Translate To

Kamis, 11 April 2013

Pengawasan Bahan Pakan Ternak


PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Pengujian kualitas suatu bahan pakan dapat dilakukan secara fisik, kimia dan biologis, pengujian dilakukan mengingat adanya variasi antara bahan pakan. Dua macam bahan pakan secara fisik terlihat sama mungkin saja kedua bahan pakan tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda sehingga analisis secara fisik dan kimia perlu dilakukan. Secara fisik pengujian dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik ini dilakukan untuk menganalisis bahan pakan secara fisik dengan mengunakan mikroskop yang dapat berupa pengamatan meliputi pengamatan tekstur, bentuk, bau, dan rasa. Teknik mikroskopik mempunyai manfaat yaitu untuk menghindari terjadinya pemalsuan suatu bahan pakan sehingga dapat diperoleh bahan pakan yang berkualitas.
            Sebaiknya  sebelum bahan pakan dibeli terlebih dahulu diambil sedikit sampel pakan untuk dianalis dilaboratorium makanan ternak, hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan kandungan nutrisi standar. Selain itu sample bias diambil dibeberapa tempat dan dicium, bila sample tersebut berbau tengik atau tidak sedap lagi dan terdapat jamur pada bahan pakan, itu menandakan bahwa bahan pakan tersebut sudah tidak bagus lagi atau tidak berkualitas dijadikan suatu bahan pakan.


Tujuan dan Manfaat
          Tujuan dilakukan parktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui bagaimana perbedaan suatu bahan pakan, kerapatan jenis suatu bahan pakan tersebut dan kualitas suatu bahan pakan yang di uji melalui metode penyaringan dan kadar alfatoksin.
          Manfaat praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahui kadar air yang terdapat pada suatu bahan pakan, persentase biji pecah, biji rusak, biji mati, biji berjamur, dan benda asing atau kontaminasi dengan kotoran.
TINJAUAN PUSTAKA
Allen (2001) Menyatakan bahwa nilai gizi bungkil kelapa dibatasi oleh tidak tersedianya dan keseimbagan asam amino, saingan absorpsi antara asam dan adanya zat penghambat seperti lignin.
Buckle (2000) menyatakan bahwa berdasarkan kegunaanya bahan baku pakan ternak unggas di bagi atas 5 golongan yaitu, bahan baku sumber protein, bahan baku sumber energi, bahan baku sumber Vitamin, bahan baku sumber mineral, serta feed supplement.
Juju wahyu (1999) menyatakan bahwa tepung ikan adalah sumber protein yang sangat baik untuk unggas karena mengandung asam-asam amino esensial yang cukup untuk kebutuhan ayam dan sumber utama dari lisin dan metionin.
Murtidjo (2000) menyatakan bahwa tepung tulang merupakan sumber mineral kalsium dan fosfor. Selain itu terkandung protein kasar yang relatif kecil, pengunaan tepung tulang dalam penyusun pakan akan ternak unggas relatif sedikit yaitu 1-2%.
Nahm (2000) menyatakan bahwa jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap tingkat repsentatif sampel, jumlah sampel yang diambil tergantung dari kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan yang diambil sampelnya sehingga setiap sampel akan berdeda.
Soejana (2002) menyatakan bahwa penggunaan dedak padi dalam ransum sangat penting karena kandungan gizinya yang cukup tinggi yaitu protein 10,1 %, lemak 4,9 %, karbohidrat 48,1 % dan serat kasar 15,3 %.
Soekardi (2001) bahwa jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum, jagung juga mempunyai kadar triptopan yang rendah.
Soeradji (2004) bahwa tepung tulang yang bermutu baik biasanya memenuhi beberapa syarat diantaranya berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tidak mengandung bibit penyakit, kadar air paling tinggi 5% dan kadar tepung mencapai 94%, pada proses pembuatan tepung tulang dapat dihasilkan 70-75% tepung tulang dan sisanya berupa gelatin sebagai bahan baku lem.





























MATERI DAN METODE
Waktu dan Tempat
Praktikum Industri Makanan Ternak yang berjudul ’’Kerapatan Bahan (Bulk Density) dan Kualitas Bahan Baku’’ ini dilaksanakan pada hari senin, 25 mei 2009 pada pukul 14.00 - 16.30 WIB, bertempat di Gedung C laboratorium Industri Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas jambi.

Materi
Dalam praktikum ini alat yang digunakan adalah kerapatan bahan (bulk density) adalah nampan, mistar, silinder isi 1000 ml (1 liter) dan timbangan. Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah bungkil kelapa, jagung utuh, tepung tulang, bungki kedele, jagung halus, tepung ikan, dan dedak padi.
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kualitas bahan pakan adalah moisture tester, ayakan, dan lampu ultra violet (fluorsecent). Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah jagung kasar.

Metode
Kerapatan bahan pakan
Adapun metode yang digunakan pada praktikum ini adalah mempersiapkan alat-alat dan bahan yang dibutuhkan, tuangkan bahan yang akan diukur diatas nampan, aduk bahan secara merata secara seksama, ratakan bahan dalam wadah tadi dengan mistar, bagi sample ke dalam 4 bagian dengan metoda quartering, masukan bahan ke dalam silinder ukuran 250 ml, ratakan permukaan bahan dengan permukaan silinder dengan menggunakan silinder, keluarkan bahan dari silinder dan tentukan berat bahan dengan timbangan, tentukan kerapatan bahan tersebut, lakukan pengukuran sebanyak 3x untuk setiap sample bahan pakan dan tentukan nilai rataan kerapatan jenis yang diperoleh.
Kualitas bahan pakan
Kadar air
Adapun metoda yang digunakan pada praktikum ini adalah jagung yang akan dihitung kadar airnya sebaiknya digiling terlebih dahulu. Timbang bahan tersebut sebanyak 1 gr, lalu masukan bahan tersebut kedalam moisture tester, tunggu hasil kadar airnya. Kadar air maksimum yang direkomendasikan adalah 15 %.

Metode penyaringan
Adapun metoda yang digunakan pada praktikum ini adalah timbang 100 gr jagung yang diambil dari sample yang refresentatif, saring dengan ayakan berukuran 4 mesh. Kemudian pisahkan biji yang pecah, rusak, mati, benda asing atau kotoran dan jamur. Timbang masing-masing komponen dan hitung jumlah relatifnya terhadap berat awal. Biji yang berjamur tidak boleh lebih dari 5%. Total screen test tidak boleh lebih dari 15%, ulangi dengan cara yang sama sebanyak 3 kali, dan masukan data kedalam tabel.

Kadar  aflatoksin
            Adapun metoda yang digunakan pada praktikum ini adalah giling kasar tanpa memakai saringan jagung utuh sebanyak 500 gr, letakkan di nampan segi empat secara merata, letakkan lampu ultra violet diatas nampan, hitung jumlah partikel jagung yang berpendar seperti kunag-kunang. Level aflatoksin jagung yang dapat ditoleransi adalah maksimum 150 ppb.



HASIL DAN PEMBAHASAN
Kerapatan Bahan Pakan
            Dari pelaksanaan praktikum yang telah dilakukan maka diperoleh sebagai berikut.
Tabel. 1.  Hasil perhitungan bulk density bahan pakan:
No
Bahan Pakan
Bulk density (gram/liter)
keterangan
1.
Jagung utuh
260,65
Jelek
2.
Bungkil kelapa
526
jelek
3.
Tepung tulang
1361,4
Jelek
4.
Bungkil kedele
614
Kurang bagus
5.
Dedak padi
335
Jelek
6.
Tepung ikan
581
bagus
7.
Jagung giling
374
jelek

Pada praktikum uji kerapatan suatu bahan pakan ini, banyak bahan pakan ternak yang mempunyai kualitas rendah atau jelek. Setelah di uji banyak bahan pakan yang tidak sesuai dengan tabel standar uji kerapatan bahan pakan. Tepung tulang yang diuji pada praktikum ini adalah kurang baik. Sesuai dengan pendapat Soeradji (2004) yang menyatakan bahwa tepung tulang yang bermutu baik biasanya memenuhi beberapa syarat diantanya berwarna keputih-putihan, tidak berbau, tiadak mengandung bibit penyakit, kadar air paling tinggi 5% dan kadar tepung mencapai 94%, pada proses pembuatan tepung tulang dapat dihasilkan 70-75% tepung tulang dan sisanya berupa gelatine sebagi bahan baku. Di tambahkan pula pendapat Murtidjo (2000) bahwa tepung tulang merupakan sumber mineral kalsium dan fosfor. Selain itu terkandung protein kasar yang relatif kecil, pengunaan tepung tulang dalam penyusun pakan akan ternak unggas relatif sedikit yaitu 1-2%.
Bahan seperti jagung juga kurang baik karena tidak banyak mengandung karoten. Sesuai dengan pendapat Soekardi (2001) yang menyatakan bahwa jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum, jagung juga mempunyai kadar Triptopan yang rendah.
Selain jagung yang befungsi sebagai sumber energi dedak padi juga merupakan sumber energi untuk pakan ternak yang cukup mudah diperoleh.
Hal ini didukung oleh Soejana (2002) yang menyatakan bahwa penggunaan dedak padi dalam ransum sangat penting karena kandungan gizinya yang cukup tinggi yaitu protein 10,1 %, lemak 4,9 %, karbohidrat 48,1 % dan serat kasar 15,3 %. Dedak padi terdiri dari kulit ari, menir dan sekam. Jumlah sekam dalam dedak sangat mempengaruhi kualitas dedak. Dedak padi dengan kandungan sekam yang tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah.
Menurut pendapat Allen (2001) bahwa dedak padi adalah sisa penggilingan atau penumbukan padi. Bahan makanan tersebut sangat populer dan banyk sekali digunakan dalam ransum ternak. Ditinjau dari mutunya dedak padi dibagi dalm tiga kelas yaitu dedak kasar, dedak lunteh dan bekatul. Ditambahkan pula oleh Soeradji (2004) yang menyatakan bahwa dedak lunteh dapat merupakan hasil ikutan penumbukan padi dengan kandungan protein sekitar 9,5%. Dedak lunteh kaya akan thiamin dan kandungan niasinnya yang sangat tinggi.

Kualitas Bahan Pakan
a. Kadar Air
Hasil yang didapat pada perhitungan kadar air suatu bahan pakan (jagung halus) yaitu kadar air sampel 1 = 10% dan sampel 2 = 11%. Kadar air pada sampel tersebut tidak ada perbedaan. Hal ini disebabkan menggunakan sampel dengan sampel yang sama, ada juga yang berbeda, pada perhitungan kadar air ini menggunakan dua sampel atau duplow yang tujuannya untuk membandingkan sampel pertama dengan yang kedua.
Setiap kelompok praktikan menyiapkan jagung yang akan di uji sebanyak 2 kg dan dibeli pada toko atau warung atau poultry shop yang berbeda.
Nama toko      : Toko buana dan resky jaya                                       Bahan : jagung
Alamat                        : Jl.orang kayo pingai no 8 talang banjar
Tanggal beli     : 23 Mei 2009
Jagung giling yang diuji berwarna kuning dan berupa serbuk halus. Hal  ini sesuai dengan pendapat Juju wahyu (1999) yang menyatakan bahwa jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum, jagung juga mempunyai kadar triptopan yang rendah.

b. metode penyaringan
Hasil pengujian berupa biji jagung yang pecah, rusak, mati, kotoran, dan jamur.
No
Bahan uji
Pecah
Rusak
Mati
Kotoran
Jamur
1.
Jagung 1
6,1
5,2
4,3
2,3
1,6
2.
Jagung 2
6,4
4,6
5,4
3,8
1,3
3.
Jagung 3
6,7
5,1
5,6
3,7
2,9

            Pada pengujian biji jagung debgan menggunakan metode penyaringan pada bahan uji dari 3 kelompok parameter yang diamati adalah pecah (6,1-6,7), rusak (4,6-5,6), mati (4,3-5,6), kotoran (2,3-3,8) dan jamur (1,3-2,9).

            c. Kadar aflatoksin
            Kandungan aflatoksin pada jagung yang diuji
No
Bahan yang diuji
Hasil
Keterangan
1.
Jagung halus 1
91
Baik
2.
Jagung halus 3
94
Baik
3.
Jagung halus 4
15
Baik
4.
Jagung halus 5
102
Baik

Jagung halus yang diuji pada penentuan kadar aflatoksin ditimbang sebanyak 500 gr, sedangkan pada penentuan kadar air sebanyak 1 gr. Hal ini sesuai dengan pendapat Nahm (2000) yang menyatakan bahwa jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap tingkat repsentatif sampel,  jumlah sampel yang diambil tergantung dari kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan yang diambil sampelnya sehingga setiap sampel akan berbeda.
PENUTUP
Kesimpulan
Pada pengawasan bahan pakan ini memerlukan kepekaan dari panca indra (organoleptik) sehingga dapat diketahui ada atau tidaknya pemalsuan pada bahan pakan tersebut, baik berupa tanah, pasir, atau bahan pakan lainnya yang digunakan. Tetapi pengujian tersebut dapat mengetahui kualitas dari suatu bahan pakan sehingga diperlukan pengujian lebih lanjut.
Kerapatan jenis suatu bahan pakan yang sama dapat sangat bervariasi yang dipengaruhi oleh ukuran partikel, kandungan air dan kepadatan.

Saran
            Adapun saran dari praktikum ini yaitu agar praktikan lebih memperhatikan tentang materi yang akan diujikan, memahami praktiukum yang dilakukan dengan cara mempelajari buku penuntun praktikum dan dalam pelaksanaan praktikum menggunakan waktu secara efisien.

DAFTAR PUSTAKA
Allen. 2001.  Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.
Buckle. 2000. Membuat Pakan Unggas. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Murtidjo. 2000. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Nahm. 2000. Bahan Pakan Unggas Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Soekardi. 2001. Pakan Lokal Alternatif Untuk Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soeradji. 2004. Peternakan Umum. PT. Yasaguna. Jakarta.
Wahyu, J.  1999.  Ilmu  Makanan  Ternak  Unggas.  Kansius  Yogyakarta.















Tidak ada komentar: