Translate To

Kamis, 11 April 2013

Bahan Pakan Dan Formulasi Ransum


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Bahan Pakan dan Formulasi Ransum merukan pelajaran wajib fakultas yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa peternakan universitas jambi, karena merupakan wajib fakultas Bahan Pakan dan Formulasi Ransum memiliki satu sks yang digunakan sebagai dasar untuk diadakannya praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Selain itu juga praktikum ini merupakan kewajiban mahasiswa untuk mengikutinya kerena praktikum ini mahasiswa dituntut harus mngikutinya 100%. Bahan  Pakan dan Formulasi Ransum terdiri dari beberapa judul yaitu pengenalan bahan pakan dan alat-alat laboratorium, analisis proksimat, formulasi ransum, dan mencampur ransum.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dan manfaat diadakannya praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum yaitu agar mahasiswa dapat Bahan Pakan dan Formulasi Ransum praktikan dapat memahami jenis-jenis bahan pakan  serta termasuk sumber apa bahan pakan tersebut selain itu praktikan dapat memahami alat-alat laboraturium beserta fungsinya, selain itu juga praktikan dapat menganalisis bahan yang terkandung didalam bahan pakan, dan dapat memformulasikan  ransum serta mencampurnya menjadi bahan yang kompleks dan homogen.

           

           









II. TINJAUAN PUSTAKA
Dr. Stephen Long, yang telah lama menjadi peneliti tanaman, mengatakan adanya kemungkinan bahwa rumput gajah bisa menjadi salah satu opsi yang membantu untuk menggantikan bahan bakar minyak pada tahun 2030.
Dr. Geraint Evans dari Pusat Penelitian Tanaman Pangan Inggris, mengatakan lebih baik menggunakan tanaman pangan untuk menghasilkan ethanol dari pada rumput gajah. “Rumput Gajah mempunyai potensi untuk memproduksi antara 4.000 sampai 7.000 liter bahan bakar per herktarnya, sedangkan gandum hanya bisa menghasilkan 1.900 liter per hektarnya.”
Menurut NH. Mon.eith,E.H hoult Zea mays merupakan salah satu biji-bijian yang sangat pentingdan secara geografis paling banyak ditanam karena jagung adalah sumber protei pada ternak.
            Menurut Anonimus 1998 Morinda citifolia (mengkudu) merupakan tanaman yang memepunyai pohon rendah hidup liar ditepi pantai daun mudah dan buahnya adalah obat yang mujarab untuk mencegah berbagai macam penyakit karena mempunyai khasiat meperlacar peredaran darah.
Menurut keenan, C.W.1995. Leucaena leucocephala merupakan pohon kecil daun-daunnya hijau indah dan majemuk, biji-bijinya terdapat dalam polong.
Menurut Mc. Murry, jhon. Ipomae batatas merupakan tanaman semusim yang menjalar batangnya seperti sulur-sulur yang menjalar, tipis, hijau gelap hingga coklat dan mengandung getah.                                                  Flavonoid  pada jagung juga meningkatkan ekspresi enzim Gluthation S-Transferase (GST) yang dapat mendetoksifikasi karsinogen aktif sehingga menjadi lebih polar dan dieliminasi dari tubuh. Mekanisme yang lain melalui pengikatan karsinogen aktif oleh flavonoid sehingga dapat mencegah ikatan dengan DNA, RNA atau protein target (Ren et al., 2003).
Sifat antioksidan jagung  dari senyawa flavonoid juga dapat menginhibisi proses karsinogenesis. Fase inisiasi kanker seringkali diawali melalui oksidasi DNA yang menyebabkan mutasi (Kakizoe, 2003) oleh senyawa karsinogen.

Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g (Sediatama 1997).
Alat yang digunakan dalam analisis ini adalah soklet, tanur, oven, tabung destruksi, seperangkat alat destilasi, penangas listrik, rotavapor, desikator, kertas saring, dan alat gelas lain serta kromatografi gas yang dapat memisahkan komponen dengan perantaraan gas pembawa dan dicatat sebagai fungsi waktu oleh detektor (McNair dan Bonelli 1998)
limbah pabrik kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak sawit (Solid Decanter Waste = SDW) (Sinurat, 2000)
limbah kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur melalui teknik secara substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang selanjutnya dapat  meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas (Supriyati et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan bungkil inti sawit (Supriyati et al, 1998)
Tanaman kelapa sawit menghasilkan 4 jenis limbah utama yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu daun sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan serabut sawit. Limbah ini cukup melimpah sepanjang tahun, namun penggunaannya sebagai pakan ruminansia belum digunakan secara maksimal sampai sekarang (Aritonang, 1996)
Dedak merupakan produk samping penggilingan gabah menjadi beras. Dedak sebenarnya mengandung 17%-23% lemak yang dapat dimanfaatkan sebagai minyak pangan. Pemrosesan beras mempunyai hasil samping dalam bentuk dedak padi. Minyak dedak padi merupakan turunan penting dari dedak padi. Bergantung pada varietas beras dan derajat penggilingannya, dedak padi mengandung 16%-32% berat minyak. Sekitar 60%-70% minyak dedak padi tidak dapat digunakan sebagai bahan makanan (non-edible oil) dikarenakan kestabilan dan perbedaan cara penyimpanan dedak padi ((Goffman dkk., 2003) dan (Ma dkk,, 1999)).
Dedak padi merupakan salah satu jenis minyak berkandungan gizi tinggi karena adanya kandungan asam lemak, komponen-komponen aktif biologis, dan komponen-komponen antioksi seperti : oryzanol, tocopherol, tocotrienol, phytosterol,polyphenol dan squalene ((Goffman dkk.,2003) dan (Özgul dan Türkay, 1993)).
Dari banyak penelitian, suplementasi serat kasar (misalnya dedak padi, bubuk kayu gergaji) ke dalam ransum, paling banyak dilakukan dalam rangka menurunkan kadar kolesterol pada produk hewan. Terdapat hasil yang bervariasi tentang pengaruh serat kasar terhadap kadar kolesterol pada beberapa organ, rupanya serat kasar mempunyai pengaruh terhadap distribusi kadar kolesterol dalam organ atau bagian tubuh hewan tersebut, artinya di satu bagian tubuh kadar kolesterolnya turun, tetapi di bagian lain justru meningkat. Fisher, H bersama Griminger, D (1996).
Garcia et al. (2004) mengamati bahwa kecernaan pakan yang mengandung sorghum dengan kandungan maupun tanpa kandungan tannin berbeda ketika dihadapkan dengan suhu lingkungan yang berbeda. koefisien kecernaannya lebih tinggi pada suhu lingkungan 32oC dibanding 25oC.
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya, peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.
Vohra et al. (1996) melaporkan bahwa kadar tannin acid sebesar 0,5% sudah dapat menekan pertumbuhan ayam broiler.
Dale et al. (1998) menunjukkan bahwa depresi pertumbuhan terjadi baik pada ayam yang memperoleh tannin alami dari sorghum maupun tannin acid, namun dilaporkan lebih lanjut bahwa untuk menyamai dampak depresi pertumbuhan akibat pemberian tannin acid diperlukan konsentrasi tannin alami dari sorghum dalam jumlah yang lebih tinggi.
Elkin et al. (1998) menemukan bahwa penambahan 0,15% methionine terhadap pakan berbahan tepung sorghum dengan kandungan tanning tinggi yang dikombinasikan dengan kedelai mampu meningkatkan derajat pertumbuhan ayam broiler lebiih baik dibanding pakan yang sama namun dikombinasikan dengan sorghum berkadar tannin rendah.
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.
Nir et al. (1999) menyimpulkan bahwa dampak utama dilakukannya pemecahan bijian adalah untuk memperbaiki utilisasi pakan yang dicapai melalui peningkatan luas relatif permukaan bijian dengan berkurangnya ukuran bijian.
Nyachoti et al. (1997) telah melakukan review literatur mengenai kandungan tannin sorghum dan metode detoksifikasinya, hasilnya diperoleh kesamaan bahwa kandungan tannin bukanlah menjadi penyebab utama depresi pertumbuhan, namun ada beberapa penyebab lain yang memberikan dampak terhadap depresi pertumbuhan



           








III. MATERI DAN METODE
3.1. Waktu dan Tempat

Pada Pratikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum dilaksanakan  pada setiap hari selasa, mulai dari tanggal 17 November sampai pada tanggal 8 Desember  2009, pada pukul 14.00 wib sampai dengan selesai bertempat di laboratorium Bahan Pakan dan Formulasi Universitas Jambi.

3.2. Materi
3.2.1. Materi Pengenalan Bahan Pakan
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum pengenalan bahan pakan terdiri dari sengon, petai cina, pohon nangka, jagung, senduduk, cabai-cabaian, kacang tanah, rumput gajah, padi, rumput benggala, Stylosantes humilis, rumput setaria, ubi jalar, tepung ikan, tepung kerabang telur, poles, abu goso, batu bata, serbuk gergaji, sekam padi, ampas tahu, alat-alat laboratorium, feed aditif dan obat-obatan lainnya. 

3.2.2. Materi Analisis Proksimat
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum penentuan kadara air yaitu cawan porselen, eksikator, oven 105 ˚C, penjepit, dan neraca analitik.
            Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum penentuan kadar abu yaitu cawan porselen, eksikator, tanur, penjepit, neraca analitik, pembakar bunzen.
            Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum penentuan protein kasar yaitu labu destruksi, labu destilasi, destilator, pemanas listrik, labu Erlenmeyer 250 ml, labu Erlenmeyer 500 ml, biuret, corong, pipet, gelas ukur, neraca analitik, batu didih, katalis campuran, H2SO4 pekat, H2SO4 0,3 N NaOH 40%, NaOH 0,3 N, dan indicator campuran.
            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum penentuan lemak kasar yaitu soxhleet, kertas saring bebas lemak, sarung tangan karet, kapas bebas lemak, oven, batuh didih, eksikator, neraca analitik, pinset, pelarut (kloroform).
            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalm praktikum penentuan serat kasar yaitu gelas piala, cawan porselen, corong buchner, oven 105 ˚C, pompa vakum, tanur, pemanas listrik, penjepit, kertas saring NO. 41, H2SO4 0,3 N, NaOH 1,5 N, dan aseton.

3.2.3. Materi Formulasi Ransum
            Materi yang digunakan dalam praktikum formulasi ransum ini adalah tabel kebutuhan ternak, tabel komposisi bahan makanan ternak, dan kalkulator.

3.2.4. Materi Mencampur Ransum
            Materi yang digunakan dalam praktikum mencampur ransum yaitu jagung, dedak, tepung ikan, tepung tulang, bungkil kedele, minyak sawit, timbangan, baskom dan wadah/nampan kecil. 

3.3. Metode
3.3.1. Metode Pengenalan Bahan Pakan
            Pada praktikum pengenalan bahan pakan adapun metodanya yaitu praktikan diminta untuk mengelompokan bahan pakan sumber protein hewani dan nabati, sumber energi, hijauan makanan ternak, vitamin, aditif, mineral, obat-obatan dan bahan pemalsu pakan serta mencatat alat-alat laboraturium.

3.3.2. Metode Analisis Proksimat
            Adapun metode yang digunakan dalam praktikum penentuan kadar air yaitu cawan porselen yang telah dicuci bersih, dikeringkan didalam oven selama ±1 jam dengan temperature 105 ˚C kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang (C). sampel ditimbang sebanyak 0,5-1 gram (D) dan dimasukkan kedalam cawan porselen. Kemudian cawan dan sampel tersebut dikeringkan dalam oven 105 ˚C selama ±12-16 jam. Cawan dan sampel (E) dikeluarakan dari dalam oven dan dindinginkan dalam eksikator selama 10-12 menit sampai diperoleh berat yang tetap.
            Adapun metoda yang digunakan dalam praktikum penentuan kadar abu yaitu, cawan porselen yang telah dicuci bersih, dikeringkan dalam oven sekitar 1 jam pada temperature 105˚C kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit dan timbang dengan teliti (F). sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 3 gram untuk sampel hijauan atau 5 gram untuk kosentrat (G) dan dimasukkan kedalam cawan porselen. Pijarkan sampel yang terdapat dalam cawanporselen hingga tak berasap. Baker cawan porselen berisi sampel dalam tanur bersuhu 600˚C, biarkan sampel terbakar selama 3-4 jam atau sampai warna sampel berubah menjadi putih semua, setelaha sampel berwarna putih semua, kemudian didinginkan dalam tanur pada suhu 120˚C sebelum dipindahkan kedalam eksikator, setelah dingin timbang dengan teliti (H).
            Adapun metoda yang digunakan dalam praktikum penentuan protein kasar yaitu, timbang sampel dengan teliti sejumlah 0,3 gram (I) dan masukkan kedalam labu destruksi. Tambahkan kira-kira 0,2 gram katalis campuran dan 5 ml H2SO4 pekat, panskan larutan tersebut dalam lemari asam perhatikan proses destruksi selama pemanasan agar tidak meluap, destruksi dihentikan bila larutan sudah menjadi hijau terang atau jernih, lalu dinginkan dalaam lemari asam. Larutan dimasukkan kedalam labu destilasidan diencerkan dengan 60 ml aquades, masukkan beberapa buah batu didih. Tambahkan pelan-pelan melalui dinding labu 20 ml NaOH 40% dan segera hubungkan dengan destilator. Sulingan (NH3 dan air) ditangkap oleh labu Erlenmeyer yang berisi 25 ml H2SO4 0,3 N dan 2 tetes indicator campuran (Methyl red 0,1% dan bromcresol green 0,2 % dalam alcohol).
Penyulingan dilakukan hingga nitrogen dari cairan tersebut tertangkap oleh H2SO4  yang ada dalam Erlenmeyer (2/3 cairan yang ada pada labu destilasi menguap atau terjadi letupan-letupan kecil atau Erlenmeyer mencapai volume 75 ml). labu Erlenmeyer berisis sulingan diambil dan dititer kembali dengan NaOH 0,3 N (J). perubahan dari warna biru ke hijau menandakan titik akhir titrasi. Bandingkan dengan titer blanko (K).
            Adapun metode yang digunakan dalam praktikum penentuan lemak kasar yaitu Timbang sampel dengan teliti sebanyak 1 gram (L) dan bungkus dalam kertas saring  bebas lemak. Keringkan dalm oven 105 ˚C selama 5 jam, dinginkan dalam eksikator dan timbang (M). sampel dimasukkan kedalam tabung ekstraksi soxhlet. Alat soxhlet diisi dengan pelarut lewat condenser dengan corong. Alat pendingin dialirkan dan panas dihidupkan. Ekstraksi berlangsung selamama 16 jam sampai pelarut pada alat soxhlet terlihat jernih. Sampel dikeluarkan dari alat soxhlet dan dikeringkan dalam oven 105˚C selama 5 jam, kemudian didinginkan dalam eksikator dan timbang (N).
            Adapun metode yang digunakan dalam praktikum penentuan serat kasar yaitu keringkan kertas saring whatman No. 41 didalam 105 ˚C selama satu jam dan timbang (O). timbang dengan teliti 1 gram (P) sampel dan masukkan kedalam gelas piala. Tambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N dan didihkan selam 30 menit. Setelah 30 menit didihkan, tambahkan dengan cepat 50 ml NaOH 1,5 N dan didihkan kembali selama 30 menit. Cairan disaring melalui kertas saring yang telah diketahui beratnya didalam corong Buchner yang telah dihubungkan dengan pompa vakum. Kertas saring bersama residu dicuci berturut-turut dengan 50 ml H2O panas, 50 ml H2SO4 0,3 N, 50 ml H2O panas acetone. Kertas saring berisi residu dimasukkan kedalam cawan porselen bersih dan kering oven. Cawan berisi sampel dikeringkan  dalam oven 105˚C samapi didapat berat yang konstan, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (Q). pijarkan sampel dalam cawan hingga tak berasap. Kemudian cawan bersama isinya dimasukkan kedalam tanur 600˚ C selama 3-4 jam setelah isi cawan berubah menjadi abu yang berwarna putih, diangkat dan ditimbang (R). 

3.3.3. Metode Formulasi Ransum
            Cara kerja pada praktikum formulasi ransum ini yaitu tentukanlah jenis ransum yang akan disusun. Tentukanlah bahan pakan yang akan digunakan. Tentukanlah kandungan zat makanan masing-masing bahan pakan penyusun ransum terpilih  pada tabel komposisi zat makanan bahan pakan. Tentukanlah jumlah ransum yang akan disusun dan perkirakan persentase penggunaan setiap bahan pakan dari jumlah total bahan pakan. Hitung kontribusi zat gizi (PK, SK, LK, Energi Metabolis atau TDN) dari masing-masing jenis bahan pakan. Persentase setiap bahan pakan makanan dapat diubah sampai sesuai dengan kebutuhan zat gizi dari ransum yang dibuat. Bandingkan hasil perhitungan ransum yang dibuat dengan kebutuhan ternak yang bersangkutan. Berdasarkan hasil perhitungan dapat dihitung biaya ransum per Kg.

3.3.4. Metode Mencampur Ransum
            Kelompokan bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dan tekstrurnya halus, campurkan dedak  dan minyak sawit setelah itu tambahkan tepung ikan dan tepung tulang, serta tambahkan  bungkil kedele dan jagung serta campurkan semua bahan tersebut sampai rata dan homogen.















              
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengenalan Bahan Pakan dan Alat Laboratorium
4.1.1. Pengenalan Bahan Pakan
Harendong (senduduk)

Melastoma affine D. Don Sinonim
Melastoma malabathricum
Melastoma polyanthum Bl
Nama umum
Indonesia:
Harendong, senduduk, senggani
Inggris:
blue tongue, native lassiandra

Harendong
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Rosidae
                         Ordo: Myrtales
                             Famili: Melastomataceae
                                 Genus: Melastoma
                                     Spesies: Melastoma affine D. Don

Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa )
a.Morfologi rumput mutiara
Rumput tumbuh rindang berserak, agak lemah, tinggi 15 – 50 cm, tumbuh subur pada tanah lembab di sisi jalan, pinggir selokan, mempunyai banyak percabangan. Batang bersegi, daun berhadapan bersilang, tangkal daun pendek/hampir duduk, panjang daun 2 – 5 cm, ujung runcing, tulang daun satu di tengah. Ujung daun mempunyal rambut yang pendek. Bunga ke luar dari ketiak daun, bentuknya seperti payung berwarna putih, berupa bunga majemuk 2-5, tangkai bunga (induk) keras seperti kawat, panjangnya 5 10 mm. Buah built, ujungnya pecah-pecah. Rumput ini mempunyai khasiat sama seperti Hedyotis diffusa Willd. = Rumput Iidah ular = Baihua she she cao.
b.Klasifikasi rumput mutiara
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Hedyotis
Spesies : Hedyotis corymbosa L
c.Kandungan kimia rumput mutiara
            Hentriacontane, stigmasterol, ursolic acid, oleanolic acid, Beta-sitosterol, sitisterol-D-glucoside, p-coumaric acid, flavonoid glycosides, dan baihuasheshecaosu (kemungkinan analog coumarin). Kandungan flavonoid glycosides pada Hedyotis corymbosa (L.] Lamk. diduga mampu menghambat proses karsinogenesis baik secara in vitro maupun in vivo. Penghambatan terjadi pada tahap inisiasi, promosi maupun progresi melalui mekanisme molekuler antara lain inaktivasi senyawa karsinogen, antiproliferatif, penghambatan angiogenesis, cell cycle arrest, induksi apoptosis dan antioksidan (Ren et al., 2003). Sebagian besar senyawa karsinogean seperti Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) memerlukan aktivasi oleh enzim sitokrom P450 membentuk intermediet yang reaktif sebelum berikatan dengan DNA. Ikatan kovalen antara DNA dengan senyawa karsinogen aktif menyebabkan kerusakan DNA. Flavonoid dalam proses ini berperan sebagai blocking agent (Watternberg, 1985). Pengeblokan aksi karsinogen dapat melalui beberapa mekanisme antara lain melalui menginhibisi aktivitas isoenzim sitokrom P450 yaitu CYP1A1 dan CYP1A2 sehingga senyawa karsinogen tidak reaktif. Mekanisme yang lain melalui detoksifikasi karsinogen. Flavonoid juga meningkatkan ekspresi enzim Gluthation S-Transferase (GST) yang dapat mendetoksifikasi karsinogen aktif sehingga menjadi lebih polar dan dieliminasi dari tubuh. Mekanisme yang lain melalui pengikatan karsinogen aktif oleh flavonoid sehingga dapat mencegah ikatan dengan DNA, RNA atau protein target (Ren et al., 2003).                                 Sifat antioksidan dari senyawa flavonoid juga dapat menginhibisi proses karsinogenesis. Fase inisiasi kanker seringkali diawali melalui oksidasi DNA yang menyebabkan mutasi (Kakizoe, 2003) oleh senyawa karsinogen. Karsinogen aktif seperti radikal oksigen, peroksida dan superoksida, dapat distabilkan oleh flavonoid melalui reaksi hidrogenasi maupun pembentukan kompleks (Ren et al., 2003).
d.Kegunaan dan khasiat rumput mutiara
Rasa manis, sedikit pahit, lembut, netral, agak dingin. Menghilangkan panas, anti-radang, diuretik, menghilangkan panas dan toxin, mengaktifkan circulasi darah, Tonsilis, Bronkhitis, Gondongan, Pneumonia, Radang usus buntu; Hepatitis, Radang panggul, Infeksi saluran kemih, Bisul, Borok;Kanker: Lymphosarcoma, Ca lambung, Ca cervix, kanker payudara, rectum, fibrosarcoma, dan Ca nasophar.
gambar : Struktur Asam Ursolat dan Asam Oleanolat





Jagung

Zea mays L. Nama umum
Indonesia:
Jagung
Inggris:
Corn
Cina:
yu shu shu, yu mi xu

Jagung
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Poales
                             Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
                                 Genus: Zea
                                     Spesies: Zea mays L.
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

Biologi jagung

Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.

Deskripsi jagung

Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.                        Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.                                  Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.                                                                        Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.                                                                    Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.                                         Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).               Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda.





Rumput Gajah
Pennisetum purpureum Schumacher Nama umum
Indonesia:
Rumput gajah, rumput lembing
Inggris:
Cane grass, elephant grass, napier grass
Cina:
Xiang cao
Jepang:
Napaa agurasu

Rumput Gajah
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Poales
                             Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
                                 Genus: Pennisetum
                                     Spesies: Pennisetum purpureum Schumacher
Dr. Stephen Long, yang telah lama menjadi peneliti tanaman, mengatakan adanya kemungkinan bahwa rumput gajah bisa menjadi salah satu opsi yang membantu untuk menggantikan bahan bakar minyak pada tahun 2030.               “Saya pikir ini sangat penting bahwa perdebatan tentang biofuel tidaklah sia-sia. Gagasan untuk menggunakan energi matahari untuk pertumbuhan tanaman dan membuat bahan bakar dari tanaman tersebut adalah pada dasarnya sangat bagus,” ungkapnya, seperti dilansir CNN News.                                             Rumput gajah bisa tumbuh di lahan terbatas, sehingga tidak mengganggu tanaman pangan lainnya, juga tidak memerlukan pemberian pupuk yang intensif dan yang utama adalah bisa memberi hasil selama 15 tahun.                                        Tapi ini butuh bertahun-tahun untuk merealisasikannya, karena faktanya lebih kompleks untuk membuat ethanol dari tanaman non pangan dari pada tanaman pangan, seperti jagung dan gandum untuk menghasilkan ethanol.                        Dr. Geraint Evans dari Pusat Penelitian Tanaman Pangan Inggris, mengatakan lebih baik menggunakan tanaman pangan untuk menghasilkan ethanol dari pada rumput gajah. “Rumput Gajah mempunyai potensi untuk memproduksi antara 4.000 sampai 7.000 liter bahan bakar per herktarnya, sedangkan gandum hanya bisa menghasilkan 1.900 liter per hektarnya.”

Sengon

Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen
Nama umum
Indonesia:
Sengon
Paraserianthes falcataria
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Rosidae
                         Ordo: Fabales
                             Famili: Mimosaceae
                                 Genus: Paraserianthes
                                     Spesies: Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen

Deskripsi Sengon
Batang Sengon
Pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat
mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin,
berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau.
Daun Sengon
Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda
panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 – 15 pasang anak tangkai daun yang
berisi 15 – 25 helai daun, dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok.
Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.
Akar Sengon
Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat
menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan
tidak menonjol kepermukaan tanah.Akar
rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah
disekitar pohon sengon menjadi subur.
Bunga Sengon
Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai
berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit
berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina,
dengan cara penyerbukan yang dibantu
oleh angin atau serangga.
Buah Sengon
Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, tidak
bersekat-sekat dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 –
30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil, waktu muda berwarna hijau dan jika
sudah tua biji akan berubah kuning sampai berwarna coklat kehitaman,agak keras,
dan berlilin
Benih Sengon
Pipih, lonjong, 3 – 4 x 6 – 7 mm, warna hijau,
bagian tengah coklat. Jumlah benih 40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata
80%. Berat 1.000 butir 16 – 26 gram.
Kegunaan
Merupakan kayu serba guna untuk konstruksi ringan,
kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik,
pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Di Ambon kulit batang digunakan
untuk penyamak jaring, kadang-kadang sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan.
B. Anatomi
Nama botanis: (Paraserianthes
falcataria
(L) Nielsen), syn. Albizia falcata Backer,
famili Mimosaceae. Nama daerah :Albizia, bae, bai, jeungjing, jeungjing laut,
jing laut, rare, salawaku, salawaku merah, salawaku putih, salawoku, sekat,
sengon laut, sengon sabrang, sika, sika bot, sikas, tawa sela, wai, wahagom,
wiekkie.Nama lain : Batai (Malaysia Barat, Sabah, Philipina, Inggris, Amerika
Serikat, Perancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman); kayu machis (Sarawak);
puah (Brunei). Penyebaran : Seluruh Jawa, Maluku, Irian Jaya.
Ciri umum : Kayu teras berwarna hampir putih atau coklat
muda pucat (seperti daging) warna kayu gubal umumnya tidak berbeda dengan kayu
teras. Teksturnya agak kasar dan merata dengan arah serat lurus, bergelombang
lebar atau berpadu. Permukaan kayu agak licin atau licin dan agak mengkilap.
Kayu yang masih segar berbau petai, tetapi bau tersebut lambat laun hilang jika
kayunya menjadi kering. Sifat kayu : Kayu sengon termasuk kelas awet IV/V dan
kelas IV-V dengan berat jenis 0,33 (0,24-0,49). Kayunya lunak dan mempunyai
nilai penyusutan dalam arah radial dan tangensial berturut-turut 2,5 persen dan
5,2 persen (basah sampai kering tanur). Kayunya mudah digergaji, tetapi tidak
semudah kayu meranti merah dan dapat dikeringkan dengan cepat tanpa cacat yang
berarti. Cacat pengeringan yang lazim adalah kayunya melengkung atau memilin.
(Martawijaya dan Kartasujana, 1977).
Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah,
papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak
korek api, pulp, kertas dan lain-lain


Petai Cina

Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit Sinonim
Leucaena glauca Linn

Nama umum
Indonesia:
Petai cina, [klandingan, kemlandingan, lamtoro, lamtorogung (Jawa)], peuteuy selong (Sunda)
Inggris:
Lead tree
Cina:
yin he huan


Petai Cina
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Rosidae
                         Ordo: Fabales
                             Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
                                 Genus: Leucaena
                                     Spesies: Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit
Petai cina (Leucaena leucocephala) adalah tumbuhan yang memiliki batang pohon keras dan berukuran tidak besar. Daunnya majemuk terurai dalam tangkai berbilah ganda. Bunganya yang berjambul warna putih sering disebut cengkaruk. Buahnya mirip dengan buah petai (Parkia speciosa) tetapi ukurannya jauh lebih kecil dan berpenampang lebih tipis. Buah petai cina termasuk buah polong, berisi biji-bibji kecil yang jumlahnya cukup banyak. Petai cina oleh para petani di pedesaan sering ditanam sebagai tanaman pagar, pupuk hijau dan segalanya. Petai cina cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Petai cina di Indonesia hampir musnah setelah terserang hama wereng. Pengembangbiakannya selain dengan penyebaran biji yang sudah tua juga dapat dilakukan dengan cara stek batang.



Kacang Tanah

Arachis hypogaea L. Nama umum
Indonesia:
Kacang tanah
Inggris:
Peanut

Kacang Tanah
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Rosidae
                         Ordo: Fabales
                             Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
                                 Genus: Arachis
                                     Spesies: Arachis hypogaea L.


Ciri-cirinya:
Ø  Memilikidaun yang berbentuk bulat, Pada setiap tangkai terdapat empat daun
Ø  Mempunyai batang yang kecil kira-kira hanya dapat bencapai 1,5 m
Ø  Akarnya tunggang, kalau sudang cukup hari di ujung-ujung akar terdapat kacang
Ø  Tanaman Kacang Tanah ini merupakan sumber protein.









Padi

Oryza sativa L. Nama umum
Indonesia:
Padi, pari (Jawa), pare (Sunda)
Inggris:
Rice


Padi
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Poales
                             Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
                                 Genus: Oryza
                                     Spesies: Oryza sativa L.

Ciri-cirinya:
Ø  Memiliki daun yang berbentuk lidah yang panjang
Ø  Akar serabut, dan berukuran pendek-pendek tetapi akarnya banyak
Ø  Tidak memiliki batang



Mengkudu

Morinda citrifolia L. Sinonim
Bancudus latifolia Rumph.

Nama umum
Indonesia:
Mengkudu, pace, cengkudu, bentis
Inggris:
Noni
Cina:
ji shu

Mengkudu
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Asteridae
                         Ordo: Rubiales
                             Famili: Rubiaceae (suku kopi-kopian)
                                 Genus: Morinda
                                     Spesies: Morinda citrifolia L.

Ciri-cirinya:
Ø  Buahnya berbentuk bulat dan memiliki bau yang khas ketika sudah matang
Ø  Pada kulit buah terdapat titik-titik banyak yang beraturan

Nangka

Artocarpus heterophyllus Lam Sinonim
Artocarpus integer Merr

Nama umum
Indonesia:
Nangka
Inggris:
Jackfruit
Melayu:
Nangka
Vietnam:
Mit
Thailand:
Khanun




Nangka
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Dilleniidae
                         Ordo: Urticales
                             Famili: Moraceae (suku nangka-nangkaan)
                                 Genus: Artocarpus
                                     Spesies: Artocarpus heterophyllus Lam





Rumput Benggala (Panicum maximum)

Klasifikasi:
Divisi   : Spermatophyta
Class    : Dicotyledoneae
Ordo    : Rosales
Famili  : Papilianaceae
Genus  : Panicum
Spesies: Panicum maximum

Rumput Setilo (Stylosantes humilis)
Klasifikasi :
Divisi : Spermatophyla
Class  : Dicotyedonaea
Ordo  : Leguminales
Famili : Legumicedes
Genus ; Stylosantes
Ciri-cirinya:
Ø  Hidup di daerah tropis
Ø  Berdaun majemuk memiliki tangkai yang berbulu
Ø  Ini termasuk jenis tanaman rumput
Ø  Sumber protein


Kacang asu (Callopogonium muconoides)
Klasifikasi :
Divisi : Spermatolophyta
Class  : Dicotyedonaea
Ordo  : Leguminales
Famili : Legumicedes
Genus ; callopogonium
Spesies ; Callopoginium muconoides
Ciri-cirinya:
Ø  Hidup di daerah tropis
Ø  Berdaun kecil-kecil dan berjumlah 3 pada tiap tangkai
Cabe-cabean

Bentuk fisik
Ø  Sejenis legume
Ø  Warna hijau
Ø  Memiliki stolon dan rhizome
Ø  Termasuk sumber protein
Tepung ikan
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur halus
Ø  Warna merah
Ø  Bau menyengat
Ø  Termasuk sumber protein
Pada dasarnya semua jenis ikan dapat dibuat tepung ikan. Untuk mengepres dan membuat tepung ikan dapat digunakan alat penggiling daging atau alat pembuat pakan pellet. Apabila digunakan untuk mengepres maka pisau pemotongnya jangan dipasang terlebih dahulu. Sementara untuk mengeringkannya dapat digunakan alat pengering mekanis atau oven.
Tepung Kerabang Telur
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur kasar
Ø  Warna merah bercampur putih
Ø  Bau amis
Ø  Termasuk sumber mineral.
Abu Gosok
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur kasar
Ø  Warna abu-abu
Ø  Bau abu
Serbuk Gergaji
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur kasar
Ø  Warna kuning
Ø  Bau kayu
Ø  Bahan palsuan yang memiliki serat tinggi
Sekam Padi
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur kasar
Ø  Warna kuning
Ø  Bau lignin
Ø  Sumber energi
Poles
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur halus
Ø  Warna putih
Ø  Bau tongkol
Ø  Sumber energi
Tepung Tulang
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur halus
Ø  Warna putih
Ø  Bau amis
Ø  Sumber Protein,mineral, dan lemak
Tepung tulang yang bermutu baik biasanya memenuhi beberapa syarat, diantaranya berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tidak mengandung bibit penyakit, kadar airnya paling tiggi 5%, dan kadar tepungnya mencapai 94%. Pada proses pembuatan tepung tulang dapat dihasilkan antara 70-75% tepung tulang dan sisanya berupa gelatin sebagai bahan baku lem. Berikut ini cara pembuatan tepung tulang.

Tepung Kerang
Ø  Bentuk fisik berupa tepung
Ø  Tekstur halus
Ø  Warna putih
Ø  Bau kapur
Ø  Sumber mineral

Batu Bata
Ø  Berbentuk kasar dan terdapat yang halus juga
Ø  Warna Orange
Ø  Yang terbuat dari tanah liat
Ø  Batu bata ini merupakan bahan palsuan yang mengandung serat tinggi
Pengenalan Alat-alat Laboraturium
1. Pipet tetes                           Fungsi menyedot larutan
2. Gelas Ukur                          Fungsi mengukur larutan dalam jumlah kecil
3. Tabung Reaksi                    Fungsi untuk mereaksikan suatu zat
4. Kertas Saring                      Fungsi menyaring larutan
5. Gelas Piala                          Fungsi mengukur larutan
6. Termometer                         Fungsi untuk mengukur suatu Larutan
7. Eksikator                             Fungsi mendinginkan bahan pakan yang telah
 dilarutkan oven
8.Penjepit                                Fungsi menjepit bahan yang panas
9.Tabung Gas                          Fungsi menimbulkan energi panas
10. Corong                              fungsi memindahkan zat kimia ketempat lain
11. Tanur                                 Fungsi untuk mengukur kadar air
12. Titrasi                                Fungsi untuk titrasi
13. Bucle                                 Fungsi untuk mengukur kadar air
14. Labu Destilasi                   Fungsi untuk proses destilasi
15. sikat tabung                       Fungsi untuk membersihkan tabung
16. Cawan Proslen                  Fungsi sebagai tempat zat yang direaksi
17. Labu Ukur                         Fungsi mereaksikan suatu larutan dengan mengetahui ukuran dan langsung kesokletnya.
18. Rak tabung reaksi             fungsi sebai tempat tabung reaksi
19. Neraca empat lengen         Fungsi untuk menimbang berat suatu suhu
20. pembakar busen                Fungsi sebagai alat pembakar
21. Autoclave                          Fungsi untuk memanaskan dengan tekanan tertentu








4.1.2. Pengenalan Obat-obatan
1. Noebro
Ø  Kegunaanya
-    Merangsang pertumbuhan ayam pedaging
-    Melengkapi segala kebutuhan vit dan asam amino yang diperlukan bagi pertumbuhan
-    Meningkatkan efisiensi ransum, menjadikan broiler lebih gemuk
Ø  Aturan pakai ayam umur 0-6 minggu, 1 gram tiap 2 liter air minum
Ø  Tekstur berbentuk bubuk warna coklat
Ø  Produksi Medium
Ø  Bahan-bahanya A, E, K3, B1, B2, B6, B12, C, Ca Pantothemale, nicothamidade, mangnesium, copper, coble.
2. Therapthy
Ø  Kegunaanya
-    Indikasi, korisa (muka bengkak)
-    Mencegah Synovitrcl (Radang Persendian)
-    Mencegah penyakit pada waktu stres
Ø  Aturan pakai 1 gram tiap 1 liter air minum
Ø  Tekstur berbentuk bubuk warna kuning
Ø  Produksi Medium
Ø  Bahan-bahanyaOxytectrac ycline  HCL, Comprolium, Vit A, Vit K.
3. Multifilt
Ø  Kegunaanya
-    Mencegah kerapuhan kulit terlur
-    Menambah daya tahan tubuh terhadap infeksi
- Meningkatkan produksi dan kualitas telur
Ø  Aturan pakai pada unggas dilarutkan 5 gram multifilit ke dalam 10 liter air minum
Ø  Tekstur berbentuk bubuk warna coklat muda
Ø  Produksi PT Pyridium
Ø  Bahan-bahanya Vit A, D3, E, B-2, B-1, B-6, B-12, B-3, Ca-p, Pantotheanet, Nicotnic Aa, Sudlum Chlorida, Iron Sulfat, Zink Zulface.
4. Egg Slimulant
Ø  Kegunaanya
-    Meningkatkan produksi telur sampai 37%
-    Memperbaiki infeksi ransum sampai 18%
-    Memperpanjang masa produksi telur
Ø  Aturan pakai 5 gram tiap 7 liter air minum
Ø  Tekstur berbentuk bubuk warna coklat
Ø  Produksi Medion
Ø  Bahan-bahanya Vit A, B3, E, K3, B, B2, B4, B12, C, Ca, D, Pantothenat, nicatnia acid, folrc acid.
5. Turbo
Ø  Kegunaanya
-    Meningkatkan produksi telur
-    Menambah kesuburan
Ø  Aturan pakai 5 gram tiap 1 liter air minum, kemudian di campurkan ke dalam 2 kg ransum
Ø  ,Tekstur berbentuk bubuk warna coklat
Ø  Produksi Medion
Ø  Bahan-bahanya Vit A, B3, E, K3, B, B2, B4, B12, C, Ca, D, Pantothenat, nicatnia acid, folrc acid.
6. Vitachinks
Ø  Kegunaanya
-    Mengatasi stres
-    Mengurangi angka lemak pada anak ayam
-    Mempercepat pertumbuhan
Ø  Merupakan kombinasi antara vitamin dan antibiotik
Ø  Tekstur berbentuk serbuk berwarna coklat tua
Ø  Produksi Medion
Ø  Bahan-bahanya Vit A, B3, E, B2, B1, B6, B12, C nikotin acid, Bacitracidn Md
7. Coxy

Ø  Kegunaanya
-    Menghindari gangguan panas pada jengger
-    Menghindari pembengkaann
Ø  Tekstur berbentuk serbuk berwarna merah
Ø  Produksi Medion
Ø  Bahan-bahanya sodium sulfaauino xaline, vit A, K3

4.2. Analisis Proksimat
Pada penentuan kadar air, kadar abu, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, dan kadar ekstrak bahan tanpa nitrogen. dapat diketahui perbandingan dari masing-masing bahan dedak, tepung ikan, jagung, bungkil kedele, tepung tulang, dan bungkil sawit dan perbandingannya dengan beberapa literature.
Dedak berfungsi sebagai sumber energi bagi pertumbuhan Berdasarkan penelitian, energi yang terkandung dalam dedak padi bisa mencapai 2980 kcal/kg. Angka ini relatip tergantung pada jumlah serat kasar, dan kualitas lemak yang ada didalamnya. Semakin tinggi serat kasar maka semakin rendah pula jumlah energinya. Jadi, kualitas dari Dedak sangat tergantung dari jumlah serat kasar yang terdapat didalam dedak itu sendiri.
Dedak dengan kualitas yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
  • Berwarna coklat cerah dan tidak menggumpal. Penggumpalan ini terjadi biasanya disebabkan oleh kadar air yang tinggi.
  • Tidak ada bau “tengik” (rancid). Bau tengik dapat disebabkan oleh proses oksidasi (karena dedak banyak mengandung asam lemak tak jenuh) sertatempat, cara dan lama  penyimpanan dedak yang kurang menenuhi syarat.
SNI dedak padi





Standart Hasil Analisa Proximat  (SNI 01-3178-1996-REV.1992 Dedak Padi Kualitas I)
Dedak merupakan produk samping penggilingan gabah menjadi beras. Dedak sebenarnya mengandung 17%-23% lemak yang dapat dimanfaatkan sebagai minyak pangan. Pemrosesan beras mempunyai hasil samping dalam bentuk dedak padi. Minyak dedak padi merupakan turunan penting dari dedak padi. Bergantung pada varietas beras dan derajat penggilingannya, dedak padi mengandung 16%-32% berat minyak. Sekitar 60%-70% minyak dedak padi tidak dapat digunakan sebagai bahan makanan (non-edible oil) dikarenakan kestabilan dan perbedaan cara penyimpanan dedak padi ((Goffman dkk., 2003) dan (Ma dkk,, 1999)). Minyak dedak padi merupakan salah satu jenis minyak berkandungan gizi tinggi karena adanya kandungan asam lemak, komponen-komponen aktif biologis, dan komponen-komponen antioksi seperti : oryzanol, tocopherol, tocotrienol, phytosterol,polyphenol dan squalene ((Goffman dkk.,2003) dan (Özgul dan Türkay, 1993)). Kandungan asam lemak bebas 4% - 8% b pada minyak dedak padi tetap diperoleh walaupun dilakukan ekstraksi dedak padi sesegera mungkin. Peningkatan asam lemak bebas secara cepat terjadi karena adanya enzim lipase yang aktif dalam dedak padi setelah proses penggilingan. Minyak dedak padi sulit dimurnikan karena tingginya kandungan asam lemak bebas dan senyawa-senyawa tak tersaponifikasikan. Lipase dalam dedak padi mengakibatkan kandungan asam lemak bebas minyak dedak padi lebih tinggi dari minyak lain sehingga tidak dapat digunakan sebagai edible oil.
Kandungan sekam mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15%. Untuk menhindari penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi.                                                                                           limbah pabrik kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak sawit (Solid Decanter Waste = SDW) (Sinurat, 2000), yang sampai saat ini limbah tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum ternak, lagipula sumber daya limbah tersebut banyak terdapat di Sumatera Utara.
 limbah kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur melalui teknik secara substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas (Supriyati et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan bungkil inti sawit (Supriyati et al, 1998).






Komposisi Zat Nutrisi Daun Sawit, Lumpur Sawit dan Bungkil Inti Sawit

Zat Nutrisi


Daun Sawit
Lumpur sawit
Bungkil Inti
Bahan kering (%)
Protein kasar (%)
Lemak kasar (%)
Serat kasar (%)
Abu (%)
TDN (%)
Ca (%)
P (%)
Zn (%)
EM (%)
93,41a
13,13a
4,47a
32,55a
14,43b
65,00
0,67c
0,11c
29,00c
2348b
94,00a
13,25a
13,00a
16,00a
13,90b
65,00
0,86c
0,18c
61,10c
32,72b
91,11a
15,40a
7,71a
10,50a
5,18b
62,00
0,04c
0,22c
50,40c
2246b

Lumpur sawit adalah larutan buangan yang dihasilkan selama proses pemanasan minyak mentah sawit. Bahan ini merupakan emulsi mengandung sekitar 20% padatan 0,5 - 1 % sisa minyak dan sekitar 78 - 79% air (Devendra, 1977).  Bungkil inti sawit adalah limbah ikutan proses ekstraksi inti sawit. Bahan ini dapat diperoleh dengan proses kimia atau dengan cara mekanik. Walaupun kandungan proteinnya lumayan baik tapi karena serat kasarnya tinggi dari palatabilitasnya rendah menyebabkaan kurang cocok untuk ternak monogastrik dan lebih sering diberikan kepada ternak ruminansia terutama sapi perah dan domba, tetapi belakang ini sudah banyak penelitian yang mencobanya untuk digunakan pada ternak unggas seperti yang dilakukan oleh Siregar dkk. (1998) dengan teknik fermentasi Rhizopus oligoporus mendapatkan basil basil yang cukup signifikan baik.         
Menurut literature Hasil analisis proksimat beberapa komoditas kacangkacangan. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai, diikuti oleh kacang tunggak, kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau. Protein merupakan salah satu zat penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kadar lemak tertinggi dimiliki oleh kacang tanah. Lemak dalam tubuh berguna sebagai cadangan energi untuk aktivitas tubuh. Kacang-kacangan merupakan sumber lemak nabati. Lemak nabati umumnya kaya akan polyunsaturated fatty acid (PUFA), yaitu asam lemak tak jenuh yang mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap. K andungan asam linoleat yang mengandung omega 3 tertinggi (5,85%) terdapat pada kacang tunggak dan terendah pada kedelai (2,72%) Ketaren (1986) menyatakan asam oleat merupakan komponen asam lemak tertinggi dalam minyak kedelai. Kandungan proksimat dan asam lemak beberapa jenis kacang-kacangan berbeda meskipun termasuk dalam satu varietas yang sejenis. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai (36,83%) diikuti oleh kacang tunggak (25,53%), kacang tanah (23,97%), kacang merah (23,33%), dan kacang hijau (23,11%). Dengan demikian kedelai sangat baik dikonsumsi sebagai salah satu makanan penghasil proteinyang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kedelai juga mengandung lemak cukup tinggi yang berfungsi sebagai sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia.
Minurut literature Bahan baku tepung ikan Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%; Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–3.                                                                                                                       Menurut literature tepung tulang Kandungan gizinya: Protein=25,54%, Lemak=3,80%, Abu=61,60%, Serat=1,80%, Air=5,52%.


4.3. Formulasi Ransum
Penggunaan bahan pakan dalam formulasi ransum yaitu jagung 28%, dedak padi 18%, tepung ikan 15%, tepung tulang 18 %, bungkil kedelai 19%, dan minyak  sawit 2 %.
Protein kasar pada masing-masing bahan pakan yaitu jagung 1,9404%, dedak padi 1,4814%, tepung ikan 8,3085 %, tepung tulang 9,072%, bungkil kedelai 2,09%, bungkil kelapa sawit 0 %. Jadi jumlah seluruh persen protein kasar yaitu 22,8923%.
Serat kasar pada masing-masing bahan pakan yaitu jagung 0,5488%, dedak padi 4,0158 %, tepung ikan 0,0855 %, tepung tulang 0,504%, bungkil kedelai 0,437%, bungkil kelapa sawit 0%. Jadi jumlah seluruh persen serat kasar yaitu 5,5911%.
Lemak kasar pada masing-masing bahan pakan yaitu jagung 1,2096%, dedak padi 1,665%, tepung ikan 1,7505 %, tepung tulang 1,8%, bungkil kedelai 0,494%, bungkil kelapa sawit 2 %. Jadi jumlah seluruh persen lemak kasar yaitu 8,9191%.
Energi metabolis pada masing-masing bahan pakan yaitu jagung 960,4 kkal/kg, dedak padi 293,4 kkal/kg, tepung ikan 396 kkal/kg, tepung tulang 387 kkal/kg, bungkil kedelai 610,28 kkal/kg, bungkil kelapa sawit 16 kkal/kg. jadi jumlah seluruh energi metabolis yaitu 2663,08.

Ada beberapa metode untuk menyusun ransum yaitu :
v  Metode coba-coba
v  Metode Bujur sangkar
v  Metode Persamaan
v  Linear Programing

Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g (Sediatama 1987).
            Kandungan sekam mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15%. Untuk menhindari penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi.
Menurut literature Hasil analisis proksimat beberapa komoditas kacangkacangan. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai, diikuti oleh kacang tunggak, kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau. Protein merupakan salah satu zat penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kadar lemak tertinggi dimiliki oleh kacang tanah. Lemak dalam tubuh berguna sebagai cadangan energi untuk aktivitas tubuh. Kacang-kacangan merupakan sumber lemak nabati. Lemak nabati umumnya kaya akan polyunsaturated fatty acid (PUFA), yaitu asam lemak tak jenuh yang mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap. K andungan asam linoleat yang mengandung omega 3 tertinggi (5,85%) terdapat pada kacang tunggak dan terendah pada kedelai (2,72%) Ketaren (1986) menyatakan asam oleat merupakan komponen asam lemak tertinggi dalam minyak kedelai. Kandungan proksimat dan asam lemak beberapa jenis kacang-kacangan berbeda meskipun termasuk dalam satu varietas yang sejenis. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai (36,83%) diikuti oleh kacang tunggak (25,53%), kacang tanah (23,97%), kacang merah (23,33%), dan kacang hijau (23,11%). Dengan demikian kedelai sangat baik dikonsumsi sebagai salah satu makanan penghasil proteinyang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kedelai juga mengandung lemak cukup tinggi yang berfungsi sebagai sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia.
limbah pabrik kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak sawit (Solid Decanter Waste = SDW) (Sinurat, 2000), yang sampai saat ini limbah tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum ternak, lagipula sumber daya limbah tersebut banyak terdapat di Sumatera Utara.
 limbah kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur melalui teknik secara substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas (Supriyati et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan bungkil inti sawit (Supriyati et al, 1998).
Dale et al. (1998) menunjukkan bahwa depresi pertumbuhan terjadi baik pada ayam yang memperoleh tannin alami dari sorghum maupun tannin acid, namun dilaporkan lebih lanjut bahwa untuk menyamai dampak depresi pertumbuhan akibat pemberian tannin acid diperlukan konsentrasi tannin alami dari sorghum dalam jumlah yang lebih tinggi.
Pakan pada ternak dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu hijauan dan konsentrat.
Persentase hijauan pada pakan paling sedikit 50 % dari total kebutuhan pakan yang diberikan, oleh karena itu sebagian besar pakan mengandung serat kasar sehingga pencernaannya spesifik dan berbeda dengan ternak lambung tunggal (non-ruminansia)

Ø  Dalam penyusunan ransum ruminansia yang sangat diperhatikan adalah jumlah energi dan protein.
Ø  Mineral yang penting adalah kalsium dan fosfor,
Ø  Vitamin yang harus memenuhi kebutuhan adalah vit. D dan A.
Ø  Semua Zat nutrisi  tersebut dapat dipenuhi dari hijauan dan konsentrat yang diberikan dalam pakan ternak ruminansia
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya, peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.





4.4. Mencampur Ransum
Bahan yang digunakan dalam praktikum mencampur ransum  yang terdiri dari jagung 18% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah jagung yang digunakan  sebanyak 540 gram, dedak 15% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah dedak yang digunakan  sebanyak 450 gram, tepung ikan 15% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah tepung ikan yang digunakan  sebanyak 450 gram, tepung tulang15% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah tepung tulang yang digunakan  sebanyak 450 gram, bungkil kedele 35% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah bungkil kedele yang digunakan  sebanyak 1050 gram, minyak sawit 2% dikalikan dengan 3000 jadi jumlah bungkil kedele yang digunakan  sebanyak 60 gram. Jadi jumlah bahan keseluruhan yaitu 3000 gram.
            Sebelum kita mencampur ransum sebaiknya kita harus mengetahui bahan mana yang harus dicampur terlebih dahulu sehingga hasil yang didapat rata atau homogen. Kelompokan bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dan tekstrurnya halus, campurkan dedak  dan minyak sawit setelah itu tambahkan tepung ikan dan tepung tulang, serta tambahkan  bungkil kedele dan jagung serta campurkan semua bahan tersebut sampai rata dan homogen. 
Lemak yang dioksidasi secara sempurna dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g (Sediatama 1987).
            Kandungan sekam mempunyai korelasi positif terhadap kandungan serat kasar. Semakin tinggi kandungan sekam, semakin tinggi juga kandungan serat kasarnya. Oleh karena itu perlu ada batasan dan teknik untuk mengetahui apakah kandungan sekam normal atau tidak. Kandungan sekam umumnya kurang dari 13 %, namun seringkali ditemukan dedak padi yang kandungan sekamnya lebih dari 15%. Untuk menhindari penggunakan penggunaan dedak padi dengan kandungan sekam lebih dari 15%, perlu dilakukan test dengan Flourogucinol. Karena telah diketahui bahwa flouroglucinol tidak bereaksi dengan dedak namun memberikan warna merah pada kulit padi (sekam). Uji dengan flouroglucinol ini juga bisa mendeteksi jika dedak padi di campur atau terkontaminasi dengan serbuk gergaji, karena pada prinsipnya flouroglucinol bereaksi dengan lignin yang ada dalam kulit padi.
Menurut literature Hasil analisis proksimat beberapa komoditas kacangkacangan. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai, diikuti oleh kacang tunggak, kacang tanah, kacang merah, dan kacang hijau. Protein merupakan salah satu zat penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kadar lemak tertinggi dimiliki oleh kacang tanah. Lemak dalam tubuh berguna sebagai cadangan energi untuk aktivitas tubuh. Kacang-kacangan merupakan sumber lemak nabati. Lemak nabati umumnya kaya akan polyunsaturated fatty acid (PUFA), yaitu asam lemak tak jenuh yang mempunyai dua atau lebih ikatan rangkap. K andungan asam linoleat yang mengandung omega 3 tertinggi (5,85%) terdapat pada kacang tunggak dan terendah pada kedelai (2,72%) Ketaren (1986) menyatakan asam oleat merupakan komponen asam lemak tertinggi dalam minyak kedelai. Kandungan proksimat dan asam lemak beberapa jenis kacang-kacangan berbeda meskipun termasuk dalam satu varietas yang sejenis. Kadar protein tertinggi terdapat pada kedelai (36,83%) diikuti oleh kacang tunggak (25,53%), kacang tanah (23,97%), kacang merah (23,33%), dan kacang hijau (23,11%). Dengan demikian kedelai sangat baik dikonsumsi sebagai salah satu makanan penghasil proteinyang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Kedelai juga mengandung lemak cukup tinggi yang berfungsi sebagai sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia.
limbah pabrik kelapa sawit yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan alternatif ternak unggas dan punya potensi yang besar adalah bungkil inti sawit (HIS) dan lumpur minyak sawit (Solid Decanter Waste = SDW) (Sinurat, 2000), yang sampai saat ini limbah tersebut belum digunakan secara maksimal sebagai bahan pakan dalam ransum ternak, lagipula sumber daya limbah tersebut banyak terdapat di Sumatera Utara.
 limbah kelapa sawit adalah dengan fermentasi beberapa jamur melalui teknik secara substrat padat yang diharapkan dapat memungkinkan terjadinya perombakan komponen bahan yang sulit dicerna menjadi tersedia, yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai gizi bahan dan memperbaiki palatabilitas (Supriyati et al.1998). Teknik ini juga sudah dilaporkan dapat meningkatkan nilai gizi lumpur minyak sawit (Sinurat et al., 1998.Pasaribu et al, 1998) dan bungkil inti sawit (Supriyati et al, 1998).
Dale et al. (1998) menunjukkan bahwa depresi pertumbuhan terjadi baik pada ayam yang memperoleh tannin alami dari sorghum maupun tannin acid, namun dilaporkan lebih lanjut bahwa untuk menyamai dampak depresi pertumbuhan akibat pemberian tannin acid diperlukan konsentrasi tannin alami dari sorghum dalam jumlah yang lebih tinggi.
Frikha et al. (2009) manajemen pemberian pakan awal periode juga berdampak terhadap performans periode selanjutnya, peningkatan efisiensi pada ayam petelur dapat dilakukan dengan merubah bentuk pakan menjadi pellet dan meningkatkan kandungan energi pakan sampai level tertentu, namun demikian tampaknya hasil penelitian tersebut belum memberikan gambaran ekonomis nilai effisiensi yang diberikan.
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 1997).
Douglas et al. (1997) berhasil mempelajari bahwa pada sorghum dengan komposisi tannin rendah dan tinggi hanya memiliki perbedaan kandungan protein dan asam amino yang kecil nilainya.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
            Dari hasil praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum yang berjudul pengenalan bahan pakan dan alat-alat laboraturium, analisis proksimat, formulasi ransum dan mencampur ransum dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu perlu praktikan pahami bahwa selama praktikan mengikuti praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum praktikan dapat memahami jenis-jenis bahan pakan  serta termasuk sumber apa bahan pakan tersebut selain itu praktikan dapat memahami alat-alat laboraturium beserta fungsinya, selain itu juga praktikan dapat menganalisis bahan yang terkandung didalam bahan pakan, dan dapat memformulasikan  ransum serta mencampurnya menjadi bahan yang kompleks dan homogen.
5.2. Saran
Setelah terlaksanannya praktikum saya mengharapkan agar para praktikan dapat mengerjakannya atau mengembangkan ilmu ini dilingkungan sekitar tempat mereka tinggal sehingga ilmu ini dapat bermanfaat untuk masyarakat dan agar peternakan dapat dipandang lebih baik dimata masyarakat.

           




Tidak ada komentar: