MACAM-MACAM PAKAN
TERNAK RUMINANSIA
Pakan merupakan faktor terpenting
yang mempengaruhi pertumbuhan. Kekurangan pakan akan memperlambat
pertumbuhan dan bila kekurangan pakan sangat parah akan menyebabkan ternak
kehilangan bobot badan (Tillman et al., 1991). Peningkatan
konsumsi pakan akan mampu meningkatkan daya cerna pakan sehingga jumlah zat-zat
gizi yang digunakan untuk produksi akan meningkat (Siregar, 1994).
Pengukuran konsumsi pakan pada
ternak biasanya berdasarkan bahan kering (Tillman et al., 1991).
Konsumsi bahan kering pada ternak dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu faktor
pakan yang meliputi palatabilitas dan daya cerna, faktor ternak yang meliputi
bangsa, jenis kelamin, umur dan kondisi kesehatan (Lubis, 1992). Konsumsi bahan
kering memegang peranan penting karena dalam bahan kering tersebut ternak
memperoleh energi, protein, vitamin dan mineral (Tillman et al., 1991).
Konsumsi bahan kering merupakan
pembatas untuk dapat tidaknya dipenuhi kebutuhan ternak akan zat-zat pakan yang
diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan produksi (Tillman et al., 1991).
Kebutuhan bahan kering untuk domba adalah berkisar antara 2-4 % dari bobot
badan per hari (Lubis, 1992). Konsumsi bahan kering menentukan tinggi rendahnya
konsumsi bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik terdiri dari
karbohidrat, lemak, protein dan vitamin.
Ternak membutuhkan energi untuk
mempertahankan hidupnya dan berproduksi secara normal (Kartadisastra, 1997).
Energi didapatkan dari hasil metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh ternak itu
sendiri. Energi sangat penting untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi.
Kekurangan energi akan menghambat pertumbuhan pada hewan muda dan kehilangan
bobot badan pada hewan dewasa (Tillman et al., 1991). Bila
energi pakan tidak memenuhi kebutuhan, maka kebutuhan tersebut akan dipenuhi
dengan membongkar timbunan lemak tubuh. Jika timbunan lemak tubuh sudah habis
maka kebutuhan energi tersebut dipenuhi dengan membongkar protein tubuh
(Sutardi, 1981).
Kebutuhan energi dapat dinyatakan
dalam “Metabolism Energy” (ME), “Digestible Energy” (DE), “Gross Energy” (GE)
dan “Total Digestible Nutrient” (TDN). TDN merupakan satuan energi yang
berdasarkan seluruh nutrisi pakan yang tercerna, sehingga nilai TDN
hampir sama dengan energi dapat dicerna (DE). Perbedaannya terletak pada cara
pengukurannya, dimana nilai DE bahan pakan ditetapkan dengan jalan membakar
sampel bahan pakan dan juga feses dalam bom kalorimeter (Sutardi, 1980).
Kelemahan penggunaan TDN sebagai satuan energi adalah tidak menghitung hilangnya
zat-zat nutrisi yang dibakar saat metabolisme dan energi panas yang timbul saat
mengkonsumsi pakan (Anggorodi, 1994).
Penyediaan zat pakan bagi ternak
dapat berasal dari hijauan dan konsentrat. Pakan hijauan biasanya mengandung
serat kasar di atas 18 %, sedangkan konsentrat mengandung serat kasar kurang
dari 18 % (Crampton dan Harris, 1969). Hijauan yang merupakan pakan utama
ternak ruminansia tidak bisa diandalkan ketersediannya terutama pada pada musim
kemarau. Hijauan di daerah tropis dari segi kualitas umumnya rendah, oleh
karena itu peranan konsentrat sebagai pakan ruminansia amat diperlukan.
Konsentrat dapat berasal dari limbah pertanian, limbah industri pertanian dan
limbah peternakan (Widayati dan Widalestari, 1996)
1.Hijauan
Segar
Hijauan segar adalah semua bahan
pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong
terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh
ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari
rumput-rumputan, tanaman bijibijian/jeniskacang-kacangan.
Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energy.
Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energy.
a. Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum),
rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput
Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput
lapangan yang tumbuh secara liar.
b. Kacang-kacangan
Lamtoro (Leucaena leucocephala),
stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria
phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.
c. Daun-daunan
Daun nangka, daun pisang, daun turi,
daun petai cina dll.
2.Jerami
dan Hijauan Kering
Termasuk kedalam kelompok ini adalah
semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan
dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit
biji kacang-kacangan).
3.Silase
Silase adalah hijauan pakan ternak
yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian
dan rumput-rumputan.
4.Konsentrat
(pakan penguat)
Contoh: dedak padi, jagung giling,
bungkil kelapa, garam dan mineral. Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk
seperti tepung adalah sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk
meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena
terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber
protein jenis bungkil, kacang-kacangan, vitamin dan mineral).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan pakan penguat:
1.Ketersediaan Harga Satuan Bahan
Pakan
Beberapa bahan pakan mudah diperoleh
di suatu daerah, dengan harga bervariasi, sedang di beberapa daerah lain sulit
didapat. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dan daerah
lain, sehingga keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat)
perlu dihitung terlebih dahulu.
2.Standar kualitas Pakan Penguat
2.Standar kualitas Pakan Penguat
Kualitas pakan penguat dinyatakan
dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan potein.
Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal
energi dan 17% protein, serat kasar 12%.
3.Metode dan Teknik Pembuatan
Metode formulasi untuk pakan penguat
adalah metode simultan, metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode
konstan kontrol, metode ekuasi atau metodegrafik.
4.ProsedurMemformulasi
·
Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan
nutrisinya (energi,potein), harga per unit berat, harga per unit energi dan
harga per unit protein.
·
Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan
dibuat.
·
Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.
·
Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai
sumber vitamin dan mineral.
·
Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan
energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per
unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan
pakan).
·
Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan
protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per
unit proteinnya paling murah.
·
Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya),
maka 50% formula sudah diperoleh.
·
Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas
nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat.
5.Amoniasi
Amoniasi merupakan proses perlakuan
terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami) dengan penambahan bahan kimia:
kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2. Proses
amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta
untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang diperlukan dalam proses amoniasi: 4
kg/100 kg jerami. Bahan lain yang ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1
liter air/1kgjerami).
6.Pakan
Pemacu
Merupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan
peningkatan populasi mikroba di dalam rumen, sehingga dapat merangsang
penambahan jumlah konsumsi serat kasar yang akan meningkatkan produksi.
Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein kasar (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna.
Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen yang dapat difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein kasar (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna.
Sumber lain yang digunakan sebagai pakan ternak
Dedak
padi
Dedak padi (hu’ut dalam bahasa sunda) merupakan hasil
sisa dari penumbukan atau penggilingan gabah padi. Dedak tersusun dari tiga
bagian yang masing masing berbeda kandungan zatnya.Ketiga bagian tersebut
adalah:
Kulit gabah yang banyak mengandung
serat kasar dan mineral
Selaput perak yang kaya akan protein
dan vitamin B1, juga lemak dan mineral.
Lembaga beras yang sebagian besar
terdiri dari karbohidrat yang mudah dicerna.
Berhubung dedak merupakan campuran dari ketiga
bagian tersebut diatas maka nilai/martabatnya selalu berubah-ubah tergantung
dari proporsi bagian-bagian tersebut.
Menurut kelas nilainya, dedak dibagi menjadi empat kelas,
yaitu:
Dedak Kasar Adalah kulit gabah halus
yang bercampur dengan sedikit pecahan lembaga beras dan daya cernanya relatif
rendah.
Analisa kandungan nutrisi: 10.6% air, 4.1% protein, 32.4% bahan ekstrak tanpa N, 35.3% serat kasar, 1.6% lemak dan 16% abu serta nilai Martabat Pati 19 Sebenarnya dedak kasar ini sudah tidak termasuk sebagai bahan makanan penguat (konsentrat) sebab kandungan serat kasarnya relatif terlalu tinggi (35.3%)
Analisa kandungan nutrisi: 10.6% air, 4.1% protein, 32.4% bahan ekstrak tanpa N, 35.3% serat kasar, 1.6% lemak dan 16% abu serta nilai Martabat Pati 19 Sebenarnya dedak kasar ini sudah tidak termasuk sebagai bahan makanan penguat (konsentrat) sebab kandungan serat kasarnya relatif terlalu tinggi (35.3%)
Dedak halus biasa Merupakan hasil sisa
dari penumbukan padi secara tradisional (disebut juga dedak kampung). Dedak
halus biasa ini banyak mengandung komponen kulit gabah, juga selaput perak dan
pecahan lembaga beras. Kadar serat kasarnya masih cukup tinggi akan tetapi
sudah termasuk dalam golongan konsentrat karena kadar serat kasar dibawah 18%.
Martabat Pati nya termasuk rendah dan hanya sebagian kecil saja yang dapat
dicerna. Analisa nutrisi: 16.2% air, 9.5% protein, 43.8% bahan ekstrak tanpa N,
16.4% serat kasar, 3.3% lemak dan 10.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) nya
53
Dedak lunteh Merupakan hasil ikutan
dari pengasahan/pemutihan beras (slep atau polishing beras). Dari semua macam dedak, dedak
inilah yang banyak mengandung protein dan vitamin B1 karena sebagian besar
terdiri dari selaput perak dan bahan lembaga, dan hanya sedikit mengandung
kulit. Di beberapa tempat dedak ini disebut juga dedak murni.
Analisa nutrisi: 15.9% air, 15.3% protein, 42.8% bahan ekstrak tanpa N, 8.1% serat kasar, 8.5% lemak, 9.4% abu serta nilai MP adalah 67.
Analisa nutrisi: 15.9% air, 15.3% protein, 42.8% bahan ekstrak tanpa N, 8.1% serat kasar, 8.5% lemak, 9.4% abu serta nilai MP adalah 67.
Bekatul Merupakan hasil sisa ikutan
dari pabrik pengolahan khususnya bagian
asah/slep/polish. Lebih sedikit mengandung selaput perak dan kulit serta
lebih sedikit mengandung vitamin B1, tetapi banyak bercampur dengan
pecahan-pecahan kecil lembaga beras (menir). Oleh sebab itu masih dapat
dimanfaatkan sebagai makanan manusia sehingga agak sukar didapat.Analisa
nutrisi: 15% air, 14.5% protein, 48.7% lemak dan 7.0% abu sertanilai MP adalah
70.
Dedak jagung
Dedak jagung merupakan hasil sisa ikutan dari
penggilingan jagung yang banyak terdapat di daerah-daerah yang makanan pokok
dari penduduknya adalah jagung, seperti Madura dan daerah industri dan
pertanian Jagung lainnya. Dedak jagung sangat baik diberikan pada ternak hanya
cara penyimpanannya yang agak sukar karena bersifat higroskopis sehingga mudah
menjadi lembab sehingga cepat rusak. Analisa nutrisi: 9.9% air, 9.8% protein,
61.8% bahan ekstrak tanpa N, 9.8 serat kasar, 6.4% lemak dan 2.3% abu serta
nilai Martabat Pati (MP) adalah 68.
Bungkil kelapa
Karena (setidaknya ketika jurnal ini dibuat)
minyak kelapa menduduki tempat pertama dalam memenuhi kebutuhan manusia akan minyak goreng, bungkil kelapa
sangat mudah didapatkan. Harganya pun jauh lebih murah bila dibandingkan dengan
bungkil kacang tanah. Kadar proteinnya paling rendah diantara bungkil-bungkil
yang lain, namun nilai martabat makanannya cukup tinggi karena zat-zat yang dikandung bungkil kelapa mudah
dicerna.
Yang disebut bungkil kelapa ini biasanya adalah hasil sisa dari pembuatan dan ekstraksi minyak kelapa yang didapat dari daging kelapa yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Sangat baik diberikan pada sapi perah sebab dapat meningkatkan kadar lemak susu sehingga meningkatkan kualitas susu. Pemberiannya tergantung pada berat badannya yaitu antara 1.5 - 2.5 kg/ekor/hari. Sedangkan untuk babi antara 0.75 - 1.5kg/ekor/hari. Baik pula diberikan pada ayam dengan pemberian sampai +/- 25%. Untuk kuda juga dapat diberikan hanya dalam jumlah sedikit dan dicampur dengan gabah atau dedak, sebab apabila terlalu banyak dapat menyebabkan diare. Analisa nutrisi: 11.6% air, 18.7% protein, 45.5% bahan ekstrak tanpa N, 8.8% serat kasar, 9.6% lemak dan 5.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) 81.
Yang disebut bungkil kelapa ini biasanya adalah hasil sisa dari pembuatan dan ekstraksi minyak kelapa yang didapat dari daging kelapa yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Sangat baik diberikan pada sapi perah sebab dapat meningkatkan kadar lemak susu sehingga meningkatkan kualitas susu. Pemberiannya tergantung pada berat badannya yaitu antara 1.5 - 2.5 kg/ekor/hari. Sedangkan untuk babi antara 0.75 - 1.5kg/ekor/hari. Baik pula diberikan pada ayam dengan pemberian sampai +/- 25%. Untuk kuda juga dapat diberikan hanya dalam jumlah sedikit dan dicampur dengan gabah atau dedak, sebab apabila terlalu banyak dapat menyebabkan diare. Analisa nutrisi: 11.6% air, 18.7% protein, 45.5% bahan ekstrak tanpa N, 8.8% serat kasar, 9.6% lemak dan 5.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) 81.
Bungkil kacang tanah
Bungkil ini sekarang mudah didapat karena sudah
banyak pabrik-pabrik minyak kacang, baik pabrik modern maupun yang masih
sederhana. Kadar proteinnya paling tinggi diantara bungkil bungkil yang lain
yang umum digunakan.
Baik untuk digunakan sebagai komposisi dalam ransum konsentrat untuk sapi, babi dan ayam. Hanya perlu dibatasi jumlah pemberiannya karena kadar lemaknya yang cukup tinggi dan harganya relatif mahal. Analisa nutrisi: 6.6% air, 42.7% protein, 27% bahan ekstrak tanpa N, 8.9% serat kasar, 8.5% lemak dan 6.3% abu serta nilai MP adalah 80.
Baik untuk digunakan sebagai komposisi dalam ransum konsentrat untuk sapi, babi dan ayam. Hanya perlu dibatasi jumlah pemberiannya karena kadar lemaknya yang cukup tinggi dan harganya relatif mahal. Analisa nutrisi: 6.6% air, 42.7% protein, 27% bahan ekstrak tanpa N, 8.9% serat kasar, 8.5% lemak dan 6.3% abu serta nilai MP adalah 80.
Onggok
Merupakan hasil sisa dalam pembuatan tepung
kanji. Dapat diberikan pada ternak sapi dan babi sebagai komposisi ransumnya.
Ampas ketela pohon ini berguna sebagai sumber karbohidrat untuk stimulasi dalam
pembuatan silase.
Analisa nutrisi: 18.3% air, 0.8% protein, 78% bahan ekstrak tanpa N, 2.2% serat kasar, 0.2% lemak dan 2.5% abu serta nilai MP adalah 76.
Analisa nutrisi: 18.3% air, 0.8% protein, 78% bahan ekstrak tanpa N, 2.2% serat kasar, 0.2% lemak dan 2.5% abu serta nilai MP adalah 76.
JENIS-JENIS PAKAN BERDASARKAN SUMBER NUTRISI
1.Sumbernergi
Termasuk dalam golongan ini adalah
semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%,
dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan
sumber energy dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil
sampingannya)
d.Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput
(rumput gajah,rumput benggala dan rumput setaria).
2. Sumber
protein
Golongan bahan pakan ini meliputi
semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal
dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang
terdiri atas jenis daun daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun
pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro,
turi kaliandra, gamal dan sentero
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan,
tepung tulang dan sebagainya).
3. Sumber
vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak,
baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan
mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan,
umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan
batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan
penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan
vitamin dan mineralnya.
Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.
Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.
KEBUTUHAN ZAT PAKAN
Standar kebutuhan pakan atau sering juga diberi istilah dengan standar kebutuhan zat-zat makanan
pada hewan ruminansia sering
menggunakan satuan yang beragam, misalnya untukkebutuhan energi dipakai Total Digestible
Nutrient (TDN), Metabolizable Energy (ME) atau Net Energy (NEl) sedangkan untuk kebutuhan protein dipakai
nilai Protein Kasar (PK), PK tercerna atau kombinasi dari nilai degradasi
protein di rumen atau protein yang tak terdegradasi di rumen.
Istilah STANDAR didefinisikan
sebagai dasar kebutuhan yang
dihubungkan dengan fungsi aktif (status faali) dari hewan tersebut. Misalnya
pada sapi perah, pemberian pakan didasarkan
atas kebutuhanuntuk hidup
pokok dan produksi susu, sedangkan untuk sapi potong lebih ditujukan untuk kebutuhan hidup pokok dan
pertumbuhan. Namun tidak mudah pula untuk menentukan kebutuhan hanya untuk hidup pokok
saja atau produksi saja, terutama untuk kebutuhan zat makanan
yang kecil seperti vitamin dan mineral. Dalam prakteknya dapat diambil
contoh sebagai berikut : Seekor sapi dengan bobot 500 kg memerlukan energi
hidup pokok sebesar 33 MJ NE. Nilai kebutuhan energi ini dapat
bervariasi karena dilapangan akan didapatkan data untuk sapi dengan kelebihan
atau kekurangan pakan. Oleh
sebab itu dalam pemberian harus ditetapkan batas minimal sejumlah kebutuhan nutrient yang
direkomendasikan NRC, jangan sampai kurang dari kebutahan. Variasi kebutuhan ditentukan oleh macam
hewan dan kualitas pakan.
Sesungguhnya standar pakan ini
dibuat untuk dapat mengantisipasi situasi yang lebih beragam, termasuk
pengaruh perubahan cuaca. Standar ini juga masih bisa dipakai
untuk kepentingan taraf nasional (dari Negara yang menyusun) atau bahkan
dapat untuk keperluan dunia internasional yang mempunyai kondisi iklim yang
hampir sama.
Sejak tahun 1960-1965 di Inggris, melalui Dewan
Agricultural Research Council (ARC) telah membuat tabel standar kebutuhan nutrient dari
beberapa jenis ternak. Pada tahun 1970 semua publikasi mengenai table kebutuhan nutrient tersebut
diperbaharui (direvisi) dan keluarlah edisi terbaru untuk ruminansia pada tahun 1980.
Perubahan tersebut meliputi seluruh zat makanan terutama tentang standar untuk penggunaan vitamin
dan mineral. Saat ini telah banyak negara maju dan berkembang yang mempunyai
standar kebutuan zat makanan
untuk ternak lokalnya. Namun sampai sekarangIndonesia belum
mempunyai tabel tersebut. Standar kebutuhan yang
dipakai di Indonesia adalah hasil dari banyak penelitian yang ada
saja.
Standar Kebutuhan Nutrien
untuk Hidup Pokok
Seekor hewan
dikatakan dalam keadaan kondisi hidup pokok apabila komposisi tubuhnya tetap,
tidak tambah dan tidak kurang, tidak ada produk susu atau tidak ada tambahn
ekstra energi untuk kerja.Nilai kebutuhan hidup
pokok ini hanya dibutuhkan secara akademis saja, sedangkan dunia praktisi tidak
membutuhkan informasi tersebut, yang dibutuhkan oleh praktisiwan adalah
total kebutuhan hidup
pokok dan produksi yang optimal. Jadi pendapat
mengenai kebutuhan hidup pokok untuk hewan
secara teori berbeda dengan prakteknya.
Pada hewan yang puasa akan terjadi oksidasi
cadangan nutrient untuk memenuhi kebutuhan energi
hidup pokoknya, seperti untuk bernafas dan mengalirkan darah ke organ
sasaran. Tujuan sesungguhnya dari pembuatan ransum untuk hidup pokok adalah
supaya tidak terjadi perombakan cadangan tubuh yang digunakan untuk aktivitas
pokok. Seperti didefinisikan bahwa ransum untuk hidup pokok adalah
sejumlah zat makanan
yang harus hadir dalam ransum sedemikian sehingga dalam tubuh hewan tidak
terjadi penambahan atau pengurangan zat makanan. Table di bawah ini menggambarkan
proporsi untuk hidup pokok dari total kebutuhan energi
tubuhnya.
Kebutuhan Energi untuk
Hidup Pokok
Telah dijelaskan bahwa energi yang digunakan
untuk aktivitas hidup pokok diubah dalam bentuk panas dan dikeluarkan tubuh
juga dalam bentuk panas. Jumlah panas yang meningkat diakibatkan oleh aktivitas
hidup pokok tersebut dinamakan dengan istilah METABOLISME BASAL
HEWAN. Pengukuran ini langsung diperkirakan dari jumlah NE yang harus
didapat oleh ternak untuk memenuhi kebutuhanhidup pokoknya.
Tabel. Nilai Perkiraan Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok
dari Total Kebutuhan Energi untuk Hewan.
|
|
KEBUTUHAN NE (MJ)
|
% HP dari Total
|
|
|
Hidup Pokok
|
Produksi
|
||
|
Sapi perah, bobot 500kg produksi
susu 20kg/h
|
32
|
63
|
34
|
|
Sapi jantan, bobot 50 kg PBB 0.75
kg
|
23
|
16
|
59
|
|
Babi, bobot 50kg PBB 0.75 kg
|
7
|
10
|
41
|
|
Sapi perah, bobot 500kg beranak
bobot 35kg produksi susu 5000kg
|
12 200
|
16 000
|
43
|
|
|
7 100
|
4 600
|
61
|
Pengukuran metabolisme
basal ini cukup rumit karena panas yang dihasilkan oleh hewan tidak saja
berasal dari aktivitas pokok namun juga berasal dari proses pencernaan dan
metabolisme nutrient (Heat Increament on Feeding = HI) dan juga
dari aktivitas kerja otot. Produksi panas ini akan meningkat bila hewan
ditempatkan di dalam suhu yang dingin. Untuk mengukur metabolisme basal,
pengaruh HI dari pakan harus dihilangkan
yaitu dengan cara hewan dipuasakan supaya tidak ada aktivitas pencernaan dan
metabolisme. Namun ukuran puasa setiap hewan berbeda-beda. Untuk manusia
puasa cukup satu hari, untuk ruminansia dan babi sampai 4 hari.
Faktor kedua yang mempengaruhi metabolisme basal adalah nilai RQ (Respiratory
quotient). Pada saat puasa oksidasi nutrient berasal dari pembakaran
degradasi nutrient di jaringan organ, sehingga ada sedikit perbedaan nilai RQ.
Pada manusia, kondisi postabsorptive ditandai dengan penurunan
produksi gas sampai ke tingkat yang paling rendah.
Pada manusia, aktivitas
otot dapat dikurangi secara sadar, sehingga nilai metabolisme basal pada
pengukuran yang kontinyu mudah didapat. Lain halnya dengan hewan ruminansia, kondisi total istirahat harus dibuat sedemikian sehingga
agar hewan tak banyak aktivitas, seperti misalnya ditempatkan pada kandang dan
suhu yang nyaman atau dipuasakan. Oleh karena itu, istilah metabolisme basal pada
hewan dapat juga diartikan sebagai metabolisme puasa, walaupun saat puasa juga
terjadi aktivitas berdiri-duduk dalam jumlah yang terbatas. Beberapa nilai
metabolisme puasa pada berbagai hewan seperti teesaji pada Tabel 10.4.
berikut.
Tabel . Nilai metabolisme puasa pada berbagai
spesies hewan dewasa
|
Hewan |
BB (kg)
|
Metabolisme puasa
(MJ/h)
|
|||
|
Per hewan
|
Per kg BB
|
Per m2 luas tubuh
|
Per kg BBM
|
||
|
Sapi
|
500
|
34.1
|
0.068
|
7.0
|
0.30
|
|
Babi
|
70
|
7.5
|
0.107
|
5.1
|
0.31
|
|
Domba
|
50
|
4.3
|
0.086
|
3.6
|
0.23
|
Pada tabel di atas terlihat bahwa semakin besar
bobot dan jenis hewan maka makin besar pula nilai metabolisme puasanya,
demikian pula per unit BB. Nilai produksi panas pada kondisi puasa sebanding
dengan luas permukaan tubuh. Ekspresi dari luas permukaan tubuh
dinyatakan sebagai W0.67, dan nilai ini dihubungkan dengan besarnya
metabolisme puasa. Selanjutnya nilai berubah menjadi W0,73 dan
pada akhirnya nilai yang dipakai sehubungan dengan metabolisme puasa adalah W0,75.
(bobot badan metabolik = BBM). Nilai metabolisme puasa per BBM relativ
konstan dari hewan besar sampai hewan kecil. Nilai metabolisme puasa pada
hewan dari ukuran terkecil sampai terbesar yang ditemukan oleh Brody
didapatkan rataan sekitar 70 kkal/kg BBM yang setara dengan 0,27 MJ/kgBBM/hari.
Nilai ini bervariasi antar spesies, bila dibandingkan dengan sapi
maka nilai metabolisme puasanya lebih tinggi sekitar 15%, sedangkan bila
dibandingkan dengan domba maka nilainya lebih rendah 15%. Disamping itu umur
dan jenis kelamin juga mempengaruhi nilai metabolisme puasa. Pada hewan muda
nilai metabolisme puasa lebih tinggi (0,39 MJ/kg BBM) dibandingkan dengan hewan
tua (32 MJ/kg BBM). Pada hewan jantan lebih tinggi 15% dibandingkan hewan
betina.
Estimasi kebutuhan energi untuk hidup pokok
dapat dihitung dari kandungan energi pakan,
seperti contoh berikut:Sapi berat 300 kg diberi pakan 3,3 kg BK/hari dengan kandungan energi 11 MJ/kg
BK dan Kf = 0,5. Jika sapi tersebut menghasilkan retensi BB 2 MJ/hari,
maka kebutuhan ME adalah :
ME
= (3,3 x 11) ? (2/0,5) = 32,3 MJ ME/hari
Metabolisme puasa merupakan dasar perhitungan
dari kebutuhan untuk hidup pokok. Namun tak
mudah menggunakan nilai metabolisme puasa untuk dijadikan patokan
perhitungan kebutuhan nutrient untuk hidup pokok
secara praktis. Hal ini disebabkan a). pada hewan yang dimasukkan ke kandang
akan mempunyai sedikit beda produksi panas dibandingkan hewan yang
dimasukkan ke bilik calorimeter (alat untuk mengukur produksi panas), karena
pada hewan yang dipelihara dikandang biasa ada sedikit ekstra energi dari
kegiatan aktivitas otot saat jalan atau berdiri., b). hewan yang kondisinya
sedang produksi, maka perhitungan metabolismenya harus lebih terinci karena
memiliki tingkat kebutuhan yang lebih tinggi, c).
pada ternak yang dipelihara di peternakan yang luas dan terbuka memerlukan
energi khusus untuk memelihara suhu tubuh normal, mengingat perlu adanya
adaptasi dengan suhu lingkungan.
Pada skala lapang didapatkan angka produksi panas dari sapi yang
berdiri sebesar 12% lebih tinggi dibandingkan dengan sapi yang tiduran. Pada
hewan yang digembalakan di padang pangonan,kebutuhan energi
untuk jalan dan merumput sekitar 25-50% dari metabolisme puasanya.
Standar kebutuhan untuk hidup pokok sapi yang
dipakai mengikuti rekomendasi dari ARC. Kebutuhan untuk sapi puasa dirumuskan sebagai :
Kebutuhan HP = 0,53
(BB/1,08)0,67.
Apabila untuk aktivitas minimal (istirahat) pada hewan yang
dikandangkan dirumukan :
Kebutuhan I = 0,0043 BB
Untuk sapi seberat 500 kg membutuhkan energi neto sebesar :
NE = 0,53 (500/1,08)0,67 +
0,0043 x 500 = 34,5 MJ/h.
Persamaan yang berlaku untuk domba adalah:
F = 0,226 (BB/1,08)0,75 + 0,0106
BB.
Kebutuhan Protein
untuk Hidup Pokok
Hewan yang diberi pakan bebas nitrogen, kenyataannya tetap terlihat
adanya kehilangan nitrogen yang keluar bersama feses dan urin yang berasal dari
degradasi dinding usus, enzim dan mikroba yang mati. Eksresi nitrogen
diurin dapat berasal dari perubahan kreatin menjadi kreatinin dan juga
urea yang merupakan hasil katabolisme asam amino. Protein tubuh pada
dasarnya selalu harus diganti dengan protein yang baru. Pergantian protein di
usus dan hati ini memakan waktu dalam unit jam atau hari, sedangkan pergantian
di tulang dan syaraf memakan waktu dalam unit bulan bahkan tahunan.
Jika pertama kali hewan diberi pakan bebas nitrogen, maka jumlah nitrogen di urin akan
menurun beberapa hari, kemudian stabil kembali setelah terjadi perombakan
protein tubuh. Pada keadaan cadangan protein telah habis, eksresi N-urin
dapat mencapai minimal. Eksresi-N pada kondisi minimal seperti ini disebut
dengan N-endogenous urin. N-endogenous urin ini dapat untuk memperkirakan protein untuk hidup pokok hewan. Nilai ini sebesar 2 mg
N-endogenous urin per kkal basal metabolisme (500 mg/MJ). Untuk hewan dewasa
angkanya berkisar 300-400 mg N-endogenous/MJ metabolisme puasa. Pada ruminansia, nitrogen dapat dipenuhi dari sirkulasi ulang urea dari
dan ke rumen. Oleh karena itu perhitungan N-endogenerus untuk hewan ruminansia menjadi 350 mg N/kg W0,75/hari dan setara
dengan 1000-1500 mg/MJ metabolisme puasa. N-urin sisa kelebihan dari N-
endogenous disebut dengan N-eksogenous urin.
Jumlah kebutuhan nitrogen
untuk hidup pokok akan seimbang bila besar konsumsi N dapat diimbangi dengan
besarnya jumlah N-metabolik di feses dan N-endogenous di urin. Cara
pengukurannya yaitu dengan menentukan nitrogen yang hilang/keluar dari hewan
yang diberi pakan bebas nitrogen.
Pendugaan Kebutuhan Protein
untuk HP dari total N-endogenous dan Ekskresi N- lain.
Cara perhitungan kebutuhan protein untuk HP dari N-endogenous dilakukan
seperti dalam penentuan nilai biologi (Biologi Value = BV). Pada sapi nilai BV
untuk protein yang dicerna dan diserap relative sama yaitu 0,8.
Contoh seekor sapi bobot
600 kg kehilangan N-endogenous 42 g/h dan hilang bersama rontoknya bulu 2 g/h,
sehingga totalnya 44 g/h. Nilai ini sama dengan 6,25 x 44 = 275 g protein. Jadi
sapi tersebut membutuhkan protein yang dapat dicerna dan diserap sebanyak
275/0,8 = 344 g/h. Jika diasumsikan bahwa protein tersebut disediakan dari
protein mikroba dengan kecernaan protein mikroba 0,85 dan kandungan asam
amino 0,8 dari total protein, maka jumlah kebutuhan protein
menjadi :
Kebutuhan protein =
344/(0,85 x 0,8) = 506 g/h.
Jumlah mikroba rumen yang dihasilkan tergantung
dari jumlah bahan organik yang difermentasi dan konsumsi ME. Setiap 1 MJ
konsumsi ME menghasilkan 8,3 g protein mikroba. Jika konsumsi ME setara
dengan kebutuhan ME untuk hidup pokok
sebesar 61 g, maka jumlah protein mikroba yang dapat disumbangkan pada sapi
sebesar 8,3 x 61 = 506 g. Jika nilai degradasinya hanya 0,7 maka jumlah protein
yang dibutuhkan meningkat menjadi 506/0,7=723 g/h. Jika konsumsi nitrogen
meningkat maka akan terjadi peningkatan neraca nitrogen dari negative menjadi
positif sampai pada titik keseimbangan. Penimbunan nitrogen ini juga bergantung
pada umur dan asupan nutrient yang lain. Jika penambahan protein tak menambah
penimbunan retensi nitrogen maka kurva menjadi horizontal. Standar kebutuhan nitrogen tergantung pada degradasi protein makanan
dalam rumen, metabolisme mikroba dan protein yang tak tercerna dirumen,
serta jumlah konsentrasi ME dalam pakan (
ARC, 1984).
Standar kebutuhan nutrient
untuk tumbuh
Pertumbuhan selalu
diukur dari kenaikan bobot badan, padahal pada pertambahan tersebut juga
terjadi kenaikan berat isi saluran pencernaan yang secara nyata sekitar 20 %
dari bobot badan. Jadi pertumbuhan mengikuti persamaan :
Y
= b x a
Y=
berat bagian tubuh, x = bobot tubuh, a = faktor koefisien
Setiap komposisi tubuh mempunyai koefisien
pertumbuhan yang berbeda seperti, air mempunyai koefisien 0,74, protein 0,80,
lemak 1,99 dan energi 1,59. Perkembangan tubuh perlu diamati khususnya karena
menyangkut kebutuhan nutrient baik pada proses
hyperplasia (perbanyakan sel) maupun pada proses hipertropi (perbesaran sel).
Makin dewasa, bobot tubuh akan meningkat sementara kebutuhan air dan
protein menurun karena komposisi air dan protein tubuh juga turun.
Sebaliknya kebutuhan lemak sedikit meningkat karena
lemak tubuh meningkat dengan bertambahnya usia.
Kebutuhan energi
dan protein untuk tumbuh
Kebutuhan energi untuk
pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh bobot badan dan juga jenis kelamin serta
bangsa hewan. Jantan biasanya mempunyai kecepatan pertumbuhan yang lebih cepat
dibandingkan betina, oleh karena itu kebutuhan energi
untuk jantan lebih banyak daripada untuk betina. Jenis bangsa hewan tipe
besar akan membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan bangsa hewan
yang kecil. Penentuan energi untuk standar biasanya didasari oleh suatu model
factorial.
Sedangkan kebutuhan protein untuk tumbuh dapat dihitung seperti: Seekor
anak domba tumbuh dengan pertambahan bobot badan 0,2 kg/h dan kehilangan protein endogenous sebanyak 21 g/h,kandungan protein tubuh 170 g/kg. Maka kebutuhan protein untuk hewan tersebut Kebutuhan Protein
= 21 + (0,2 x 170) =55 g. Jika nilai BV nya 0,80 dan kecernaan
proteinnya 0,85 maka protein yang dibutuhkan adalah = 55/(0,80 x 0,85) = 81 g.
PEMBERIAN PAKAN
Pemberian pakan hijauan
dalam keadaan segar umumnya lebih disukai dalam keadaan layu atau kering.
Namun, terdapat beberapa jenis hijauan yang masih mengandung racun dan sangat
berbahaya jika diberikan dalam keadaan segar, misalnya daun singkong (racun
sianida), lamtoro (mimosin), dan gliricidae (tanin). Karena itu, pakan hijauan
tersebut harus dilayukan terlebih dahulu selama 2-3 jam di bawah terik
matahari. Hijauan tersebut juga bisa didiamkan selama semalaman sebelum
diberikan kepada domba.
Jumlah pakan hijauan segar yang diberikan pada domba dewasa,
rata-rata adalah 10% dari berat badan atau sekitar 4-5 kg/ekor/hari. Pakan ini
diberikan 2-3 kali sehari (pada pagi dan sore hari). Pakan konsentrat diberikan
sebelum pakan hijauan. Hal tersebut dilakukan agar semua zat makanan yang
diperlukan untuk pertumbuhan, produksi, dan reproduksi dapat terpenuhi.
Berikut Beberapa Cara Mengefisienkan
Penggunaan Bahan Pakan :
1. Mencincang Hijauan
Hijauan yang dicincang 5-10 cm akan lebih mudah
dikonsumsi oleh domba karena bentuknya yang kecil-kecil.
2. Pemberian Urea Molasses Block (UMB)
Urea molasses block (UMB) mengandung urea, dedak
padi, tepung tapioka, bungkil kedelai, serta beberapa mineral seperti garam,
tepung tulang, dan kapur. Pemberian UMB sebesar 4 gram /hari/kg berat badan
harian domba mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian domba.
Di samping itu, mampu meningkatkan daya serap pakan berserat kasar cukup
tinggi, seperti kulit dan tongkol jagung.
3. Pemberian Urea
Urea merupakan bahan potensial yang mengandung
non-protein nitrogen (NPN). Di dalam rumen, NPN dapat dicerna menjadi NH3 yang
merupakan bahan pembentuk protein. Namun, penggunaan urea perlu dibatasi tidak
lebih dari 1% dari bahan kering hijauan atau tidak lebih dari 2% konsentrat.
Selain itu, pemberian urea juga harus diimbangi dengan pemberian bahan pakan
sumber energi.
Ampas
tahu merupakan hasil ikutan proses pembuatan tahu, yang dapat digunakan sebagai
bahan pakan ternak ruminansia dan unggas. Bahan pakan ini mudah didapat dan
memiliki nilai gizi cukup baik dengan kandungan protein kasar 21%. Sebagai
pakan tambahan, ampas tahu dapat berfungsi melengkapi protein dari
hijauan.
Pemberian Ampas Tahu Pada Sapi
Pedaging
Pemberian ampas tahu sebanyak 2 kg dicampur dengan
konsentrat 2,5 kg per ekor per hari (komposisi konsentrat terdiri dari : dedak
halus 50 kg, jagung halus 22 kg, tepung ikan 5 kg, mineral 2 kg dan garam 1 kg)
diberikan 2 kali sehari pagi dan sore. Komposisi pakan ini telah diuji oleh BPTP
Sumbar terhadap sapi Simental yang berumur 2,5 tahun sampai 3,5 tahun dengan
berat badan berkisar 350-600 kg.
Pada awal pemeliharaan atau penggemukan ternak yang baru
diberikan obat cacing dan vitamin. Obat ini diberikan dengan cara
menyembunyikan di dalam rumput kemudian diberikan kepada sapi dengan cara
memasukan rumput tersebut kedalam mulut sapi.
Pagi hari ternak dimandikan terlebih dahulu untuk menjaga
kebersihan sehingga terhindar dari berbagai penyakit. Kandang juga dibersihkan
dari kotoran dan sisa makanan yang menumpuk didasar kandang, ketempat
penampungan yang telah disediakan untuk dijadikan atau diolah menjadi kompos.
Setelah bersih baru diberikan pakan konsentrat dan ampas tahu yang sudah
dicampur dengan air sesuai dengan formulasi tersebut diatas. Setelah pakan
konsentrat habis dua jam kemudian diberikan pakan hijauan yang terdiri dari
rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria sebanyak 10% dari berat badan
yakni siang dan sore hari. Air disediakan secara adlibitum (terus menerus) dalam
ember yang telah disediakan
Keunggulan Ampas tahu dan konsentrat dapat memberikan
hasil yang optimal yakni pertumbuhan dan pertambahan berat badan 0,8
kg/ekor/hari. Masa pemeliharaan lebih cepat dan pendapatan peternak meningkat
Rp 17.500,-/ekor/hari dengan asumsi harga berat hidup Rp. 25.000,-/kg.
Persepsi
peternak yang menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan memiliki
pandangan dan persepsi bahwa limbah tanaman pangan dapat a) menjadi sumber
pakan alternatif, khususnya jika hijauan rumput tidak tersedia terutama saat
musim kemarau, b) dijadikan sebagai stok pakan dengan cara melakukan
penyimpanan dan pengawetan dengan sentuhan teknologi pakan.
Jenis teknologi pakan yang diketahui peternak yaitu amoniasi jerami, hay, fermentasi dan teknologi silase. Namun demikian, peternak masih kurang yang menerapkan teknologi tersebut. Beberapa hal yang menjadi alasan sehingga teknologi pakan tidak dilakukan yaitu menganggap teknologi pakan tidak efektif, hanya menghabiskan/membuang waktu saja, terkendala dengan penyimpanan limbah, biaya pengolahan limbah dan transportasi pengangkutan dari tempat asal limbah ke tempat penyimpanan/pemukiman mahal.
Jenis teknologi pakan yang diketahui peternak yaitu amoniasi jerami, hay, fermentasi dan teknologi silase. Namun demikian, peternak masih kurang yang menerapkan teknologi tersebut. Beberapa hal yang menjadi alasan sehingga teknologi pakan tidak dilakukan yaitu menganggap teknologi pakan tidak efektif, hanya menghabiskan/membuang waktu saja, terkendala dengan penyimpanan limbah, biaya pengolahan limbah dan transportasi pengangkutan dari tempat asal limbah ke tempat penyimpanan/pemukiman mahal.
PUSTAKA
Anggorodi,
R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Kartadisastra,
H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta.
Lubis,
D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan ke-2. PT. Pembangunan, Jakarta.
Sutardi,T.
1978. Ikhtisar Ruminologi. Departemen Ilmu dan Makanan Ternak Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor (Tidak diterbitkan)
Tillman,
A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukojo.
1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan
Domba, Kambing, dan Sapi Potong
Tidak ada komentar:
Posting Komentar