PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Tiga alasan mengapa ternak
ruminansia diperuntukkan sebagai penghasil susu adalah 1. Mereka dapat merubah
rumput dan hijauan yang tidak kita konsumsi sebagai sumber pakan ke dalam susu,
nutrisi yang dapat kita konsumsi. Hal ini dapat terjadi berkat adanya
fermentasi mikroba dalam rumennya. 2. Mereka memiliki pembuluh puting yang
dapat memfasilitasi pengeluaran susu. 3. Mereka memproduksi susu dalam jumlah
besar secara efisien. Optimalisasi dan
kelangsungan produksi susu dapat berhasil dengan baik apabila
dilakukan penerapan
tatalaksana yang tepat mulai saat sapi lahir hingga berproduksi.
Laporan
hasil penelitian Pamungkas dkk. (1994) menyatakan. bahwa pada umumnya sapi dara
dipelihara oleh petemak bermodal kecil (skala usaha
pemeliharaan kecil) dan di dalam pemcliharaannya tanpa
disertai dengan pemberian pakan konsentrat. Hal
ini tentunya selama periode,pertumbuhan ternak
dapat mengalami kekurangan gizi. sehinggadapat menyebabkan pertumbuhan
terhambat dan juga
terlambatnya umur pubertas. Beberapa hasil
penelitian
telah membuktikan, bahwa pemberian pakandengan
kecukupan energi dan protein menyebabkan temak
cepat tumbuh, umur kawin dan beranak pertama akan
lebih pendek (Vandeplassche, 1982).
Berkaitan
dengan uraian tersebut. maka perlu diupayakan perbaikan
tatalaksana pakan disertai dengan kajian ekonomi pemeliharaan sapi
perah dara di
tingkat usaha petemakan rakyat.
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah
memberi pengetahuan kepada praktikan dalam melakukan manajemen peternakan sapi
perah
1.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari
praktikum ini adalah praktikan dapat memperoleh ilmu manajemen peternakan sapi
perah
MATERI DAN METODA
Waktu dan
tempat
Praktikum
Manajemen Ternak Perah ini dilaksanakan di fapet farm Universitas Jambi, yang
dilaksanakan selama satu minggu, dimulai pada tanggal 16 mei s.d 22 mei 2011.
Materi
Alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, sapu lidi, sikat, sabit,
ternak sapi, cangkul, dan pakan yang diberikan pada ternak sapi tersebut.
Metoda
Pemberihan kandang ternak sapi
dilakukan dengan membuang feces terlebih dahulu, dan dipindahkan ke tempat
pengumpulan feces, kemudian kandang dibersihkan dengan menggunakan air dan sapu
lidi, kemudian sisa feces yang terbawa ke selokan di angkat dengan cangkul dan
dipindahkan ke samping kandang.
1. Pemandian ternak sapi
Pemandian ternak sapi dilakukan setelah kandang dibersihkan,
sapidimandikan dengan menyiram sapi terlebih dahulu dengan air bersih, lalu
badan, kaki, dan bagian kotor lainnya dibersihkan dengan menggunakan sikat, dan
sapi disiram kembali dengan air bersih.
2. Pemberian pakan hijauan
Hijauan diberikan sebanyak 2 kali
sehari, yakni pada pagi hari dan sore hari, pakan yang diberikan adalah
berbentuk hijauan segar yang telah dipotong kecil-kecil untuk mempermudah sapi
mengambil pakan tersebut.
3. Pemberian pakan konsentrat
Pemberian pakan konsentrat dilakukan
sebanyak 3 kali sehari, yaitu pada pagi hari, siang dan sore hari. Konsentrat
yang diberikan adalah dedak dan bungkil inti sawit, pakan konsentrat ini
diberikan apada ternak yang mendapat perlakuan
TINJAUAN PUSTAKA
Sapi perah
Menurut Yusmichad Yusdja (2005), usaha sapi perah telah berkembang
sejak tahun 1960 ditandai dengan pembangunan usaha-usaha swasta dalam
peternakan sapi perah disekitar Sumatra Utara, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Tahun 1977 Indonesia mulai mengembangkan agribisnis sapi perah rakyat yang
ditandai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Mentri. SKB ini merumuskan
kebijakan dan program pengembangan agribisnis sapi perah di Indonesia. Industri
peternakan sapi perah di Indonesia mempunyai struktur yang relatif lengkap
yakni peternak, pabrik pakan dan pabrik pengolahan susu yang relatif maju dan
kapasitas yang cukup tinggi serta tersedia kelembagaan peternak yakni Gabungan
Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Kelengkapan ini dimungkinkan sebagai akibat
Penanam Modal Asing (PMA) dan kebijakan perkoprasian. Struktur usaha ternak
sapi perah terdiri dari usaha skala besar (>100 ekor), usaha skala menengah
(30-100 ekor), usaha skala kecil (10-30 ekor) dan usaha ternak rakyat (1-9
ekor). Usaha ternak rakyat pada umumnya merupakan anggota koperasi.
Menurut Mubyarto (1989), berdasarkan pola pemeliharaan usaha
ternak di Indonesia diklasifikasikam menjadi tiga kelompok yaitu peternakan
rakyat, peternakan semi komersil dan peternakan komersil. Peternakan rakyat
melakukan budidayanya secara tradisional. Pemeliharan cara ini dilakukan setiap
hari oleh anggota keluarga peternak dimana keterampilan peternak masih
sederhana dan menggunakan bibit lokal dalam jumlah dan mutu terbatas. Tujuan
utama pemeliharaan sebagai ternak kerja. Peternakan semi komersil ditandai
dengan keterampilan peternak dapat dikatakan cukup, menggunakan bibit unggul,
obat-obatan dan penggunaan makanan penguat cenderung meningkat. Tujuan usaha
peternak semi komersil untuk menambah pendapatan keluarga dan konsumsi sendiri.
Peternakan komersil dijalankan oleh peternak yang mempunyai kemampuan dalam
segi modal, sarana produksi dan teknologi yang cukup modern. Tenaga kerja
dibayar dan makanan ternak dibeli dari luar dalam jumlah yang besar.
Menurut Sudono (1985) faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi susu sapi perah dipengaruhi oleh keturunan sebesar 30 persen dan
lingkungan sebesar 70 persen. Faktor-faktor tersebut antara lain yaitu, 1).
Bangsa dan rumpun sapi, 2). Lama bunting (gestation period), 3).
Masa laktasi, 4). Estrus, 5). Umur, 7). Interval beranak (calving
interval), 8). Masa kering kandang, 9). Frekuensi pemerahan, 10).
Besarnya sapi, dan 11). Pakan dan tatalaksana pemeliharaan.Produksi susu sapi
perah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor produksi.
Bila ditinjau secatra ekonomis, khususnya usahatani, maka
faktor-faktor tersebut
meliputi : alam, modal, tenaga kerja dan manajemen (Soeharjo
dan patong, 1973).
Peternakan sapi perah di Indonesia umumnya merupakan usaha
keluarga di pedesaan dalam skala kecil, sedangkan usaha dalam skala besar masih
sangat terbatas dan umumnya merupakan usaha sapi perah yang baru tumbuh
(Erwidodo, 1993).
Pemberian
pakan
Konsentrat
merupakan pakan untuk merangsang pertumbuhan fili-fili rumen (Gillespie, 1998).
Suryahadi dkk,
(1997) yang menyatakan bahwa konsentrat diberikan sebelum pemerahan
dilakukan, tujuannya agar sapi menjadi tenang sewaktu dilakukan pemerahan.
Pemberian konsentrat dilakukan sebelum hijauan diberikan dengan tujuan untuk
merangsang kerja mikroba dalam rumen. Konsentrat yang diberikan banyak
mengandung energi.
Menurut Anharoni
et al., (2006), Metabolisme Energi (ME) yang dimakan diestimasikan
sebagai jumlah produksi panas, energi dalam susu, dan keseimbangan energi dalam
tubuh.
Sistem
pemberian hijauan tersebutakan meningkatkan kualitas proporsi antara produk
asam lemak konjugasi dan asam lemak omega 3 serta meningkatkan kandungan lemak
pada daging (Valvo et al., 2005).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Menurut Mubyarto (1989), berdasarkan
pola pemeliharaan usaha ternak di Indonesia diklasifikasikam menjadi tiga
kelompok yaitu peternakan rakyat, peternakan semi komersil dan peternakan
komersil. Peternakan rakyat melakukan budidayanya secara tradisional. Pemeliharan
cara ini dilakukan setiap hari oleh anggota keluarga peternak dimana
keterampilan peternak masih sederhana dan menggunakan bibit lokal dalam jumlah
dan mutu terbatas. Tujuan utama pemeliharaan sebagai ternak kerja. Peternakan
semi komersil ditandai dengan keterampilan peternak dapat dikatakan cukup,
menggunakan bibit unggul, obat-obatan dan penggunaan makanan penguat cenderung
meningkat. Tujuan usaha peternak semi komersil untuk menambah pendapatan
keluarga dan konsumsi sendiri. Peternakan komersil dijalankan oleh peternak
yang mempunyai kemampuan dalam segi modal, sarana produksi dan teknologi yang
cukup modern. Tenaga kerja dibayar dan makanan ternak dibeli dari luar dalam
jumlah yang besar, dari hal di atas, maka peternakan yang di farm Fapet Unja
termasuk peternakan komersil karena menggunakan teknologi dan tenaga kerja yang
dipekerjakan di kandang tersebut.klimatologis Indonesia beriklim tropis dan
kurang cocok bagi perkembangan sapi perah yang berasal dari daerah sub tropis.
Ketiga, pemasar susu yang terbesar adalah industri pengolahan susu dan hanya
beberapa peternak yang mampu menciptakan pasar langsung ke konsumen. Keempat,
kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah (Sutawi dalam Ardia,
2000), oleh karena itu, sapi yang terdapat di kandang Fapet harus dimandikan
dengan teratur dan disiram pada siang hari jika cuaca panas untuk menyediakan
suhu yang sejuk untuk ternak
Performans sapi perah sangat
dipengaruhi oleh manajemen yang digunakan pada peternakan tersebut, Aspek-aspek
yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan sapi perah adalah penyediaan bibit,
pemberian pakan, perkandangan, penanganan penyakit dan perkawinan, pemerahan
dan penanganan pasca panen, penaganan limbah serta pemasaran dan distribusi,
Sudono et al., (2003) Faktor-faktor
tersebut bila ditinjau secara teknis meliputi : pemuliaan ternak (breeding) yaitu
sifat-sifat genetis yang diturunkan ke generasi berikutnya, makanan ternak
(hijauan dan makanan penguat), tatalaksana (manajemen), pemeliharaan termasuk
juga penyakit dan pengobatannya ( Sutardi, 1981).
Setiap pakan yang diberikan pada sapi perah mempunyai
fungsi masing-masing sistem pemberian hijauan tersebut akan meningkatkan
kualitas proporsi antara produk asam lemak konjugasi dan asam lemak omega 3
serta meningkatkan kandungan lemak pada daging (Valvo et al., 2005).
Dari hasil praktikum yang dilakukan selama 1 minggu,
diperoleh bobot badan seperti dibawah ini:
Bobot badan awal
|
Perlakuan
|
nama sapi
|
bobot badan awal
|
|
Perlakuan I
|
odel
|
257.85 kg
|
|
Perlakuan II
|
pito
|
268.2 kg
|
|
Perlakuan III
|
pinot
|
494.55 kg
|
|
Perlakuan IV
|
pimo
|
108.9 kg
|
|
perlakuan V
|
agnes
|
390.6 kg
|
|
perlakuan VI
|
wara
|
397.35 kg
|
Table pemberian pakan
|
Hari
|
waktu
|
sisa pakan /kg
|
pakan yang diberikan
/kg
|
pakan yang dikonsumsi
/kg
|
|
1
|
pagi
|
10
|
40
|
30
|
|
|
sore
|
11
|
40
|
29
|
|
2
|
pagi
|
11
|
40
|
29
|
|
|
sore
|
8
|
40
|
32
|
|
3
|
pagi
|
10
|
40
|
30
|
|
|
sore
|
11
|
40
|
29
|
|
4
|
pagi
|
12
|
40
|
28
|
|
|
sore
|
11
|
40
|
29
|
|
5
|
pagi
|
13
|
40
|
27
|
|
|
sore
|
10
|
40
|
30
|
|
6
|
pagi
|
12
|
40
|
28
|
|
|
sore
|
11
|
40
|
29
|
|
7
|
pagi
|
10
|
40
|
30
|
|
|
sore
|
10
|
40
|
30
|
Table bobot badan akhir
|
nama sapi
|
bobot akhir /kg
|
|
Odel
|
288.45
|
|
Pito
|
295.2
|
|
Pinot
|
355.5
|
|
Pimo
|
161.55
|
|
Agnes
|
373.95
|
|
Wara
|
439.65
|
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
hasil praktikum yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa manajemen yang
digunakan dalam suatu peternakan sangat berpengaruh pada performans sapi perah,
Saran
Dalam
pelaksanaan praktikum diharapkan dilaksanakan dengan baik dan mengutamakan
tujuan praktikum,
DAFTAR
PUSTAKA
Arif Hidayat, Pepen Effendi, Yadi
Patyadi, Asep Ali Fuad, Kimiaki Taguchi dan Teruo Sugiwaka. 2005. Buku
Petunjuk Praktis untuk Peternak Sapi Perah. Kerjasama Dinas Peternakan
Propinsi Jawa Barat dengan Japan International Cooperation Agency. Halaman
12,13, dan 32. http://www.goole.com/Dinas Peternakan Jawa Barat diakses 07 Mei
2011.
Bearden. H.J. dan J.W. Fuquay. 1980.
Applied Animal Reproduction. Reston Publish. Co. Inc. A Prentice-Hall Co.
Reston. Virginia.
Company. USA. http://google.com/Animal Science diakses
01 juni 2011.
Gillespie, J. R. 1998. Animal Science. An
international Thomson Publishing
Hurley WL. 2000. Mammary tissue organization. Lactation
Biology. ANSCI 308.
http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [15 – 08 -2006].
Pamungkas. D., Mariyono dan A. Musofie.
1994. Eksistensi sapi perah dara dalam usaha peternakan sapi perah rakyat
(studi kasus di kecamatan Tutur kabupaten Pasuruan). Proc. Pertemuan
lImiahPengolahan dan Komunikasi Hasil-hasil Penelitian Sapi Perah. Sub Balitnak
Grati.
Royama, Sam. 2005. Dunia Ternak. Akhmad’s Site.
Indonesia. http://www.google.com/Akhmad’s Site diakses 21 Juni 14.00 Siregar,
S, B. 1995. Sapi Perah: Jenis, Tekhnik Pemeliharaan, dan Analisis Usaha.
Cetakan IV. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sofyan, A dan A. Febrisiantosa. 2007. Tingkatkan
Kualitas Pakan Ternak dengan Silase Komplit. Universitas Islam Lamongan.
Lamongan. http://google.com/Universitas Islam Lamongan diakses 25 April 2008
21.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar