dalam setiapmililiter semen, konsentrasi sperma mati dalam setiap mililiter
semen, dan persentase abnormalitas (ketidak-normalan bentuk) sperma.
Evaluasi fisik
meliputi penampilan keseluruhan dari bull tersebut. Pemeriksaan dilakukan
secara internal dan eksternal.
Internal: Pemeriksaan
transrektal digunakan untuk mengevaluasi kesehatan organ atau saluran
reproduksi skunder sapi pejantan yang meliputi Uretra, prostate, vesikula
semilunalis, ampula dan vasdeferent. Abnormalitas biasanya terjadi inflamasi
pada vesikula semilunalis, condisi tersebut dapat menyebabkan hewan pejantan
menjadi infertile.
Eksternal: Evaluasi bentuk
scrotum adalah bagian terpenting dalam pemeriksaan eksternal. Idealnya,
sapi jantan harus cukup gemuk, yang mempunyai BCS 6 merupakan standar untuk
tubuh sapi sebelum dilakukan proses perkawinan. Produksi sperma hanya terjadi
ketika suhu agak lebih rendah dari tubuh. Bentuk scrotum dapat mempengaruhi
produksi sperma. Sebagai contoh sapi jantan yang mempunyai bentuk scrotum dan
testis menempel atau melekat pada tubuh memiliki masalah dengan pengaturan suhu
sehingga dapat menyebabkan subfertil. Sebagai alternative, sapi jantan dengan
scotum yang terlalu menggantung dapat menyebabkan subfertil yang lebih besar
karena kecenderungan mengayun dan rusak.
Palpasi testis dan
epididimis dan pemeriksaan penis dapat mendeteksi abnormalitas yang dapat
mempengaruhi performan dari perkawinan. Pemeriksaan kesehatan secara lengkap
dari fisik atau kondisi hewan. Sapi jantan harus mempunyai bentuk yang baik dan
penglihatan yang baik. Sapi sapi tersebut harus mampu berjalan dengan jarak
yang panjang, kepincangan, radang sendi (Arthritis), tapak kaki abses dan
penyakit pada telapak kaki tidak hanya mempengaruhi kemampuan kawin tetapi juga
mempengaruhi produksi sperma apabila sapi jantan menghabiskan waktu dengan
berbaring. Abnormalitas pada sapi tersebut dapat mempengaruhi kualitas dan
produksi semen.
Evaluasi semen
Motilitas semen Parameter
standar untuk motilitas sperma tidak lebih dari 30%. Motilitas dari sperma
tidak seharusnya digunakan sebagai ukuran kesuburan dari pejantan tersebut, hal
ini dikarenakan factor dari suhu, waktu, konsentrasi, kontaminasi dan metode
evaluasi dapat mempengaruhi nilai motilitas semen.
Morpologi semen: Morpologi normal sperma adalah 70%. Abnormalitas dari semen
dibagi menjadi 2 yaitu factor utama dan faktor skunder, tergantung seperti
apakah cacat yang terjadi didalam testis atau setelah sperma meninggalkan
testis.
Abnormalitas dapat terjadi dari berbagai factor seperti keturunan, kondisi yang
stress, infeksi, meningkatnya suhu testis atau juga factor lain. Abnormalitas
yang terjadi dapat bersifat sementara ataupun permanen, maka sapi pejantan
harus diuji lagi 6 sampai 8 minggu kemudian.
Mortilitas Spermatozoa
Motilitas adalah gerak maju ke
depan dari spermatozoa secara progresif. Oleh karena tujuan akhir dari
pengencer adalah untuk kegiatan inseminasi buatan maka daya gerak spermatozoa
secara progresif (maju kedepan) menjadi patokan yang mutlak diperhitungkan. Hal
ini berarti sperma yang bergerak berputar-putar atau bergerak di tempat apalagi
yang tidak bergerak tidak dijadikan tolok ukur penilaian kualitas semen beku
atau semen cair. Artinya parameter motilitas disamping konsentarsi sperma
merupakan parameter utama dalam menilai kelayakan semen yang akan digunakan
dalam kegiatan IB.
Meskipun demikian penilaian
terhadap motilitas spermatozoa dapat dilakukan secara subyektif (visual) yakni
dengan membandingkan jumlah spermatozoa yang bergerak progresif dengan yang
tidak bergerak progresif secara gamblang oleh pemeriksa melalui bantuan
mikroskop dan dinyatakan dalam persen. Oleh karena itu keakuratan penilaian terhadap
parameter ini berbanding lurus dengan tingkat pengalaman dan kemahiran seorang pemeriksa
atau teknisi yang memeriksa kualitas (motilitas) semen. Seringkali dengan mengetahui
berapa motilitas sperma dari sebuah sampel semen (semen cair atau beku) sudah dapat
diketahui bagaimana kualitas semen yang akan digunakan
Sekalipun demikian semen cair dalam
pengencer sitrat kuning telur dan susu segarkuning telur hari-hari terakhir
penyimpanan masih memperlihatkan motilitas spermatozoa sapi Simmental di atas
40 %, namun perlu diwaspadai karena motilitas sperma pada hari kelima
penyimpanan semen yang diencerkan dengan kedua bahan pengencer ini telah berada
pada batas ambang minimal layak IB, yakni rata-rata 40,4 % untuk Sitra-Kuning
Telur dan 40,2 % untuk Susu Segar-Kuning telur. Hasil Penelitian Nesimnasi
(1994) yang mengamati tentang pengaruh lama penyimpanan semen cair sapi Brangus
terhadap tingkat kebuntingan sapi Bali betina yang diinseminasi dengan semen
cair yang telah disimpan selama empat hari pada suhu 3-50C tampaknya rendah
dibanding hari pertama dan kedua.
Pengenceran dan pengemasan Semen
Pengenceran semen adalah satu upaya
untuk memperbesar volume semen serta menurunkan kandungan sperma dalam volume
tertentu sehingga akan lebih banyak dosis inseminasi dapat dibuat. Dengan
demikian akan lebih banyak jumlah ternak betina yang dapat dikawini oleh seekor
pejantan karena setiap ejakulatnya mampu menginseminasi banyak betina. Pengencer
semen adalah larutan isotonis (memiliki tekanan osmotik yang sama dengan
plasma darah) yang mengandung bahan-bahan yang bersifat buffer (memelihara
larutan dari perubahan pH), bahan nutrisi bagi kelangsungan hidup sperma, dan
mampu memelihara sperma dari cekaman dingin (cold shock).
Pengawetan atau preservasi semen
merupakan upaya manusia memperpanjang daya hidup dan daya fertilisasi sperma
sehingga masa pakai semen tersebut dapat lebih lama. Pengawetan semen dapat
dilakukan untuk keperluan penyimpanan singkat pada temperatur 5o C dan
penyimpanan semen untuk jangka waktu tidak terbatas pada temperatur – 196o C.
Pengawetan semen pada temperature dibawah titik beku air memerlukan bahan lain
yang mampu melindungi sperma karena cekaman akibat perubahan tekanan osmotik
larutan (hypertonic stress) dan melindungi sperma akibat pembentukan
kristal es pada saat pembekuan. Bahan yang mampu ber-peran untuk kedua maksud di
atas disebut sebagai agen krioprotektan – seperti glycerol
Semen yang berkualitas tinggi
dibagi tiga bagian dan masing-masing dilarutkan dengan pengencer TKT, HMT dan
KK dengan dosis pengenceran 25 juta/0.25 ml (straw Cassou) dan 25 juta/ 0.3 ml
(minitub). Pengenceran dilakukan satu tahap pada temperatur ruang. Semen
dilarutkan dengan bahan pengencer secara perlahan-lahan tetes demi tetes. Semen
yang telah dilarutkan untuk masing-masing pengencer dikemas dalam straw 0.25 ml
dan minitub 0.3 ml.
Ekuilibrasi, pembekuan, dan thawing
Ekuilibrasi adalah waktu yang
dibutuhkan oleh spermatozoa untuk menyesuaikan diri sebelun dilakukan
pembekuan. Itu dilakukan dengan cara menempatkan straw pada temperatur 5oC
selama empat jam. Setelah ekuilibrasi, ditentukan proses pembekuan, dengan cara
meletakkan straw pada uap nitrogen (N2) cair, menggunakan boks styrofoam yang
berukuran panjang x lebar x tinggi
masing-masing 60
x 40 x 30 cm, selama 10 menit. Setelah beku, straw dan minitub disimpan dalam
kontainer N2 cair (-196oC).
KESIMPULAN
Kesimpulan
Dari
praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa saluran reproduksi
ruminansia betina terdiri dari ovarium, oviduct, cornua uteri, uterus, serviks,
vagina dan vulva. Sedangkan saluran reproduksi unggas betina terdiri dari
ovarium, infundibulum, magnum, isthmus, uterus, dan vagina.
Ovarium
mamalia berbentuk pipih bila dalam keadaan istirahat, sedang dalam masa
reproduksi berbentuk bulat panjang dan pada permukaan tampak seperti
bisul-bisul, itulah folikel yang
masak. Fase folikel ialah masa pertumbuhan folikel sejak dari primer, sekunder,
tertier, sampai folikel De Graf. Sel telur yang masih muda dikelilingi oleh 1
lapis sel folikel yang disebut folikel
primer. Lapisan sel itu bertambah banyak maka disebut folikel sekunder. Akhirnya folikel
tertier yang sudah mempunyai rongga antara sel-sel folikel. Testis dibungkus oleh lapisan
fibrosa yang disebut tunika albuginea. Di dalam testis terdapat banyak saluran
yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini dipenuhi oleh lapisan sel sperma
yang sudah atau tengah berkembang. Spermatozoa (sel benih yang sudah siap untuk
diejakulasikan), akan bergerak dari tubulus menuju rete testis, duktus efferen,
dan epididimis
Penampungan
semen dilakukan untuk memperoleh sperma dari terbak unggul untuk digunakan
dalam IB untuk ternak betina dengan tujuan mendapatkan keturunan yang memiliki
sifat unggyl dari pejantan yang diambil spermanya, penampungan semen
dilanjutkan dengan pengawetan semen yang bertujuan untuk mengawetkan semen
sebelum dilakukan IB, pengawetan semen ini dilakukan untuk memperpanjang daya
simpan semen, pengawetan ini menggunakan bahan-bahan yang bersifat isotonis
untuk menjaga ketahanan mikroskopik dan makroskopik spermatozoa yang diperoleh.
Saran
Praktikan
menyarankan pada setiap praktikan yang ikut serta dalam pelaksanaan praktikum
ini ada baiknya mempersiapkan diri terlebih dahulu supaya pelaksanaan praktikum
lebih kondusif dan memperoleh hasil praktikum yang lebih akurat dan tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2008.http://kambingIndonesia.blogspot.com/2008/11/sejarah
kambing-kambing-lokal-capra.html.
Diakses 02 April 2011
A, Neil Campbell, dkk.2004. BIOLOGI .Jakarta: Erlangga. Kaufman,
M.H. dan Bard J.B.L.2000.
Anonymous.2009.The Male Reproductive
system.http:nongue.gsnu.ac.kr/~cspark/
teaching/chap3.html
Anonim
a. 2008.Cyperus rotundus. http://id. Wikipedia.org/wiki/fotosintesis.
Diakses 22 Januari 2008. 03:10:25 PM.html.
Anonim b. 2008. Cyperus
rotundus..Materia Medika Indonesia. Diakses 22 Januari 2008. 02:01:05 PM.
html.
Anantasika,
A. 2007. Fisiologi Folikulogenesis dan Ovulasi. Disampaikan pada
Symposium Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) III- HIFERI 24-27 Januari 2007.
Yogyakarta. http://ksuheimi.blogspot.com./2008/07/
Fisiologi-Folikulogenesis-dan-Ovulasi.html. 15 September 2008. 10.19 WIB.
Abdillah. 1999. Pengaruh beberapa
pengencer semen, lama penyimpanan semen dan waktu inseminasi terhadap
fertilitas spermatozoa ayam buras. Tesis Program Pascasarjana IPB Bogor.
Aboagla EM-E, Terada T. 2004a. Effects
of egg yolk during the freezing step of
cryopreservation on the viability of
goat spermatozoa. Theriogenology 62:1160-1172 ______________________.
2004b.
Astirin, O.P. dan
Muthmainah. 2002. Struktur Histologis Ovarium Tikus (Rattus
norvegicus) gravid Setelah pemberian Ekstrak Momordica charantia L. Jurnal
Pharmacon. Jakarta. 1(2). 26-30
Balkan, J. 2001.
Aroma terapi. Dahara Prize. Semarang.
Campbell, Neil
A. 2004. BIOLOGI Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta: PENERBIT ERLANGGA
General Zoology 13 th. Edition.Mc Graw HillCompanies.AmerikaLytle, F Charles dan Mejer R. John. 2005.
General Zoology 14 th Edition.
Mc Graw HillCompanies. Amerika
Junquera.L.Calos,dkk.Basic
Histology.1975.Appleton and Lange:USA
Nalbandov, A.V.Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas Edisi
Ketiga.1990.universitas indonesia:Jakarta
System reproduksi. http://geoweek.wordpress.com/2009/06/11/sistem-reproduksi/
diakses 11 Oktober 2009




Tidak ada komentar:
Posting Komentar