PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengujian kualitas
suatu bahan pakan dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologis, pengujian
dilakukan mengingat adanya variasi antara bahan pakan. Dua macam bahan pakan
secara fisik terlihat sama mungkin saja kedua bahan pakan tersebut mempunyai
komposisi kimia yang berbeda sehingga analisis secara fisik dan kimia perlu
dilakukan. Secara fisik pengujian dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik
ini dilakukan untuk menganalisis bahan pakan secara fisik dengan mengunakan
mikroskop yang dapat berupa pengamatan meliputi pengamatan tekstur, bentuk,
bau, dan rasa. Teknik mikroskopik mempunyai manfaat yaitu untuk menghindari
terjadinya pemalsuan suatu bahan pakan sehingga dapat diperoleh bahan pakan
yang berkualitas.
Sebaiknya sebelum bahan pakan dibeli terlebih dahulu
diambil sedikit sampel pakan untuk dianalis dilaboratorium makanan ternak,
hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan kandungan nutrisi standar.
Selain itu sample bias diambil dibeberapa tempat dan dicium, bila sample
tersebut berbau tengik atau tidak sedap lagi dan terdapat jamur pada bahan
pakan, itu menandakan bahwa bahan pakan tersebut sudah tidak bagus lagi atau
tidak berkualitas dijadikan suatu bahan pakan.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dilakukan
parktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui bagaimana perbedaan suatu bahan
pakan, kerapatan jenis suatu bahan pakan tersebut dan kualitas suatu bahan
pakan yang di uji melalui metode penyaringan dan kadar alfatoksin.
Manfaat praktikum
ini adalah praktikan dapat mengetahui kadar air yang terdapat pada suatu bahan
pakan, persentase biji pecah, biji rusak, biji mati, biji berjamur, dan benda
asing atau kontaminasi dengan kotoran.
TINJAUAN PUSTAKA
Allen (2001) Menyatakan bahwa
nilai gizi bungkil kelapa dibatasi oleh tidak tersedianya dan keseimbagan asam
amino, saingan absorpsi antara asam dan adanya zat penghambat seperti lignin.
Buckle (2000) menyatakan bahwa
berdasarkan kegunaanya bahan baku pakan ternak unggas di bagi atas 5 golongan
yaitu, bahan baku sumber protein, bahan baku sumber energi, bahan baku sumber
Vitamin, bahan baku sumber mineral, serta feed supplement.
Juju wahyu (1999) menyatakan
bahwa tepung ikan adalah sumber protein yang sangat baik untuk unggas karena mengandung
asam-asam amino esensial yang cukup untuk kebutuhan ayam dan sumber utama dari
lisin dan metionin.
Murtidjo (2000) menyatakan
bahwa tepung tulang merupakan sumber mineral kalsium dan fosfor. Selain itu
terkandung protein kasar yang relatif kecil, pengunaan tepung tulang dalam
penyusun pakan akan ternak unggas relatif sedikit yaitu 1-2%.
Nahm (2000) menyatakan bahwa
jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap tingkat repsentatif
sampel, jumlah sampel yang diambil tergantung dari kebutuhan untuk evaluasi dan
jumlah bahan yang diambil sampelnya sehingga setiap sampel akan berdeda.
Soejana (2002) menyatakan
bahwa penggunaan dedak padi dalam ransum sangat penting karena kandungan
gizinya yang cukup tinggi yaitu protein 10,1 %, lemak 4,9 %, karbohidrat 48,1 %
dan serat kasar 15,3 %.
Soekardi (2001) bahwa jagung
kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum,
jagung juga mempunyai kadar triptopan yang rendah.
Soeradji (2004) bahwa tepung
tulang yang bermutu baik biasanya memenuhi beberapa syarat diantaranya berwarna
keputih-putihan, tidak berbau, tidak mengandung bibit penyakit, kadar air
paling tinggi 5% dan kadar tepung mencapai 94%, pada proses pembuatan tepung
tulang dapat dihasilkan 70-75% tepung tulang dan sisanya berupa gelatin sebagai
bahan baku lem.
MATERI DAN METODE
Waktu dan Tempat
Praktikum Industri Makanan
Ternak yang berjudul ’’Kerapatan Bahan (Bulk Density) dan Kualitas Bahan Baku’’
ini dilaksanakan pada hari senin, 25 mei 2009 pada pukul 14.00 - 16.30 WIB,
bertempat di Gedung C laboratorium Industri Makanan Ternak Fakultas Peternakan
Universitas jambi.
Materi
Dalam praktikum ini alat yang
digunakan adalah kerapatan bahan (bulk density) adalah nampan, mistar, silinder
isi 1000 ml (1 liter) dan timbangan. Sedangkan bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah bungkil kelapa, jagung utuh, tepung tulang, bungki kedele,
jagung halus, tepung ikan, dan dedak padi.
Adapun alat yang digunakan
pada praktikum kualitas bahan pakan adalah moisture tester, ayakan, dan lampu
ultra violet (fluorsecent). Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini
adalah jagung kasar.
Metode
Kerapatan bahan pakan
Adapun metode yang
digunakan pada praktikum ini adalah mempersiapkan alat-alat dan bahan yang
dibutuhkan, tuangkan bahan yang akan diukur diatas nampan, aduk bahan secara
merata secara seksama, ratakan bahan dalam wadah tadi dengan mistar, bagi
sample ke dalam 4 bagian dengan metoda quartering, masukan bahan ke dalam
silinder ukuran 250 ml, ratakan permukaan bahan dengan permukaan silinder
dengan menggunakan silinder, keluarkan bahan dari silinder dan tentukan berat
bahan dengan timbangan, tentukan kerapatan bahan tersebut, lakukan pengukuran
sebanyak 3x untuk setiap sample bahan pakan dan tentukan nilai rataan kerapatan
jenis yang diperoleh.
Kualitas bahan pakan
Kadar air
Adapun metoda yang
digunakan pada praktikum ini adalah jagung yang akan dihitung kadar airnya
sebaiknya digiling terlebih dahulu. Timbang bahan tersebut sebanyak 1 gr, lalu
masukan bahan tersebut kedalam moisture tester, tunggu hasil kadar airnya.
Kadar air maksimum yang direkomendasikan adalah 15 %.
Metode penyaringan
Adapun metoda yang
digunakan pada praktikum ini adalah timbang 100 gr jagung yang diambil dari sample
yang refresentatif, saring dengan ayakan berukuran 4 mesh. Kemudian pisahkan
biji yang pecah, rusak, mati, benda asing atau kotoran dan jamur. Timbang masing-masing komponen dan hitung
jumlah relatifnya terhadap berat awal. Biji yang berjamur tidak boleh lebih
dari 5%. Total screen test tidak boleh lebih dari 15%, ulangi dengan cara yang
sama sebanyak 3 kali, dan masukan data kedalam tabel.
Kadar aflatoksin
Adapun
metoda yang digunakan pada praktikum ini adalah giling kasar tanpa memakai
saringan jagung utuh sebanyak 500 gr, letakkan di nampan segi empat secara
merata, letakkan lampu ultra violet diatas nampan, hitung jumlah partikel
jagung yang berpendar seperti kunag-kunang. Level aflatoksin jagung yang dapat
ditoleransi adalah maksimum 150 ppb.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kerapatan Bahan Pakan
Dari
pelaksanaan praktikum yang telah dilakukan maka diperoleh sebagai berikut.
Tabel. 1. Hasil
perhitungan bulk density bahan pakan:
|
No
|
Bahan Pakan
|
Bulk density (gram/liter)
|
keterangan
|
|
1.
|
Jagung utuh
|
260,65
|
Jelek
|
|
2.
|
Bungkil kelapa
|
526
|
jelek
|
|
3.
|
Tepung tulang
|
1361,4
|
Jelek
|
|
4.
|
Bungkil kedele
|
614
|
Kurang bagus
|
|
5.
|
Dedak padi
|
335
|
Jelek
|
|
6.
|
Tepung ikan
|
581
|
bagus
|
|
7.
|
Jagung giling
|
374
|
jelek
|
Pada praktikum uji kerapatan
suatu bahan pakan ini, banyak bahan pakan ternak yang mempunyai kualitas rendah
atau jelek. Setelah di uji banyak bahan pakan yang tidak sesuai dengan tabel
standar uji kerapatan bahan pakan. Tepung tulang yang diuji pada praktikum ini
adalah kurang baik. Sesuai dengan pendapat Soeradji (2004) yang menyatakan
bahwa tepung tulang yang bermutu baik biasanya memenuhi beberapa syarat
diantanya berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tiadak mengandung bibit
penyakit, kadar air paling tinggi 5% dan kadar tepung mencapai 94%, pada proses
pembuatan tepung tulang dapat dihasilkan 70-75% tepung tulang dan sisanya
berupa gelatine sebagi bahan baku. Di tambahkan pula pendapat Murtidjo (2000) bahwa
tepung tulang merupakan sumber mineral kalsium dan fosfor. Selain itu terkandung
protein kasar yang relatif kecil, pengunaan tepung tulang dalam penyusun pakan
akan ternak unggas relatif sedikit yaitu 1-2%.
Bahan seperti jagung juga
kurang baik karena tidak banyak mengandung karoten. Sesuai dengan pendapat Soekardi
(2001) yang menyatakan bahwa jagung kuning disamping mengandung karoten, juga
menjadi sumber energi dalam ransum, jagung juga mempunyai kadar Triptopan yang
rendah.
Selain jagung yang befungsi
sebagai sumber energi dedak padi juga merupakan sumber energi untuk pakan
ternak yang cukup mudah diperoleh.
Hal ini didukung oleh Soejana
(2002) yang menyatakan bahwa penggunaan dedak padi dalam ransum sangat penting
karena kandungan gizinya yang cukup tinggi yaitu protein 10,1 %, lemak 4,9 %,
karbohidrat 48,1 % dan serat kasar 15,3 %. Dedak padi
terdiri dari kulit ari, menir dan sekam. Jumlah sekam dalam dedak sangat
mempengaruhi kualitas dedak. Dedak padi dengan kandungan sekam yang tinggi
mempunyai kualitas nutrisi yang rendah.
Menurut pendapat Allen (2001)
bahwa dedak padi adalah sisa penggilingan atau penumbukan padi. Bahan makanan
tersebut sangat populer dan banyk sekali digunakan dalam ransum ternak.
Ditinjau dari mutunya dedak padi dibagi dalm tiga kelas yaitu dedak kasar,
dedak lunteh dan bekatul. Ditambahkan pula oleh Soeradji (2004) yang menyatakan
bahwa dedak lunteh dapat merupakan hasil ikutan penumbukan padi dengan
kandungan protein sekitar 9,5%. Dedak lunteh kaya akan thiamin dan kandungan
niasinnya yang sangat tinggi.
Kualitas
Bahan Pakan
a. Kadar
Air
Hasil yang didapat pada
perhitungan kadar air suatu bahan pakan (jagung halus) yaitu kadar air sampel 1
= 10% dan sampel 2 = 11%. Kadar air pada sampel tersebut tidak ada perbedaan.
Hal ini disebabkan menggunakan sampel dengan sampel yang sama, ada juga yang
berbeda, pada perhitungan kadar air ini menggunakan dua sampel atau duplow yang
tujuannya untuk membandingkan sampel pertama dengan yang kedua.
Setiap kelompok praktikan
menyiapkan jagung yang akan di uji sebanyak 2 kg dan dibeli pada toko atau
warung atau poultry shop yang berbeda.
Nama toko : Toko buana dan resky jaya Bahan
: jagung
Alamat :
Jl.orang kayo pingai no 8 talang banjar
Tanggal beli :
23 Mei 2009
Jagung giling yang diuji
berwarna kuning dan berupa serbuk halus. Hal
ini sesuai dengan pendapat Juju wahyu (1999) yang menyatakan bahwa
jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum,
jagung juga mempunyai kadar triptopan yang rendah.
b. metode
penyaringan
Hasil pengujian berupa biji
jagung yang pecah, rusak, mati, kotoran, dan jamur.
|
No
|
Bahan uji
|
Pecah
|
Rusak
|
Mati
|
Kotoran
|
Jamur
|
|
1.
|
Jagung 1
|
6,1
|
5,2
|
4,3
|
2,3
|
1,6
|
|
2.
|
Jagung 2
|
6,4
|
4,6
|
5,4
|
3,8
|
1,3
|
|
3.
|
Jagung 3
|
6,7
|
5,1
|
5,6
|
3,7
|
2,9
|
Pada
pengujian biji jagung debgan menggunakan metode penyaringan pada bahan uji dari
3 kelompok parameter yang diamati adalah pecah (6,1-6,7), rusak (4,6-5,6), mati
(4,3-5,6), kotoran (2,3-3,8) dan jamur (1,3-2,9).
c.
Kadar aflatoksin
Kandungan
aflatoksin pada jagung yang diuji
|
No
|
Bahan yang diuji
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
1.
|
Jagung halus 1
|
91
|
Baik
|
|
2.
|
Jagung halus 3
|
94
|
Baik
|
|
3.
|
Jagung halus 4
|
15
|
Baik
|
|
4.
|
Jagung halus 5
|
102
|
Baik
|
Jagung halus yang diuji pada
penentuan kadar aflatoksin ditimbang sebanyak 500 gr, sedangkan pada penentuan
kadar air sebanyak 1 gr. Hal ini sesuai dengan pendapat Nahm (2000) yang
menyatakan bahwa jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap
tingkat repsentatif sampel, jumlah
sampel yang diambil tergantung dari kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan
yang diambil sampelnya sehingga setiap sampel akan berbeda.
PENUTUP
Kesimpulan
Pada pengawasan bahan pakan
ini memerlukan kepekaan dari panca indra (organoleptik) sehingga dapat
diketahui ada atau tidaknya pemalsuan pada bahan pakan tersebut, baik berupa
tanah, pasir, atau bahan pakan lainnya yang digunakan. Tetapi pengujian
tersebut dapat mengetahui kualitas dari suatu bahan pakan sehingga diperlukan
pengujian lebih lanjut.
Kerapatan jenis suatu bahan
pakan yang sama dapat sangat bervariasi yang dipengaruhi oleh ukuran partikel,
kandungan air dan kepadatan.
Saran
Adapun
saran dari praktikum ini yaitu agar praktikan lebih memperhatikan tentang
materi yang akan diujikan, memahami praktiukum yang dilakukan dengan cara
mempelajari buku penuntun praktikum dan dalam pelaksanaan praktikum menggunakan
waktu secara efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Allen. 2001.
Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.
Buckle. 2000. Membuat Pakan Unggas.
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Murtidjo. 2000. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Nahm. 2000. Bahan Pakan Unggas Indonesia. Kanisius.
Yogyakarta.
Soekardi. 2001. Pakan Lokal Alternatif Untuk
Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soeradji. 2004.
Peternakan Umum. PT. Yasaguna. Jakarta.
Wahyu, J. 1999.
Ilmu Makanan Ternak
Unggas. Kansius Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar