Translate To

Kamis, 11 April 2013

Uji Kualitas Pakan Ternak


PENDAHULUAN
Ransum merupakan salah satu bagian penting dalam usaha peternakan, dalam membuat ransum bahan yang di gunakan harus benar – benar di perhatikan dan berkualitas baik serta mutu nya dapat dijamin melalui pengawasan bahan baku. Pengawasan bahan baku di mulai dari saat pembelian sampai penerimaan. Pemeriksaan bahan baku bentuk butiran dapat di lakukan dengan pemeriksaan kadar air, persentase biji pecah, biji  rusak, biji mati, biji berjamur, dan benda asing atau kotoran serta kadar aflatoksin bahan.
Penyusunan ransum unggas dikategorikan cukup sulit di mana dalam menyusun ransum di buat untuk tujuan tertentu seperti untuk ayam petelua atau pedaging, yang perlu diperhatikan dalam penyusunan ransum diantaranya kebutuhan gizi, tersedinya bahan makanan, nilai perlengkapan bila diberikan dalam kombinasi, harganya, dan cara pemberiaan makan yang digunakan.
Tujuan dari pelaksanaan prsaktikum Industri Makanan Ternak ini yaitu agar mahasiswa lebih memahami dan mengerti mengenai Industri Makanan Ternak serta memahami kegunaan dan fungsi nya dalam bidang peternakan. Dan manfaat yang di peroleh dari praktikum Industri Makanan Ternak ini wawasan mahasiswa mengenai Industri Makanan Ternak Bertambah.

TINJAUAN PUSTAKA
Buckle (2000), menyatakan bahwa jumlah sekam dalam dedak sangat mempengaruhi kualitas dedak, dedak padi dengan kandungan sekam yang tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah.
Boediono (2003 ) menyatakan untuk bahan baku pakan ternak di samping kandungan serat kasar faktor – faktor yang mempengaruhi bahan pakan adalah kandungan protein yang berkorelasi dengan asam amino, kecernaan (digestibility), kandungan lemak atau minyak. 
Budiarso ( 2003 ) Kualitas jagung untuk pakan ternak antara lain ditetukan oleh ada tidaknya cemaran aflatoksin pada jagung tersebut. Kandungan aflatoksin yang tinggi pada jagung sebagai bahan dasar pakan ternak akan menyebabkan kontaminasi aflatoksin yang tinggi pula pada pakan jadinya, karena sekitar 50% bahan dasar pakan unggas berasal dari jagung sebagai sumber karbohidrat. Jika pakan yang tercemar aflatoksin diberikan kepada ternak unggas (ayam, itik), maka residu aflatoksin akan terdapat pula pada produk ternaknya seperti telur, daging, dan hati. Kandungan aflatoksin pada produk ternak akhirnya akan mempengaruhi kesehatan konsumen yang mengkonsumsinya.
Davis (2003) menyatakan bahwa pengguanan protein dari bungkil kelapa hanya sekitar 20 % dengan kandungan energi rendah.Earnshaw ( 1997 ) yang menyatakan larutan natrium hidroksida akan noda kuning pada kertas atau pun kain.
Gass S. I ( 2001 ) menyatakan bahwa dalam jagung kita perlu mengetahui kadar air yang terdapat pada jagung tersebut dan juga kadar aflatoksin sehingga jagung yang diharapkan akan mempunyai kualitas yang baik.
Juju wahyu (2000) yang menyatakan bahwa tepung ikan adalah sumber protein yang sangat baik untuk unggas karena mengandung asam-asam amino esensial yang cukup untuk kebutuhan ayam dan sumber utama dari lisin dan metionin.
Lyons (2000).  Memaksimumkan efisiensi penggunaan pakan yang bersifat konvensional diterapkan pada bahan makanan kacang kedelai.  Sasaran yang dituju yaitu meningkatkan kandungan energi metabolis dan kecernaan protein yang dikandung kacang kedelai.  Selanjutnya pada bahan makanan yang berasal dari limbah pertanian seperti dedak padi dengan menggunakan enzim lipase akan meningkatkan kandungan energi metabolismenya.
Mulyono ( 2003 ) menyatakan dalam menguji adanya sulfur pada bahan pakan ternak dapat diketahui dengan penambahan barium klorida 5% dan asam hidroklorida pada bahanpakan yang akan diuji dengan dibuktikan adanya zat yang padat warna putih kekuningan setelah dibiakan daIam beberapa menit saja.
Pluske (2000) mengungkapkan bahwa dedak padi merupakan bahan makanan potensial di wilayah asia pasifik ditinjau dari ketersediaannya yang tinggi dan persaingannya dengan konsumsi manusia yang rendah.  Umumnya penggunaan dedak padi lebih dari 20 % dari total ransum akan menghambat pertumbuhan.  Salah satu zat makanan yang potensial yang dikandung oleh dedak padi adalah lemak.
MATERI DAN METODA
Waktu Dan Tempat
Pratikum Industri Makanan Ternak di laksanakan pada tanggal 13 April – 10 juni 2011 jam 14.00 sd selesai di Laboratorium Industri Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jambi.
Materi
Materi yang di gunakan selama praktikum Industri Makanan Ternak yaitu Bungkil kedele, bungkil kelapa, dedak padi, bungkil inti sawit, jagung, tepung ikan, tepung kulit kerang, sekam padi, serbuk batu bata, topmix, molases, nampan, mistar, silinder isi 1000 ml, timbangan,ayakan 4 mesh, lampu ultra violet ( bluorescent ), mesin pembuat pellet, sleve sheaker dengan 8 ukuran yaitu 4, 8, 16, 30, 50, 100, 400, pan, dandang, karung beras, phloroglucinol, HCL pekat, ethanol, aquades, barium klorida ( 5 % ), asam hidroksida ( 1 : 1 ), larutan perak nitrat ( 5  % ), larutan asam nitrat ( 1 : 2 ), larutan ammonium hidroksida ( 1 : ), asam hidroklorida ( 1 : 1 ), larutan sodium standar ( 0, 0.1, 0.2, dan 0.3 % ), sodium hidroksida 0.1 N, asam sulfat 0.1 N, urea phenol red solution, cawan petri, pipet tetes, batang pengaduk, steambath, kertas saring, dan moisture tester.
Metoda
Metoda pada praktikum bulk density yaitu siapkan alat yang di butuhkan , tuangkan bahann yang akan di ukur di atas zampan kemudian aduk bahan secara merata dengan seksama, meratakan bahan tadi dengan menggunakan mistar kemudian bagi sampel kedalam 4 bagian dengan metoda quartering,kemudian masukan bahan kedalam silinder dan padatkan dengan menggunakan mistar seelah padat kemudian masukanbahn tadi kedalam nampan kecil dan timbang bahan oakan tersebut,hasil timbangan tersebut dikalikan 4. Metoda yang di gunakan dalam mengukur kadar air yaitu jagung yang di gunakan di giling terlebih dahulu lalu di ukukr kadar air nya dengan menggunakan alat moisture tester.
Metoda yang di gunakan dalam metode penyaringan yaitu bahan atau jagung di ayak dengan menggunakan ayakan 4 mesh seteleh diayak pisahkan biji yang pecah, rusak, mati, benda asing atau kotoran dan berjamur. Lalu timbang masing-masing komponen dan hitung jumlah relatifnya terhadap berat awal.
Metoda yang di gunakan dalam menentukan kadar aflatoksin yaitu giling kasar jagung tanpa di saring sebanyak 800 gram, letakkan dalam nampan segi empat secara merata, letakkan lampu ultra violet di atas nampan dan hitung jumlah partikel jagung yang berpendar seperti kunang – kunang.
Metoda yang di lakukan dalam praktikum test sekam yaitu siapakan sampel standar sekam 10 %, 15 %, dan 20 %. Siapakan sampel dedak padi dan timbang masing – masing satu gram, letakkan masing – masing sampel dalam cawan petri secara merata. Dalam waktu bersamaan, masing – masing sampel di beri larutan phloroglucinol 1 % dengan spuitt plastik sebanyak 5 ml. Goyang – goyang kan cawan petri hinnga sampel bercampur dengan phloroglucinol 1 % secara merata. Tunggu 10 menit, amati warna nya, bandingkan dengan sampel standar.
Prosedur kerja dari uji klorida adalah masukkan 1 – 2 gram sampel kedalam beaker glass100 ml dan tambahkan 30 ml asam nitrat, aduk dan biarkan 2 – 3 menit, lalu larutan tersebut masukkan 2 – 3 tetes kedalam cawan petri dan tambahkan 2 – 3 tetes perak nitrat dan akan terbentuk endapan berwarna putih, kemudian untuk menguji hasil yang didapatkan tambahkan 3 – 5 tetes ammonium hidroksida, maka endapat akan larut dan endapan putih akan hilang.
            Prosedur kerja dari uji karbonat adalah ambil sampel yang diuji dan letakkan pada cawan petri kemudian basahi dengan aquades dan ditambahkan 4 – 5 tetes asam hidroklorida dingin lalu panaskan dengan steambath, dan perhatikan buih yang berwarna putih.
Prosedur kerja dalam uji garam yakni masukkan 1 gram sampel dan aquadest 100 ml kedalam cawan petri, aduk dan saring dengan kertas whatman No. 4, lalu ambil 1 ml larutan standar dan tambahkan 8 ml asam nitrat diadukdan tambahkan 1 ml perak nitrat lalu diaduk kembali, dan bandingkan hasil test terhadap sampel dengan sampel standar dalam waktu 5 menit.
Prosedur kerja dalam menentukan kadar sulfat ialah letakkan sampal yang diuji pada cawan petri dan teteskan asam hidroklorida 2 – 3 tetes, ditambah 1 – 2 tetes barium klorida, dan jika terbentuk endapan putih maka bahan tersebut mengandung sulfat.
Prosedur kerja dalam praktikum fraksinasi bahan makanan ternak yaitu Siap kan alat penggoyang dan di bersih kan lalu di pasang dengan baik sesuai dengan ukuran lobang nya, setelah itu hubung kan kabel ke sumber listrik secara baik. Timbang masing – masing bahan sebanyak 300 gram, masuk kan secara perlahan – lahan bahan yang telah di timbang tersebut ke dalam saringan yang paling atas, lalu hidup kan alat penggoyang selama 15 menitndengan kecepatan 35 rpm, tampung bahan yang ada pada setiap saringan kemudian timbang.
Metoda yang digunakan dalam praktikum pembuatan pellet ini yaitu Persiapan bahan baku, dengan menyiapkan paling sedikit empat jenis bahan baku yang paling umum digunakan dalam penyusunan ranssum. Bahan pengikat pellet yang digunakan adalah onggok,molases dan tapioka.
Membuat formulasi ransum, formulasikan suatu jenis ransum ( ayam pedaging atau ayam petelur ) dari bahan yang tersedia. Penggunaan bahan pengikat dalam ransum masing-masing banyak 0%,3% dan % ( setiap fufrmulasi ransum menggunakansuatu bahan pengikat )
            Penyusunan ransum, bahan baku ditimbang sesuai dengan produksi dalam campuran. Ransum dicampur secara manual hingga distribusi bahan baku diperoleh homogen. Pembuatan pellet bahan  yang telah dicampur secara homogen dikukus selama 30 menit pembuatan pellet dilkukan menggunakan alat pellet portable.
            Pengepakan packing tersebut dari karung palastik dengan ukuran 10 x15 cm sebanyak 18 buah. Ransum di bagi menjadi 3 bagian periode penyimpanan yaitu 0,2, dan 4 minggu dan setiap periode penyimpanan di ulang sebanyak 2 x.
            Pengamatan fisik pengamatan fisik pelet meliputi warna, bau, dan tekstur. Pengamatan fisik setelah dilakukan proses pelleting dilakukan. Pengukuran kadar air pengukuran kadar air menggunakan moisture tester. Ketahanan benturan dan ukuran partikel bahan dalam kantong plastik, di jatuhkan sleave sheaker (vibrator) dengan ukuran yaitu 4,,16,30,50,100,400, mesh dan pan. Penyaringan dilakukan selama 15 menit dan dilakukan penimbangan untuk setiap penyaringan.
Metoda pada test aktivitas urease sesuaikan larutan urea phenol red menjadi warna kuning sawo dengan 0.1 N asam sulfuric, tempatkan 1 sendok teh campuran bungkil kedel standar ( 1, 3, 5, 7,9, dan 11 % tepung kacang kedele mentah ), dan bungkil kedele yang akan di uji di masukkan kedalam beberapa cawan petri, masukkan sampel yang akan di uji pada bagian tengah.Tambahkan 5 – 8 tetes phenol  red solution yang berwarna kuning sawo, aduk perlahan sampai mengembang dan membasahi sampel pada cawan. Biarkan selam 5 menit dan banding kan bungkil kacang kedele ( sampel ) yang di uji dengan sampel  standar.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kerapatan Bahan ( Bulk Density ).
Tabel.1 Bulk Density
Bahan Pakan
Bula Density
Jagung Kasar
702-723
Bungkil Kedele
642
Bungkil Kelapa
434
Tepung Kedele
594-610
Dedal Halus
809-822
Kerapatan bahan ( bulk density ) statu bahan pakan yang menggambarkan berat bahan per unit volume. Pengukuran berat dapat dilakukan dengan cara menimbang sejumlah berat bahan yang di takar. Kerapatan dari statu jenis bahan pakan yang sama dapat Sangay bervariasi yang di pengaruhi oleh ukuran partikel, kandungan air, dan kepadatan serta bahan kontaminan yang sengaja di campurkan.
Hasil perhitungan Bulk Density bahan pakan
No
Bahan Pakan
Bulk Density
Keterangan
1
Jagung Kasar
1160.4
Jelek
2
Bungkil Kedele            
695,2
Jelek
3
Bungkil Kelapa
1160,4
Jelek
4
Tepung Kedele
617,6
Jelek
5
Dedak Halus          
369,2
Jelek
Pluske (2000) mengungkapkan bahwa dedak padi merupakan bahan makanan potensial di wilayah asia pasifik ditinjau dari ketersediaannya yang tinggi dan persaingannya dengan konsumsi manusia yang rendah.  Umumnya penggunaan dedak padi lebih dari 20 % dari total ransum akan menghambat pertumbuhan.  Salah satu zat makanan yang potensial yang dikandung oleh dedak padi adalah lemak.
Kualitas Bahan Baku
Hasil Pengamatan Bulk Density
Berat Nampan                         = 66,1 gr
Berat Nampan dan  sampel      = 279,4 gr
Bulk Density                            = 279,4 – 66,1
                                                 = 213,3 x 4
                                                = 853,2 gr
Dari hasil yang di dapat kerapatan bahan pakan nya tidak bagus karena hasil yang di dapat nya melebihi perhitungan yang terddapat pada tabel bulk density.
Antonie ( 1994 ) yang menyatakan bahwa cara pencegahan kontaminasi jagung adalah memperketat seleksi jagung, kadar air rendah, fumigasi, sirkulasi udara yang baik, jaga kebersihan dan pembersihan penyimpanan secara periodik.
Kadar Air       
Kadar air dalam pengujian kualitas bahan baku menggunakan moisture tester. Kadar air maksimum yang di rekomendasikan adalah 15 %. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Jansen. A. H. ( 2003 ) yang menyatakan bahwa kadar air maksimum yang direkomendasikan adalah 14 – 15 %.
Tabel 2. kadar air dari jagung
Kelompok
Bahan pakan
Sampel
Berat sampel (gr)
Kadar air (%)
I
Jagung
I
1.01
10.9
Jagung
II
1.01
12
II
Jagung
I
1.01
13
Jagung
II
1.00
12
III
Jagung
I
1.00
12
Jagung
II
1.00
10.3
IV
Jagung
I
1.00
12
Jagung
II
1.01
11.9
V
Jagung
I
1.00
-
Jagung
II
1.00
-
VI
Jagung
I
1.01
11
Jagung
II
1.01
10.8
VII
Jagung
I
1.00
21.7
Jagung
II
1.01
20.8

Kadar air yang terdapat dalam bahan jagung dalam jumlah sedikit sehingga kualitas jagung dari ini bagus karena jumlah nya tidak melampaui batas maksimum. Namun pada kelompok 7 hasilnya kurang bagus hal ini disebabkan oleh suhu, kelembaban, dan lama penyimpanan.
Metode Penyaringan
Tabel 3 hasil pengujian berupa biji jagung yang pecah, rusak, mati, kotoran, dan jamur.
kelompok
Bahan yang dites
Pecah
Rusak
Mati
Kotoran
Jamur
I
Jagung
0.9184
0.3945
0.9522
0.1385
1.5862
Jagung
0.4535
2.1871
2.1871
0.2140
15.2114
II
Jagung
3.3972
4.0070
1.9797
0.1538
1.4490
Jagung
3.3782
3.8960
1.8538
0.180
1.5211
III
Jagung
1.9828
1.8932
3.1917
0.5768
3.6994
Jagung
1.9725
1.7620
3.8010
0.5764
3.5663
IV
Jagung
4.7880
4.0518
0.7407
1.1154
4.3016
Jagung
1.2990
1.1533
0.5188
0.1517
1.6572
V
Jagung
0.13
2.2
2.92
0.002
4.50
Jagung
0.11
1.2
5.3
2.7
1.654
VI
Jagung
0.235
0.857
0.057
2.7
1.654
Jagung
0.425
0.725
0.58
0.127
1.225
VII
Jagung
14.9187
13.8305
4.6223
0.1276
17.3097
Jagung
14.4281
14.937
3.4313
0.1156
15.2114
Dalam penentuan kualitas bahan jagung kita perlu memisah kan antara biji jagung yang pecah, rusak, mati, kotoran yang terdapat pada jagung, dan jamur. Kerusakan bahan pakan seperti ini disebabkan oleh kadar air yang terlalu tinggi.
Supriyadi ( 2001) yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya jamur adalah kadar air yang tinggi, temperature lingkungan yang tinggi, biji rusak dan penyimpanan jangka lama.
Kadar Aflatoksin
Aflatoksin adalah senyawa racun yang dihasilkan oleh metabolit sekunder kapang Aspergillus flavus dan A.parasiticus. Kapang ini biasanya ditemukan pada bahan pangan/pakan yang mengalami proses pelapukan, antara lain jagung. Sehingga dalam praktikum ini bahan yang di uji kadar aflatoksinnya adalah jagung.
Tabel 4. kandungan afltoksin pada bahan yang diuji
Kelompok
Bahan yang diuji
Hasil
Keterangan
I
Jagung
48
Baik
II
Jagung
51
Baik
III
Jagung
33
Baik
IV
Jagung
25
Baik
V
Jagung
46
Baik
VI
Jagung
40
Baik
VII
Jagung
53
Baik
Kualitas jagung untuk pakan ternak antara lain ditetukan oleh ada tidaknya cemaran aflatoksin pada jagung tersebut. Kandungan aflatoksin yang tinggi pada jagung sebagai bahan dasar pakan ternak akan menyebabkan kontaminasi aflatoksin yang tinggi pula pada pakan jadinya, karena sekitar 50% bahan dasar pakan unggas berasal dari jagung sebagai sumber karbohidrat. Jika pakan yang tercemar aflatoksin diberikan kepada ternak unggas (ayam, itik), maka residu aflatoksin akan terdapat pula pada produk ternaknya seperti telur, daging, dan hati. Kandungan aflatoksin pada produk ternak akhirnya akan mempengaruhi kesehatan konsumen yang mengkonsumsinya (Budiarso 2001).
Pengujian Kualitas Pellet
Penyusunan ransum ternak dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan komponen-komponen zat pembangun tubuh ternak dalam proses pertumbuhan. Seperti yang dilakukan pada praktikum kali ini dengan cara menyusun ransum ransum untuk ayam petelur yang membutuhkan protein kasar sebesar 17 % dan energi meabolisme sebanyak 2900 kkal, dengan bahan-bahan bahan penyusun rasum yang terdiri dari jagung , dedak padi, tepung ikan, bungkil kelapa, bungkil kedele, bungkil inti sawit dan bahan pengikat nya yaitu molases.
Haris 1993 menyatakan bahwa dalam penyusunan ransum perlu diperhatikan beberapa kebutuhan zat-zat  yang digunakkan untuk pertumbuhan ternak.
Kelompok 1
Kadar Air = 35.9
Ukuran Saringan

2
3.0
3
2.1
4
4.1
5
0.7
6
0.2
Kelompok 2
Kadar Air = 32
Ukuran Saringan

2
0.1
3
0.1
4
0.4
5
0.01
6
___

Kelompok 3
Kadar Air = 40
Ukuran Saringan

2
1.9
3
0.6
4
1
5
0.2
6
___

Dalam pembuatan pellet untuk pakan ternak unggas sebaik nya menggunakan bahan yang berkualitas baik, tidak mudah rusak, dan tidak  mudah tengik. Oleh karena itu bila bahan yang  mudah rusak atau mempercepat perubahan cita rasa dan ketengikan penggunaan nya harus dibatasi. Bahan yang mudah rusak dan tengik seperti bungkil kelapa dan tepung ikan penggunaan nya tidak boleh terlampau banyak.
Dalam pembuatan pellet pun penggunaan bungkil inti sawit pun tidak boleh terlalu banyak karena tekstur dari bungkil ini terlalu kasar sehingga ternak agak kesulitan dalam mencerna  nya dan kandungan protein nya terlalu rendah. Batubara et al. (2003) bungkil inti sawit dapat digunakan sampai sebesar 40% dalam konsentrat untuk penggemukan ternak yang ditambah dengan 20% molases.
Test Sekam
Allen (2001) menyatakan bahwa dedak padi adalah sisa penggilingan atau penumbukan padi. Bahan makanan tersebut sangat populer dan banyak sekali digunakan dalam ransum ternak.
Dedak padi terdiri dari kulit ari, menir, dan sekam. Jumlah sekam dalam dedak padi sangat mempengaruhi kualitas dedak. Dedak padi dengan kandungan sekam yang tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah, begitu pun sebalilk nya apabila kandungan sekam dalam dedak padi rendah maka kandungan kuallitas nutrisi nya tingggi atau bagus.
Tabel 5.Hasil pengamatan test sekam
Kelompok
Nama
Toko
Alamat
Tanggal pembelian
Kadar
Sekam
Keterangan
1

Jln. Arizona,kel Rawa Sari

14 April 2011
10 %
Baik
2
Ilham Jaya  Tani
Depan Kuburan Cina
12 April 2011
20 %
Baik
3
Dinjaya
Depan Tugu Juang
12 April 2011
20 %

Baik
4
Bakrie Poultry Shop
Thehok
12 April 2011
20 %

Baik
5
Pak Ramli
Jl. H. Adamalik, no 3 Beringin 4, Jambi
12 April 2011

20 %
Baik
6
Buana
Talang  Banjar
12 April 2011
20 %

Baik
Sekam yang terdapat  dalam bahan makanan harus di periksa karena hal ini akan menunjukkan kuallitas dari bahan makanan. Bahan makanan dengan kandungan sekam yang tinggi mempunyaikualitas nutrisi yang rendah. Jika kandungan sekam yang terdapat dalam bahan makanan rendah maka kandungan nutrisi yang terdapat dalam bahan makanan tersebut tinggi atau baik.
Kelompok
Bahan yang di Uji
Hasil
Keterangan
1
Jagung
Tidakada endapan
Tidak mengandung sulfat

Top mix
Ada endapan
Mengandung sulfat
2
Bungkil Kelapa
Tidak ada endapan
Tidak mengandung sulfats

Topmix
Ada endapan
Mengandung sulfat
3
Bungkil Kedele
Tidak ada endapan
Tidak mengandung sulfat

Serbuk Batu Bata
Ada endapan
Mengandung endapan
4
Bunkil Inti Sawit
Tidak ada endapan
Tidak mengandung sulfat

Serbuk Batu Bata
Tidak ada endapan
Tidak mengandung sulfat
5
Tepung Ikan
Ada endapan
Mengandung sulfat

Tepung Kulit Kerang
Ada endapan
Mengandung sulfat
6
Dedak Padi
Tidak ada endapan
Tidak mengandung sulfat

Tepung Kulit Kerang
Tidak ada endapan
Tidak mengandung sulfat

Setelah di lakukan uji terhadap sembilan bahan ternyata yang mengandung sulfat hanya empat bahan saja yaitu topmix, serbuk batu bata, tepung ikan, dan tepung kulit kerang. Sulfat sering digunakan dalam penyusunan ransum, maka perlu sekali tepung ikan dimasukkan kedalam ransum, terutama untuk ransum unggas. Hal ini sesuai dengan pendapat soerdono (2001) mengatakan bahwa kualitas tepung ikan cukup bagus karena  mengandung sulfat.
Tabel 7.Uji klorida
Kelompok
Bahan yang di Uji
Hasil
Keterangan
1
Jagung
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida

Top mix
Ada endapan
Mengandung Klorida
2
Bungkil Kelapa
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida

Topmix
Ada endapan
Tidak mengandung klorida
3
Bungkil Kedele
Tidak ada endapan
Mengandung klorida

Serbuk Batu Bata
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida
4
Bunkil Inti Sawit
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida

Serbuk Batu Bata
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida
5
Tepung Ikan
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida

Tepung Kulit Kerang
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida
6
Dedak Padi
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida

Tepung Kulit Kerang
Tidak ada endapan
Tidak mengandung klorida
                      
Asam nitrat atau nitric acid atau aqua fortis, dengan rumus kimia HNO3 adalah asam kuat yang sangat korosif. Berdasarkan sifatnya, asam nitrat dikelompokkan sebagai salah satu bahan kimia berbahaya atau B3.
Tabel 8.Uji Karbonat
Kelompok
Bahan yang di Uji
Hasil
Keterangan
1
Jagung
Tidak ada buih
Tidak mengandung karbonat

Top mix
Ada buih
Mengandung karbonat
2
Bungkil Kelapa
Tidak ada buih
Tidak mengandung karbonat

Topmix
Ada buih
Mengandung karbonat
3
Bungkil Kedele
Tidak ada buih
Tidak mengandung karbonat

Serbuk Batu Bata
Tidak ada buih
Tidak mengandung karbonat
4
Bunkil Inti Sawit
Tidak ada buih
Tidak mengandung karbonat

Serbuk Batu Bata
Tidak ada buih
Tidak mengandung karbonat
5
Tepung Ikan
Tidak ada buih
Tidak mengandung karbonat

Tepung Kulit Kerang
Ada buih
Mengandung karbonat
6
Dedak Padi
Tidak ada buih
Tdak  mengandung karbonat

Tepung Kulit Kerang
Ada buih
Mengandung karbonat

Setelah di lakukan uji karbonat terhadap  bunkil kelapa, bungkil kedele, bungkil inti sawit, jagung, dedak padi, tepung ikan, tepung kulit kerang, topmix, dan serbuk batu bata ternyata yang mengandung karbonat hanya topmix dan tepung kulit kerang saja.
Hal ini sesuai dengan pendapat Anggorodi (2000) menyatakan bahwa tepung kulit kerang merupakan sumber kalsium dan fosfor yang baik akan tetapi protein dalam tepung yang diukur mutunya sangat rendah karena kandungan gelatinnya tinggi, dan tepung kulit kerang ini ini juga mengandung karbonat.
Tabel 9. Uji Garam
Kelompok
Bahan yang di Uji
Hasil
Keterangan
1
Jagung
-
-

Top mix
-
-
2
Bungkil Kelapa
0.3 %
Mengandung garam

Topmix
0.1 %
Mengandung garam
3
Bungkil Kedele
0.3 %
Mengandung garam

Serbuk Batu Bata
-
-
4
Bunkil Inti Sawit
-
-

Serbuk Batu Bata
-
-
5
Tepung Ikan
-
-

Tepung Kulit Kerang
>  0.3 %
Mengandung garam
6
Dedak Padi
-
-

Tepung Kulit Kerang
> 0.3 %
Mengandung garam
Setelah di lakukan ji garam ternyata bahan yang mengandung garam diantaranya bungkil kelapa, bungkil kedele, topmix, dan tepung kulit kerang. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Murtidjo (2000) menyatakan bahwa bahwa dedak padi, tepung ikan dan bungkil kelapa tidak mengandung garam. Padahal setelah di uji bungkil kelapa mengandung garam sebesar 0.3 %.
Fraksinasi Bahan Makanan Ternak
Kelompok 1 ( Satu )
Tabel 10. Bungkil Inti Sawit
No saringan
Ukuran saringan
Berat ( gr )
Tekstur ( kasar atau halus)
1
1.40
129.3
Kasar
2
1.00
81.2
Kasar
3
7.0
56.4
Kasar
4
250
18.7
Halus
5
90
-
-
6
Terakhir
-
-
Bungkil inti sawit (BIS) merupakan salah satu hasil samping pengolahan inti sawit dengan kadar 45-46% dari inti sawit. BIS umumnya mengandung air kurang dari 10% dan 60% fraksi nutrisinya berupa selulosa, lemak, protein, arabinoksilan, glukoronoxilan, dan mineral. Dengan komposisi gizi serta produksinya yang relatif banyak, BIS berpotensi sebagai bahan pakan, baik untuk ternak ruminansia maupun nonruminansia.
Tabel 11. Bungkil kedele
No saringan
Ukuran saringan
Berat ( gr )
Tekstur ( kasar atau halus)
1
1.40
0.8
Kasar
2
1.00
2.6
Kasar
3
7.0
26.4
Halus
4
250
235.7
Halus
5
90
12.8
Halus
6
Terakhir
4.2
Halus

Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai. Kandungan protein bungkil kedele yang diperoleh secara mekanik adalah 41% dan mempunyai kandungan lemak 4,8%. Sedangkan yang diperoleh dengan pelarutan mempunyai kandungan lemak sebesar 1,32%. Bungkil kedelai agak rendah mengandung kalsium (0,27%). Kandungan phospor lebih rendah dibandingkan dengan bungkil biji kapas yaitu rata-rata 0,63%. Seperti biji kedelai, bungkil kedelai tidak menyediakan karoten dan vitamin D. Bungkil kedelai tidak kaya riboflavin tetapi kandungannya lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dan butiran lainnya. Kandungan niacin tidak tinggi, kandungan thiamin bungkil kedelai sama dengan butiran lainnya.
Tabel 12. Bungkil kelapa
No saringan
Ukuran saringan
Berat ( gr )
Tekstur ( kasar atau halus)
1
1.40
1
Kasar
2
1.00
6.8
Kasar
3
7.0
225.1
Kasar
4
250
87.1
Halus
5
90
2.4
Halus
6
Terakhir
0.1
Halus

Bungkil kelapa sangat mudah didapatkan. Harganya pun jauh lebih murah bila dibandingkan dengan bungkil kacang tanah. Kadar proteinnya paling rendah diantara bungkil-bungkil yang lain, namun nilai martabat makanannya cukup tinggi karena zat-zat yang dikandung bungkil kelapa mudah dicerna.
Tabel 13. Jagung
No saringan
Ukuran saringan
Berat ( gr )
Tekstur ( kasar atau halus)
1
1.40
157.6
Kasar
2
1.00
36.6
Kasar
3
7.0
41.5
Kasar
4
250
53.6
Halus
5
90
5.9
Halus
6
Terakhir
___
-

Jagung merupakan komponen utama yang dominan dalam formulasi pakan unggas. Selaras dengan pertumbuhan pesat industri unggas Indonesia, kebutuhan jagung di dalam negeri dalam beberapa dekade terakhir juga ikut meningkat. Produksi dalam negeri terus didorong naik, tetapi impor jagung masih tetap harus dilakukan sementara hargapun terus naik. Haris ( 2003 ) yang menyatakan bahwa dalam bahan pakan jagung kita perlu mengetahui kadar air yang terdapat pada jagung tersebut dan juga kadar aflatoksin sehingga jagung yang diharapkan akan mempunyai kualitas yang baik.
Tabel 14. Tepung ikan
No saringan
Ukuran saringan
Berat ( gr )

Tekstur ( kasar atau halus)
1
1.40
93.8
Kasar
2
1.00
25.6
Kasar
3
7.0
100.3
Kasar
4
250
88
Halus
5
90
0.8
Halus
6
Terakhir
___
-

Tepung ikan (marine fish meal) adalah salah satu produk pengawetan ikan dalam bentuk kering, kemudian digiling menjadi tepung. Bahan baku tepung ikan umumnya adalah ikan-ikan yang kurang ekonomis, hasil sampingan penangkapan dari penangkapan selektif, glut ikan (ikan yang melimpah) pada musim penangkapan dan sisa-sisa pabrik pengolahan ikan seperti pabrik pengalengan dan pembekuan ikan dan minyak ikan.
Tabel 15. Dedak Padi
No saringan
Ukuran saringan
Berat ( gr )
Tekstur ( kasar atau halus)
1
1.40
252.1
Kasar
2
1.00
3.7
Kasar
3
7.0
14
Kasar
4
250
24.0
Halus
5
90
17,1
Halus
6
Terakhir
____
-
Dedak padi merupakan hasil sisa dari penumbukan atau penggilingan gabah padi. Dedak tersusun dari tiga bagian yang masing masing berbeda kandungan zatnya.
Ketiga bagian tersebut adalah:Kulit gabah yang banyak mengandung serat kasar dan mineral, Selaput perak yang kaya akan protein dan vitamin B1, juga lemak dan mineral, lembaga beras yang sebagian besar terdiri dari karbohidrat yang mudah dicerna. Berhubung dedak merupakan campuran dari ketiga bagian tersebut diatas maka nilai/martabatnya selalu berubah-ubah tergantung dari proporsi bagian-bagian tersebut. Menurut kelas nilainya, dedak dibagi menjadi empat kelas yaitu dedak kasar, dedak halus biasa, dedak lunteh, bekatul.
Test Aktivitas Urease
Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai. Kandungan protein bungkil kedele yang diperoleh secara mekanik adalah 41% dan mempunyai kandungan lemak 4,8%. Sedangkan yang diperoleh dengan pelarutan mempunyai kandungan lemak sebesar 1,32%.
Bungkil kedelai agak rendah mengandung kalsium (0,27%). Kandungan phospor lebih rendah dibandingkan dengan bungkil biji kapas yaitu rata-rata 0,63%. Seperti biji kedelai, bungkil kedelai tidak menyediakan karoten dan vitamin D.
Rahayu ( 2000 ) menyatakan bahwa bungkil kedele tanpa kulit ekstrak kimia diproduksi dengan memecah, memanaskan dan mengelupas kacang kedele, sedangkan minyaknya diekstraksi menggunakan hexane. Serpihan hasil ekstraksi dipanggang dan digiling untuk menghasilkan bungkil kedele.
Tabel 16.Pengamatan urease
Kelompok
Bahan yang di uji
Hasil
Keterangan
1
Bungkil Kedele
Overcooked
-
2
Bungkil Kedele
Slighly Active
3 %
3
Bungkil Kedele
Overcooked
-
4
Bungkil Kedele
Slighly Active
1 %
5
Bungkil Kedele
Overcooked
-
6
Bungkil Kedele
Overcooked
-
Setelah di lakukan test terhadap aktifitas urease dalam bungkil kedele ternyata yang mendapat kan hasil dan di dapat skala slighly active hanya kelompok dua dan kelompok empat sedang kan yang lain hasil nya overcooked. Pada slighly active dari bungkil kedele kelompok empat mendekati standar yang 1 % dan yang kelompok dua 3 %. Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik, yang akhirnya meruntuhkan konsep vitalisme.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Setelah melaksanakan praktikum Industri Makanan Ternak dapat di simpulkan bahwa setiap bahan pakan memiliki kandungan nutrisi dan zat antinutrisi yang berbeda sehingga harus diperhatikan cara pengolahan yang benar sehingga dapat menghasilkan pakan yang baik dan berkualitas.
Saran
Agar pelaksanaan praktikum Industri Makanan Ternak kedepannya lebih baik lagi di harapkan praktikan lebih memperhatikan prosedur kerja yang benar untuk memperoleh hasil praktikum yang lebih tepat dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Allen. 2001.  Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.
Anggorodi . 2003  . Ilmu Makanan  Ternak  Umum. Cetakan  ke-4.  PT Gramedia.
                    Jakarta.
Biranto.  2001.  Industri Ransum Ternak . PT Gramedia . Jakarta.
Batubara et al. 2000 . Pakan Alternatif Untuk Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Boediono.2001.Mikotoksin Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi.Universitas Gadjah Mada. Penerbit Kanisius, yogyakarta.
Buckle. 2000. Membuat Pakan Unggas. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Diener . 2001 . Diener 2001 Aflatoxin formation by Aspergillus flavus. In L.A. Goldlatt
                        (Ed.). Aflatoxin. Academic Press, New York.
Earnshaw. 2001 . Chemistry of the Elements, 2nd ed. Butterworth-Heinemann.      Oxford,UK. 1997.
Gass. S. I. 2003. Linies programming methods and aplications Foorth editions me Grow.Hill kogakhusha.
Haris.2001 . Theory and Problems of operations Research Series. Hill book Company.New York
Jansen, A, H.  2001. Dietary nutrion Allowances for Swine, feed stef Vol. 54. Newyork.
Juju wahyu. 2003. Ilmu  Makanan  Ternak  Unggas.  Kansius . Yogyakarta.
Lyons, T.P. 2001.  A new era in animal production: the arrival of scientifically provennatural alternatives. In  11th annual Asia Pacific Lecture Tour.
Mulyono. 2003.  Membuat Pakan Unggas. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Murtadi.2000. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Konisius (Anggota IKAPI):
Yogyakarta.
Murtidjo .B.A. 2000. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Nahm, K.H. 2000. Bahan Pakan Unggas Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Pluske , J.R. 2001.  Defining the future role of enzymes within  the asia pacific
region.  . In  11th annual Asia Pacific Lecture Tour. 45-64.

Raghavan.  2003.  Enzim Pangan.  Gramedia, Jakarta.
Rahayu. 2000 . Penggunaan Bungkil Kedele Untuk Pakan. Gramedia. Jakarta.
Rasid. 2003. 302 Formulasi Pakan Lokal Alternatif Untuk Unggas. PT Swadaya:   Bogor.
Ravindran. 2001. Poultry Nutrion. Fifth edition. The Ray libis. Co Pasaduna California.

LAMPIRAN
Kualitas Bahan Baku
Kelompok 1.
Jagung 1 = 0.9184 + 0.3945 + 0.9522 + 0.1385 + 1.5862 = 3.9898
%Pecah =      0,9184         X 100%   =  23,01%
                       3,9898

% rusak =    0,3945          X 100%   =  9,88%
                    3,9898

% mati =     0,9522           X 100%   =  23,86%
                    3,9898

% kotoran =    0,1385      X 100%   =  3,47%
                       3,9898

% jamur =      1,5862     X 100%   =  39,75%
                       3,9898

Jagung 2 = 0,4535 + 2,1871 + 2,1871 +0,2140 + 15,2114 = 20,2531

%Pecah =      0,4535         X 100%   =  2,23%
                      20,2531

% rusak =    2,1871          X 100%   =  10,79%
                   20,2531

% mati =     2,1871           X 100%   =  10,79%
                   20,2531

% kotoran =    0,2140      X 100%   =  1,056%
                      20,2531

% jamur =      15,2114     X 100%   =  75,1%
                      20,2531
Kelompok II

Jagung 1 = 3,3972 + 4,0070 + 1,9797 + 0.1538 + 1,4490 = 10,9867
%Pecah =      3,3972         X 100%   =  30,921%
                      10,9867

% rusak =    4,0070          X 100%   =  36,471%
                    10,9867
% mati =     1,9797           X 100%   =  18,019%
                    10,9867

% kotoran =    0,1538      X 100%   =  1,399%
                       10,9867

% jamur =      1,4490     X 100%   =  13,188%
                      10,9867

Jagung 2 = 3,3782 + 3,8960 + 1,8538 +0,180 + 1,5211 = 10,8291

%Pecah =      3,3782         X 100%   =  195%
                      10,8290

% rusak =    3,8960          X 100%   =  35,977%
                   10,8290

% mati =     1,8538           X 100%   =  17,118%
                   10,8290
% kotoran =    0,180        X 100%   =  1,662%
                      10,8290

% jamur =      1,5211     X 100%   =  14,046%
                      10,8291
Kelompok III
Jagung 1 = 1.9828 + 1.8932 + 3.1917 + 0.5768 + 3.6994 = 11.3439
%Pecah =      1,9828         X 100%   =  17,478%
                       11.3439

% rusak =    1,8932          X 100%   =  16,689%
                    11,3439

% mati =     3,1917           X 100%   =  28,135%
                    11,1917

% kotoran =    0,5768      X 100%   =  5,084%
                       11,1917

% jamur =      3,6994    X 100%   =  32,811%
                       11,1917
Jagung 2 = 1,9725 + 1,7620 + 3,8010 +0,5764 + 3,5663 = 11,6782

%Pecah =      1,9725         X 100%   =  16,890%
                      11,6782
% rusak =    1,7620          X 100%   =  15,087%
                   11,6782

% mati =     3,8010           X 100%   =  32,547%
                   11,6782

% kotoran =    0,5764      X 100%   =  4,935%
                      11,6782

% jamur =      3,5663     X 100%   =  30,538%
                      11,6782

kelompok IV
Jagung 1 = 4,7880 + 4,0518 + 0,7407 + 1,1154 + 4,3016 = 14,9975
%Pecah =      4,7880         X 100%   =  23,01%
                       14,9975

% rusak =    4,0518          X 100%   =  9,88%
                    14,9975

% mati =     0,7407          X 100%   =  23,86%
                    14,9975
% kotoran =    1,1154      X 100%   =  3,47%
                       14,9975

% jamur =     4,3016        X 100%   =  39,75%
                       14,9975

Jagung 2 =1,2,990  +  1,1533 + 0,5188 + 0,1517 + 1,6572 = 4,78

%Pecah =      1,2,990      X 100%   =  22,175%
                        4,78

% rusak =  1,1533        X 100%   =  24,127%
                     4,78

% mati =     0,5188       X 100%   =  10,853%
                   4,78

% kotoran =   0,1517     X 100%   =  3,163%
                         4,78
% jamur =    1,6572       X 100%   =  34,669%
                         4,78

Kelompok V
Jagung 1 = 0,13 + 2,2 + 2,92 + 0.02 + = 9,752
%Pecah =       0,13         X 100%   =  1,333%
                       9,752

% rusak =   2,2                X  100%   =  22,59%
                    9,752

% mati =          2,92         X 100%   =  29,942%
                    9,752

% kotoran =    0.02          X 100%   =  2,020%
                       9,752
% jamur =      4,50            X 100%   =  46,144%
                        9,752

Jagung 2 = 0,11 + 1,2 + 5,3 +2,7 + 1,654 = 10,964


%Pecah =        0,11           X 100%   =  2,23%
                      10,964

% rusak =      1,2                X 100%   =  10,79%
                   10,964

% mati =       5,3                X 100%   =  10,79%
                   10,964

% kotoran =     2,7             X 100%   =  1,056%
                     
                      10,964
% jamur =      1,654          X 100%   =  75,1%
                      10,964
Kelompok VI
Jagung 1 = 0,235 + 0,857 + 0.057 + 2,7 +1,657  = 5,503
%Pecah =      0,235           X 100%   =  4,270%
                       5,503

% rusak =    0,857         X 100%   =  15,573%
                    5,503


% mati =     0,057             X 100%   =  1,035%
                    5,503
% kotoran =    2,7            X 100%   =  49,064%
                       5,503

% jamur =      1,657     X 100%   =  30,056%
                       5,503

Jagung 2 = 0,425 + 0,725 + 0,58 +0,127 + 1,225 = 3,082

%Pecah =      0,425           X 100%   =  13,789%
                      3,082

% rusak =    0,725          X 100%   =  23,523%
                   3,082
% mati =     20,58             X 100%   =  18,818%
                   3,082

% kotoran =    0,127        X 100%   =  4,1207%
                      3,082
% jamur =      1,225     X 100%   =  39,746%
                      3,082
Kelompok VII
Jagung 1 = 14,9187 + 13,8305 + 4,6223 + 0,1276 + 17,3097 = 50,8088
%Pecah =      14,9187       X 100%   =  13,789%
                       50,8088

% rusak =    13,8305          X 100%   =  23,523%
                    50,8088

% mati =     4,6223           X 100%   =  18,818%
                    50,8088

% kotoran =    0,1276      X 100%   =  4,1207%
                       50,8088

% jamur =      17,3097     X 100%   =  39,746%
                       50,8088
Jagung 2 = 14,4281 + 14,937 + 3,413 +0,1156 + 15,2114 = 48,1234

%Pecah =      14,4281        X 100%   =  292,981%
                      48,1234

% rusak =    14,4281          X 100%   =  31,038%
                   48,1234

% mati =     14,4281         X 100%   =  7,130%
                   48,1234

% kotoran =    14,4281                X 100%   =  0,240%
                      48,1234

% jamur =      14,4281     X 100%   =  31,609%
                      48,1234


Tidak ada komentar: