I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bahan Pakan dan Formulasi
Ransum merukan pelajaran wajib fakultas yang harus diikuti oleh seluruh
mahasiswa peternakan universitas jambi, karena merupakan wajib fakultas Bahan
Pakan dan Formulasi Ransum memiliki satu sks yang digunakan sebagai dasar untuk
diadakannya praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Selain itu juga
praktikum ini merupakan kewajiban mahasiswa untuk mengikutinya kerena praktikum
ini mahasiswa dituntut harus mngikutinya 100%. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum terdiri dari
beberapa judul yaitu pengenalan bahan pakan dan alat-alat laboratorium,
analisis proksimat, formulasi ransum, dan mencampur ransum.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat diadakannya praktikum Bahan Pakan dan
Formulasi Ransum yaitu agar mahasiswa dapat Bahan Pakan dan Formulasi Ransum
praktikan dapat memahami jenis-jenis bahan pakan serta termasuk sumber apa bahan pakan
tersebut selain itu praktikan dapat memahami alat-alat laboraturium beserta
fungsinya, selain itu juga praktikan dapat menganalisis bahan yang terkandung
didalam bahan pakan, dan dapat memformulasikan
ransum serta mencampurnya menjadi bahan yang kompleks dan homogen.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Dr. Stephen Long, yang telah lama menjadi peneliti
tanaman, mengatakan adanya kemungkinan bahwa rumput gajah bisa menjadi salah
satu opsi yang membantu untuk menggantikan bahan bakar minyak pada tahun 2030.
Dr. Geraint Evans dari Pusat Penelitian Tanaman Pangan
Inggris, mengatakan lebih baik menggunakan tanaman pangan untuk menghasilkan
ethanol dari pada rumput gajah. “Rumput Gajah mempunyai potensi untuk
memproduksi antara 4.000 sampai 7.000 liter bahan bakar per herktarnya,
sedangkan gandum hanya bisa menghasilkan 1.900 liter per hektarnya.”
Menurut NH. Mon.eith,E.H hoult
Zea mays merupakan salah satu
biji-bijian yang sangat pentingdan secara geografis paling banyak ditanam
karena jagung adalah sumber protei pada ternak.
Menurut
Anonimus 1998 Morinda citifolia
(mengkudu) merupakan tanaman yang memepunyai pohon rendah hidup liar ditepi
pantai daun mudah dan buahnya adalah obat yang mujarab untuk mencegah berbagai
macam penyakit karena mempunyai khasiat meperlacar peredaran darah.
Menurut keenan, C.W.1995.
Leucaena leucocephala merupakan pohon kecil daun-daunnya hijau indah dan
majemuk, biji-bijinya terdapat dalam polong.
Menurut Mc. Murry, jhon. Ipomae batatas merupakan tanaman semusim yang menjalar batangnya
seperti sulur-sulur yang menjalar, tipis, hijau gelap hingga coklat dan
mengandung getah. Flavonoid pada jagung juga meningkatkan ekspresi enzim
Gluthation S-Transferase (GST) yang dapat mendetoksifikasi karsinogen aktif
sehingga menjadi lebih polar dan dieliminasi dari tubuh. Mekanisme yang lain
melalui pengikatan karsinogen aktif oleh flavonoid sehingga dapat mencegah
ikatan dengan DNA, RNA atau protein target (Ren et al., 2003).
Sifat antioksidan jagung
dari senyawa flavonoid juga dapat menginhibisi proses karsinogenesis.
Fase inisiasi kanker seringkali diawali melalui oksidasi DNA yang menyebabkan
mutasi (Kakizoe, 2003) oleh senyawa karsinogen.
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam
aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga
merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh
menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat
masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g (Sediatama 1997).
Alat yang digunakan dalam analisis ini adalah soklet,
tanur, oven, tabung destruksi, seperangkat alat destilasi, penangas listrik,
rotavapor, desikator, kertas saring, dan alat gelas lain serta kromatografi gas
yang dapat memisahkan komponen dengan perantaraan gas pembawa dan dicatat sebagai
fungsi waktu oleh detektor (McNair dan Bonelli 1998)
limbah pabrik kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai
bahan pakan alternatif ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah
bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak sawit (Solid Decanter Waste = SDW)
(Sinurat, 2000)
limbah kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur
melalui teknik secara substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan
terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang
selanjutnya dapat meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas (Supriyati
et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi
lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan bungkil
inti sawit (Supriyati et al, 1998)
Tanaman kelapa sawit
menghasilkan 4 jenis limbah utama yang dapat digunakan sebagai bahan pakan
ternak yaitu daun sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan serabut sawit.
Limbah ini cukup melimpah sepanjang tahun, namun penggunaannya sebagai pakan
ruminansia belum digunakan secara maksimal sampai sekarang (Aritonang, 1996)
Dedak
merupakan produk samping penggilingan gabah menjadi beras. Dedak sebenarnya
mengandung 17%-23% lemak yang dapat dimanfaatkan sebagai minyak pangan.
Pemrosesan beras mempunyai hasil samping dalam bentuk dedak padi. Minyak dedak
padi merupakan turunan penting dari dedak padi. Bergantung pada varietas beras dan
derajat penggilingannya, dedak padi mengandung 16%-32% berat minyak. Sekitar
60%-70% minyak dedak padi tidak dapat digunakan sebagai bahan makanan
(non-edible oil) dikarenakan kestabilan dan perbedaan cara penyimpanan dedak
padi ((Goffman dkk., 2003) dan (Ma dkk,, 1999)).
Dedak
padi merupakan salah satu jenis minyak berkandungan gizi tinggi karena adanya
kandungan asam lemak, komponen-komponen aktif biologis, dan komponen-komponen
antioksi seperti : oryzanol, tocopherol, tocotrienol, phytosterol,polyphenol
dan squalene ((Goffman dkk.,2003) dan (Özgul dan Türkay, 1993)).
Dari
banyak penelitian, suplementasi serat kasar (misalnya dedak padi, bubuk kayu
gergaji) ke dalam ransum, paling banyak dilakukan dalam rangka menurunkan kadar
kolesterol pada produk hewan. Terdapat hasil yang bervariasi tentang pengaruh
serat kasar terhadap kadar kolesterol pada beberapa organ, rupanya serat kasar
mempunyai pengaruh terhadap distribusi kadar kolesterol dalam organ atau bagian
tubuh hewan tersebut, artinya di satu bagian tubuh kadar kolesterolnya turun,
tetapi di bagian lain justru meningkat. Fisher, H bersama Griminger, D (1996).
Garcia et al. (2004) mengamati bahwa kecernaan
pakan yang mengandung sorghum dengan kandungan maupun tanpa kandungan tannin
berbeda ketika dihadapkan dengan suhu lingkungan yang berbeda. koefisien
kecernaannya lebih tinggi pada suhu lingkungan 32oC dibanding 25oC.
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan
awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya,
peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk
pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level
tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan
gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.
Vohra et al. (1996) melaporkan bahwa kadar
tannin acid sebesar 0,5% sudah dapat menekan pertumbuhan ayam broiler.
Dale et al. (1998) menunjukkan bahwa depresi
pertumbuhan terjadi baik pada ayam yang memperoleh tannin alami dari sorghum
maupun tannin acid, namun dilaporkan lebih lanjut bahwa untuk menyamai dampak
depresi pertumbuhan akibat pemberian tannin acid diperlukan konsentrasi tannin
alami dari sorghum dalam jumlah yang lebih tinggi.
Elkin et al. (1998) menemukan bahwa penambahan
0,15% methionine terhadap pakan berbahan tepung sorghum dengan kandungan
tanning tinggi yang dikombinasikan dengan kedelai mampu meningkatkan derajat
pertumbuhan ayam broiler lebiih baik dibanding pakan yang sama namun
dikombinasikan dengan sorghum berkadar tannin rendah.
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari
bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki
perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.
Nir et al. (1999) menyimpulkan bahwa dampak
utama dilakukannya pemecahan bijian adalah untuk memperbaiki utilisasi pakan
yang dicapai melalui peningkatan luas relatif permukaan bijian dengan
berkurangnya ukuran bijian.
Nyachoti et al. (1997) telah melakukan review
literatur mengenai kandungan tannin sorghum dan metode detoksifikasinya,
hasilnya diperoleh kesamaan bahwa kandungan tannin bukanlah menjadi penyebab
utama depresi pertumbuhan, namun ada beberapa penyebab lain yang memberikan
dampak terhadap depresi pertumbuhan
III. MATERI DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Pada Pratikum Bahan Pakan dan
Formulasi Ransum dilaksanakan pada
setiap hari selasa, mulai dari tanggal 17 November sampai pada tanggal 8
Desember 2009, pada pukul 14.00 wib
sampai dengan selesai bertempat di laboratorium Bahan
Pakan dan Formulasi Universitas Jambi.
3.2. Materi
3.2.1. Materi
Pengenalan Bahan Pakan
Adapun alat yang
digunakan dalam praktikum pengenalan bahan pakan terdiri dari sengon, petai
cina, pohon nangka, jagung, senduduk, cabai-cabaian, kacang tanah, rumput
gajah, padi, rumput benggala, Stylosantes humilis, rumput setaria, ubi jalar,
tepung ikan, tepung kerabang telur, poles, abu goso, batu bata, serbuk gergaji,
sekam padi, ampas tahu, alat-alat laboratorium, feed aditif dan obat-obatan
lainnya.
3.2.2. Materi Analisis Proksimat
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum
penentuan kadara air yaitu cawan porselen, eksikator, oven 105 ˚C, penjepit,
dan neraca analitik.
Adapun alat dan
bahan yang digunakan pada praktikum penentuan kadar abu yaitu cawan porselen,
eksikator, tanur, penjepit, neraca analitik, pembakar bunzen.
Adapun alat dan
bahan yang digunakan pada praktikum penentuan protein kasar yaitu labu
destruksi, labu destilasi, destilator, pemanas listrik, labu Erlenmeyer 250 ml,
labu Erlenmeyer 500 ml, biuret, corong, pipet, gelas ukur, neraca analitik,
batu didih, katalis campuran, H2SO4 pekat, H2SO4 0,3 N NaOH 40%, NaOH 0,3 N,
dan indicator campuran.
Adapun alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum penentuan lemak kasar yaitu soxhleet,
kertas saring bebas lemak, sarung tangan karet, kapas bebas lemak, oven, batuh
didih, eksikator, neraca analitik, pinset, pelarut (kloroform).
Adapun alat dan
bahan yang digunakan dalm praktikum penentuan serat kasar yaitu gelas piala,
cawan porselen, corong buchner, oven 105 ˚C, pompa vakum, tanur, pemanas
listrik, penjepit, kertas saring NO. 41, H2SO4 0,3 N, NaOH 1,5 N, dan aseton.
3.2.3. Materi Formulasi Ransum
Materi yang digunakan dalam praktikum
formulasi ransum ini adalah tabel kebutuhan ternak, tabel komposisi bahan
makanan ternak, dan kalkulator.
3.2.4. Materi Mencampur Ransum
Materi
yang digunakan dalam praktikum mencampur ransum yaitu jagung, dedak, tepung
ikan, tepung tulang, bungkil kedele, minyak sawit, timbangan, baskom dan
wadah/nampan kecil.
3.3. Metode
3.3.1. Metode Pengenalan
Bahan Pakan
Pada praktikum
pengenalan bahan pakan adapun metodanya yaitu praktikan diminta untuk
mengelompokan bahan pakan sumber protein hewani dan nabati, sumber energi,
hijauan makanan ternak, vitamin, aditif, mineral, obat-obatan dan bahan pemalsu
pakan serta mencatat alat-alat laboraturium.
3.3.2. Metode Analisis Proksimat
Adapun metode yang
digunakan dalam praktikum penentuan kadar air yaitu cawan porselen yang telah
dicuci bersih, dikeringkan didalam oven selama ±1 jam dengan temperature 105 ˚C
kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang (C).
sampel ditimbang sebanyak 0,5-1 gram (D) dan dimasukkan kedalam cawan porselen.
Kemudian cawan dan sampel tersebut dikeringkan dalam oven 105 ˚C selama ±12-16
jam. Cawan dan sampel (E) dikeluarakan dari dalam oven dan dindinginkan dalam
eksikator selama 10-12 menit sampai diperoleh berat yang tetap.
Adapun metoda yang
digunakan dalam praktikum penentuan kadar abu yaitu, cawan porselen yang telah
dicuci bersih, dikeringkan dalam oven sekitar 1 jam pada temperature 105˚C
kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit dan timbang dengan
teliti (F). sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 3 gram untuk sampel hijauan
atau 5 gram untuk kosentrat (G) dan dimasukkan kedalam cawan porselen. Pijarkan
sampel yang terdapat dalam cawanporselen hingga tak berasap. Baker cawan
porselen berisi sampel dalam tanur bersuhu 600˚C, biarkan sampel terbakar
selama 3-4 jam atau sampai warna sampel berubah menjadi putih semua, setelaha
sampel berwarna putih semua, kemudian didinginkan dalam tanur pada suhu 120˚C
sebelum dipindahkan kedalam eksikator, setelah dingin timbang dengan teliti
(H).
Adapun metoda yang
digunakan dalam praktikum penentuan protein kasar yaitu, timbang sampel dengan
teliti sejumlah 0,3 gram (I) dan masukkan kedalam labu destruksi. Tambahkan
kira-kira 0,2 gram katalis campuran dan 5 ml H2SO4 pekat, panskan larutan
tersebut dalam lemari asam perhatikan proses destruksi selama pemanasan agar
tidak meluap, destruksi dihentikan bila larutan sudah menjadi hijau terang atau
jernih, lalu dinginkan dalaam lemari asam. Larutan dimasukkan kedalam labu
destilasidan diencerkan dengan 60 ml aquades, masukkan beberapa buah batu
didih. Tambahkan pelan-pelan melalui dinding labu 20 ml NaOH 40% dan segera
hubungkan dengan destilator. Sulingan (NH3 dan air) ditangkap oleh labu
Erlenmeyer yang berisi 25 ml H2SO4 0,3 N dan 2 tetes indicator campuran (Methyl
red 0,1% dan bromcresol green 0,2 % dalam alcohol).
Penyulingan dilakukan hingga nitrogen dari cairan tersebut
tertangkap oleh H2SO4 yang ada dalam
Erlenmeyer (2/3 cairan yang ada pada labu destilasi menguap atau terjadi
letupan-letupan kecil atau Erlenmeyer mencapai volume 75 ml). labu Erlenmeyer
berisis sulingan diambil dan dititer kembali dengan NaOH 0,3 N (J). perubahan
dari warna biru ke hijau menandakan titik akhir titrasi. Bandingkan dengan
titer blanko (K).
Adapun metode yang
digunakan dalam praktikum penentuan lemak kasar yaitu Timbang sampel dengan
teliti sebanyak 1 gram (L) dan bungkus dalam kertas saring bebas lemak. Keringkan dalm oven 105 ˚C
selama 5 jam, dinginkan dalam eksikator dan timbang (M). sampel dimasukkan
kedalam tabung ekstraksi soxhlet. Alat soxhlet diisi dengan pelarut lewat
condenser dengan corong. Alat pendingin dialirkan dan panas dihidupkan.
Ekstraksi berlangsung selamama 16 jam sampai pelarut pada alat soxhlet terlihat
jernih. Sampel dikeluarkan dari alat soxhlet dan dikeringkan dalam oven 105˚C
selama 5 jam, kemudian didinginkan dalam eksikator dan timbang (N).
Adapun metode yang
digunakan dalam praktikum penentuan serat kasar yaitu keringkan kertas saring
whatman No. 41 didalam 105 ˚C selama satu jam dan timbang (O). timbang dengan
teliti 1 gram (P) sampel dan masukkan kedalam gelas piala. Tambahkan 50 ml
H2SO4 0,3 N dan didihkan selam 30 menit. Setelah 30 menit didihkan, tambahkan
dengan cepat 50 ml NaOH 1,5 N dan didihkan kembali selama 30 menit. Cairan
disaring melalui kertas saring yang telah diketahui beratnya didalam corong
Buchner yang telah dihubungkan dengan pompa vakum. Kertas saring bersama residu
dicuci berturut-turut dengan 50 ml H2O panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 ml H2O
panas acetone. Kertas saring berisi residu dimasukkan kedalam cawan porselen
bersih dan kering oven. Cawan berisi sampel dikeringkan dalam oven 105˚C samapi didapat berat yang
konstan, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (Q). pijarkan sampel dalam
cawan hingga tak berasap. Kemudian cawan bersama isinya dimasukkan kedalam
tanur 600˚ C selama 3-4 jam setelah isi cawan berubah menjadi abu yang berwarna
putih, diangkat dan ditimbang (R).
3.3.3. Metode Formulasi Ransum
Cara kerja pada praktikum formulasi ransum
ini yaitu tentukanlah jenis ransum yang akan disusun. Tentukanlah bahan pakan
yang akan digunakan. Tentukanlah kandungan zat makanan masing-masing bahan
pakan penyusun ransum terpilih pada
tabel komposisi zat makanan bahan pakan. Tentukanlah jumlah ransum yang akan disusun
dan perkirakan persentase penggunaan setiap bahan pakan dari jumlah total bahan
pakan. Hitung kontribusi zat gizi (PK, SK, LK, Energi Metabolis atau TDN) dari
masing-masing jenis bahan pakan. Persentase setiap bahan pakan makanan dapat
diubah sampai sesuai dengan kebutuhan zat gizi dari ransum yang dibuat.
Bandingkan hasil perhitungan ransum yang dibuat dengan kebutuhan ternak yang
bersangkutan. Berdasarkan hasil perhitungan dapat dihitung biaya ransum per Kg.
3.3.4. Metode Mencampur Ransum
Kelompokan
bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dan tekstrurnya halus, campurkan dedak dan minyak sawit setelah itu tambahkan tepung
ikan dan tepung tulang, serta tambahkan
bungkil kedele dan jagung serta campurkan semua bahan tersebut sampai
rata dan homogen.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengenalan Bahan
Pakan dan Alat Laboratorium
4.1.1. Pengenalan Bahan Pakan
Harendong (senduduk)
Melastoma affine D. Don Sinonim
Melastoma malabathricum
Melastoma polyanthum Bl
Nama umum
Melastoma malabathricum
Melastoma polyanthum Bl
Nama umum
|
|
Harendong, senduduk, senggani
|
|
Inggris:
|
blue tongue, native lassiandra
|
Harendong
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Melastomataceae
Genus: Melastoma
Spesies: Melastoma affine D. Don
a.Morfologi rumput mutiara
Rumput tumbuh rindang berserak, agak lemah, tinggi 15 – 50 cm,
tumbuh subur pada tanah lembab di sisi jalan, pinggir selokan, mempunyai banyak
percabangan. Batang bersegi, daun berhadapan bersilang, tangkal daun
pendek/hampir duduk, panjang daun 2 – 5 cm, ujung runcing, tulang daun satu di
tengah. Ujung daun mempunyal rambut yang pendek. Bunga ke
luar dari ketiak daun, bentuknya seperti payung berwarna putih, berupa
bunga majemuk 2-5, tangkai bunga (induk) keras seperti kawat, panjangnya 5 10
mm. Buah built, ujungnya pecah-pecah. Rumput ini mempunyai khasiat sama seperti
Hedyotis diffusa Willd. = Rumput Iidah ular = Baihua she she cao.
b.Klasifikasi rumput
mutiara
Divisi :
Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Hedyotis
Spesies : Hedyotis corymbosa L
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Hedyotis
Spesies : Hedyotis corymbosa L
c.Kandungan kimia rumput
mutiara
Hentriacontane,
stigmasterol, ursolic acid, oleanolic acid, Beta-sitosterol,
sitisterol-D-glucoside, p-coumaric acid, flavonoid glycosides, dan
baihuasheshecaosu (kemungkinan analog coumarin). Kandungan flavonoid glycosides
pada Hedyotis corymbosa (L.] Lamk. diduga mampu menghambat proses
karsinogenesis baik secara in vitro maupun in vivo. Penghambatan terjadi pada
tahap inisiasi, promosi maupun progresi melalui mekanisme molekuler antara lain
inaktivasi senyawa karsinogen, antiproliferatif, penghambatan angiogenesis,
cell cycle arrest, induksi apoptosis dan antioksidan (Ren et al., 2003).
Sebagian besar senyawa karsinogean seperti Polisiklik Aromatik Hidrokarbon
(PAH) memerlukan aktivasi oleh enzim sitokrom P450 membentuk intermediet yang
reaktif sebelum berikatan dengan DNA. Ikatan kovalen antara DNA dengan senyawa
karsinogen aktif menyebabkan kerusakan DNA. Flavonoid dalam proses ini berperan
sebagai blocking agent (Watternberg, 1985). Pengeblokan aksi karsinogen dapat
melalui beberapa mekanisme antara lain melalui menginhibisi aktivitas isoenzim
sitokrom P450 yaitu CYP1A1 dan CYP1A2 sehingga senyawa karsinogen tidak
reaktif. Mekanisme yang lain melalui detoksifikasi karsinogen. Flavonoid juga
meningkatkan ekspresi enzim Gluthation S-Transferase (GST) yang dapat
mendetoksifikasi karsinogen aktif sehingga menjadi lebih polar dan dieliminasi
dari tubuh. Mekanisme yang lain melalui pengikatan karsinogen aktif oleh
flavonoid sehingga dapat mencegah ikatan dengan DNA, RNA atau protein target
(Ren et al., 2003). Sifat
antioksidan dari senyawa flavonoid juga dapat menginhibisi proses
karsinogenesis. Fase inisiasi kanker seringkali diawali melalui oksidasi DNA
yang menyebabkan mutasi (Kakizoe, 2003) oleh senyawa karsinogen. Karsinogen
aktif seperti radikal oksigen, peroksida dan superoksida, dapat distabilkan
oleh flavonoid melalui reaksi hidrogenasi maupun pembentukan kompleks (Ren et
al., 2003).
d.Kegunaan
dan khasiat rumput mutiara
Rasa manis, sedikit pahit, lembut, netral, agak dingin.
Menghilangkan panas, anti-radang, diuretik, menghilangkan panas dan toxin,
mengaktifkan circulasi darah, Tonsilis, Bronkhitis, Gondongan, Pneumonia,
Radang usus buntu; Hepatitis, Radang panggul, Infeksi saluran kemih, Bisul,
Borok;Kanker: Lymphosarcoma, Ca lambung, Ca cervix, kanker payudara, rectum,
fibrosarcoma, dan Ca nasophar.
gambar : Struktur
Asam Ursolat dan Asam Oleanolat
Jagung
Zea mays L.
Nama umum
|
|
Jagung
|
|
Inggris:
|
Corn
|
|
Cina:
|
yu shu shu, yu mi xu
|
Jagung
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Zea
Spesies: Zea mays L.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Zea
Spesies: Zea mays L.
Jagung (Zea mays L.) merupakan
salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di
Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di
Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura
dan Nusa
Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai
sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan
maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji,
dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung
tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang
dipakai sebagai bahan baku
pembuatan furfural. Jagung yang telah
direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Biologi jagung
Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui
bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan).
Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu
teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu,
dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu.
Kajian filogenetik
menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan
langsung dari teosinte
(Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya,
yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk
gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana.
Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea,
kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung
merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di
alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun
kultivar.
Deskripsi jagung
Jagung merupakan tanaman
semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua
untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi
tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian
antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman
biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan.
Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada
umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini. Akar
jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun
sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa
muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga
tegaknya tanaman. Batang
jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak
seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat
sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah
daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak
mengandung lignin. Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya
memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan
ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma
pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap
stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan
penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun. Jagung
memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu
tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku
Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret
dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian
puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna
kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh
dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya
dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga
betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol
produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung
siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya
(protandri). Biji jagung
kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan
karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat
dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin.
Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin.
Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih
berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi
pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.
Rumput Gajah
Pennisetum purpureum Schumacher Nama umum
|
|
Rumput gajah, rumput lembing
|
|
Inggris:
|
Cane grass, elephant grass, napier grass
|
|
Cina:
|
Xiang cao
|
|
Jepang:
|
Napaa agurasu
|
Rumput Gajah
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Pennisetum
Spesies: Pennisetum purpureum Schumacher
Dr. Stephen Long, yang telah lama menjadi peneliti tanaman,
mengatakan adanya kemungkinan bahwa rumput gajah bisa menjadi salah satu opsi
yang membantu untuk menggantikan bahan bakar minyak pada tahun 2030. “Saya pikir ini sangat penting
bahwa perdebatan tentang biofuel tidaklah sia-sia. Gagasan untuk menggunakan
energi matahari untuk pertumbuhan tanaman dan membuat bahan bakar dari tanaman
tersebut adalah pada dasarnya sangat bagus,” ungkapnya, seperti dilansir CNN
News. Rumput
gajah bisa tumbuh di lahan terbatas, sehingga tidak mengganggu tanaman pangan
lainnya, juga tidak memerlukan pemberian pupuk yang intensif dan yang utama
adalah bisa memberi hasil selama 15 tahun. Tapi
ini butuh bertahun-tahun untuk merealisasikannya, karena faktanya lebih
kompleks untuk membuat ethanol dari tanaman non pangan dari pada tanaman
pangan, seperti jagung dan gandum untuk menghasilkan ethanol. Dr.
Geraint Evans dari Pusat Penelitian Tanaman Pangan Inggris, mengatakan lebih
baik menggunakan tanaman pangan untuk menghasilkan ethanol dari pada rumput
gajah. “Rumput Gajah mempunyai potensi untuk memproduksi antara 4.000 sampai
7.000 liter bahan bakar per herktarnya, sedangkan gandum hanya bisa
menghasilkan 1.900 liter per hektarnya.”
Sengon
Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen
Nama umum
|
|
Sengon
|
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Mimosaceae
Genus: Paraserianthes
Spesies: Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen
Deskripsi
Sengon
Batang
Sengon
Pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat
mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin,
berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau.
mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin,
berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau.
Daun Sengon
Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda
panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yang
berisi 15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok.
Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.
panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yang
berisi 15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok.
Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.
Akar Sengon
Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat
menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan
tidak menonjol kepermukaan tanah.Akar
rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.
menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan
tidak menonjol kepermukaan tanah.Akar
rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.
Bunga Sengon
Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai
berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit
berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina,
dengan cara penyerbukan yang dibantu
oleh angin atau serangga.
berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit
berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina,
dengan cara penyerbukan yang dibantu
oleh angin atau serangga.
Buah Sengon
Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak
bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 –
30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika
sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras,
dan berlilin
bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 –
30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika
sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras,
dan berlilin
Benih Sengon
Pipih, lonjong, 3 – 4 x 6 – 7 mm, warna hijau,
bagian tengah coklat. Jumlah benih 40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata
80%. Berat 1.000 butir 16 – 26 gram.
bagian tengah coklat. Jumlah benih 40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata
80%. Berat 1.000 butir 16 – 26 gram.
Kegunaan
Merupakan kayu serba guna untuk konstruksi ringan,
kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik,
pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Di Ambon kulit batang digunakan
untuk penyamak jaring, kadang-kadang sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan.
kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik,
pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Di Ambon kulit batang digunakan
untuk penyamak jaring, kadang-kadang sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan.
B. Anatomi
Nama botanis: (Paraserianthes
falcataria (L) Nielsen), syn. Albizia falcata Backer,
famili Mimosaceae. Nama daerah :Albizia, bae, bai, jeungjing, jeungjing laut,
jing laut, rare, salawaku, salawaku merah, salawaku putih, salawoku, sekat,
sengon laut, sengon sabrang, sika, sika bot, sikas, tawa sela, wai, wahagom,
wiekkie.Nama lain : Batai (Malaysia Barat, Sabah, Philipina, Inggris, Amerika
Serikat, Perancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman); kayu machis (Sarawak);
puah (Brunei). Penyebaran : Seluruh Jawa, Maluku, Irian Jaya.
falcataria (L) Nielsen), syn. Albizia falcata Backer,
famili Mimosaceae. Nama daerah :Albizia, bae, bai, jeungjing, jeungjing laut,
jing laut, rare, salawaku, salawaku merah, salawaku putih, salawoku, sekat,
sengon laut, sengon sabrang, sika, sika bot, sikas, tawa sela, wai, wahagom,
wiekkie.Nama lain : Batai (Malaysia Barat, Sabah, Philipina, Inggris, Amerika
Serikat, Perancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman); kayu machis (Sarawak);
puah (Brunei). Penyebaran : Seluruh Jawa, Maluku, Irian Jaya.
Ciri umum : Kayu teras berwarna hampir putih atau coklat
muda pucat (seperti daging) warna kayu gubal umumnya tidak berbeda dengan kayu
teras. Teksturnya agak kasar dan merata dengan arah serat lurus, bergelombang
lebar atau berpadu. Permukaan kayu agak licin atau licin dan agak mengkilap.
Kayu yang masih segar berbau petai, tetapi bau tersebut lambat laun hilang jika
kayunya menjadi kering. Sifat kayu : Kayu sengon termasuk kelas awet IV/V dan
kelas IV-V dengan berat jenis 0,33 (0,24-0,49). Kayunya lunak dan mempunyai
nilai penyusutan dalam arah radial dan tangensial berturut-turut 2,5 persen dan
5,2 persen (basah sampai kering tanur). Kayunya mudah digergaji, tetapi tidak
semudah kayu meranti merah dan dapat dikeringkan dengan cepat tanpa cacat yang
berarti. Cacat pengeringan yang lazim adalah kayunya melengkung atau memilin.
(Martawijaya dan Kartasujana, 1977).
muda pucat (seperti daging) warna kayu gubal umumnya tidak berbeda dengan kayu
teras. Teksturnya agak kasar dan merata dengan arah serat lurus, bergelombang
lebar atau berpadu. Permukaan kayu agak licin atau licin dan agak mengkilap.
Kayu yang masih segar berbau petai, tetapi bau tersebut lambat laun hilang jika
kayunya menjadi kering. Sifat kayu : Kayu sengon termasuk kelas awet IV/V dan
kelas IV-V dengan berat jenis 0,33 (0,24-0,49). Kayunya lunak dan mempunyai
nilai penyusutan dalam arah radial dan tangensial berturut-turut 2,5 persen dan
5,2 persen (basah sampai kering tanur). Kayunya mudah digergaji, tetapi tidak
semudah kayu meranti merah dan dapat dikeringkan dengan cepat tanpa cacat yang
berarti. Cacat pengeringan yang lazim adalah kayunya melengkung atau memilin.
(Martawijaya dan Kartasujana, 1977).
Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah,
papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak
korek api, pulp, kertas dan lain-lain
papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak
korek api, pulp, kertas dan lain-lain
Petai Cina
Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit Sinonim
Leucaena glauca Linn
Nama umum
|
|
Petai cina, [klandingan, kemlandingan,
lamtoro, lamtorogung (Jawa)], peuteuy selong (Sunda)
|
|
Inggris:
|
Lead tree
|
|
Cina:
|
yin he huan
|
Petai Cina
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus: Leucaena
Spesies: Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus: Leucaena
Spesies: Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit
Petai cina (Leucaena leucocephala) adalah tumbuhan yang memiliki
batang pohon keras dan berukuran tidak besar. Daunnya majemuk terurai dalam
tangkai berbilah ganda. Bunganya yang berjambul warna putih sering disebut
cengkaruk. Buahnya mirip dengan buah petai (Parkia speciosa) tetapi ukurannya
jauh lebih kecil dan berpenampang lebih tipis. Buah petai cina termasuk buah
polong, berisi biji-bibji kecil yang jumlahnya cukup banyak. Petai cina oleh
para petani di pedesaan sering ditanam sebagai tanaman pagar, pupuk hijau dan
segalanya. Petai cina cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1500
meter di atas permukaan laut. Petai cina di Indonesia
hampir musnah setelah terserang hama
wereng. Pengembangbiakannya selain dengan penyebaran biji yang sudah tua juga
dapat dilakukan dengan cara stek batang.
Kacang Tanah
Arachis hypogaea L. Nama umum
|
|
Kacang tanah
|
|
Inggris:
|
Peanut
|
Kacang Tanah
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus: Arachis
Spesies: Arachis hypogaea L.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus: Arachis
Spesies: Arachis hypogaea L.
Ciri-cirinya:
Ø Memilikidaun yang berbentuk bulat, Pada
setiap tangkai terdapat empat daun
Ø Mempunyai batang yang kecil kira-kira
hanya dapat bencapai 1,5 m
Ø Akarnya tunggang, kalau sudang cukup hari
di ujung-ujung akar terdapat kacang
Ø
Tanaman
Kacang Tanah ini merupakan sumber protein.
Padi
Oryza sativa L. Nama umum
|
|
Padi, pari (Jawa), pare (Sunda)
|
|
Inggris:
|
Rice
|
Padi
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Oryza
Spesies: Oryza sativa L.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Oryza
Spesies: Oryza sativa L.
Ciri-cirinya:
Ø Memiliki daun yang berbentuk lidah yang
panjang
Ø Akar serabut, dan berukuran pendek-pendek
tetapi akarnya banyak
Ø Tidak memiliki batang
Mengkudu
Morinda citrifolia L. Sinonim
Bancudus latifolia Rumph.
Nama umum
|
|
Mengkudu, pace, cengkudu, bentis
|
|
Inggris:
|
Noni
|
|
Cina:
|
ji shu
|
Mengkudu
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Rubiales
Famili: Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus: Morinda
Spesies: Morinda citrifolia L.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Rubiales
Famili: Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus: Morinda
Spesies: Morinda citrifolia L.
Ciri-cirinya:
Ø Buahnya berbentuk bulat dan memiliki bau
yang khas ketika sudah matang
Ø Pada kulit buah terdapat titik-titik
banyak yang beraturan
Nangka
Artocarpus heterophyllus Lam Sinonim
Artocarpus integer Merr
Nama umum
|
|
Nangka
|
|
Inggris:
|
Jackfruit
|
|
Melayu:
|
Nangka
|
|
|
Mit
|
|
|
Khanun
|
Nangka
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Urticales
Famili: Moraceae (suku nangka-nangkaan)
Genus: Artocarpus
Spesies: Artocarpus heterophyllus Lam
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Urticales
Famili: Moraceae (suku nangka-nangkaan)
Genus: Artocarpus
Spesies: Artocarpus heterophyllus Lam
Rumput
Benggala (Panicum maximum)
Klasifikasi:
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Papilianaceae
Genus : Panicum
Spesies: Panicum maximum
Rumput Setilo (Stylosantes humilis)
Klasifikasi :
Divisi : Spermatophyla
Class : Dicotyedonaea
Ordo : Leguminales
Famili : Legumicedes
Genus ; Stylosantes
Ciri-cirinya:
Ø Hidup di daerah tropis
Ø Berdaun majemuk memiliki tangkai
yang berbulu
Ø Ini termasuk jenis tanaman rumput
Ø Sumber protein
Kacang asu (Callopogonium
muconoides)
Klasifikasi :
Divisi : Spermatolophyta
Class : Dicotyedonaea
Ordo : Leguminales
Famili : Legumicedes
Genus ; callopogonium
Spesies ; Callopoginium
muconoides
Ciri-cirinya:
Ø Hidup di daerah tropis
Ø Berdaun kecil-kecil dan berjumlah 3
pada tiap tangkai
Cabe-cabean
Bentuk fisik
Ø Sejenis legume
Ø Warna hijau
Ø Memiliki stolon dan rhizome
Ø Termasuk sumber protein
Tepung ikan
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur halus
Ø Warna merah
Ø Bau menyengat
Ø Termasuk sumber protein
Pada dasarnya semua jenis ikan dapat
dibuat tepung ikan. Untuk mengepres dan membuat tepung ikan dapat digunakan
alat penggiling daging atau alat pembuat pakan pellet.
Apabila digunakan untuk mengepres maka pisau pemotongnya jangan dipasang
terlebih dahulu. Sementara
untuk mengeringkannya dapat digunakan alat pengering mekanis atau oven.
Tepung Kerabang Telur
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur kasar
Ø Warna merah bercampur putih
Ø
Bau amis
Ø
Termasuk sumber mineral.
Abu Gosok
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur kasar
Ø Warna abu-abu
Ø
Bau abu
Serbuk Gergaji
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur kasar
Ø Warna kuning
Ø
Bau kayu
Ø
Bahan palsuan yang memiliki
serat tinggi
Sekam Padi
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur kasar
Ø Warna kuning
Ø
Bau lignin
Ø
Sumber energi
Poles
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur halus
Ø Warna putih
Ø
Bau tongkol
Ø
Sumber energi
Tepung Tulang
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur halus
Ø Warna putih
Ø
Bau amis
Ø
Sumber Protein,mineral, dan
lemak
Tepung tulang yang bermutu
baik biasanya memenuhi beberapa syarat, diantaranya berwarna keputih-putihan,
tidak berbau, tidak mengandung bibit penyakit, kadar airnya paling tiggi 5%,
dan kadar tepungnya mencapai 94%. Pada proses pembuatan tepung tulang dapat
dihasilkan antara 70-75% tepung tulang dan sisanya berupa gelatin sebagai bahan
baku lem. Berikut ini cara pembuatan tepung tulang.
Tepung Kerang
Ø Bentuk fisik berupa tepung
Ø Tekstur halus
Ø Warna putih
Ø
Bau kapur
Ø
Sumber mineral
Batu Bata
Ø Berbentuk kasar dan terdapat yang halus
juga
Ø Warna Orange
Ø Yang terbuat dari tanah liat
Ø Batu bata ini merupakan bahan palsuan yang
mengandung serat tinggi
Pengenalan Alat-alat Laboraturium
1. Pipet tetes Fungsi menyedot
larutan
2. Gelas Ukur Fungsi mengukur
larutan dalam jumlah kecil
3. Tabung Reaksi Fungsi untuk mereaksikan
suatu zat
4. Kertas Saring Fungsi menyaring larutan
5. Gelas Piala Fungsi mengukur
larutan
6. Termometer Fungsi untuk mengukur
suatu Larutan
7. Eksikator Fungsi
mendinginkan bahan pakan yang telah
dilarutkan oven
8.Penjepit Fungsi
menjepit bahan yang panas9.Tabung Gas Fungsi menimbulkan energi panas
10. Corong fungsi memindahkan zat kimia ketempat lain
11. Tanur Fungsi untuk mengukur kadar air
12. Titrasi Fungsi untuk titrasi
13. Bucle Fungsi untuk mengukur kadar air
14. Labu Destilasi Fungsi untuk proses destilasi
15. sikat tabung Fungsi untuk membersihkan tabung
16. Cawan Proslen Fungsi sebagai tempat zat yang direaksi
17. Labu Ukur Fungsi
mereaksikan suatu larutan dengan mengetahui ukuran dan langsung kesokletnya.
18. Rak tabung reaksi fungsi
sebai tempat tabung reaksi
19. Neraca empat lengen Fungsi
untuk menimbang berat suatu suhu
20. pembakar busen Fungsi
sebagai alat pembakar
21. Autoclave Fungsi
untuk memanaskan dengan tekanan tertentu
4.1.2. Pengenalan Obat-obatan
1. Noebro
Ø Kegunaanya
- Merangsang pertumbuhan ayam pedaging
- Melengkapi segala kebutuhan vit dan asam
amino yang diperlukan bagi pertumbuhan
- Meningkatkan efisiensi ransum, menjadikan
broiler lebih gemuk
Ø Aturan pakai ayam umur 0-6 minggu, 1
gram tiap 2 liter air minum
Ø Tekstur berbentuk bubuk warna coklat
Ø Produksi Medium
Ø Bahan-bahanya A, E, K3, B1,
B2, B6, B12, C, Ca Pantothemale,
nicothamidade, mangnesium, copper, coble.
2. Therapthy
Ø Kegunaanya
- Indikasi, korisa (muka bengkak)
- Mencegah Synovitrcl (Radang Persendian)
- Mencegah penyakit pada waktu stres
Ø Aturan pakai 1 gram tiap 1 liter air
minum
Ø Tekstur berbentuk bubuk warna kuning
Ø Produksi Medium
Ø Bahan-bahanyaOxytectrac ycline HCL, Comprolium, Vit A, Vit K.
3. Multifilt
Ø Kegunaanya
- Mencegah kerapuhan kulit terlur
- Menambah daya tahan tubuh terhadap infeksi
- Meningkatkan produksi dan kualitas telur
Ø Aturan pakai pada unggas dilarutkan
5 gram multifilit ke dalam 10 liter air minum
Ø Tekstur berbentuk bubuk warna coklat
muda
Ø Produksi PT Pyridium
Ø Bahan-bahanya Vit A, D3, E, B-2,
B-1, B-6, B-12, B-3, Ca-p, Pantotheanet, Nicotnic Aa, Sudlum Chlorida, Iron
Sulfat, Zink Zulface.
4. Egg Slimulant
Ø Kegunaanya
- Meningkatkan produksi telur sampai 37%
- Memperbaiki infeksi ransum sampai 18%
- Memperpanjang masa produksi telur
Ø Aturan pakai 5 gram tiap 7 liter air
minum
Ø Tekstur berbentuk bubuk warna coklat
Ø Produksi Medion
Ø Bahan-bahanya Vit A, B3, E, K3, B,
B2, B4, B12, C, Ca, D, Pantothenat, nicatnia acid, folrc acid.
5. Turbo
Ø Kegunaanya
- Meningkatkan produksi telur
- Menambah kesuburan
Ø Aturan pakai 5 gram tiap 1 liter air
minum, kemudian di campurkan ke dalam 2 kg ransum
Ø ,Tekstur berbentuk bubuk warna
coklat
Ø Produksi Medion
Ø Bahan-bahanya Vit A, B3, E, K3, B,
B2, B4, B12, C, Ca, D, Pantothenat, nicatnia acid, folrc acid.
6. Vitachinks
Ø Kegunaanya
- Mengatasi stres
- Mengurangi angka lemak pada anak
ayam
- Mempercepat pertumbuhan
Ø Merupakan kombinasi antara vitamin dan
antibiotik
Ø Tekstur berbentuk serbuk berwarna
coklat tua
Ø Produksi Medion
Ø Bahan-bahanya Vit A, B3, E, B2, B1,
B6, B12, C nikotin acid, Bacitracidn Md
7. Coxy
Ø Kegunaanya
- Menghindari gangguan panas pada jengger
- Menghindari pembengkaann
Ø Tekstur berbentuk serbuk berwarna
merah
Ø Produksi Medion
Ø Bahan-bahanya sodium sulfaauino
xaline, vit A, K3
4.2. Analisis Proksimat
Pada penentuan kadar air, kadar abu, protein kasar,
lemak kasar, serat kasar, dan kadar ekstrak bahan tanpa nitrogen. dapat
diketahui perbandingan dari masing-masing bahan dedak, tepung ikan, jagung,
bungkil kedele, tepung tulang, dan bungkil sawit dan perbandingannya dengan
beberapa literature.
Dedak berfungsi sebagai sumber energi bagi pertumbuhan
Berdasarkan penelitian, energi yang terkandung dalam dedak padi bisa mencapai
2980 kcal/kg. Angka ini relatip tergantung pada jumlah serat kasar, dan
kualitas lemak yang ada didalamnya. Semakin tinggi serat kasar maka semakin rendah
pula jumlah energinya. Jadi, kualitas dari Dedak sangat tergantung dari jumlah
serat kasar yang terdapat didalam dedak itu sendiri.
Dedak dengan kualitas yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut
:
- Berwarna coklat cerah dan tidak menggumpal. Penggumpalan ini terjadi biasanya disebabkan oleh kadar air yang tinggi.
- Tidak ada bau “tengik” (rancid). Bau tengik dapat disebabkan oleh proses oksidasi (karena dedak banyak mengandung asam lemak tak jenuh) sertatempat, cara dan lama penyimpanan dedak yang kurang menenuhi syarat.

Dedak
merupakan produk samping penggilingan gabah menjadi beras. Dedak sebenarnya
mengandung 17%-23% lemak yang dapat dimanfaatkan sebagai minyak pangan.
Pemrosesan beras mempunyai hasil samping dalam bentuk dedak padi. Minyak dedak
padi merupakan turunan penting dari dedak padi. Bergantung pada varietas beras
dan derajat penggilingannya, dedak padi mengandung 16%-32% berat minyak.
Sekitar 60%-70% minyak dedak padi tidak dapat digunakan sebagai bahan makanan
(non-edible oil) dikarenakan kestabilan dan perbedaan cara penyimpanan dedak
padi ((Goffman dkk., 2003) dan (Ma dkk,, 1999)). Minyak dedak padi merupakan
salah satu jenis minyak berkandungan gizi tinggi karena adanya kandungan asam
lemak, komponen-komponen aktif biologis, dan komponen-komponen antioksi seperti
: oryzanol, tocopherol, tocotrienol, phytosterol,polyphenol dan squalene
((Goffman dkk.,2003) dan (Özgul dan Türkay, 1993)). Kandungan asam lemak bebas
4% - 8% b pada minyak dedak padi tetap diperoleh walaupun dilakukan ekstraksi
dedak padi sesegera mungkin. Peningkatan asam lemak bebas secara cepat terjadi
karena adanya enzim lipase yang aktif dalam dedak padi setelah proses
penggilingan. Minyak dedak padi sulit dimurnikan karena tingginya kandungan
asam lemak bebas dan senyawa-senyawa tak tersaponifikasikan. Lipase dalam dedak
padi mengakibatkan kandungan asam lemak bebas minyak dedak padi lebih tinggi
dari minyak lain sehingga tidak dapat digunakan sebagai edible oil.
Kandungan sekam
mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi
kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu
perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal
atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali
ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15%. Untuk menhindari
penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu
dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa
flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada
kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika
dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada
prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi. limbah pabrik kelapa
sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif ternak unggas dan
punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak
sawit (Solid Decanter Waste = SDW) (Sinurat, 2000), yang sampai saat ini limbah
tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum
ternak, lagipula sumber daya limbah tersebut banyak terdapat di Sumatera Utara.
limbah
kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur melalui teknik secara
substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan terjadinya perombakan
komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas
(Supriyati et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan
nilai gizi lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan
bungkil inti sawit (Supriyati et al, 1998).
Komposisi Zat Nutrisi Daun Sawit, Lumpur Sawit dan Bungkil
Inti Sawit
|
Zat
Nutrisi
|
Daun Sawit
|
Lumpur
sawit
|
Bungkil
Inti
|
|
Bahan kering (%)
Protein kasar (%)
Lemak kasar (%)
Serat kasar (%)
Abu (%)
TDN (%)
Ca (%)
P (%)
Zn (%)
EM (%)
|
93,41a
13,13a
4,47a
32,55a
14,43b
65,00
0,67c
0,11c
29,00c
2348b
|
94,00a
13,25a
13,00a
16,00a
13,90b
65,00
0,86c
0,18c
61,10c
32,72b
|
91,11a
15,40a
7,71a
10,50a
5,18b
62,00
0,04c
0,22c
50,40c
2246b
|
Lumpur sawit adalah larutan buangan yang dihasilkan selama
proses pemanasan minyak mentah sawit. Bahan ini merupakan emulsi mengandung
sekitar 20% padatan 0,5 - 1 % sisa minyak dan sekitar 78 - 79% air (Devendra,
1977). Bungkil inti sawit adalah limbah
ikutan proses ekstraksi inti sawit. Bahan ini dapat diperoleh dengan proses
kimia atau dengan cara mekanik. Walaupun kandungan proteinnya lumayan baik tapi
karena serat kasarnya tinggi dari palatabilitasnya rendah menyebabkaan kurang
cocok untuk ternak monogastrik dan lebih sering diberikan kepada ternak
ruminansia terutama sapi perah dan domba, tetapi belakang ini sudah banyak
penelitian yang mencobanya untuk digunakan pada ternak unggas seperti yang
dilakukan oleh Siregar dkk. (1998) dengan teknik fermentasi Rhizopus oligoporus
mendapatkan basil basil yang cukup signifikan baik.
Menurut literature Hasil analisis proksimat beberapa
komoditas kacangkacangan. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai,
diikuti oleh kacang tunggak, kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau.
Protein merupakan salah satu zat penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan
dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kadar lemak tertinggi dimiliki oleh
kacang tanah. Lemak dalam tubuh berguna sebagai cadangan energi untuk aktivitas
tubuh. Kacang-kacangan merupakan sumber lemak nabati. Lemak nabati umumnya kaya
akan polyunsaturated fatty acid (PUFA), yaitu asam lemak tak jenuh yang
mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap. K andungan asam linoleat yang
mengandung omega 3 tertinggi (5,85%) terdapat pada kacang tunggak dan terendah
pada kedelai (2,72%) Ketaren (1986) menyatakan asam oleat merupakan komponen
asam lemak tertinggi dalam minyak kedelai. Kandungan proksimat dan asam lemak
beberapa jenis kacang-kacangan berbeda meskipun termasuk dalam satu varietas
yang sejenis. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai (36,83%) diikuti
oleh kacang tunggak (25,53%), kacang tanah (23,97%), kacang merah (23,33%), dan
kacang hijau (23,11%). Dengan demikian kedelai sangat baik dikonsumsi sebagai
salah satu makanan penghasil proteinyang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan
memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kedelai juga mengandung lemak cukup
tinggi yang berfungsi sebagai sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia.
Minurut
literature Bahan baku
tepung ikan Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%; Abu=26,65%;
Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–3. Menurut literature tepung tulang
Kandungan gizinya: Protein=25,54%, Lemak=3,80%, Abu=61,60%, Serat=1,80%,
Air=5,52%.
4.3. Formulasi Ransum
Penggunaan bahan pakan dalam formulasi ransum yaitu
jagung 28%, dedak padi 18%, tepung ikan 15%, tepung tulang 18 %, bungkil
kedelai 19%, dan minyak sawit 2 %.
Protein kasar pada masing-masing bahan pakan yaitu
jagung 1,9404%, dedak padi 1,4814%, tepung ikan 8,3085 %, tepung tulang 9,072%,
bungkil kedelai 2,09%, bungkil kelapa sawit 0 %. Jadi jumlah seluruh persen
protein kasar yaitu 22,8923%.
Serat kasar pada masing-masing bahan pakan yaitu jagung
0,5488%, dedak padi 4,0158 %, tepung ikan 0,0855 %, tepung tulang 0,504%,
bungkil kedelai 0,437%, bungkil kelapa sawit 0%. Jadi jumlah seluruh persen
serat kasar yaitu 5,5911%.
Lemak kasar pada masing-masing bahan pakan yaitu jagung
1,2096%, dedak padi 1,665%, tepung ikan 1,7505 %, tepung tulang 1,8%, bungkil
kedelai 0,494%, bungkil kelapa sawit 2 %. Jadi jumlah seluruh persen lemak
kasar yaitu 8,9191%.
Energi metabolis pada masing-masing bahan pakan yaitu
jagung 960,4 kkal/kg, dedak padi 293,4 kkal/kg, tepung ikan 396 kkal/kg, tepung
tulang 387 kkal/kg, bungkil kedelai 610,28 kkal/kg, bungkil kelapa sawit 16 kkal/kg.
jadi jumlah seluruh energi metabolis yaitu 2663,08.
v Metode coba-coba
v Metode Bujur sangkar
v Metode Persamaan
v Linear Programing
Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh
menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat
masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g (Sediatama 1987).
Kandungan sekam
mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi
kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu
perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal
atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali
ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15%. Untuk menhindari
penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu
dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa
flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada
kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika
dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada
prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi.
Menurut literature Hasil analisis proksimat beberapa
komoditas kacangkacangan. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai,
diikuti oleh kacang tunggak, kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau.
Protein merupakan salah satu zat penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan
dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kadar lemak tertinggi dimiliki oleh
kacang tanah. Lemak dalam tubuh berguna sebagai cadangan energi untuk aktivitas
tubuh. Kacang-kacangan merupakan sumber lemak nabati. Lemak nabati umumnya kaya
akan polyunsaturated fatty acid (PUFA), yaitu asam lemak tak jenuh yang
mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap. K andungan asam linoleat yang
mengandung omega 3 tertinggi (5,85%) terdapat pada kacang tunggak dan terendah
pada kedelai (2,72%) Ketaren (1986) menyatakan asam oleat merupakan komponen
asam lemak tertinggi dalam minyak kedelai. Kandungan proksimat dan asam lemak
beberapa jenis kacang-kacangan berbeda meskipun termasuk dalam satu varietas
yang sejenis. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai (36,83%) diikuti
oleh kacang tunggak (25,53%), kacang tanah (23,97%), kacang merah (23,33%), dan
kacang hijau (23,11%). Dengan demikian kedelai sangat baik dikonsumsi sebagai
salah satu makanan penghasil proteinyang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan
memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kedelai juga mengandung lemak cukup
tinggi yang berfungsi sebagai sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia.
limbah pabrik kelapa
sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif ternak unggas dan
punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak
sawit (Solid Decanter Waste = SDW) (Sinurat, 2000), yang sampai saat ini limbah
tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum
ternak, lagipula sumber daya limbah tersebut banyak terdapat di Sumatera Utara.
limbah
kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur melalui teknik secara
substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan terjadinya perombakan
komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas
(Supriyati et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan
nilai gizi lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan
bungkil inti sawit (Supriyati et al, 1998).
Dale et al. (1998) menunjukkan bahwa depresi
pertumbuhan terjadi baik pada ayam yang memperoleh tannin alami dari sorghum
maupun tannin acid, namun dilaporkan lebih lanjut bahwa untuk menyamai dampak
depresi pertumbuhan akibat pemberian tannin acid diperlukan konsentrasi tannin
alami dari sorghum dalam jumlah yang lebih tinggi.
Pakan pada ternak dapat digolongkan menjadi dua kelompok
yaitu hijauan dan konsentrat.
Persentase hijauan pada pakan paling sedikit 50 % dari
total kebutuhan pakan yang diberikan, oleh karena itu sebagian besar pakan
mengandung serat kasar sehingga pencernaannya spesifik dan berbeda dengan
ternak lambung tunggal (non-ruminansia)
Ø Dalam penyusunan ransum ruminansia yang sangat diperhatikan adalah
jumlah energi dan protein.
Ø Mineral yang penting adalah kalsium dan fosfor,
Ø Vitamin yang harus memenuhi kebutuhan adalah vit. D dan A.
Ø Semua Zat nutrisi tersebut
dapat dipenuhi dari hijauan dan konsentrat yang diberikan dalam pakan ternak
ruminansia
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan
awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya,
peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk
pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level
tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan
gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.
4.4. Mencampur Ransum
Bahan yang digunakan dalam praktikum mencampur ransum yang terdiri dari jagung 18% dikalikan dengan
3000 jadi jumlah jagung yang digunakan
sebanyak 540 gram, dedak 15% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah dedak
yang digunakan sebanyak 450 gram, tepung
ikan 15% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah tepung ikan yang digunakan sebanyak 450 gram, tepung tulang15% dikalikan
dengan 3000 jadi jumlah tepung tulang yang digunakan sebanyak 450 gram, bungkil kedele 35% dikalikan
dengan 3000 jadi jumlah bungkil kedele yang digunakan sebanyak 1050 gram, minyak sawit 2% dikalikan
dengan 3000 jadi jumlah bungkil kedele yang digunakan sebanyak 60 gram. Jadi jumlah bahan keseluruhan
yaitu 3000 gram.
Sebelum kita
mencampur ransum sebaiknya kita harus mengetahui bahan mana yang harus dicampur
terlebih dahulu sehingga hasil yang didapat rata atau homogen. Kelompokan bahan-bahan yang jumlahnya
sedikit dan tekstrurnya halus, campurkan dedak
dan minyak sawit setelah itu tambahkan tepung ikan dan tepung tulang,
serta tambahkan bungkil kedele dan
jagung serta campurkan semua bahan tersebut sampai rata dan homogen.
Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh
menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat
masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g (Sediatama 1987).
Kandungan sekam
mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi
kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu
perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal
atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali
ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15%. Untuk menhindari
penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu
dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa
flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada
kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika
dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada
prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi.
Menurut literature Hasil analisis proksimat beberapa
komoditas kacangkacangan. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai,
diikuti oleh kacang tunggak, kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau.
Protein merupakan salah satu zat penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan
dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kadar lemak tertinggi dimiliki oleh
kacang tanah. Lemak dalam tubuh berguna sebagai cadangan energi untuk aktivitas
tubuh. Kacang-kacangan merupakan sumber lemak nabati. Lemak nabati umumnya kaya
akan polyunsaturated fatty acid (PUFA), yaitu asam lemak tak jenuh yang
mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap. K andungan asam linoleat yang
mengandung omega 3 tertinggi (5,85%) terdapat pada kacang tunggak dan terendah
pada kedelai (2,72%) Ketaren (1986) menyatakan asam oleat merupakan komponen
asam lemak tertinggi dalam minyak kedelai. Kandungan proksimat dan asam lemak
beberapa jenis kacang-kacangan berbeda meskipun termasuk dalam satu varietas
yang sejenis. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai (36,83%) diikuti
oleh kacang tunggak (25,53%), kacang tanah (23,97%), kacang merah (23,33%), dan
kacang hijau (23,11%). Dengan demikian kedelai sangat baik dikonsumsi sebagai
salah satu makanan penghasil proteinyang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan
memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kedelai juga mengandung lemak cukup
tinggi yang berfungsi sebagai sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia.
limbah pabrik kelapa
sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif ternak unggas dan
punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak
sawit (Solid Decanter Waste = SDW) (Sinurat, 2000), yang sampai saat ini limbah
tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum
ternak, lagipula sumber daya limbah tersebut banyak terdapat di Sumatera Utara.
limbah
kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur melalui teknik secara
substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan terjadinya perombakan
komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas
(Supriyati et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan
nilai gizi lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan
bungkil inti sawit (Supriyati et al, 1998).
Dale et al. (1998) menunjukkan bahwa depresi
pertumbuhan terjadi baik pada ayam yang memperoleh tannin alami dari sorghum
maupun tannin acid, namun dilaporkan lebih lanjut bahwa untuk menyamai dampak
depresi pertumbuhan akibat pemberian tannin acid diperlukan konsentrasi tannin
alami dari sorghum dalam jumlah yang lebih tinggi.
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan
awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya,
peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk
pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level
tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan
gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam
aktivitas tubuh, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan
faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari
bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki
perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam
aktivitas tubuh, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan
faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari
bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki
perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum yang berjudul
pengenalan bahan pakan dan alat-alat laboraturium, analisis proksimat,
formulasi ransum dan mencampur ransum dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu
perlu praktikan pahami bahwa selama praktikan mengikuti praktikum Bahan Pakan
dan Formulasi Ransum praktikan dapat memahami jenis-jenis bahan pakan serta termasuk sumber apa bahan pakan
tersebut selain itu praktikan dapat memahami alat-alat laboraturium beserta
fungsinya, selain itu juga praktikan dapat menganalisis bahan yang terkandung
didalam bahan pakan, dan dapat memformulasikan
ransum serta mencampurnya menjadi bahan yang kompleks dan homogen.
5.2. Saran
Setelah terlaksanannya praktikum saya
mengharapkan agar para praktikan dapat mengerjakannya atau mengembangkan ilmu
ini dilingkungan sekitar tempat mereka tinggal sehingga ilmu ini dapat
bermanfaat untuk masyarakat dan agar peternakan dapat dipandang lebih baik
dimata masyarakat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar