Translate To

Kamis, 11 April 2013

Macam Macam Pakan Ternak Ruminansia


MACAM-MACAM PAKAN TERNAK RUMINANSIA
Pakan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan. Kekurangan pakan akan memperlambat pertumbuhan dan bila kekurangan pakan sangat parah akan menyebabkan ternak kehilangan bobot badan (Tillman et al., 1991). Peningkatan konsumsi pakan akan mampu meningkatkan daya cerna pakan sehingga jumlah zat-zat gizi yang digunakan untuk produksi akan meningkat (Siregar, 1994).
Pengukuran konsumsi pakan pada ternak biasanya berdasarkan bahan kering (Tillman et al., 1991). Konsumsi bahan kering pada ternak dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor pakan yang meliputi palatabilitas dan daya cerna, faktor ternak yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur dan kondisi kesehatan (Lubis, 1992). Konsumsi bahan kering memegang peranan penting karena dalam bahan kering tersebut ternak memperoleh energi, protein, vitamin dan mineral (Tillman et al., 1991).
Konsumsi bahan kering merupakan pembatas untuk dapat tidaknya dipenuhi kebutuhan ternak akan zat-zat pakan yang diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksi (Tillman et al., 1991). Kebutuhan bahan kering untuk domba adalah berkisar antara 2-4 % dari bobot badan per hari (Lubis, 1992). Konsumsi bahan kering menentukan tinggi rendahnya konsumsi bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan vitamin.
Ternak membutuhkan energi untuk mempertahankan hidupnya dan berproduksi secara normal (Kartadisastra, 1997). Energi didapatkan dari hasil metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh ternak itu sendiri. Energi sangat penting untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi. Kekurangan energi akan menghambat pertumbuhan pada hewan muda dan kehilangan bobot badan pada hewan dewasa (Tillman et al., 1991). Bila energi pakan tidak memenuhi kebutuhan, maka kebutuhan tersebut akan dipenuhi dengan membongkar timbunan lemak tubuh. Jika timbunan lemak tubuh sudah habis maka kebutuhan energi tersebut dipenuhi dengan membongkar protein tubuh (Sutardi, 1981).
Kebutuhan energi dapat dinyatakan dalam “Metabolism Energy” (ME), “Digestible Energy” (DE), “Gross Energy” (GE) dan “Total Digestible Nutrient” (TDN). TDN merupakan satuan energi yang berdasarkan seluruh nutrisi  pakan yang tercerna, sehingga nilai TDN hampir sama dengan energi dapat dicerna (DE). Perbedaannya terletak pada cara pengukurannya, dimana nilai DE bahan pakan ditetapkan dengan jalan membakar sampel bahan pakan dan juga feses dalam bom kalorimeter (Sutardi, 1980). Kelemahan penggunaan TDN sebagai satuan energi adalah tidak menghitung hilangnya zat-zat nutrisi yang dibakar saat metabolisme dan energi panas yang timbul saat mengkonsumsi pakan (Anggorodi, 1994).
Penyediaan zat pakan bagi ternak dapat berasal dari hijauan dan konsentrat. Pakan hijauan biasanya mengandung serat kasar di atas 18 %, sedangkan konsentrat mengandung serat kasar kurang dari 18 % (Crampton dan Harris, 1969). Hijauan yang merupakan pakan utama ternak ruminansia tidak bisa diandalkan ketersediannya terutama pada pada musim kemarau. Hijauan di daerah tropis dari segi kualitas umumnya rendah, oleh karena itu peranan konsentrat sebagai pakan ruminansia amat diperlukan. Konsentrat dapat berasal dari limbah pertanian, limbah industri pertanian dan limbah peternakan (Widayati dan Widalestari, 1996)

1.Hijauan Segar
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman bijibijian/jeniskacang-kacangan.
Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energy.

a. Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar.

b. Kacang-kacangan
Lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.

c. Daun-daunan
Daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll.

2.Jerami dan Hijauan Kering
Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan).

3.Silase
Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.



4.Konsentrat (pakan penguat)
Contoh: dedak padi, jagung giling, bungkil kelapa, garam dan mineral. Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat:
1.Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan
Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah, dengan harga bervariasi, sedang di beberapa daerah lain sulit didapat. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dan daerah lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu.

2.Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan potein. Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi dan 17% protein, serat kasar 12%.

3.Metode dan Teknik Pembuatan
Metode formulasi untuk pakan penguat adalah metode simultan, metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode konstan kontrol, metode ekuasi atau metodegrafik.



4.ProsedurMemformulasi
·         Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi,potein), harga per unit berat, harga per unit energi dan harga per unit protein.
·         Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat.
·         Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.
·         Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral.
·         Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan pakan).
·         Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per unit proteinnya paling murah.
·         Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), maka 50% formula sudah diperoleh.
·         Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat.

5.Amoniasi
Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami) dengan penambahan bahan kimia: kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2. Proses amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang diperlukan dalam proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain yang ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1kgjerami).


6.Pakan Pemacu
Merupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkatan populasi mikroba di dalam rumen, sehingga dapat merangsang penambahan jumlah konsumsi serat kasar yang akan meningkatkan produksi.
Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein kasar (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna.

Sumber lain yang digunakan sebagai pakan ternak
Dedak padi
Dedak padi (hu’ut dalam bahasa sunda) merupakan hasil sisa dari penumbukan atau penggilingan gabah padi. Dedak tersusun dari tiga bagian yang masing masing berbeda kandungan zatnya.Ketiga bagian tersebut adalah:
        Kulit gabah yang banyak mengandung serat kasar dan mineral
        Selaput perak yang kaya akan protein dan vitamin B1, juga lemak dan mineral.
        Lembaga beras yang sebagian besar terdiri dari karbohidrat yang mudah dicerna.
Berhubung dedak merupakan campuran dari ketiga bagian tersebut diatas maka nilai/martabatnya selalu berubah-ubah tergantung dari proporsi bagian-bagian tersebut.
Menurut kelas nilainya, dedak dibagi menjadi empat kelas, yaitu:
        Dedak Kasar Adalah kulit gabah halus yang bercampur dengan sedikit pecahan lembaga beras dan daya cernanya relatif rendah.
Analisa kandungan nutrisi: 10.6% air, 4.1% protein, 32.4% bahan ekstrak tanpa N, 35.3% serat kasar, 1.6% lemak dan 16% abu serta nilai Martabat Pati 19 Sebenarnya dedak kasar ini sudah tidak termasuk sebagai bahan makanan penguat (konsentrat) sebab kandungan serat kasarnya relatif terlalu tinggi (35.3%)
        Dedak halus biasa Merupakan hasil sisa dari penumbukan padi secara tradisional (disebut juga dedak kampung). Dedak halus biasa ini banyak mengandung komponen kulit gabah, juga selaput perak dan pecahan lembaga beras. Kadar serat kasarnya masih cukup tinggi akan tetapi sudah termasuk dalam golongan konsentrat karena kadar serat kasar dibawah 18%. Martabat Pati nya termasuk rendah dan hanya sebagian kecil saja yang dapat dicerna. Analisa nutrisi: 16.2% air, 9.5% protein, 43.8% bahan ekstrak tanpa N, 16.4% serat kasar, 3.3% lemak dan 10.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) nya 53
        Dedak lunteh Merupakan hasil ikutan dari pengasahan/pemutihan beras (slep atau polishing beras). Dari semua macam dedak, dedak inilah yang banyak mengandung protein dan vitamin B1 karena sebagian besar terdiri dari selaput perak dan bahan lembaga, dan hanya sedikit mengandung kulit. Di beberapa tempat dedak ini disebut juga dedak murni.
Analisa nutrisi: 15.9% air, 15.3% protein, 42.8% bahan ekstrak tanpa N, 8.1% serat kasar, 8.5% lemak, 9.4% abu serta nilai MP adalah 67.
        Bekatul Merupakan hasil sisa ikutan dari pabrik pengolahan khususnya     bagian asah/slep/polish. Lebih sedikit mengandung selaput perak dan kulit serta lebih sedikit mengandung vitamin B1, tetapi banyak bercampur dengan pecahan-pecahan kecil lembaga beras (menir). Oleh sebab itu masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan manusia sehingga agak sukar didapat.Analisa nutrisi: 15% air, 14.5% protein, 48.7% lemak dan 7.0% abu sertanilai MP adalah 70.

Dedak jagung
Dedak jagung merupakan hasil sisa ikutan dari penggilingan jagung yang banyak terdapat di daerah-daerah yang makanan pokok dari penduduknya adalah jagung, seperti Madura dan daerah industri dan pertanian Jagung lainnya. Dedak jagung sangat baik diberikan pada ternak hanya cara penyimpanannya yang agak sukar karena bersifat higroskopis sehingga mudah menjadi lembab sehingga cepat rusak. Analisa nutrisi: 9.9% air, 9.8% protein, 61.8% bahan ekstrak tanpa N, 9.8 serat kasar, 6.4% lemak dan 2.3% abu serta nilai Martabat Pati (MP) adalah 68.

Bungkil kelapa
Karena (setidaknya ketika jurnal ini dibuat) minyak kelapa menduduki tempat pertama dalam memenuhi kebutuhan manusia akan minyak goreng, bungkil kelapa sangat mudah didapatkan. Harganya pun jauh lebih murah bila dibandingkan dengan bungkil kacang tanah. Kadar proteinnya paling rendah diantara bungkil-bungkil yang lain, namun nilai martabat makanannya cukup tinggi karena zat-zat yang dikandung bungkil kelapa mudah dicerna.
Yang disebut bungkil kelapa ini biasanya adalah hasil sisa dari pembuatan dan ekstraksi minyak kelapa yang didapat dari daging kelapa yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Sangat baik diberikan pada sapi perah sebab dapat meningkatkan kadar lemak susu sehingga meningkatkan kualitas susu. Pemberiannya tergantung pada berat badannya yaitu antara 1.5 - 2.5 kg/ekor/hari. Sedangkan untuk babi antara 0.75 - 1.5kg/ekor/hari. Baik pula diberikan pada ayam dengan pemberian sampai +/- 25%. Untuk kuda juga dapat diberikan hanya dalam jumlah sedikit dan dicampur dengan gabah atau dedak, sebab apabila terlalu banyak dapat menyebabkan diare. Analisa nutrisi: 11.6% air, 18.7% protein, 45.5% bahan ekstrak tanpa N, 8.8% serat kasar, 9.6% lemak dan 5.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) 81.




Bungkil kacang tanah
Bungkil ini sekarang mudah didapat karena sudah banyak pabrik-pabrik minyak kacang, baik pabrik modern maupun yang masih sederhana. Kadar proteinnya paling tinggi diantara bungkil bungkil yang lain yang umum digunakan.
Baik untuk digunakan sebagai komposisi dalam ransum konsentrat untuk sapi, babi dan ayam. Hanya perlu dibatasi jumlah pemberiannya karena kadar lemaknya yang cukup tinggi dan harganya relatif mahal. Analisa nutrisi: 6.6% air, 42.7% protein, 27% bahan ekstrak tanpa N, 8.9% serat kasar, 8.5% lemak dan 6.3% abu serta nilai MP adalah 80.

Onggok 
Merupakan hasil sisa dalam pembuatan tepung kanji. Dapat diberikan pada ternak sapi dan babi sebagai komposisi ransumnya. Ampas ketela pohon ini berguna sebagai sumber karbohidrat untuk stimulasi dalam pembuatan silase.
Analisa nutrisi: 18.3% air, 0.8% protein, 78% bahan ekstrak tanpa N, 2.2% serat kasar, 0.2% lemak dan 2.5% abu serta nilai MP adalah 76.




JENIS-JENIS PAKAN BERDASARKAN SUMBER NUTRISI
1.Sumbernergi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energy dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d.Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah,rumput benggala dan rumput setaria).

2. Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya).

3. Sumber vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.
Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.


KEBUTUHAN ZAT PAKAN
Standar kebutuhan pakan atau sering juga diberi istilah dengan standar kebutuhan zat-zat makanan pada hewan ruminansia sering menggunakan  satuan yang  beragam, misalnya untukkebutuhan energi dipakai Total Digestible Nutrient (TDN), Metabolizable Energy (ME) atau Net Energy (NEl) sedangkan untuk kebutuhan protein dipakai nilai Protein Kasar (PK), PK tercerna atau kombinasi dari nilai degradasi protein di rumen atau protein yang tak terdegradasi di rumen.  
Istilah STANDAR didefinisikan sebagai  dasar kebutuhan yang dihubungkan dengan fungsi aktif (status faali) dari hewan tersebut. Misalnya pada sapi perah, pemberian pakan didasarkan atas kebutuhanuntuk hidup pokok dan produksi susu, sedangkan untuk sapi potong lebih ditujukan untuk kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan. Namun tidak mudah pula untuk menentukan kebutuhan hanya untuk hidup pokok saja atau produksi saja, terutama untuk kebutuhan zat makanan yang kecil seperti vitamin dan mineral. Dalam prakteknya dapat diambil contoh sebagai berikut : Seekor sapi dengan bobot 500 kg memerlukan energi hidup pokok sebesar 33 MJ NE. Nilai kebutuhan energi ini dapat bervariasi karena dilapangan akan didapatkan data untuk sapi dengan kelebihan atau kekurangan pakan. Oleh sebab itu dalam pemberian harus ditetapkan batas minimal sejumlah kebutuhan nutrient yang direkomendasikan NRC, jangan sampai kurang dari kebutahan. Variasi kebutuhan ditentukan oleh macam hewan dan kualitas pakan. Sesungguhnya standar pakan ini dibuat untuk dapat mengantisipasi situasi  yang lebih beragam, termasuk pengaruh perubahan cuaca. Standar ini juga masih bisa dipakai untuk  kepentingan taraf nasional (dari Negara yang menyusun) atau bahkan dapat untuk keperluan dunia internasional yang mempunyai kondisi iklim yang hampir sama.
Sejak tahun 1960-1965 di Inggris, melalui Dewan Agricultural Research Council (ARC) telah membuat tabel standar kebutuhan nutrient dari beberapa jenis ternak.  Pada tahun 1970 semua publikasi mengenai table kebutuhan nutrient tersebut diperbaharui (direvisi) dan keluarlah edisi terbaru  untuk ruminansia pada tahun 1980. Perubahan tersebut meliputi seluruh zat makanan terutama tentang standar untuk penggunaan vitamin dan mineral. Saat ini telah banyak negara maju dan berkembang yang mempunyai standar kebutuan zat makanan untuk ternak lokalnya. Namun sampai sekarangIndonesia belum mempunyai tabel tersebut. Standar kebutuhan yang dipakai di Indonesia adalah hasil dari banyak penelitian yang ada saja.  

Standar Kebutuhan Nutrien untuk Hidup Pokok
Seekor hewan dikatakan dalam keadaan kondisi hidup pokok apabila komposisi tubuhnya tetap, tidak tambah dan tidak kurang, tidak ada produk susu atau tidak ada tambahn ekstra energi untuk kerja.Nilai kebutuhan hidup pokok ini hanya dibutuhkan secara akademis saja, sedangkan dunia praktisi tidak membutuhkan informasi tersebut, yang dibutuhkan oleh praktisiwan adalah total kebutuhan hidup pokok dan produksi yang optimal. Jadi pendapat mengenai kebutuhan hidup pokok untuk hewan secara teori berbeda dengan prakteknya.
Pada hewan yang puasa akan terjadi oksidasi cadangan nutrient untuk memenuhi kebutuhan energi hidup pokoknya, seperti untuk bernafas dan mengalirkan darah ke organ sasaran. Tujuan sesungguhnya dari pembuatan ransum untuk hidup pokok adalah supaya tidak terjadi perombakan cadangan tubuh yang digunakan untuk aktivitas pokok. Seperti didefinisikan bahwa ransum untuk hidup pokok adalah sejumlah zat makanan yang harus hadir dalam ransum sedemikian sehingga dalam tubuh hewan tidak terjadi penambahan atau pengurangan zat makanan. Table  di bawah ini menggambarkan proporsi untuk hidup pokok dari total kebutuhan energi tubuhnya.



 Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok
Telah dijelaskan bahwa energi yang digunakan untuk aktivitas hidup pokok diubah dalam bentuk panas dan dikeluarkan tubuh juga dalam bentuk panas. Jumlah panas yang meningkat diakibatkan oleh aktivitas hidup pokok tersebut dinamakan dengan istilah METABOLISME BASAL HEWAN.  Pengukuran ini langsung diperkirakan dari jumlah NE yang harus didapat oleh ternak untuk memenuhi kebutuhanhidup pokoknya.

Tabel. Nilai Perkiraan Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok dari Total Kebutuhan Energi untuk Hewan.

KEBUTUHAN NE (MJ)
% HP dari Total
Hidup Pokok
Produksi
Sapi perah, bobot 500kg produksi susu 20kg/h
32
63
34
Sapi jantan, bobot 50 kg PBB 0.75 kg
23
16
59
Babi, bobot 50kg PBB 0.75 kg
7
10
41
Sapi perah, bobot 500kg beranak bobot 35kg produksi susu 5000kg
12 200
16 000
43
Babi induk 200kg beranak 16 ekor @1.5kg produksi susu 750kg
7 100
4 600
61
Pengukuran metabolisme basal ini cukup rumit karena panas yang dihasilkan oleh hewan  tidak saja berasal dari aktivitas pokok namun juga berasal dari proses pencernaan dan metabolisme nutrient (Heat Increament on Feeding = HI) dan juga dari aktivitas kerja otot. Produksi panas ini  akan meningkat bila hewan ditempatkan di dalam suhu yang dingin. Untuk mengukur metabolisme basal,  pengaruh HI dari pakan harus dihilangkan yaitu dengan cara hewan dipuasakan supaya tidak ada aktivitas pencernaan dan metabolisme.  Namun ukuran puasa setiap hewan berbeda-beda. Untuk manusia puasa cukup satu hari, untuk ruminansia dan babi sampai 4 hari. Faktor kedua yang mempengaruhi metabolisme  basal adalah nilai RQ  (Respiratory quotient).  Pada saat puasa oksidasi nutrient berasal dari pembakaran degradasi nutrient di jaringan organ, sehingga ada sedikit perbedaan nilai RQ. Pada manusia, kondisi postabsorptive ditandai dengan penurunan produksi gas sampai ke tingkat yang paling rendah.
Pada manusia, aktivitas otot dapat dikurangi secara sadar, sehingga nilai metabolisme basal pada pengukuran yang kontinyu mudah didapat. Lain halnya dengan hewan ruminansia, kondisi total istirahat harus dibuat sedemikian sehingga agar hewan tak banyak aktivitas, seperti misalnya ditempatkan pada kandang dan suhu yang nyaman atau dipuasakan. Oleh karena itu, istilah metabolisme basal pada hewan dapat juga diartikan sebagai metabolisme puasa, walaupun saat puasa juga terjadi aktivitas berdiri-duduk dalam jumlah yang terbatas. Beberapa nilai metabolisme puasa pada berbagai hewan seperti teesaji pada Tabel  10.4. berikut.
   Tabel . Nilai metabolisme puasa pada berbagai spesies hewan dewasa

Hewan

BB (kg)
Metabolisme puasa (MJ/h)
Per hewan
Per kg BB
Per m2 luas tubuh
Per kg BBM
Sapi
500
34.1
0.068
7.0
0.30
Babi
70
7.5
0.107
5.1
0.31
Domba
50
4.3
0.086
3.6
0.23
Pada tabel di atas terlihat bahwa semakin besar bobot dan jenis hewan  maka makin besar pula nilai metabolisme puasanya, demikian pula per unit BB. Nilai produksi panas pada kondisi puasa sebanding dengan luas permukaan tubuh.  Ekspresi dari luas permukaan tubuh dinyatakan sebagai W0.67, dan nilai ini dihubungkan dengan besarnya metabolisme puasa. Selanjutnya nilai berubah menjadi W0,73 dan pada akhirnya nilai yang dipakai sehubungan dengan metabolisme puasa adalah W0,75. (bobot badan metabolik = BBM).  Nilai metabolisme puasa per BBM relativ konstan dari hewan besar sampai hewan kecil.  Nilai metabolisme puasa pada hewan dari ukuran terkecil sampai terbesar yang ditemukan oleh Brody didapatkan  rataan sekitar 70 kkal/kg BBM yang setara dengan 0,27 MJ/kgBBM/hari. Nilai ini bervariasi antar spesies, bila dibandingkan dengan sapi  maka  nilai metabolisme puasanya lebih tinggi sekitar 15%, sedangkan bila dibandingkan dengan domba maka nilainya lebih rendah 15%. Disamping itu umur dan jenis kelamin juga mempengaruhi nilai metabolisme puasa. Pada hewan muda nilai metabolisme puasa lebih tinggi (0,39 MJ/kg BBM) dibandingkan dengan hewan tua (32 MJ/kg BBM). Pada hewan jantan lebih tinggi 15% dibandingkan hewan betina.
Estimasi kebutuhan energi untuk hidup pokok dapat dihitung dari kandungan energi pakan, seperti contoh berikut:Sapi berat 300 kg diberi pakan 3,3 kg BK/hari dengan kandungan energi 11 MJ/kg BK dan Kf = 0,5. Jika sapi tersebut menghasilkan retensi BB 2 MJ/hari, maka kebutuhan ME adalah :
              ME =  (3,3 x 11) ? (2/0,5) = 32,3 MJ ME/hari
Metabolisme puasa merupakan dasar perhitungan dari kebutuhan untuk hidup pokok. Namun tak mudah  menggunakan nilai metabolisme puasa untuk dijadikan patokan perhitungan kebutuhan nutrient untuk hidup pokok secara praktis. Hal ini disebabkan a). pada hewan yang dimasukkan ke kandang akan  mempunyai sedikit beda produksi panas dibandingkan hewan yang dimasukkan ke bilik calorimeter (alat untuk mengukur produksi panas), karena pada hewan yang dipelihara dikandang biasa ada sedikit ekstra energi dari kegiatan aktivitas otot saat jalan atau berdiri., b). hewan yang kondisinya sedang produksi, maka perhitungan metabolismenya harus lebih terinci karena memiliki tingkat kebutuhan yang lebih tinggi, c). pada ternak yang dipelihara di peternakan yang luas dan terbuka memerlukan energi khusus untuk memelihara suhu tubuh  normal, mengingat perlu adanya adaptasi dengan suhu lingkungan.
Pada skala lapang didapatkan angka produksi panas dari sapi yang berdiri sebesar 12% lebih tinggi dibandingkan dengan sapi yang tiduran. Pada hewan yang digembalakan di padang pangonan,kebutuhan energi untuk jalan dan merumput sekitar 25-50% dari metabolisme puasanya. Standar kebutuhan  untuk hidup pokok sapi yang dipakai  mengikuti rekomendasi dari ARC. Kebutuhan untuk sapi puasa dirumuskan sebagai :
Kebutuhan HP  = 0,53 (BB/1,08)0,67.
Apabila untuk aktivitas minimal (istirahat) pada hewan yang dikandangkan dirumukan :
Kebutuhan I =  0,0043 BB
Untuk sapi seberat 500 kg membutuhkan energi neto sebesar :
NE = 0,53 (500/1,08)0,67 + 0,0043 x 500 = 34,5 MJ/h.
Persamaan yang berlaku untuk domba adalah:
F = 0,226 (BB/1,08)0,75 + 0,0106 BB. 

Kebutuhan Protein untuk Hidup Pokok
Hewan yang diberi pakan bebas nitrogen,  kenyataannya tetap terlihat adanya kehilangan nitrogen yang keluar bersama feses dan urin yang berasal dari degradasi dinding usus, enzim dan mikroba yang mati.  Eksresi nitrogen diurin dapat berasal dari perubahan kreatin menjadi kreatinin  dan juga urea yang merupakan hasil katabolisme asam amino.  Protein tubuh pada dasarnya selalu harus diganti dengan protein yang baru. Pergantian protein di usus dan hati ini memakan waktu dalam unit jam atau hari, sedangkan pergantian di tulang dan syaraf memakan waktu dalam unit bulan bahkan tahunan.
Jika pertama kali hewan diberi pakan bebas nitrogen, maka jumlah nitrogen di urin akan menurun beberapa hari, kemudian stabil kembali setelah terjadi perombakan protein tubuh.  Pada keadaan cadangan protein telah habis, eksresi N-urin dapat mencapai minimal. Eksresi-N pada kondisi minimal seperti ini disebut dengan N-endogenous urin. N-endogenous urin ini dapat untuk memperkirakan  protein untuk hidup pokok hewan. Nilai ini sebesar 2 mg N-endogenous urin per kkal basal metabolisme (500 mg/MJ). Untuk hewan dewasa angkanya berkisar 300-400 mg N-endogenous/MJ metabolisme puasa. Pada ruminansia, nitrogen dapat dipenuhi dari sirkulasi ulang urea dari dan ke rumen. Oleh karena itu perhitungan N-endogenerus untuk hewan ruminansia menjadi 350 mg N/kg W0,75/hari dan setara dengan 1000-1500 mg/MJ metabolisme puasa. N-urin sisa kelebihan dari N- endogenous disebut dengan N-eksogenous urin.
Jumlah kebutuhan nitrogen untuk hidup pokok akan seimbang bila besar konsumsi N dapat diimbangi dengan besarnya jumlah N-metabolik di feses dan N-endogenous di urin. Cara pengukurannya yaitu dengan menentukan nitrogen yang hilang/keluar dari hewan yang diberi pakan bebas nitrogen.

Pendugaan Kebutuhan Protein untuk HP dari total N-endogenous dan Ekskresi N- lain.
Cara perhitungan kebutuhan protein untuk HP dari N-endogenous dilakukan seperti dalam penentuan nilai biologi (Biologi Value = BV). Pada sapi nilai BV untuk protein yang dicerna dan diserap relative sama yaitu 0,8.
Contoh seekor sapi bobot 600 kg kehilangan N-endogenous 42 g/h dan hilang bersama rontoknya bulu 2 g/h, sehingga totalnya 44 g/h. Nilai ini sama dengan 6,25 x 44 = 275 g protein. Jadi sapi tersebut membutuhkan protein yang dapat dicerna dan diserap sebanyak 275/0,8 = 344 g/h. Jika diasumsikan bahwa protein tersebut disediakan dari protein mikroba dengan kecernaan protein mikroba  0,85 dan kandungan asam amino 0,8 dari total protein, maka jumlah kebutuhan protein menjadi :
Kebutuhan protein  = 344/(0,85 x 0,8) = 506 g/h.
Jumlah mikroba rumen yang dihasilkan tergantung dari jumlah bahan organik yang difermentasi dan konsumsi ME. Setiap 1 MJ konsumsi ME menghasilkan 8,3 g protein mikroba. Jika konsumsi ME setara dengan kebutuhan ME untuk hidup pokok  sebesar 61 g, maka jumlah protein mikroba yang dapat disumbangkan pada sapi sebesar 8,3 x 61 = 506 g. Jika nilai degradasinya hanya 0,7 maka jumlah protein yang dibutuhkan meningkat menjadi  506/0,7=723 g/h. Jika konsumsi nitrogen meningkat maka akan terjadi peningkatan neraca nitrogen dari negative menjadi positif sampai pada titik keseimbangan. Penimbunan nitrogen ini juga bergantung pada umur dan asupan nutrient yang lain. Jika penambahan protein tak menambah penimbunan retensi nitrogen maka kurva menjadi horizontal. Standar kebutuhan nitrogen tergantung pada degradasi protein makanan dalam rumen, metabolisme mikroba dan protein yang tak tercerna dirumen, serta  jumlah konsentrasi ME dalam pakan ( ARC, 1984).

Standar kebutuhan nutrient  untuk tumbuh
Pertumbuhan selalu diukur dari kenaikan bobot badan, padahal pada pertambahan tersebut juga terjadi kenaikan berat isi saluran pencernaan yang secara nyata sekitar 20 % dari bobot badan. Jadi pertumbuhan mengikuti persamaan :
              Y = b x a
              Y= berat bagian tubuh, x = bobot tubuh, a = faktor koefisien
Setiap komposisi tubuh mempunyai koefisien pertumbuhan yang berbeda seperti, air mempunyai koefisien 0,74, protein 0,80, lemak 1,99 dan energi 1,59. Perkembangan tubuh perlu diamati khususnya karena menyangkut kebutuhan nutrient baik pada proses hyperplasia (perbanyakan sel) maupun pada proses hipertropi (perbesaran sel). Makin dewasa, bobot tubuh akan meningkat sementara kebutuhan air dan protein menurun karena komposisi air dan protein tubuh juga turun. Sebaliknya kebutuhan lemak sedikit meningkat karena lemak tubuh meningkat dengan bertambahnya usia.

Kebutuhan energi dan protein untuk tumbuh
Kebutuhan energi untuk pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh bobot badan dan juga jenis kelamin serta bangsa hewan. Jantan biasanya mempunyai kecepatan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan  betina, oleh karena itu kebutuhan energi untuk jantan lebih banyak daripada untuk  betina. Jenis bangsa hewan tipe besar akan membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan bangsa hewan yang kecil. Penentuan energi untuk standar biasanya didasari oleh suatu model factorial.  
Sedangkan kebutuhan protein untuk tumbuh dapat dihitung seperti: Seekor anak domba tumbuh dengan pertambahan bobot badan 0,2 kg/h dan kehilangan protein endogenous sebanyak 21 g/h,kandungan protein tubuh 170 g/kg. Maka kebutuhan protein untuk hewan tersebut Kebutuhan Protein = 21 + (0,2 x 170) =55 g.  Jika nilai BV nya 0,80 dan kecernaan proteinnya 0,85 maka protein yang dibutuhkan adalah = 55/(0,80 x 0,85) = 81 g.



PEMBERIAN PAKAN
Pemberian pakan hijauan dalam keadaan segar umumnya lebih disukai dalam keadaan layu atau kering. Namun, terdapat beberapa jenis hijauan yang masih mengandung racun dan sangat berbahaya jika diberikan dalam keadaan segar, misalnya daun singkong (racun sianida), lamtoro (mimosin), dan gliricidae (tanin). Karena itu, pakan hijauan tersebut harus dilayukan terlebih dahulu selama 2-3 jam di bawah terik matahari. Hijauan tersebut juga bisa didiamkan selama semalaman sebelum diberikan kepada domba.
Jumlah pakan hijauan segar yang diberikan pada domba dewasa, rata-rata adalah 10% dari berat badan atau sekitar 4-5 kg/ekor/hari. Pakan ini diberikan 2-3 kali sehari (pada pagi dan sore hari). Pakan konsentrat diberikan sebelum pakan hijauan. Hal tersebut dilakukan agar semua zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan, produksi, dan reproduksi dapat terpenuhi.

Berikut Beberapa Cara Mengefisienkan Penggunaan Bahan Pakan :
1. Mencincang Hijauan
Hijauan yang dicincang 5-10 cm akan lebih mudah dikonsumsi oleh domba karena bentuknya yang kecil-kecil.
2. Pemberian Urea Molasses Block (UMB)
Urea molasses block (UMB) mengandung urea, dedak padi, tepung tapioka, bungkil kedelai, serta beberapa mineral seperti garam, tepung tulang, dan kapur. Pemberian UMB sebesar 4 gram /hari/kg berat badan harian domba mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian domba. Di samping itu, mampu meningkatkan daya serap pakan berserat kasar cukup tinggi, seperti kulit dan tongkol jagung.

3. Pemberian Urea
Urea merupakan bahan potensial yang mengandung non-protein nitrogen (NPN). Di dalam rumen, NPN dapat dicerna menjadi NH3 yang merupakan bahan pembentuk protein. Namun, penggunaan urea perlu dibatasi tidak lebih dari 1% dari bahan kering hijauan atau tidak lebih dari 2% konsentrat. Selain itu, pemberian urea juga harus diimbangi dengan pemberian bahan pakan sumber energi.

Ampas tahu merupakan hasil ikutan proses pembuatan tahu, yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia dan unggas. Bahan pakan ini mudah didapat dan memiliki nilai gizi cukup baik dengan kandungan protein kasar 21%. Sebagai pakan tambahan, ampas tahu dapat berfungsi melengkapi protein dari hijauan. 

Pemberian Ampas Tahu Pada Sapi Pedaging 
Pemberian ampas tahu sebanyak 2 kg dicampur dengan konsentrat 2,5 kg per ekor per hari (komposisi konsentrat terdiri dari : dedak halus 50 kg, jagung halus 22 kg, tepung ikan 5 kg, mineral 2 kg dan garam 1 kg) diberikan 2 kali sehari pagi dan sore. Komposisi pakan ini telah diuji oleh BPTP Sumbar terhadap sapi Simental yang berumur 2,5 tahun sampai 3,5 tahun dengan berat badan berkisar 350-600 kg. 
Pada awal pemeliharaan atau penggemukan ternak yang baru diberikan obat cacing dan vitamin. Obat ini diberikan dengan cara menyembunyikan di dalam rumput kemudian diberikan kepada sapi dengan cara memasukan rumput tersebut kedalam mulut sapi. 
Pagi hari ternak dimandikan terlebih dahulu untuk menjaga kebersihan sehingga terhindar dari berbagai penyakit. Kandang juga dibersihkan dari kotoran dan sisa makanan yang menumpuk didasar kandang, ketempat penampungan yang telah disediakan untuk dijadikan atau diolah menjadi kompos. Setelah bersih baru diberikan pakan konsentrat dan ampas tahu yang sudah dicampur dengan air sesuai dengan formulasi tersebut diatas. Setelah pakan konsentrat habis dua jam kemudian diberikan pakan hijauan yang terdiri dari rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria sebanyak 10% dari berat badan yakni siang dan sore hari. Air disediakan secara adlibitum (terus menerus) dalam ember yang telah disediakan 
Keunggulan Ampas tahu dan konsentrat dapat memberikan hasil yang optimal yakni pertumbuhan dan pertambahan berat badan 0,8 kg/ekor/hari. Masa pemeliharaan lebih cepat dan pendapatan peternak meningkat Rp 17.500,-/ekor/hari dengan asumsi harga berat hidup Rp. 25.000,-/kg.
Persepsi peternak yang menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan memiliki pandangan dan persepsi bahwa limbah tanaman pangan dapat a) menjadi sumber pakan alternatif, khususnya jika hijauan rumput tidak tersedia terutama saat musim kemarau, b) dijadikan sebagai stok pakan dengan cara melakukan penyimpanan dan pengawetan dengan sentuhan teknologi pakan.
Jenis teknologi pakan yang diketahui peternak yaitu amoniasi jerami, hay, fermentasi dan teknologi silase. Namun demikian, peternak masih kurang yang menerapkan teknologi tersebut. Beberapa hal yang menjadi alasan sehingga teknologi pakan tidak dilakukan yaitu menganggap teknologi pakan tidak efektif, hanya menghabiskan/membuang waktu saja, terkendala dengan penyimpanan limbah, biaya pengolahan limbah dan transportasi pengangkutan dari tempat asal limbah ke tempat penyimpanan/pemukiman mahal.



PUSTAKA
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-2. PT. Pembangunan, Jakarta.

Sutardi,T. 1978. Ikhtisar Ruminologi. Departemen Ilmu dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan)

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Tidak ada komentar: