PENDAHULUAN
Ransum merupakan salah satu bagian penting dalam usaha
peternakan, dalam membuat ransum bahan yang di gunakan harus benar – benar di
perhatikan dan berkualitas baik serta mutu nya dapat dijamin melalui pengawasan
bahan baku. Pengawasan bahan baku
di mulai dari saat pembelian sampai penerimaan. Pemeriksaan bahan baku bentuk
butiran dapat di lakukan dengan pemeriksaan kadar air, persentase biji pecah,
biji rusak, biji mati, biji berjamur,
dan benda asing atau kotoran serta kadar aflatoksin bahan.
Penyusunan
ransum unggas dikategorikan cukup
sulit di mana dalam menyusun ransum di buat untuk tujuan tertentu seperti untuk ayam petelua atau pedaging, yang perlu diperhatikan dalam penyusunan ransum
diantaranya kebutuhan gizi, tersedinya bahan makanan, nilai perlengkapan bila
diberikan dalam kombinasi, harganya, dan cara pemberiaan makan yang digunakan.
Tujuan dari pelaksanaan prsaktikum
Industri Makanan Ternak ini yaitu agar mahasiswa lebih memahami dan mengerti
mengenai Industri Makanan Ternak serta memahami kegunaan dan fungsi nya dalam
bidang peternakan. Dan manfaat yang di peroleh dari praktikum Industri Makanan
Ternak ini wawasan mahasiswa mengenai Industri Makanan Ternak Bertambah.
TINJAUAN
PUSTAKA
Buckle (2000), menyatakan bahwa jumlah
sekam dalam dedak sangat mempengaruhi kualitas dedak, dedak padi dengan
kandungan sekam yang tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah.
Boediono (2003 ) menyatakan untuk bahan baku pakan ternak di
samping kandungan serat kasar faktor – faktor yang mempengaruhi bahan pakan
adalah kandungan protein yang berkorelasi dengan asam amino, kecernaan
(digestibility), kandungan lemak atau minyak.
Budiarso ( 2003 ) Kualitas jagung untuk pakan
ternak antara lain ditetukan oleh ada tidaknya cemaran aflatoksin pada jagung tersebut.
Kandungan aflatoksin yang tinggi pada jagung sebagai bahan dasar pakan ternak
akan menyebabkan kontaminasi aflatoksin yang tinggi pula pada pakan jadinya,
karena sekitar 50% bahan dasar pakan unggas berasal dari jagung sebagai sumber
karbohidrat. Jika pakan yang tercemar aflatoksin diberikan kepada ternak unggas
(ayam, itik), maka residu aflatoksin akan terdapat pula pada produk ternaknya
seperti telur, daging, dan hati. Kandungan aflatoksin pada produk ternak
akhirnya akan mempengaruhi kesehatan konsumen yang mengkonsumsinya.
Davis (2003) menyatakan bahwa pengguanan protein dari bungkil
kelapa hanya sekitar 20 % dengan kandungan energi rendah.Earnshaw ( 1997 ) yang
menyatakan larutan natrium hidroksida akan noda kuning pada kertas atau pun
kain.
Gass S. I (
2001 ) menyatakan bahwa dalam jagung kita perlu mengetahui kadar air yang
terdapat pada jagung tersebut dan juga kadar aflatoksin sehingga jagung yang
diharapkan akan mempunyai kualitas yang baik.
Juju wahyu (2000) yang menyatakan bahwa tepung ikan adalah sumber
protein yang sangat baik untuk unggas karena mengandung asam-asam amino
esensial yang cukup untuk kebutuhan ayam dan sumber utama dari lisin dan
metionin.
Lyons (2000).
Memaksimumkan efisiensi penggunaan pakan yang bersifat konvensional diterapkan
pada bahan makanan kacang kedelai. Sasaran yang dituju yaitu meningkatkan
kandungan energi metabolis dan kecernaan protein yang dikandung kacang
kedelai. Selanjutnya pada bahan makanan yang berasal dari limbah
pertanian seperti dedak padi dengan menggunakan enzim lipase akan meningkatkan
kandungan energi metabolismenya.
Mulyono ( 2003 ) menyatakan dalam menguji adanya sulfur pada
bahan pakan ternak dapat diketahui dengan penambahan barium klorida 5% dan asam
hidroklorida pada bahanpakan yang akan diuji dengan dibuktikan adanya zat yang
padat warna putih kekuningan setelah dibiakan daIam beberapa menit saja.
Pluske (2000) mengungkapkan
bahwa dedak padi merupakan bahan makanan potensial di wilayah asia pasifik
ditinjau dari ketersediaannya yang tinggi dan persaingannya dengan konsumsi
manusia yang rendah. Umumnya penggunaan dedak padi lebih dari 20 % dari
total ransum akan menghambat pertumbuhan. Salah satu zat makanan yang
potensial yang dikandung oleh dedak padi adalah lemak.
MATERI DAN METODA
Waktu Dan Tempat
Pratikum Industri Makanan
Ternak di laksanakan pada tanggal 13 April – 10 juni 2011 jam 14.00 sd selesai
di Laboratorium Industri Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas
Jambi.
Materi
Materi yang di gunakan selama
praktikum Industri Makanan Ternak yaitu Bungkil kedele, bungkil kelapa, dedak
padi, bungkil inti sawit, jagung, tepung ikan, tepung kulit kerang, sekam padi,
serbuk batu bata, topmix, molases, nampan, mistar, silinder isi 1000 ml,
timbangan,ayakan 4 mesh, lampu ultra violet ( bluorescent ), mesin pembuat
pellet, sleve sheaker dengan 8 ukuran yaitu 4, 8, 16, 30, 50, 100, 400, pan,
dandang, karung beras, phloroglucinol, HCL pekat, ethanol, aquades, barium
klorida ( 5 % ), asam hidroksida ( 1 : 1 ), larutan perak nitrat ( 5 % ), larutan asam nitrat ( 1 : 2 ), larutan
ammonium hidroksida ( 1 : ), asam hidroklorida ( 1 : 1 ), larutan sodium
standar ( 0, 0.1, 0.2, dan 0.3 % ), sodium hidroksida 0.1 N, asam sulfat 0.1 N,
urea phenol red solution, cawan petri, pipet tetes, batang pengaduk, steambath,
kertas saring, dan moisture tester.
Metoda
Metoda pada praktikum bulk density
yaitu siapkan alat yang di butuhkan , tuangkan bahann yang akan di ukur di atas
zampan kemudian aduk bahan secara merata dengan seksama, meratakan bahan tadi
dengan menggunakan mistar kemudian bagi sampel kedalam 4 bagian dengan metoda
quartering,kemudian masukan bahan kedalam silinder dan padatkan dengan
menggunakan mistar seelah padat kemudian masukanbahn tadi kedalam nampan kecil
dan timbang bahan oakan tersebut,hasil timbangan tersebut dikalikan 4. Metoda
yang di gunakan dalam mengukur kadar air yaitu jagung yang di gunakan di giling
terlebih dahulu lalu di ukukr kadar air nya dengan menggunakan alat moisture
tester.
Metoda yang di gunakan dalam metode
penyaringan yaitu bahan atau jagung di ayak dengan menggunakan ayakan 4 mesh
seteleh diayak pisahkan biji yang pecah, rusak, mati, benda asing atau kotoran
dan berjamur. Lalu timbang
masing-masing komponen dan hitung jumlah relatifnya terhadap berat awal.
Metoda yang di gunakan dalam
menentukan kadar aflatoksin yaitu giling kasar jagung tanpa di saring sebanyak
800 gram, letakkan dalam nampan segi empat secara merata, letakkan lampu ultra
violet di atas nampan dan hitung jumlah partikel jagung yang berpendar seperti
kunang – kunang.
Metoda yang di lakukan dalam
praktikum test sekam yaitu siapakan sampel standar sekam 10 %, 15 %, dan 20 %.
Siapakan sampel dedak padi dan timbang masing – masing satu gram, letakkan
masing – masing sampel dalam cawan petri secara merata. Dalam waktu bersamaan,
masing – masing sampel di beri larutan phloroglucinol 1 % dengan spuitt plastik
sebanyak 5 ml. Goyang – goyang kan cawan petri hinnga sampel bercampur dengan
phloroglucinol 1 % secara merata. Tunggu 10 menit, amati warna nya, bandingkan
dengan sampel standar.
Prosedur kerja dari uji klorida adalah
masukkan 1 – 2 gram sampel kedalam beaker glass100 ml dan tambahkan 30 ml asam
nitrat, aduk dan biarkan 2 – 3 menit, lalu larutan tersebut masukkan 2 – 3
tetes kedalam cawan petri dan tambahkan 2 – 3 tetes perak nitrat dan akan
terbentuk endapan berwarna putih, kemudian untuk menguji hasil yang didapatkan
tambahkan 3 – 5 tetes ammonium hidroksida, maka endapat akan larut dan endapan
putih akan hilang.
Prosedur
kerja dari uji karbonat adalah ambil sampel yang diuji dan letakkan pada cawan
petri kemudian basahi dengan aquades dan ditambahkan 4 – 5 tetes asam
hidroklorida dingin lalu panaskan dengan steambath, dan perhatikan buih yang
berwarna putih.
Prosedur kerja dalam uji garam yakni
masukkan 1 gram sampel dan aquadest 100 ml kedalam cawan petri, aduk dan saring
dengan kertas whatman No. 4, lalu ambil 1 ml larutan standar dan tambahkan 8 ml
asam nitrat diadukdan tambahkan 1 ml perak nitrat lalu diaduk kembali, dan
bandingkan hasil test terhadap sampel dengan sampel standar dalam waktu 5
menit.
Prosedur kerja dalam menentukan kadar
sulfat ialah letakkan sampal yang diuji pada cawan petri dan teteskan asam
hidroklorida 2 – 3 tetes, ditambah 1 – 2 tetes barium klorida, dan jika
terbentuk endapan putih maka bahan tersebut mengandung sulfat.
Prosedur kerja dalam praktikum
fraksinasi bahan makanan ternak yaitu Siap kan alat penggoyang dan di bersih
kan lalu di pasang dengan baik sesuai dengan ukuran lobang nya, setelah itu
hubung kan kabel ke sumber listrik secara baik. Timbang masing – masing bahan
sebanyak 300 gram, masuk kan secara perlahan – lahan bahan yang telah di
timbang tersebut ke dalam saringan yang paling atas, lalu hidup kan alat
penggoyang selama 15 menitndengan kecepatan 35 rpm, tampung bahan yang ada pada
setiap saringan kemudian timbang.
Metoda yang digunakan dalam praktikum
pembuatan pellet ini yaitu Persiapan bahan baku, dengan menyiapkan paling
sedikit empat jenis bahan baku yang paling umum digunakan dalam penyusunan
ranssum. Bahan pengikat pellet yang digunakan adalah onggok,molases dan
tapioka.
Membuat formulasi ransum, formulasikan
suatu jenis ransum ( ayam pedaging atau ayam petelur ) dari bahan yang
tersedia. Penggunaan bahan pengikat dalam ransum masing-masing banyak 0%,3% dan
% ( setiap fufrmulasi ransum menggunakansuatu bahan pengikat )
Penyusunan
ransum, bahan baku ditimbang sesuai dengan produksi dalam campuran. Ransum
dicampur secara manual hingga distribusi bahan baku diperoleh homogen.
Pembuatan pellet bahan yang telah
dicampur secara homogen dikukus selama 30 menit pembuatan pellet dilkukan
menggunakan alat pellet portable.
Pengepakan
packing tersebut dari karung palastik dengan ukuran 10 x15 cm sebanyak 18 buah.
Ransum di bagi menjadi 3 bagian periode penyimpanan yaitu 0,2, dan 4 minggu dan
setiap periode penyimpanan di ulang sebanyak 2 x.
Pengamatan
fisik pengamatan fisik pelet meliputi warna, bau, dan tekstur. Pengamatan fisik
setelah dilakukan proses pelleting dilakukan. Pengukuran kadar air pengukuran
kadar air menggunakan moisture tester. Ketahanan benturan dan ukuran partikel
bahan dalam kantong plastik, di jatuhkan sleave sheaker (vibrator) dengan
ukuran yaitu 4,,16,30,50,100,400, mesh dan pan. Penyaringan dilakukan selama 15
menit dan dilakukan penimbangan untuk setiap penyaringan.
Metoda pada test aktivitas urease
sesuaikan larutan urea phenol red menjadi warna kuning sawo dengan 0.1 N asam
sulfuric, tempatkan 1 sendok teh campuran bungkil kedel standar ( 1, 3, 5, 7,9,
dan 11 % tepung kacang kedele mentah ), dan bungkil kedele yang akan di uji di
masukkan kedalam beberapa cawan petri, masukkan sampel yang akan di uji pada
bagian tengah.Tambahkan 5 – 8 tetes phenol
red solution yang berwarna kuning sawo, aduk perlahan sampai mengembang
dan membasahi sampel pada cawan. Biarkan selam 5 menit dan banding kan bungkil
kacang kedele ( sampel ) yang di uji dengan sampel standar.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Kerapatan Bahan ( Bulk Density ).
Tabel.1 Bulk
Density
|
Bahan Pakan
|
Bula Density
|
|
Jagung Kasar
|
702-723
|
|
Bungkil Kedele
|
642
|
|
Bungkil Kelapa
|
434
|
|
Tepung Kedele
|
594-610
|
|
Dedal Halus
|
809-822
|
Kerapatan bahan ( bulk density ) statu
bahan pakan yang menggambarkan berat bahan per unit volume. Pengukuran berat dapat dilakukan dengan cara
menimbang sejumlah berat bahan yang di takar. Kerapatan dari statu jenis bahan
pakan yang sama dapat Sangay bervariasi yang di pengaruhi oleh ukuran partikel,
kandungan air, dan kepadatan serta bahan kontaminan yang sengaja di campurkan.
Hasil perhitungan Bulk Density bahan pakan
|
No
|
Bahan Pakan
|
Bulk Density
|
Keterangan
|
|
1
|
Jagung Kasar
|
1160.4
|
Jelek
|
|
2
|
Bungkil
Kedele
|
695,2
|
Jelek
|
|
3
|
Bungkil Kelapa
|
1160,4
|
Jelek
|
|
4
|
Tepung Kedele
|
617,6
|
Jelek
|
|
5
|
Dedak
Halus
|
369,2
|
Jelek
|
Pluske (2000) mengungkapkan
bahwa dedak padi merupakan bahan makanan potensial di wilayah asia pasifik
ditinjau dari ketersediaannya yang tinggi dan persaingannya dengan konsumsi
manusia yang rendah. Umumnya penggunaan dedak padi lebih dari 20 % dari
total ransum akan menghambat pertumbuhan. Salah satu zat makanan yang
potensial yang dikandung oleh dedak padi adalah lemak.
Kualitas Bahan Baku
Hasil Pengamatan Bulk
Density
Berat Nampan = 66,1 gr
Berat Nampan dan sampel
= 279,4 gr
Bulk Density = 279,4 – 66,1
= 213,3 x 4
= 853,2 gr
Dari hasil yang di dapat
kerapatan bahan pakan nya tidak bagus karena hasil yang di dapat nya melebihi
perhitungan yang terddapat pada tabel bulk density.
Antonie ( 1994 ) yang
menyatakan bahwa cara pencegahan kontaminasi jagung adalah memperketat seleksi
jagung, kadar air rendah, fumigasi, sirkulasi udara yang baik, jaga kebersihan
dan pembersihan penyimpanan secara periodik.
Kadar Air
Kadar air dalam pengujian
kualitas bahan baku menggunakan moisture tester. Kadar air maksimum yang di rekomendasikan adalah
15 %. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Jansen. A. H. ( 2003 ) yang menyatakan bahwa kadar
air maksimum yang direkomendasikan adalah 14 – 15 %.
Tabel 2. kadar air dari jagung
|
Kelompok
|
Bahan pakan
|
Sampel
|
Berat sampel (gr)
|
Kadar air (%)
|
|
I
|
Jagung
|
I
|
1.01
|
10.9
|
|
Jagung
|
II
|
1.01
|
12
|
|
|
II
|
Jagung
|
I
|
1.01
|
13
|
|
Jagung
|
II
|
1.00
|
12
|
|
|
III
|
Jagung
|
I
|
1.00
|
12
|
|
Jagung
|
II
|
1.00
|
10.3
|
|
|
IV
|
Jagung
|
I
|
1.00
|
12
|
|
Jagung
|
II
|
1.01
|
11.9
|
|
|
V
|
Jagung
|
I
|
1.00
|
-
|
|
Jagung
|
II
|
1.00
|
-
|
|
|
VI
|
Jagung
|
I
|
1.01
|
11
|
|
Jagung
|
II
|
1.01
|
10.8
|
|
|
VII
|
Jagung
|
I
|
1.00
|
21.7
|
|
Jagung
|
II
|
1.01
|
20.8
|
Kadar air yang terdapat dalam
bahan jagung dalam jumlah sedikit sehingga kualitas jagung dari ini bagus
karena jumlah nya tidak melampaui batas maksimum. Namun pada kelompok 7
hasilnya kurang bagus hal ini disebabkan oleh suhu, kelembaban, dan lama
penyimpanan.
Metode Penyaringan
Tabel 3 hasil pengujian berupa biji jagung yang
pecah, rusak, mati, kotoran, dan jamur.
|
kelompok
|
Bahan yang dites
|
Pecah
|
Rusak
|
Mati
|
Kotoran
|
Jamur
|
|
I
|
Jagung
|
0.9184
|
0.3945
|
0.9522
|
0.1385
|
1.5862
|
|
Jagung
|
0.4535
|
2.1871
|
2.1871
|
0.2140
|
15.2114
|
|
|
II
|
Jagung
|
3.3972
|
4.0070
|
1.9797
|
0.1538
|
1.4490
|
|
Jagung
|
3.3782
|
3.8960
|
1.8538
|
0.180
|
1.5211
|
|
|
III
|
Jagung
|
1.9828
|
1.8932
|
3.1917
|
0.5768
|
3.6994
|
|
Jagung
|
1.9725
|
1.7620
|
3.8010
|
0.5764
|
3.5663
|
|
|
IV
|
Jagung
|
4.7880
|
4.0518
|
0.7407
|
1.1154
|
4.3016
|
|
Jagung
|
1.2990
|
1.1533
|
0.5188
|
0.1517
|
1.6572
|
|
|
V
|
Jagung
|
0.13
|
2.2
|
2.92
|
0.002
|
4.50
|
|
Jagung
|
0.11
|
1.2
|
5.3
|
2.7
|
1.654
|
|
|
VI
|
Jagung
|
0.235
|
0.857
|
0.057
|
2.7
|
1.654
|
|
Jagung
|
0.425
|
0.725
|
0.58
|
0.127
|
1.225
|
|
|
VII
|
Jagung
|
14.9187
|
13.8305
|
4.6223
|
0.1276
|
17.3097
|
|
Jagung
|
14.4281
|
14.937
|
3.4313
|
0.1156
|
15.2114
|
Dalam penentuan kualitas bahan
jagung kita perlu memisah kan antara biji jagung yang pecah, rusak, mati,
kotoran yang terdapat pada jagung, dan jamur. Kerusakan bahan pakan seperti ini
disebabkan oleh kadar air yang terlalu tinggi.
Supriyadi ( 2001) yang
menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya jamur adalah kadar air
yang tinggi, temperature lingkungan yang tinggi, biji rusak dan penyimpanan
jangka lama.
Kadar Aflatoksin
Aflatoksin adalah senyawa racun yang dihasilkan
oleh metabolit sekunder kapang Aspergillus
flavus dan A.parasiticus. Kapang
ini biasanya ditemukan pada bahan pangan/pakan yang mengalami proses pelapukan,
antara lain jagung. Sehingga dalam praktikum ini bahan yang di uji kadar
aflatoksinnya adalah jagung.
Tabel 4. kandungan afltoksin pada bahan yang diuji
|
Kelompok
|
Bahan yang diuji
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
I
|
Jagung
|
48
|
Baik
|
|
II
|
Jagung
|
51
|
Baik
|
|
III
|
Jagung
|
33
|
Baik
|
|
IV
|
Jagung
|
25
|
Baik
|
|
V
|
Jagung
|
46
|
Baik
|
|
VI
|
Jagung
|
40
|
Baik
|
|
VII
|
Jagung
|
53
|
Baik
|
Kualitas jagung untuk pakan ternak antara lain
ditetukan oleh ada tidaknya cemaran aflatoksin pada jagung tersebut. Kandungan
aflatoksin yang tinggi pada jagung sebagai bahan dasar pakan ternak akan
menyebabkan kontaminasi aflatoksin yang tinggi pula pada pakan jadinya, karena
sekitar 50% bahan dasar pakan unggas berasal dari jagung sebagai sumber
karbohidrat. Jika pakan yang tercemar aflatoksin diberikan kepada ternak unggas
(ayam, itik), maka residu aflatoksin akan terdapat pula pada produk ternaknya
seperti telur, daging, dan hati. Kandungan aflatoksin pada produk ternak
akhirnya akan mempengaruhi kesehatan konsumen yang mengkonsumsinya (Budiarso
2001).
Pengujian Kualitas Pellet
Penyusunan ransum ternak dilakukan
dengan memperhatikan kebutuhan komponen-komponen zat pembangun tubuh ternak
dalam proses pertumbuhan. Seperti yang dilakukan pada praktikum kali ini dengan
cara menyusun ransum ransum untuk ayam petelur yang membutuhkan protein kasar
sebesar 17 % dan energi meabolisme sebanyak 2900 kkal, dengan bahan-bahan bahan
penyusun rasum yang terdiri dari jagung , dedak padi, tepung ikan, bungkil
kelapa, bungkil kedele, bungkil inti sawit dan bahan pengikat nya yaitu
molases.
Haris 1993 menyatakan bahwa dalam
penyusunan ransum perlu diperhatikan beberapa kebutuhan zat-zat yang digunakkan untuk pertumbuhan ternak.
Kelompok 1
Kadar Air = 35.9
|
Ukuran Saringan
|
|
|
2
|
3.0
|
|
3
|
2.1
|
|
4
|
4.1
|
|
5
|
0.7
|
|
6
|
0.2
|
Kelompok 2
Kadar Air = 32
|
Ukuran Saringan
|
|
|
2
|
0.1
|
|
3
|
0.1
|
|
4
|
0.4
|
|
5
|
0.01
|
|
6
|
___
|
Kelompok 3
Kadar Air = 40
|
Ukuran Saringan
|
|
|
2
|
1.9
|
|
3
|
0.6
|
|
4
|
1
|
|
5
|
0.2
|
|
6
|
___
|
Dalam pembuatan pellet untuk pakan
ternak unggas sebaik nya menggunakan bahan yang berkualitas baik, tidak mudah
rusak, dan tidak mudah tengik. Oleh
karena itu bila bahan yang mudah rusak
atau mempercepat perubahan cita rasa dan ketengikan penggunaan nya harus
dibatasi. Bahan yang mudah rusak dan tengik seperti bungkil kelapa dan tepung
ikan penggunaan nya tidak boleh terlampau banyak.
Dalam pembuatan pellet pun penggunaan
bungkil inti sawit pun tidak boleh terlalu banyak karena tekstur dari bungkil
ini terlalu kasar sehingga ternak agak kesulitan dalam mencerna nya dan kandungan protein nya terlalu rendah.
Batubara et al. (2003) bungkil inti sawit
dapat digunakan sampai sebesar 40% dalam konsentrat untuk penggemukan ternak
yang ditambah dengan 20% molases.
Test Sekam
Allen (2001) menyatakan bahwa
dedak padi adalah sisa penggilingan atau penumbukan padi. Bahan makanan
tersebut sangat populer dan banyak sekali digunakan dalam ransum ternak.
Dedak padi terdiri dari kulit ari,
menir, dan sekam. Jumlah
sekam dalam dedak padi sangat mempengaruhi kualitas dedak. Dedak padi dengan kandungan sekam yang
tinggi mempunyai kualitas nutrisi yang rendah, begitu pun sebalilk nya apabila
kandungan sekam dalam dedak padi rendah maka kandungan kuallitas nutrisi nya
tingggi atau bagus.
Tabel 5.Hasil pengamatan test sekam
|
Kelompok
|
Nama
Toko
|
Alamat
|
Tanggal pembelian
|
Kadar
Sekam
|
Keterangan
|
|
1
|
|
Jln. Arizona,kel Rawa Sari
|
14 April 2011
|
10 %
|
Baik
|
|
2
|
Ilham Jaya Tani
|
Depan Kuburan Cina
|
12 April 2011
|
20 %
|
Baik
|
|
3
|
Dinjaya
|
Depan Tugu Juang
|
12 April 2011
|
20 %
|
Baik
|
|
4
|
Bakrie Poultry Shop
|
Thehok
|
12 April 2011
|
20 %
|
Baik
|
|
5
|
Pak Ramli
|
Jl. H. Adamalik, no 3 Beringin 4, Jambi
|
12 April 2011
|
20 %
|
Baik
|
|
6
|
Buana
|
Talang
Banjar
|
12 April 2011
|
20 %
|
Baik
|
Sekam yang terdapat dalam bahan makanan harus di periksa karena
hal ini akan menunjukkan kuallitas dari bahan makanan. Bahan makanan dengan
kandungan sekam yang tinggi mempunyaikualitas nutrisi yang rendah. Jika
kandungan sekam yang terdapat dalam bahan makanan rendah maka kandungan nutrisi
yang terdapat dalam bahan makanan tersebut tinggi atau baik.
|
Kelompok
|
Bahan yang di Uji
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
1
|
Jagung
|
Tidakada
endapan
|
Tidak mengandung sulfat
|
|
|
Top mix
|
Ada endapan
|
Mengandung sulfat
|
|
2
|
Bungkil Kelapa
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung sulfats
|
|
|
Topmix
|
Ada endapan
|
Mengandung sulfat
|
|
3
|
Bungkil Kedele
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung sulfat
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
Ada endapan
|
Mengandung endapan
|
|
4
|
Bunkil Inti Sawit
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung sulfat
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung sulfat
|
|
5
|
Tepung Ikan
|
Ada endapan
|
Mengandung sulfat
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
Ada endapan
|
Mengandung sulfat
|
|
6
|
Dedak Padi
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung sulfat
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung sulfat
|
Setelah di lakukan uji terhadap
sembilan bahan ternyata yang mengandung sulfat hanya empat bahan saja yaitu
topmix, serbuk batu bata, tepung ikan, dan tepung kulit kerang. Sulfat sering
digunakan dalam penyusunan ransum, maka perlu sekali tepung ikan dimasukkan
kedalam ransum, terutama untuk ransum unggas. Hal ini sesuai dengan pendapat
soerdono (2001) mengatakan bahwa kualitas tepung ikan cukup bagus karena mengandung sulfat.
Tabel 7.Uji klorida
|
Kelompok
|
Bahan yang di Uji
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
1
|
Jagung
|
Tidak
ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
|
Top mix
|
Ada endapan
|
Mengandung Klorida
|
|
2
|
Bungkil Kelapa
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
|
Topmix
|
Ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
3
|
Bungkil Kedele
|
Tidak ada endapan
|
Mengandung klorida
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
4
|
Bunkil Inti Sawit
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
5
|
Tepung Ikan
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
6
|
Dedak Padi
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
Tidak ada endapan
|
Tidak mengandung klorida
|
Asam nitrat atau nitric acid
atau aqua fortis,
dengan rumus kimia HNO3 adalah asam kuat yang sangat korosif. Berdasarkan
sifatnya, asam nitrat dikelompokkan sebagai salah satu bahan kimia berbahaya atau B3.
Tabel 8.Uji Karbonat
|
Kelompok
|
Bahan yang di Uji
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
1
|
Jagung
|
Tidak
ada buih
|
Tidak mengandung karbonat
|
|
|
Top mix
|
Ada buih
|
Mengandung karbonat
|
|
2
|
Bungkil Kelapa
|
Tidak ada buih
|
Tidak mengandung karbonat
|
|
|
Topmix
|
Ada buih
|
Mengandung karbonat
|
|
3
|
Bungkil Kedele
|
Tidak ada buih
|
Tidak mengandung karbonat
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
Tidak ada buih
|
Tidak mengandung karbonat
|
|
4
|
Bunkil Inti Sawit
|
Tidak ada buih
|
Tidak mengandung karbonat
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
Tidak ada buih
|
Tidak mengandung karbonat
|
|
5
|
Tepung Ikan
|
Tidak ada buih
|
Tidak mengandung karbonat
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
Ada buih
|
Mengandung karbonat
|
|
6
|
Dedak Padi
|
Tidak ada buih
|
Tdak
mengandung karbonat
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
Ada buih
|
Mengandung karbonat
|
Setelah di lakukan uji karbonat
terhadap bunkil kelapa, bungkil kedele,
bungkil inti sawit, jagung, dedak padi, tepung ikan, tepung kulit kerang,
topmix, dan serbuk batu bata ternyata yang mengandung karbonat hanya topmix dan
tepung kulit kerang saja.
Hal ini sesuai dengan pendapat
Anggorodi (2000) menyatakan bahwa tepung kulit kerang merupakan sumber kalsium
dan fosfor yang baik akan tetapi protein dalam tepung yang diukur mutunya
sangat rendah karena kandungan gelatinnya tinggi, dan tepung kulit kerang ini
ini juga mengandung karbonat.
Tabel 9. Uji Garam
|
Kelompok
|
Bahan yang di Uji
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
1
|
Jagung
|
-
|
-
|
|
|
Top mix
|
-
|
-
|
|
2
|
Bungkil Kelapa
|
0.3 %
|
Mengandung garam
|
|
|
Topmix
|
0.1 %
|
Mengandung garam
|
|
3
|
Bungkil Kedele
|
0.3 %
|
Mengandung garam
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
-
|
-
|
|
4
|
Bunkil Inti Sawit
|
-
|
-
|
|
|
Serbuk Batu Bata
|
-
|
-
|
|
5
|
Tepung Ikan
|
-
|
-
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
> 0.3 %
|
Mengandung garam
|
|
6
|
Dedak Padi
|
-
|
-
|
|
|
Tepung Kulit Kerang
|
> 0.3 %
|
Mengandung garam
|
Setelah di lakukan ji garam ternyata
bahan yang mengandung garam diantaranya bungkil kelapa, bungkil kedele, topmix,
dan tepung kulit kerang. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Murtidjo (2000)
menyatakan bahwa bahwa dedak padi, tepung ikan dan bungkil kelapa tidak mengandung
garam. Padahal setelah di uji bungkil kelapa mengandung garam sebesar 0.3 %.
Fraksinasi Bahan Makanan Ternak
Kelompok 1 ( Satu )
Tabel 10. Bungkil Inti Sawit
|
No saringan
|
Ukuran saringan
|
Berat ( gr )
|
Tekstur ( kasar atau halus)
|
|
1
|
1.40
|
129.3
|
Kasar
|
|
2
|
1.00
|
81.2
|
Kasar
|
|
3
|
7.0
|
56.4
|
Kasar
|
|
4
|
250
|
18.7
|
Halus
|
|
5
|
90
|
-
|
-
|
|
6
|
Terakhir
|
-
|
-
|
Bungkil inti sawit (BIS) merupakan salah satu hasil samping
pengolahan inti sawit dengan kadar 45-46% dari inti sawit. BIS umumnya
mengandung air kurang dari 10% dan 60% fraksi nutrisinya berupa
selulosa, lemak, protein, arabinoksilan, glukoronoxilan, dan mineral. Dengan
komposisi gizi serta produksinya yang relatif banyak, BIS berpotensi sebagai
bahan pakan, baik untuk ternak ruminansia maupun
nonruminansia.
Tabel 11. Bungkil kedele
|
No saringan
|
Ukuran saringan
|
Berat ( gr )
|
Tekstur ( kasar atau halus)
|
|
1
|
1.40
|
0.8
|
Kasar
|
|
2
|
1.00
|
2.6
|
Kasar
|
|
3
|
7.0
|
26.4
|
Halus
|
|
4
|
250
|
235.7
|
Halus
|
|
5
|
90
|
12.8
|
Halus
|
|
6
|
Terakhir
|
4.2
|
Halus
|
Bungkil kedelai merupakan limbah dari
industri minyak biji kedelai. Kandungan protein bungkil kedele yang diperoleh
secara mekanik adalah 41% dan mempunyai kandungan lemak 4,8%. Sedangkan yang
diperoleh dengan pelarutan mempunyai kandungan lemak sebesar 1,32%. Bungkil
kedelai agak rendah mengandung kalsium (0,27%). Kandungan phospor lebih rendah dibandingkan dengan
bungkil biji kapas yaitu rata-rata 0,63%. Seperti biji kedelai, bungkil kedelai
tidak menyediakan karoten dan vitamin D. Bungkil kedelai tidak kaya riboflavin
tetapi kandungannya lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dan butiran
lainnya. Kandungan niacin tidak tinggi, kandungan thiamin bungkil kedelai sama
dengan butiran lainnya.
Tabel 12. Bungkil kelapa
|
No saringan
|
Ukuran saringan
|
Berat ( gr )
|
Tekstur ( kasar atau halus)
|
|
1
|
1.40
|
1
|
Kasar
|
|
2
|
1.00
|
6.8
|
Kasar
|
|
3
|
7.0
|
225.1
|
Kasar
|
|
4
|
250
|
87.1
|
Halus
|
|
5
|
90
|
2.4
|
Halus
|
|
6
|
Terakhir
|
0.1
|
Halus
|
Bungkil kelapa sangat mudah
didapatkan. Harganya pun jauh lebih murah bila dibandingkan dengan bungkil
kacang tanah. Kadar proteinnya paling rendah diantara bungkil-bungkil yang
lain, namun nilai martabat makanannya cukup tinggi karena zat-zat yang dikandung bungkil kelapa mudah dicerna.
Tabel 13. Jagung
|
No saringan
|
Ukuran saringan
|
Berat ( gr )
|
Tekstur ( kasar atau halus)
|
|
1
|
1.40
|
157.6
|
Kasar
|
|
2
|
1.00
|
36.6
|
Kasar
|
|
3
|
7.0
|
41.5
|
Kasar
|
|
4
|
250
|
53.6
|
Halus
|
|
5
|
90
|
5.9
|
Halus
|
|
6
|
Terakhir
|
___
|
-
|
Jagung merupakan komponen
utama yang dominan dalam formulasi pakan unggas. Selaras dengan pertumbuhan
pesat industri unggas Indonesia, kebutuhan jagung di dalam negeri dalam
beberapa dekade terakhir juga ikut meningkat. Produksi dalam negeri terus
didorong naik, tetapi impor jagung masih tetap harus dilakukan sementara
hargapun terus naik. Haris (
2003 ) yang menyatakan bahwa dalam bahan pakan jagung kita perlu mengetahui
kadar air yang terdapat pada jagung tersebut dan juga kadar aflatoksin sehingga
jagung yang diharapkan akan mempunyai kualitas yang baik.
Tabel 14. Tepung ikan
|
No saringan
|
Ukuran saringan
|
Berat ( gr )
|
Tekstur ( kasar atau halus)
|
|
1
|
1.40
|
93.8
|
Kasar
|
|
2
|
1.00
|
25.6
|
Kasar
|
|
3
|
7.0
|
100.3
|
Kasar
|
|
4
|
250
|
88
|
Halus
|
|
5
|
90
|
0.8
|
Halus
|
|
6
|
Terakhir
|
___
|
-
|
Tepung ikan (marine fish meal) adalah salah satu produk pengawetan ikan dalam bentuk kering, kemudian
digiling menjadi tepung. Bahan baku tepung ikan umumnya adalah ikan-ikan yang
kurang ekonomis, hasil sampingan penangkapan dari penangkapan selektif, glut
ikan (ikan yang melimpah) pada musim penangkapan dan sisa-sisa pabrik
pengolahan ikan seperti pabrik pengalengan dan pembekuan ikan dan minyak ikan.
Tabel 15. Dedak Padi
|
No saringan
|
Ukuran saringan
|
Berat ( gr )
|
Tekstur ( kasar atau halus)
|
|
1
|
1.40
|
252.1
|
Kasar
|
|
2
|
1.00
|
3.7
|
Kasar
|
|
3
|
7.0
|
14
|
Kasar
|
|
4
|
250
|
24.0
|
Halus
|
|
5
|
90
|
17,1
|
Halus
|
|
6
|
Terakhir
|
____
|
-
|
Dedak padi merupakan hasil sisa dari penumbukan
atau penggilingan gabah padi. Dedak tersusun dari tiga bagian yang masing
masing berbeda kandungan zatnya.
Ketiga bagian tersebut adalah:Kulit gabah yang banyak mengandung serat kasar dan mineral, Selaput
perak yang kaya akan protein dan vitamin B1, juga
lemak dan mineral, lembaga beras yang sebagian besar terdiri dari karbohidrat yang mudah dicerna. Berhubung dedak merupakan campuran dari
ketiga bagian tersebut diatas maka nilai/martabatnya selalu berubah-ubah
tergantung dari proporsi bagian-bagian tersebut. Menurut kelas nilainya, dedak
dibagi menjadi empat kelas yaitu dedak kasar, dedak halus biasa, dedak lunteh,
bekatul.
Test Aktivitas Urease
Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai.
Kandungan protein bungkil kedele yang diperoleh secara mekanik adalah 41% dan
mempunyai kandungan lemak 4,8%. Sedangkan yang diperoleh dengan pelarutan mempunyai
kandungan lemak sebesar 1,32%.
Bungkil kedelai agak rendah mengandung
kalsium (0,27%). Kandungan
phospor lebih rendah dibandingkan dengan bungkil biji kapas yaitu rata-rata
0,63%. Seperti biji kedelai, bungkil kedelai tidak menyediakan karoten dan
vitamin D.
Rahayu ( 2000 ) menyatakan
bahwa bungkil kedele tanpa kulit ekstrak kimia diproduksi dengan memecah,
memanaskan dan mengelupas kacang kedele, sedangkan minyaknya diekstraksi
menggunakan hexane. Serpihan hasil ekstraksi dipanggang dan digiling untuk
menghasilkan bungkil kedele.
Tabel 16.Pengamatan urease
|
Kelompok
|
Bahan yang di
uji
|
Hasil
|
Keterangan
|
|
1
|
Bungkil Kedele
|
Overcooked
|
-
|
|
2
|
Bungkil Kedele
|
Slighly Active
|
3 %
|
|
3
|
Bungkil Kedele
|
Overcooked
|
-
|
|
4
|
Bungkil Kedele
|
Slighly Active
|
1 %
|
|
5
|
Bungkil Kedele
|
Overcooked
|
-
|
|
6
|
Bungkil Kedele
|
Overcooked
|
-
|
Setelah di lakukan test
terhadap aktifitas urease dalam bungkil kedele ternyata yang mendapat kan hasil
dan di dapat skala slighly active hanya kelompok dua dan kelompok empat sedang
kan yang lain hasil nya overcooked. Pada slighly active dari bungkil kedele
kelompok empat mendekati standar yang 1 % dan yang kelompok dua 3 %. Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO.
Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan
Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea,
carbonyl diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik
sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa
anorganik, yang
akhirnya meruntuhkan konsep vitalisme.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Setelah melaksanakan praktikum
Industri Makanan Ternak dapat di simpulkan bahwa setiap bahan pakan memiliki
kandungan nutrisi dan zat antinutrisi yang berbeda sehingga harus diperhatikan
cara pengolahan yang benar sehingga dapat menghasilkan pakan yang baik dan
berkualitas.
Saran
Agar pelaksanaan praktikum Industri
Makanan Ternak kedepannya lebih baik lagi di harapkan praktikan lebih
memperhatikan prosedur kerja yang benar untuk memperoleh hasil praktikum yang
lebih tepat dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Allen. 2001. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.
Anggorodi . 2003 . Ilmu Makanan Ternak
Umum. Cetakan ke-4. PT Gramedia.
Jakarta.
Biranto. 2001. Industri Ransum Ternak . PT Gramedia . Jakarta.
Batubara et
al. 2000 . Pakan Alternatif Untuk
Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Boediono.2001.Mikotoksin Pangan. Pusat
Antar Universitas Pangan dan Gizi.Universitas Gadjah Mada. Penerbit Kanisius,
yogyakarta.
Buckle. 2000. Membuat Pakan Unggas. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Diener . 2001 . Diener 2001 Aflatoxin formation by Aspergillus
flavus. In L.A. Goldlatt
(Ed.). Aflatoxin.
Academic Press, New York.
Earnshaw. 2001 . Chemistry of the Elements, 2nd ed.
Butterworth-Heinemann. Oxford,UK.
1997.
Gass. S. I. 2003. Linies programming methods and aplications Foorth
editions me Grow.Hill kogakhusha.
Haris.2001
. Theory and Problems of operations Research Series.
Hill book Company.New York
Jansen, A, H.
2001. Dietary nutrion Allowances for Swine, feed
stef Vol. 54. Newyork.
Juju wahyu. 2003. Ilmu
Makanan Ternak Unggas.
Kansius . Yogyakarta.
Lyons, T.P. 2001. A new era in
animal production: the arrival of scientifically provennatural alternatives. In 11th annual Asia
Pacific Lecture Tour.
Mulyono. 2003. Membuat
Pakan Unggas. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Murtadi.2000.
Pedoman Meramu Pakan Unggas. Konisius (Anggota IKAPI):
Yogyakarta.
Murtidjo .B.A. 2000. Pedoman Meramu Pakan
Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Nahm, K.H. 2000. Bahan Pakan Unggas
Indonesia. Kanisius. Yogyakarta.
Pluske , J.R. 2001. Defining
the future role of enzymes within the asia pacific
region. . In 11th annual Asia
Pacific Lecture Tour. 45-64.
Raghavan. 2003. Enzim Pangan.
Gramedia, Jakarta.
Rahayu. 2000 . Penggunaan Bungkil Kedele Untuk Pakan. Gramedia. Jakarta.
Rasid. 2003.
302 Formulasi Pakan Lokal Alternatif Untuk Unggas. PT Swadaya: Bogor.
Ravindran. 2001. Poultry Nutrion.
Fifth edition. The Ray libis. Co Pasaduna California.
LAMPIRAN
Kualitas Bahan Baku
Kelompok 1.
Jagung 1 = 0.9184 + 0.3945 + 0.9522 + 0.1385 +
1.5862 = 3.9898
3,9898
3,9898
3,9898
3,9898
3,9898
Jagung 2 = 0,4535 + 2,1871 + 2,1871 +0,2140 + 15,2114 = 20,2531
20,2531
20,2531
20,2531
20,2531
20,2531
Kelompok II
Jagung 1 = 3,3972 + 4,0070 + 1,9797 + 0.1538 +
1,4490 = 10,9867
10,9867
10,9867
10,9867
10,9867
10,9867
Jagung 2 = 3,3782 + 3,8960 + 1,8538 +0,180 + 1,5211 = 10,8291
10,8290
10,8290
10,8290
10,8290
10,8291
Kelompok III
Jagung 1 = 1.9828 + 1.8932 + 3.1917 + 0.5768 +
3.6994 = 11.3439
11.3439
11,3439
11,1917
11,1917
11,1917
Jagung 2 = 1,9725 + 1,7620 + 3,8010 +0,5764 + 3,5663 = 11,6782
11,6782
11,6782
11,6782
11,6782
11,6782
kelompok IV
Jagung 1 = 4,7880 + 4,0518 + 0,7407 + 1,1154 +
4,3016 = 14,9975
14,9975
14,9975
14,9975
14,9975
14,9975
Jagung 2 =1,2,990 + 1,1533 + 0,5188 + 0,1517 + 1,6572 = 4,78
4,78
4,78
4,78
4,78
4,78
Kelompok V
Jagung 1 = 0,13 + 2,2 + 2,92 + 0.02 + = 9,752
9,752
9,752
9,752
9,752
9,752
Jagung 2 = 0,11 + 1,2 + 5,3 +2,7 + 1,654 = 10,964
10,964
10,964
10,964
10,964
10,964
Kelompok VI
Jagung 1 = 0,235 + 0,857 + 0.057 + 2,7 +1,657 = 5,503
5,503
5,503
5,503
5,503
5,503
Jagung 2 = 0,425 + 0,725 + 0,58 +0,127 + 1,225 = 3,082
3,082
3,082
3,082
3,082
3,082
Kelompok VII
Jagung 1 = 14,9187 + 13,8305 + 4,6223 + 0,1276 +
17,3097 = 50,8088
50,8088
50,8088
50,8088
50,8088
50,8088
Jagung 2 = 14,4281 + 14,937 + 3,413 +0,1156 + 15,2114 = 48,1234
48,1234
48,1234
48,1234
48,1234
48,1234
Tidak ada komentar:
Posting Komentar