Translate To

Kamis, 11 April 2013

Teknologi Pengolahan Susu


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
            Susu merupakan cairan berwarna putih yang diperoleh dari hewan menyusui yang dapat didiamkan atau dijadikan pangan sehat tanpa dikurangi dan sitambah komponennya (Hadiwiyoto 1994). Dipandang dari segi peternakan, susu merupakan suatu sekresi kelenjar susu dari sapi yang sedang laktasi dan dilakukan pemerahan susu sempurna tanpa dikurangi atau ditambah suatu komponen (Nurliyani, dkk 2008) Susu mengandung gizi penting yang mudah diserap tubuh. Dalam kehidupan susu sangat dianjurkan untuk dikonsumsi masyarakat terutama anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Karena susu sangat diminati karena gizinya yang lengkap, susu sering dipalsukan demi mendapat keuntungan yang besar. Untuk mengetahui hal ini perlu dilakukan uji kimia dan fisik untuk mengetahui kemurnian susu segar yang ada dipasaran.
            Susu terdiri dari 2 komponen yaitu susu skim atau sering disebut serum susu dan susu krim atau sering disebut kepala susu, susu skim adalah susu yang tersisa setelah krim diambil sebagian atau seluruhnya, susu skim mengandung banyak protein dan vitamin yang larut di dalam air. Sedangkan susu krim adalah susu yang banyak mengandung lemak dan juga vitamin yang larut didalam lemak yakni vitamin A,D,E, dan K. secara alami kedua komponen ini akan terpisah ketika susu dibiarkan dalam suhu ruang dalam waktu yang cukup lama, susu bagian skim akan berada di bawah, dan susu krim akan berada di bagian atas. Hal ini terjadi karena antara bagian skim dan krim mempunyai Berat Jenis (BJ) yang berbeda, susu skim mempunyai BJ yang lebih tinggi daripada susu krim sehingga susu skim akan berada di bagian bawah. Protein susu mengandung semua asam amino essensial yang penting bagi manusia yang mengkonsumsinya. Protein susu sebagian besar adalah kasein yakni sebagai protein utama susu yang berkisar 80% dari semua protein susu (Winarno 1993). Protein susu sangat diperlukan dalam membentuk jaringan baru di dalam tubuh terutama pada masa pertumbuhan (Winarno 1992). Sementara itu lemak yang dikandung susu adalah bersifat metabolis dan tidak menimbulkan kegemukan, sehingga konsumsinya sangat disarankan dalam kadar yang efisien yakni sekitar 300 mg sehari (Thomson 2004).
            Dalam praktikum ini terdapat 2 judul praktikum yang dilaksanakan, yang pertama menguji kualitas susu yang terdiri dari uji kualitas fisik (BJ. pH, keasaman, uji didih, uji alkohol), uji kualitras kimiawi (kadar protein dan kadar lemak), dan kualitas organoleptik (uji kebersihan, uji warna, uji aroma, uji rasa) dan yang kedua pengolahan susu yang terdiri dari susu skim dank rim, pembuatan tahu susu, fermentasi susu, pembuatan permen susu, pembuatan dodol susu, dan pembuatan es krim.

1.2. Tujuan dan manfaat
            Tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah praktikan mampu mengetahui kualitas fisik dan pengolahan yang dapat di aplikasikan pada susu serta hasil olahan lainnya, serta dapat  mengetahui kualitas fisik susu yang baik dan sesuai standar mutu yang berlaku. Dan manfaat yan g diperoleh dengan pelaksanaan praktikum ini adalah praktikan dapat menguji dan memutuskan baik tidaknya susu segar dan hasil olahan susu lainnya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Produksi dan komposisi susu yang dihasilkan sapi, tergantung dari konsumsi pakan, menggambarkan dari pengaruh dari konsumsi energy dan supply protein (Thomas dan Martin 1988)
Peningkatan jumlah protein dalam pakan akan meningkatkan kadar propionate dan meningkatkan kadar protein susu (Thomas dan Martin 1988)
Cemaran fisik dan kimiawi yang ada pada susu dan hasil pengolahan ternak lainnya akan menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia yang mengkonsumsinya (Gorris 2005)
Lingkungan sekitar peternakan seperti air, tanah, tanaman, serta keberadaan dan keadaan hewan lain disekitar peternakan akan mempengaruhi kualitas dan keamanan produk ternak yang dihasilkan (Purnomo 1994)
Cemaran bahan kimia dan cemaran biologi dari lingkungan peternakan akan terbawa dalam produk ternak yang dihasilkan (Mc Ewen dan Mc Nab, 1997)
Keamanan pangan hasil ternak juga berkaitan dengan kualitas pakan yang diberikan ke ternak, pakan dan bahan pakan ternak harus jelas jenis dan asalnya, serta disimpan dengan baik (Bastionelly dan Bass, 2002)
Spora bakteri anthrax yang mencemari susu tidak dapat dihilangkan dengan pasteurisasi (Perdue dkk, 2003)
Pencemaran produk ternak yang terjadi dapat dicegah dengan penerapan cara beternak yang baik (good farming practices) dan penanganan panen yang baik pula (Cullor, 1997)
Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan juga dapat menyebabkan perubahan fisik dan kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak dapat dikonsumsi (Siagian, 2002)
Dalam SK Dirjen peternakan no.17 1983 dijelaskan susu adalah susu sapi yang meliputi susu segar, susu murni, susu pasteurisasi, dan susu sterilisasi (Shiddieqy 2008)
Walaupun ada susu yang dihasilkan ternak lain misalnya kerbau, kambing, kuda, dan domba akan tetapi penggunaanya di masyarakat tidak sepopuler sapi perah (Anonimus, 2007)
Pemberian susu dapat menyebabkan gangguan perut bagi orang yang tidak tahan terhadap laktosa, hal kini diakibatkan oleh kurangnya enzyme lactase dalam mukosa usus (Suhendar, dkk 2008)
Factor yang mempengaruhi pencemaran bakteri dalam susu meliputi factor penyakit dan factor perlakuan seperti alat yang digunakan, tindakan sanitasi, dan pemberian pakan sapi (Ressang dan Nasution, 1998)
Susu yang baru diperah sekalipun dari sapi-sapi yang sehat dan diperah secara aseptis biasanya mengandung bakteri dalam jumlah yang sedikit (Eckless dkk, 1998)
Titiek dan Rahayu (2007) kerusakan susu oleh mokroorganisme antara lain adalah pengasaman dan penggumpalan yang bertanda seperti pengentalan dan pembentukan gumpalan tanpa menurunkan pH.
Warna kuning pada susu adalah karena lemak dan karoten yang dapat larut, dan jika lemak diambil dari susu maka susu akan menunjukkan warna kebiruan (Buda, 1980)
Kalsium mengatur pekerjaan hormone-hormon dan factor pertumbuhan (Almatsier, 2004)
Membrane globula lemak berfungsi melindungi lemak susu dari aktifitas enzyme lipase dan mencegah terjadinya koalesen antar globula (Hidayat dkk,2006)
Menurut Almatsier (2003) bahwa vitamin E larut dalam lemak dan didalam sebagian besar pelarut organic, tetapi tidak dapat larut dalam air.
Menurut Khomson (2006) di Negara-negara barat, kebiasaan minum susu telah mendarah daging sejak anak dari kecil hingga dewasa, sedangkan di Negara berkembang upaya penggalakan minum susu masih menjadi kendala status ekonomi penduduk yang masih rendah.
Menurut Brown (2000) susu UHT umumnya dipanaskan pada suhu 1380 C-1500 C selama 2-6 detik dan dapat disimpan pada suhu ruang kurang lebih selama 3 bulan.
Menurut Khomson (2004) konsumsi susu rata-rata hanya sekitar 0.5 gelas susu perminggu setiap orang di Indonesia
Cadongan et.all (1997) pemberian minum susu dan hasil pengolahan susu lainnya secara nyata dapat meningkatkan kepadatan tulang akan tetapi tidak menambah berat badan atau lemak tubuh.
Menurut Rukkmana (1997) penambahan kacang hijau pada susu, dapat menambah kandungan antioksidan yang ada pada susu.
Kisaran kadar air susu sapi secara umum yaitu 80-90% (Maheawari, 2004)
Winarno (1993) menyatakan bahwa susu adalah emulsi lemak dalam air sehingga kandungan air dalam susu meningkat
Maheswari (2004) menyatakan bahwa kadar lemak susu sapi sekitar 3.8% yang dipengaruhi oleh pakan
Soeharsono (1996) menyatakan bahwa rasa normal susu segar adalah sedikit manis yang disebabkan adanya laktosa
SNI 01-3141-1998 aroma susu segar adalah normal khas susu
Susilorini (2006) komponen susu antara lain adalah air 87%, lemak 3.9%, BKTL 8.8%, laktosa 4.6%, dan protein 3.25%.
Susu segar mengandung sedikit vitamin C yang beberapa diantaranya tidak rusak saat dipasteurisasi (Sherrington, 1994)
Susu sebagian besar digunakan sebagai bahan pangan yang baik dan gizi tinggi yang mudah dicerna dan mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan manusia seperi protein, karbohidrat, lemak, air, serta mineral (anonym, 1995)
Protein susu sangat diperlukan dalam membentuk jaringan baru di dalam tubuh terutama pada masa pertumbuhan (Winarno, 1992)
Protein susu sebagian besar adalah kasein yakni sebagai protein utama susu yang berkisar 80% dari semua protein susu (Winarno 1993)
Konsumsi lemak susu sangat efisien dalam kadar sekitar 300 mg (khomson, 2004)
Fermentasi dapat menambah keanekaragaman pangan dan menghaasilkan produk dengan cita rasa, aroma, serta tekstur yang khas, selain itu juga dapat memperpanjang daya simpan (Halen dan Evancho, 1992)
BAL dapat di isolasi dari sayur maupun buah yang sudah terlalu matang, asinan sayur maupun buah dan lain-lain (surono, 2004)
Sumber isolate BAL yang di smbil diantaranya berasal dari selada. Kubis, sawi hijau, sawi putih, lobak, wortel, timun suri, nenas, sirsak, dan tomat (Febrianita dkk, 2007)
Febrianita dkk, (2008) isolate BAL f2 yang berasal dari buah nenas sebagai isolate terbaik, karena mempunyai kemampuan fermentative tinggi dengan kadar asam laktat sebesar 1.17%
Tamime dan Beeth (1980) viskositas yang terbentuk pada susu fermentasi juga dapat disebabkan oleh penggumpalan protein oleh asam yang  dihasilkan selama fermentasi.
Kisaran kadar air susu secara umum yaitu 87.25% (Rahman dkk, 1997)
Kateren (1986) menyatakan bahwa selama penyimpanan, lemak sering mengalami kerusakan yang disebabkan oleh aksi enzyme dan aksi mikroba
Menurut Wood (1982) kadar asam yoghurt yang berasal dari susu hewani berkisar antara 0.3-1.3 %
Menurut Tamime dan Deeth (1980) pembentukan asam laktat sangat penting dalam proses pembuatan susu fermentasi.
Nilai alcohol yoghurt masih dalam kadar alcohol normal yoghurt pada umumnya yaitu berkisar 0.5-2.0% (Wood, 1982)



III. MATERI DAN METODE
3.1. Waktu dan tempat
            Praktikum Ilmu dan Teknologi Pengolahan Susu ini dilaksanakan di laboratoirium THT, gedung , fakultas Peternakan, Universitas Jambi. Mulai dari tanggal sampai tanggal 2010, yang  dimulai setiap pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai.

3.2. Materi
            Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum menguji kualitas fisik susu adalah susu segar, laktodensimeter, pH meter,Erlenmeyer, phenolptalin 1%, NaOH, tabung reaksi, alcohol, larutan k-oksalat jenuh, formaldehid 40%, H2SO4 pekat, amil alcohol, butirometer,  pipet 1 ml, sentrifuge, penangas air, kertas saring dan kertas putih.
            Alat dan bahan pada praktikum pengolahan susu adalah susu segar, susu bubuk, susu SKM, separator, becker gelas, H2SO4 pekat, amil alcohol, butirometer, sentrifuge, penangas air, susu skim, ekstrak nenas, getah papaya, asam cuka, wajan, kompor, pengaduk, kain penyaring, cawan, starter yoghurt, yakult, dan plantarum, larutan gula, flavor buatan, panic stainless steel, botol yang dapat ditutup, gula pasir, mentega, agar-agar putih, essence atau buah segar, panic Teflon, cetakan kembang gula, timbangan, kertas minyak, Loyang plastic, timbangan kue, wadah kemasan, ice cream maker, hand mixer, stabilizer (agar-agar), emulsifier (kuning telur), CMC (carboxy methyl cellulosa) dan pewarna.

3.3. Metode
            Cara kerja pengukuran berat jenis adalah dengan menuangkan susu ke dalam gelas ukur dan memasukkan laktodensimeter, kemudian skalanya dibaca susuai dengan skala yang tertulis pada laktodensimeter.
            Cara kerja pengukuran derajat keasaman adalah dengan mengukur pH susu dengan pH meter yang telah dikalibrasikan dengan larutan standar.
            Cara kerja pengukuran keasaman adalah dengan memasukkan susu sebanyak 17.5 ml kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan phenolptalin 1% sebanyak 2-3 tetes, dan kemudian dititrasi dengan NaOH sampai berwarna pink, dan diukur dengan;
Kadar asam= ml NaOH x 0.009 x 100%
                               ml susu
            Cara kerja yang dilaksanakan untuk uji didih adalah dengan mendidihkan susu sebanyak 5 ml dan kemudian didinginkan serta diamati adanya endapan, gumpalan, ataupun butir-butir halus pada dinding tabung reaksi.
            Cara kerja uji alcohol adalah dengan membagi susu menjadi  3 bagian yang ditambah masing-masing diberi perlakuan;
·         Satu bagian susu + 1 bagian alcohol 70% : susu yang di uji akan pecah padakeasaman susu 8-90 SH
·         Satu bagian susu + 2 bagian alcohol 70% : susu yang di uji akan pecah padakeasaman susu 8.50 SH
·         Satu bagian susu + 1 bagian alcohol 50% : susu yang di uji akan pecah padakeasaman susu 9.50 SH
Cara kerja uji protein adalah dengan memasukkan susu sebanyak 10 ml ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditambah K-oksalat jenuh 0.4 ml dan 1 ml phenolptalin 1% dan didiamkan selama  2 menit dan dititrasi dengan NaOH hingga berwarna pink. Kemudian ditambah 2 ml formaldehyde dan dititrasi kembali dengan NaOH sampai menjadi warna pink dan catat titrasi kedua. kemudian ditambahkan 2 ml formalin dan ditirasi kembali sampai mencapai warna standar, dan kemudian dibandingkan dengan titrasi blangko. Setelah itu kadar protein dapat diketahui denhgan rumus di bawah ini:
Kadar protein  (%)= titrasi formol x factor 1.83
Cara kerja uji kadar lemak adalah dengan memasukkan susu sebanyak 10 ml kedalam butyrometer dan dilanjutkan dengan memasukkan susu sebanyak 10.75 ml + 1 ml amil alcohol, kemudian butyrometer disumbat sampai rapat dan dikocok membentuk angka delapan selama 3-5 menit, dan disentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 1200 rpm, dan kemudian dimasukkan kedalam penangas air selama 15 menit dengan suhu 650 C, dan skala kadar lemak dibaca pada dinding butirometer.
Cara kerja uji kebersihan adalah dengan memindahkan susu dari suatu wadah ke wadah  lain melalui penyaring yang dilapisi kapas sehingga kotoran yang terdapat pada susu dapat dilihat dengan jelas.
Cara kerja uji warna adalah dengan mengamati sejumlah susu pada tabung reaksi yang diletakkan diatas kertas putih sehingga dapat dibedakan antara putih kertas dengan warna susu yang kekuningan ataupun putih, jika warna susu kebiruan, maka susu kemungkinan dipalsukan.
Cara kerja uji aroma adalah dengan mencium aroma susu pada becker gelas yang sudah dipanaskan pada suhu 650 C sampai menghasilkan asam-asam volatile.
Cara kerja untuk uji rasa susu adalah dengan mencicipi susu yang telah dipanaskan terlebih dahulu, rasa susu normal adalah sedikit manis, dan jika ada rasa asam berarti susu sudah tidak segar lagi dan mengindikasikan adanya pemalsuan.
Cara kerja pada pengujian kadar lemak susu krim adalah dengan memasukkan susu krim sebanyak 10 ml kedalam butyrometer dan dilanjutkan dengan memasukkan susu sebanyak 10.75 ml + 1 ml amil alcohol, kemudian butyrometer disumbat sampai rapat dan dikocok membentuk angka delapan selama 3-5 menit, dan disentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 1200 rpm, dan kemudian dimasukkan kedalam penangas air selama 15 menit dengan suhu 650 C, dan skala kadar lemak dibaca pada dinding butirometer.
Cara kerja pengukuran kadar protein susu skim adalah dengan dengan memasukkan susu skim sebanyak 10 ml ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditambah K-oksalat jenuh 0.4 ml dan 1 ml phenolptalin 1% dan didiamkan selama  2 menit dan dititrasi dengan NaOH hingga berwarna pink, Kemudian ditambah 2 ml formaldehyde dan dititrasi kembali dengan NaOH sampai menjadi warna pink dan catat titrasi kedua,  kemudian ditambahkan 2 ml formalin dan ditirasi kembali sampai mencapai warna standar, dan kemudian dibandingkan dengan titrasi blangko. Setelah itu kadar protein dapat diketahui denhgan rumus di bawah ini:
Kadar protein  (%)= titrasi formol x factor 1.83
Kadar kasein (%)  = titrasi formol x factor 1.63
Kadar N (%)         = titrasi formol x N.NaOH x 14.008
                                 ml bahan x 10

            Cara kerja pembuatan tahu susu adalah menyiapkan susu sebanyak 1.5 L, dan dibagi menjadi 3 bagian dengan tanda B1, B2, B3. Susu B1 ditambah 2 % ekstrak nenas, susu B2 ditambah 0.4 % getah papaya, dan susu B3 ditambah 3-4 sendok asam cuka. Masing-masing susu pada botol tersebut dipanaskan pada suhu 650 C untuk B1, 950 C untuk B2, dan 750 C untuk B3. Penyaringan dilakukan setelah terjadi penggumpalan untuk memisahkan antara whey dengan curd, lalu dilakukan perbandingan antara bobot curd yang dihasilkan tiap perlakuan dan dilakukan uji kualitas tahu susu yang dihasilkan yakni uji BK dan kadar protein.
·         Cara jerja uji BK adalah dengan menimbang botol kecil (C1) dan dimasukkan 3 gr tahu susu kedalam botol dan ditimbang kembali (C2), dikeringkan pada suhu 1100 C selama 1 jam dan ditimbang botol beserta sampel dan dikeringkan kembali selama 1 jam, lalu botol ditimbang kembali (C3). Kemudian kadar BK dihitung dengan rumus 100 x (C3-C1)/ C2-C1
·         Menguji kadar protein tahu susu adalah dengan memasukkan whey sebanyak 10 ml ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditambah K-oksalat jenuh 0.4 ml dan 1 ml phenolptalin 1% dan didiamkan selama  2 menit dan dititrasi dengan NaOH hingga berwarna pink. Kemudian ditambah 2 ml formaldehyde dan dititrasi kembali dengan NaOH sampai menjadi warna pink dan catat titrasi kedua. kemudian ditambahkan 2 ml formalin dan ditirasi kembali sampai mencapai warna standar, dan kemudian dibandingkan dengan titrasi blangko. Setelah itu kadar protein dapat diketahui denhgan rumus di bawah ini: Kadar protein  (%)= titrasi formol x factor 1.83
Cara kerja fermentasi susu adalah dengan membagi susu terlebih dahulu menjadi 3 bagian (A1,A2,A3), Dipasturisasi di dalam water bath selama 30 menit suhu 650 C yang bertujuan untuk membunuh mikroba pathogen, didinginkan sampai suhu 450 C, dan dilakukan inokulasi starter A1 + 3-5 % yoghurt,A2 + 3-5% yakult, dan A3 + 3-5%  plantarum. Kemudian susu di inkubasi kurang lebih 24 jam, dilakukan penambahan pemanis, essence, pewarna, ataupun buah segar, dan silakukan pengujian kekuatan fermentasi dengan mengukur derajat keasaman, total bakteri asam laktat dan pH dengan pH meter.
·         Cara kerja menentukan kadar asam susu fermentasi adalah dengan memasukkan susu sebanyak 17.5 ml kedalam Erlenmeyer dan ditetesi phenolptalin 2-3 tetes, dan dititrasi hingga berwarna pink. Kadar asam dihitung dengan rumus = ml NaOH x 0.009/gram bahan x 100%.
·         Cara kerja penghhitungan total bakteri asam laktat adalah dengan menyiapkan larutan pengencer 9 ml kedalam tabung reaksi sebanyak 10 buah. Ambil 1 ml susu fermentasi lalu masukkan kedalam tabung reaksi yang diberi larutan pengencer, dari pengencer tersebut ambil 1 ml lagi untuk diencerkan kedalam 9 ml larutan pengencer 102 dan seterusnya. Kemudian 3 pengenceran terakhir masing-maasing diambil 1 ml dan dimasukkan kedalam cawan petri yang dan langsung dituangkan MRS agar, disebarkan dengan merata dan dimasukkan kedalam incubator suhu 380 C selama 48 jam. Kemudian penghitungan bakteri dilakukan dengan penghitungan koloni dan dikalikan dengan angka pengenceran.
Cara kerja pembuatan permen susu adalah dengan memanaskan susu  didalam wadah anti lengket sambil diaduk-aduk sampai volumenya menjadi setengah, ditambahkan gula, agar-agar, mentega, dan essence dan dipanaskan hingga mengembang, adonan dipanaskan terus dengan api kecil sampai terbentuk permen susu, permen susu yang terbentuk dicetak pada pencetak yang dasarnya telah dilumuri minyak dan dipotong sesuai selera dan dilakukan uji organoleptik.
Cara kerja pembuatan dodol susu adlah dengan memanaskan susu didalam Teflon sampai volumenya menjadi separoh, tambahkan gula dan diaduk pada suhu rendah sampai mengental dan ridak terbentuk Kristal, tambahkan tepung beras dan tepung ketan yang sudah dilarutkan terlebih dahulu dan diauduk hingga kalis. Hasilnya dicetak dalam adonan dan sipotong sesuai selera, dan silakukan uji organoleptik.
Cara kerja pembuatan es krim adalah dengan mencampur susu, kuning telur, dan diaduk hingga rata dan dipoanaskan pada suhu 400 C, kemudian dimasukkan susu bubuk yang telah dilarutkan dan diaduk hingga tercampur sempurna, ditambahkan agar-agar dan diaduk hingga mendidih dan ditambah essence sesuai selera. Hilangkan uap panas dalam larutan dan di mix selama 15 menit yang disebut ICM, simpan ICM didalam wadah tertutup pada suhu refrigerator selama 24 jam untuk proses aging. Putar ICM dengan menggunakan ice cream maker hingga terbentuk Kristal es yang sangat halus dan kokoh, ditempatkan dalam wadah es krim dan disimpan dalam freezer, dan es krim siap untuk dihidangkan. Hitung overrun es krim dan lakukan uji organoleptik.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Menguji kualitas susu
            Susu segar merupakan cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih, yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah suatu apapun dan mendapat perlakuan apapun (SNI 01-3141-1998). Dari hasil praktikum, kualitas susu yang diamati adalah sebagai berikut.

4.1.1. Kualitas fisik
Berat jenis
            Berat jenis susu yang diamati kelompok 1 adalah 1.025, percobaannya dilakukan 3 kali dan telah dirata-ratakan. BJ susu dapat berbeda lebih sedikit atau lebih tinggi jika terjadi erlakuan dan pemalsuan,misalnya penambahan air, pemalsuan yang menyebabkan perubahan BJ ini  sering terjadi pada susu sapi karena walaupun ada susu yang dihasilkan ternak lain misalnya kerbau, kambing, kuda, dan domba akan tetapi penggunaanya di masyarakat tidak sepopuler sapi perah (Anonimus, 2007)

Derajat keasaman
            PH susu yang diamati kelompok 1 adalah 6.4. pH susu bisa berkisar 6.5-6.6. dan susu murni memiliki PH sekitar 4.5 – 7 SH. Sehingga susu yang diamati kelompok 1 masih tergolong bagus . pH susu sangat dipengaruhi oleh komposisi susu, komposisi ini dapat dirubah oleh mikroba seperti yang dikatakan  oleh Titiek dan Rahayu (2007) kerusakan susu oleh mokroorganisme antara lain adalah pengasaman dan penggumpalan yang bertanda seperti pengentalan dan pembentukan gumpalan tanpa menurunkan pH.


Keasaman
            Keasaman susu yang diamatiu kelompok 1 adalah 0.159. derajat asam susu murni adalah 4.5 – 7 SH, susu sangat mudah dikontaminasi mikroba dan mungkin perbedaan asam ini terjadi akibat hal di atas. Karena Susu yang baru diperah sekalipun dari sapi-sapi yang sehat dan diperah secara aseptis biasanya mengandung bakteri dalam jumlah yang sedikit (Eckless dkk, 1998).

Uji didih
Uji didih digunakan untuk mengetahui kestabilan susu, dari pengamatan kelompok 1, susu yang di amati mengalami penggumpalan dalam jumlah sedikit sedangkan susu yang masih bagus tidak akan menggumpal. Protein susu adalah komponen susu yang sangat mudah rusak oleh mikroba ataupun dengan penanganan, hal ini sesuai dengan pendapat Factor yang mempengaruhi pencemaran bakteri dalam susu meliputi factor penyakit dan factor perlakuan seperti alat yang digunakan, tindakan sanitasi, dan pemberian pakan sapi (Ressang dan Nasution, 1998).

Uji alcohol
            Uji alcohol dilakukan untuk melihat kestabilan koloid protein susu tarutama kasein, hal ini tergantung pada selubung air yang meliputi butiran-butiran protein terutama kasein yang merupakan 80% dari protein susu. Semakin bagus protein susu maka semakin bagus kualitas susunya. Protein susu sangat dipengaruhi oleh pakan yang mengandung protein juga, hal ini sesuai dengan pendapat Thomas dan Martin (1988) yang menyatakan peningkatan jumlah protein dalam pakan akan meningkatkan kadar propionate dan meningkatkan kadar protein susu.



4.1.2. Kualitas kimiawi
Kadar protein
            Kadar protein susu sapi adalah sekitar 3.6%. protein susu adalah hal yang paling dicari dalam produk protein, karena hampir 90% protein susu dapat diserap oleh vili-vili usus. Kadar protein susu bisa berbeda-beda sesuai dengan spesifikasi susunya dalam SK Dirjen peternakan no.17 1983 dijelaskan susu adalah susu sapi yang meliputi susu segar, susu murni, susu pasteurisasi, dan susu sterilisasi (Shiddieqy 2008).

Kadar lemak
            Kadar lemak susu yang diamati kelompok 1 adalah 3.4%, kadar lemak susu normal adalah 3.2 – 3.6%, jadi kadar lemak susu yang diamati kelompok 1 adalah masih dalam keadaan bagus.

4.1.3. Kualitas organoleptik
Uji kebersihan
            Susu yang diamati kebersihannya dengan penyaringan addalh berwarna putih dan bersih. Cemaran fisik dan kimiawi yang ada pada susu dan produk hasil ternak akan menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia yang mengkonsumsinya (Gorris 2005). Oleh karena itu lingkungan sekitar peternakan seperti air, tanah, tanaman, serta keberadaan dan keadaan hewan lain disekitar peternakan akan mempengaruhi kualitas dan keamanan produk ternak yang dihasilkan (Purnomo 1994).

Uji warna
            Warna susu yang diamati kelompok 1 adalah putih kekuningan (warna susu normal), warna susu yang ada pada susu diakibatkan oleh adanya lemak dan karoten yang larut dan jika lemak diambil dari susu maka susu akan menunjukkan warna kebiruan (Buda, 1980). Jadi susu yang tidak menunjukkan warna kebiruan adalah susu yang mengandung sedikit lemak, Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan juga dapat menyebabkan perubahan fisik dan kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan pangan tersebut tidak dapat dikonsumsi (Siagian, 2002).

Uji aroma
            Aroma susu pada umumnya sangat aromautis, karena setiap orang mempunyai perbedaan pendapat dalam hal aroma susu ini. Sebagian orang tidak menyukai aroma susu yang khas, sehingga sebagian orang tidak mau mengkonsumsi susu, aroma susu bukan merupakan satu-satunya alasan sebagian orang tidak mau mengkonsumsi susu, pada sebagian orang susu dapat menyebabkan gangguan perut bagi orang yang mengkonsumsinya. Pemberian susu dapat menyebabkan gangguan perut bagi orang yang tidak tahan terhadap laktosa, hal kini diakibatkan oleh kurangnya enzyme lactase dalam mukosa usus (Suhendar, dkk 2008).

Uji rasa
            Rasa susu adalah sedikit manis karena mengandung laktosa yang merupakan karbohidrat golongan disakarida. Pada pemecahan di dalam saluran pencernaan, laktosa ini akan dipecah menjadi 1 galaktosa + 1 glukosa. Laktosa susu merupakan nutrisi yang sangat baik dalam perkembangan otak, hal ini lah salah satu alasan disarankannya anak-anak untuk mengkonsumsi susu selain dari kandungan gizi lain yyang sangat essensial bagi kehidupan manusia.







4.2. Pengolahan susu
4.2.1. Susu Skim dan Krim
            Secara umum susu  terdiri atas 2 bagian, yaitu krim susu (kepalam susu) dan skim susu (serum susu). Skim susu mengandung kebih banyak protein dan vitamin yang larut didalam lemak, sedangkan krim susu lebih banyak mengansung lemak dan vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak, keddua komponen susu ini sangat baik dan berguna untuk dikonsumsi. Protein susu merupakan gizi yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan jaringan, hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (1992) yang menyatakan bahwa protein susu sangat diperlukan dalam membentuk jaringan baru di dalam tubuh terutama pada masa pertumbuhan. Pada praktikum ini kadar protein susu krim yang diamati kelompok 1 adalah 0.366%, kadar protein ini sudah dirata-ratakan dari 2 sampel yang telah diamati, yakni 1.549% dari sampel 1 dan 0.183% dari sampel 2. Kadar protein ini merupakan kadar protein susu yang sangat rendah karena bagian yang diuji proteinnya adalah susu bagian krim yang merupakan bagian susu yang lebih banyak mengandung lemak, Protein susu sebagian besar adalah kasein yakni sebagai protein utama susu yang berkisar 80% dari semua protein susu (Winarno 1993)
            Susu sangat terkenal dengan kalsiumnya yang sangat mudah diserap tubuh. Selain itu kalsium ini berperan mengatur pekerjaan hormone-hormon dan factor pertumbuhan (Almatsier, 2004). Jadi berdasarkan hal di atas maka susu sangayt penting dikonsumsi oleh setiap orang karena mempunyai peranan yang sangat banyak dalam kesehatan pengkonsumsinya menurut Khomson (2006) di Negara-negara barat, kebiasaan minum susu telah mendarah daging sejak anak dari kecil hingga dewasa, sedangkan di Negara berkembang upaya penggalakan minum susu masih menjadi kendala status ekonomi penduduk yang masih rendah, dan dari hasil penelitian Khomson (2004) konsumsi susu rata-rata hanya sekitar 0.5 gelas susu perminggu setiap orang di Indonesia.
            Pada pengujian kadar lemak, semua praktikan mengalami kegagalan dan tidak berhasil dalam menentukan kadar lemak susu yang diamati. Hal ini mungkin diakibatkan kurang ketelitian dalam melaksanakan prosedur praktikum yang terdapat pada diktat praktikum, lemak dalam susu merupakan lemak sirkuler ataupun metabolis yang dalam pengkonsunsiannya tidak akan menyebabkan kegemukan, oleh karena itu konsumsi lemak susu sangat efisien dalam kadar sekitar 300 mg (khomson, 2004), lemak susu terdiri dari membrane globula lemak berfungsi melindungi lemak susu dari aktifitas enzyme lipase dan mencegah terjadinya koalesen antar globula (Hidayat dkk,2006) lemak ini juga mengandung vitamin E yang sangat berperan sebagai anti oksidan.

4.2.2. Pembuatan tahu susu
            Pembuatan tahu susu merupakan pemanfaatan protein susu sebagai komponen yang digumpalkan oleh enzyme, tahu susu ini dapat dibuat dari susu yang dihasilkan ternak lain, kadar protein yang dihasilkan tiap ternak berbeda-beda dan tergantung dari pakan yang dikonsumsi ternak tersebut produksi dan komposisi susu yang dihasilkan sapi, tergantung dari konsumsi pakan, menggambarkan dari pengaruh dari konsumsi energy dan supply protein (Thomas dan Martin 1988). Pembuatan susu menjadi tahu susu merupakan salah satu pengolahan susu menjadi produk lain, tentunya pada tiap pengolahan ini harus zero mikroba pathogen yang dapat membahayakan orang yang akan mengkonsumsinya terutama mikroba yang bersifat zoonosis seperti anthrax karena spora bakteri anthrax yang mencemari susu tidak dapat dihilangkan dengan pasteurisasi (Perdue dkk, 2003). Jumlah tahu susu yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
Setelah dilakukan  pengujian terhadap kadar BK, diperoleh hasil sebagai berikut:
·         Dengan enzyme bromelin       B1=15.667%   ,B2=15.973%
·         Dengan enzyme papain           B1=14.027%   ,B2=13.494%

4.2.3. Fermentasi susu
            Fermentasi merupakan suatu pengolahan susu dengan menggunakan bakteri sebagai starter yang diinokulasikan kedalam susu dan menghasilkan berbagai produk, baik produk utama dan juga produk lain sebagai hasil sampingan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Halen dan Evancho, 1992) yang menyatakan bahwa Fermentasi dapat menambah keanekaragaman pangan dan menghaasilkan produk dengan cita rasa, aroma, serta tekstur yang khas, selain itu juga dapat memperpanjang daya simpan BAL dapat di isolasi dari sayur maupun buah yang sudah terlalu matang, asinan sayur maupun buah dan lain-lain (surono, 2004).
Bakteri yang digunakan sebagai starter dapat diperoleh dari berbagai sumber. Sumber isolate BAL yang di smbil diantaranya berasal dari selada. Kubis, sawi hijau, sawi putih, lobak, wortel, timun suri, nenas, sirsak, dan tomat (Febrianita dkk, 2007). Febrianita dkk, (2008) isolate BAL f2 yang berasal dari buah nenas sebagai isolate terbaik, karena mempunyai kemampuan fermentative tinggi dengan kadar asam laktat sebesar 1.17%. sehingga dalam berbagai proses fermentasi, BAL yang diperoleh berasal dari nenas. Selain menghasilkan warna dan tekstur yang lain, susu fermentasi juga membuat viskositas produk yang  difermentasi menjadi berubah. Menurut Tamime dan Beeth (1980) viskositas yang terbentuk pada susu fermentasi juga dapat disebabkan oleh penggumpalan protein oleh asam yang  dihasilkan selama fermentasi.
Kadar asam yang diperoleh dari pengukuran kadar asam yoghurt adalah sekitar 0.9%, menurut Wood (1982) kadar asam yoghurt yang berasal dari susu hewani berkisar antara 0.3-1.3 %.

4.2.4. Membuat permen susu
            Hasil yang diperoleh pada praktikum pembuatan permen susu adalah berupa permen yang terbuat dari 3 jenis bahan yang berbeda yaitu susu segar, susu bubuk, dan susu kental manis. Permen yang dihasilkan bahan dasr susu disebut juga dengan caramel susu atau hoppies, setelah pembuatan permen susu dilakukan uji organoleptik, dengan rata-rata hasil organoleptik berada pada skala suka. Data hasil uji organoleptik yang dilakukan berada pada lampiran.
            Uji organoleptik yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan praktikan terhadap permen susu. Pembuatan permen susu merupakan salah satu cara dalam konsumsi susu dengan cara yang berbeda dalam memperoleh gizi susu yang sangat baik, misalnya dalam mendapat kalsium susu yang sangat penting dalam pertumbuhan tulang , Cadongan et.all (1997) pemberian minum susu atau produk hasil pengolahan susu lainnya secara nyata dapat meningkatkan kepadatan tulang akan tetapi tidak menambah berat badan atau lemak tubuh. Menurut Brown (2000) susu UHT umumnya dipanaskan pada suhu 1380 C-1500 C selama 2-6 detik dan dapat disimpan pada suhu ruang kurang lebih selama 3 bulan. Pada pembuatan permen susu, permen yang dihasilkan dengan bahan dasar susu kental manis kurang disukai karena tekstur dan rasanya tidak lebih baik  dari permen susu dari bahan dasar susu segar.

4.2.5. Membuat dodol susu
Pembuatan dodol susu merupakan pengolahan hasil ternak dengan metode penguapan kandungan air yang ada pada susu. Kisaran kadar air yang terdapat pada susu sapi adalah 87.5% (rahman dkk, 1992) dan 80-90% (maheswari, 2004), hal ini adalah akibat susu merupakan emulsi lemak dalam air, sehingga kadarr air yang terdapat dalam susu menjadi meningkat atau banyak (winarno, 1993). Sebagian  susu digunakan sebagai bahan makanan yang bergizi tinggi yang mudah dicerna dan mengandung zat-zat makanan yang dibutuhkan manusia seperti protein, karbohidrat, lemak, air, dan mineral (anonym, 1995) dan salah satunya adalah dengan pengolahan susu ini menjadi dodol susu, pada pelaksanaan uji organoleptik diperoleh hasil yang rata-rata pada rata-rata agak suka. Soeharsono (1996) menyatakan bahwa rasa normal susu segar adalah sedikit manis yang disebabkan adanya laktosa. Oleh karena itu pada waktu pengolahan susu ini menjadi dodol susu masih ditambah gula, tepung beras dan ketan dalam menambah rasa manis pada dodol susu tersebut. Pada pengolahan susu  menjadi dodol susu ini juga terdapat penambahan essence buah untuk menambah aroma dan warna dodol susu dari aroma dan warna awal susu.


4.2.6. Pembuatan es krim
            Es krim merupakan makanan beku yang terbuat dari campuran produk susu dengan persentasi lemak susu yang tertentu ukurannya, dicampur dengan telur, ditambah dengan bahan penegascita rasa dan pewarna tertentu ssehingga lebih menarik. Overrun yang dihasilkan dalam praktikum ini adalah 14.81%.


V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
            Susu merupakan salah satu produk hasil ternak yang mengandung gizi yang sangat mudah dan dicerna dan hampir seluruh gizi yang tercerna tersebut dapat diserap oleh saluran pencernaan manusia, susu merupakan produk yang sangat ekonomis dan sangat diminati dalam karena sangat dibutuhkan manusia, terutama pada masa pertumbuhan, karena itu sering dipalsukan untuk mendapat untung yang sangat banyak, oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui keaslian susu, pengujian tersebut dapat meliputi pengujian kualitas fisik, kimiawi, dan organoleptik.
            Susu terbagi dalam 2 komponen utama, yaitu krim susu (kepala susu) dan skim susu (serum susu). Krim adalah bagian susu yang banyak mengandung lemak dan vitamin yang larut di dalam lemak (A, D, E, K),  sementara skim susu adalah bagian susu yang banyak mengandung protein dan vitamin yang larut dalam air (B dan C). selain dikonsumsi dalam bentuk segar, susu juga dapat diolah menjadi produk lain yang lebih disukai orang yang mengkonsumsinya seperti dengan pembuatan permen susu, tahu susu, dodol susu, ataupun menjadi es krim

5.2. Saran
Semoga hasil yang diperoleh dalam praktikum ini dapat berguna bagi kita. Dan untuk praktikum selanjutnya ketelitian diharapkan lebih ditingkatkan supaya tidak mengnulang kegagalan dalam pelaksanaan praktikum.


VI. DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S, 2005. Prinsip dasar ilmu gizi. P.T gramedia pustaka utama, Jakarta
Almatsier, S, 2002. dasar ilmu gizi. P.T gramedia pustaka utama, Jakarta Anonymus, 2007. Protein susu (laporan praktikum). http://one.indoskripsi.com/content/protein-susu-laporan-praktikum.htm
Anonymus, 2007. Sapi perah. www.jakarta.go.id /jakpus/ternak/datsu./htm.
Anonymus, 2007. Protein susu (Laporan praktikum). http://one-indoskripsi.com/content/protein-susu-praktikum.htm
Buda I. K. B Arka., I.K. Sulandra., G.P. Jamantha., L.K Arwana. 1980. Susu dan hasil pengolahannya. Bagian teknologi hasil ternak. Fakultas kedokteran hewan dan peternakan. Universitas Udayana. Denpasar
Bastianelly, D and C. L Bass. 2002. Evaluating the role of animal feed in food safety: perspectives for action. Proceeding of international workshop of food safety management developing countries. CIRAD-FAO, montpelleier, France .P. 11-13
Blakely, J dan D.H Bade. 1985. The science of animal husbandary, fourth edition, prentice hall, Inc, a Division of Simon and Schoster, Englewood cliffs, New jersey 07632. USA.
Cullor , J. S. 1997. Risk and prevention of contaminant of dairy product. Rev. schi. Tech. 16 (2) 472-481
Eckless. C. h. combs. And h. macy. 1988. Milk and product. 4 th. Ed. Mc.  Grawhill publishing. Co. ltd., new delhi
Febrianita. Daya fermentasi dan biorepresentatif. Isolate bakteri asam laktat dari sayur dan buah-buahan asal daerah linggar jati dan sekitarnya. Kuningan. Jawa barat. Skripsi sarjana sains. Fakultas Biologi. Universitas Nasional Jakarta. Jakarta. 2008
Gorris , l. g. m., 2005. Food safety objectives; an integral part of food chain management food control 16:801-809
Hadiwiyoto., S.1983. hasil-hasil olahan susu, ikan, daging, telur. Liberty. Yogyakarta.
Hadiwiyoto., S.1994. pengujian mutu susu dan hasil olahannya. Penerbit Liberty. Jakarta
Halin, J.H. dan Evandio G.M. The beneficial role of microorganisms in the safety and stability of refrigerated food in Dennis C and Stringer M Chilled Food A. Comprehensive guide. Ellis. New York. 1992.
Hidayat. N,M,C Padaga, dan S.Suhartini.,2006. Mikrobiologi industry. Penerbit Andi. Yogyakarta
Kay, D.E. food legumes. Tropical product institute. London. 1975.
Mahmud, dkk. 2005. Daftar komposisi bahan makanan. Persatuan ahli gizi Indonesia. Jakarta.
Mc . ewen, s.a., and WB Mc nab. 1997. Contaminant of nonbiological origin in food of animals. Rev. schi. Tech. off. Int.  epiz. 16 (2) : 684-693
Notoadmodjo, S. 2003. Ilmu kesehatan masyarakat prinsip-prinsip dasar. Penerbit rineka cipta. Jakarta.
Purnomo, H . dan Adiono.1985. ilmu pangan. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta
Perdue M.L., J. Karns.J.Higgins.and J.A Vn kessel. 2003. Detection and fate of Bacillusantracis (sterne) vegetable cells and spores added to bulk tank milk. J. food detection. 66 (12):2.349-2354
Rahman, A., S., Fardiaz. W. P. Rahayu, Suliantari, 1992. Teknologi fermentasi susu. PAU. IPB. Bogor
Rahman, A., S., Fardiaz. W. P. Rahayu, Suliantari, 1992. Teknologi fermentasi susu. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB. Bogor
Ressang A .A. dan A. M Nasution. 1988. Pedoman ilmu kesehatan susu (milk higyene).IPB.Bogor
Rivai, H. 1995. Asas pemeriksaan kimia. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Rukkmana, R. 1997. Kacang hjiau, budidaya, dan pasca panen. Penerbit kanisius. Jakarta
Shiddieqy. 2008. bakteri menyebabkan keracunan susu. http://netfarm.blogsome.com / bakteri-menyebabkan-keracunan-susu.htm
Siagian A.2002. mikroba pathogen pada makanan dan sumber pencemarannya. Fakultas kesehatan masyarakat. USU. http://www.library.usu.ac.id
SNI Susu Segar (SNI 01-3141-1998) dewan standarisasi nasional. Jakarta
Sugandi, E. dan Sugiarto. 1993. Rancangan percobaan. Andioffset. Yogyakarta.
Sugita, I.M. dan Djalil. 1989. Susu, penanganan, dan teknologinya. Universitas Andalas.
Soeharsono. 1996. Fisiologi laktasi. Universitas padjajaran: Bandung.
Sudono, A., I.K. Abdul Gani, H. Najib dan Ratih A.M, 1999. Penuntun praktikum ilmu ternak perah . fakultas peternakan. Institute pertanian Bogor.
Surono, I. S. 2004 Probiotik susu fermentasi dan kesehatan. Tricipta karya. Jakarta.
Tamine, A.Y dan Deeth H.C .1980.Yoghurt: technology and biochemistry. J. Food protection.
Thomas, P.C and Pamela, A.Martin. 1998.the influence of nutrient balance on milk yield and completion on gransworthy. PC. Nutrition and lactation in the dairy cow. London, Boston, Singapore, Sidney, Toronto, Wellington.
Titiek, I. D. dan S. Rahayu. 2007. Cemaran mikroba pada produk pertanian, penyakit yang ditimbulkan dan pencegahan, jurnal litbang pertanian, vol. 26 (2) :67
Winarno, F.G. 1984.kimia pangan dan gizi. Gramedia pustaka utama. Jakarta.
Winarno, F.G. 1996. Daging dan susu sebagai sumber gizi penting. Jurnal peternakan dan lingkungan vol:2 no.83 Fakultas Peternakan. Universitas andalas. Padang.
Winarno, F.G. 1993. Pangan gizi dan konsumen. Gramedia pustaka utama. Jakarta.
Wood, BJB. Mikrobiologi of fermented food. Elsevier applied science publisher. London and New York.1982.


VII. LAMPIRAN
Uji organoleptik permen susu

Permen 1
Rasa
Skor 6 = 2 orang
Skor 5 = 5 orang
Skor 4 = 11 orang
Skor 3 = 5 orang
Skor 2 = -
Skor 1 = -

Tekstur
Skor 5 = 6 orang
Skor 4 = 12 orang
Skor 3 = 3 orang
Skor 2 = -
Skor 1 = -

Warna
Skor 5 = 8 orang
Skor 4 = 12 orang
Skor 3 = 3 orang
Skor 2 = -
Skor 1 = -





Permen 2
Rasa
Skor 6 = 6 orang
Skor 5 = 12orang
Skor 4 = 3orang
Skor 3 = -
Skor 2 = -
Skor 1 = -

Tekstur
Skor 5 = -
Skor 4 = 13 orang
Skor 3 = 8 orang
Skor 2 = -
Skor 1 = -

Warna
Skor 5 = -
Skor 4 = 14 orang
Skor 3 = 7 orang
Skor 2 = -
Skor 1 = -






Permen 3
Rasa
Skor 6 = -
Skor 5 = 2 orang
Skor 4 = 15 orang
Skor 3 = 3 orang
Skor 2 = 2 orang
Skor 1 = 1 orang

Tekstur
Skor 5 = -
Skor 4 = 10 orang
Skor 3 = 3orang
Skor 2 = -
Skor 1 = -

Warna
Skor 5 = -
Skor 4 = 1 orang
Skor 3 = 21 orang
Skor 2 = -
Skor 1 = -









Uji protein
·         SAMPEL 1
Titrasi2 =  0.5
Titrasi blangko =  0.2
Titrasiterkoreksi          = titrasi2-titrasi blangko
                                    =0.5 – 0.2
                                    = 0.3
Kadar protein              = titrasi terkoreksi x 1.83 x 100%
                                    = 0.3 x 1.83 x 100%
                                    =0.549%
·         SAMPEL 2
Titrasi2 =  0.3
Titrasi blangko =  0.2
Titrasiterkoreksi          = titrasi2-titrasi blangko
                                    =0.3– 0.2
                                    = 0.1
Kadar protein              = titrasi terkoreksi x 1.83 x 100%
                                    = 0.1 x 1.83 x 100%
                                    =0.183%
Kadar protein susu      =  0.549% +  0.183% / 2
                                    = 0.366%


Uji organoleptik dodol susu
Rasa.
Amat sangat suka        = 9 orang
Sangat suka                 = 2 orang
Suka                            = 3 orang
Agak suka                   = 5 orang
Hampir tidak suka       = 1 orang
Tidak suka                   = 3 orang

Tekstur.
Sangat suka                 = 7 orang
Suka                            = 1 orang
Agak suka                   = 10 orang
Hampir tidak suka       = 4 orang
Tidak suka                   = 1 orang

Warna.
Sangat suka                 = 3 orang
Suka                            = 6 orang
Agak suka                   = 11 orang
Hampir tidak suka       = 2 orang
Tidak suka                   = 1 orang









% overrun es krim       = volume es krim – volume ICM x 100%
                                                 Volume ICM
                                    = 3100 – 2700 x 100 %                      
                                                2700
                                    =14.81%



Uji organoleptik es krim
Tekstur

Coklat:                        Kasar = 27 orang
                        Halus = 2 orang
Vanilla:            Kasar = -
                        Halus = 29 orang



Rasa coklat
Amat sangat suka        = 8 orang
Sangat suka                 = 2 orang
Suka                            = 10 orang
Agak suka                   = 2orang
Hampir tidak suka       = 1 orang
Tidak suka                   = -









Rasa vanilla
Amat sangat suka        = 13 orang
Sangat suka                 = 4 orang
Suka                            =  9 orang
Agak suka                   = 1 orang
Hampir tidak suka       = 1 orang
Tidak suka                   = -











Tidak ada komentar: