Translate To

Kamis, 11 April 2013

Praktikum Manajemen Ternak Kambing


PENDAHULUAN



Latar Belakang

Ternak ruminansia kecil, seperti kambing memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk dikembangkan secara optimal.  Permintaan akan produknya akan memberikan peningkatan pendapatan dalam masyarakat disamping sebagai penyedia lapangan kerja.  Ditinjau dari aspek pasar, pengembangan agribisnis kambing mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan.
Sub sektor peternakan seperti halnya sub sektor lainnya pada sektor pertanian memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk dikembangkan sehingga perlu untuk diantisipasi secara optimal.  Permintaan produk peternakan terhadap peningkatan pendapatan dalam masyarakat akan membawa perubahan pada permintaan akan produk peternakan  (Rismansyah, 2004).
Ternak kambing mempunyai beberapa keunggulan diantaranya  mudah menyesuaikan diri dengan berbagai macam kondisi lingkungan yang ekstrim seperti suhu udara dan ketersediaan pakan.  Kebutuhan modal yang diperlukan untuk kambing jauh lebih rendah dibandingkan untuk ternak ruminansia besar seperti sapi dan kerbau.  Ternak kambing sudah lama diketahui sebagai ternak yang diusahakan oleh petani miskin karena cocok dipelihara di daerah kering dengan kualitas tanah yang sangat marginal.  Digunakan sebagai tabungan hidup yang sewaktu-waktu dapat dijual apabila diperlukan (Djafar, 2004).
Ditinjau dari aspek pasar, pengembangan agribisnis kambing mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan.  Kebutuhan konsumsi dalam negeri saja dibutuhkan tidak kurang dari 5,6 juta ekor/tahun.  Ditambah dengan permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Arab Saudi permintaan tersebut semakin sulit untuk dipenuhi.  Untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji pada hari raya Idul Adha, Arab Saudi memerlukan kambing dan domba sebanyak 2,5 juta ekor/tahun.  Sementara itu, Malaysia dan Brunei Darussalam memerlukan 200 ribu/tahun dengan harga penawaran Rp. 1,6 juta/ekor untuk satu tahun.  Namun hampir semua potensi permintaan ekspor tersebut belum dapat dipenuhi (Djafar, 2004).
Hingga saat ini ternak kambing belum diusahakan secara komersial, dan masih merupakan komponen dari sistem usahatani.  Pengembangan usaha yang lambat, saat ini masih bersifat sebagai usaha sampingan.  Banyak hal yang mempengaruhi kondisi demikian, antara lain : sumberdaya manusia, sumber daya alam, kemampuan finansial petani yang rendah, serta akses permodalan yang lemah.
Secara konsepsional  sistem agribisnis peternakan dapat diartikan sebagai semua aktivitas, mulai dari pengadaan atau penyaluran sarana produksi, budidaya ternak, sampai kepada pengolahan hasil serta pemasaran produk usaha ternak.  Suatu sistem dapat berjalan dengan baik apabila ada dukungan dari berbagai kelembagaan yang difungsikan sesuai  dengan peranannya.  Dengan demikian, sistem agribisnis peternakan merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai sub sistem, yaitu sub sistem sarana produksi, produksi dan budidaya, pengolahan dan pasca panen produk, pemasaran serta kelembagaan pendukung (Karo Karo, 2004).
Peternakan kita yang sebagian besar dikelola oleh petani dan peternak dengan jumlah kepemilikan ternak yang relatif sedikit.  Untuk meningkatkan produktivitasnya tidaklah mudah karena permasalahan yang ada di dalamnya demikian kompleks.  Progam pemerintah cukup banyak dalam mengembangkan agribisnis di wilayah pedesaan seperti membangun sentra produksi dan berbagai jenis bantuan modal dan teknologi, diharapkan dapat mengarahkan usaha pertanian dari yang bersifat tradisional menjadi industri.



Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk belajar bekerja secara langsung dalam pengelolaan usaha peternakan kambing  yang ditekankan pada tatalaksana pemeliharaan dan tata cara pemberian pakan, serta pemberian vaksin atau pemberian obat pada ternak yang terkena penyakit di peternakan kambing Mat Beken. Manfaat yang diperoleh dari praktikum adalah mahasiswa mampu merasakan dan menganalisa masalah-masalah yang ada pada usaha peternakan kambing , yang pada gilirannya mampu menerapkan strategi yang tepat untuk pemecahannya serta memberi tambahan informasi dan wawasan ilmu pengetahuan di bidang peternakan. Selain itu, mahasiswa memiliki pengalaman praktis dalam kegiatan pengelolaan usaha kambing  sebagai bekal kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.

























MATERI DAN METODA


Waktu dan Tempat

Magang  ternak kambing  dilaksanakan  selama satu minggu di mulai tanggal 28 maret – 3 april 2011 bertempat dikandang kambing mad beken.
Materi
Materi  yang digunakan dalam pelaksanaan magang kambing di mad beken adalah kandang kambing, kambing PE dan kambing kacang, pakan, alat-alat untuk menyembelih ternak,timbangan , sapu lidi, alat tulis , serta kamera.

Metode

            Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data kegiatan magang di  Mad Beken kambing PE dan Kambing kacang  yaitu :
1.      Pengamatan langsung partisipasi yaitu melakukan observasi dengan cara mengamati dan ikut melakukan pekerjaan yang di lakukan dikandang.
2.      Melakukan wawancara(interview) secara langsung dengan pekerja.
3.      Merekam situasi untuk dokumentasi misalnya foto.
4.      Melakukan pencatatan pemotongan kambing.












HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Usaha Peternakan Kambing Di Mat Beken

Usaha peternakan kambing ini berlokasi di jalan Tarumanegara, Kel. Tanjung Pinang, kec. Jambi timur. Merintis usaha berjualan daging kambing di los Pasar Angso Duo sejak tahun 1987 ternyata membuahkan hasil bagi Mamat yang lebih dikenal dengan panggialn Mat Beken,. Usahanya cepat berkembang hingga kini memiliki ratusan kambing untuk dijual.  sejak tahun 1996 mat beken sudah bisa punya tempat sendiri. Setahun lalu mat beken merenovasi serta membeli tanah untuk perluasan kandang,  dan menginvestasikan sekitar Rp 750 juta untuk kandang kambingnya.                                                                                        Lokasi peternakan ini sebenarnya sangat dekat dengan rumah penduduk, akan tetapi sampai saat ini warga sekitar belum ada yang merasa terganggu dengan polusi yang ditimbulkan dari limbah yang di berasal dari peternakan ini, terutama bau yang tidak enak, hal ini dikarenakan di peternakan ini ada penanganan khusus untuk hal-hal tersebut.                                                                              Jumlah pekerja di peternakan ini sebanyak 9 orang, yang masing-masing mempunyai tugas mulai memberi makan, membersihkan kandang dan sanitasi dan memotong kambing, khusus tukang potong merupakan imam masjid di sekitarnya. pemberian pakan sampai. biasanya  bagi yang berhasil menjual satu ekor kambing akan diberikan komisi Rp 20 ribu. Bisa dibayangkan sendiri jika dalam satu bulan satu karyawan bisa menjual 100 ekor, maka hasilnya sangat besar, ditambah lagi dengan gaji pokok untuk masing-masing karyawan sebesar Rp 800 ribu.                   Sebenarnya bentuk dari usaha ini adalah memasok ternak kambing dari beberapa daerah kemudian dijual kembali ke pasaran, ternak kambing ini didatangkan dari Palembang dan Lampung  kambing yang di pilih yaitu jenis kambing PE dan kambing kacang. Biasanya tenak kambing ini didatangkan 2 kali seminggu. Akan tetapi keadaan ini dapat berubah jika persediaan tarnak cukup banyak maka pemasokan kambing hanya 1 kali seminggu. Pada awalnya pola pambelian kambing ini yaitu dhargai per ekor, namun karena hasilnya kurang jelas maka Mat Beken mengubah polanya menjadi pola timbang, yaitu 1 ekor kambing di hargai berdasarkan bobot badannya.

Tatalaksana pemeliharaan kambing
1.      System Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan yang digunakan di peternakan mat beken adalah sistem pemeliharaan secara intensif yaitu menempatkan kambing dalam kandang terus-menerus, sehingga memudahkan dalam pemberian pakan dan pemantauan kesehatan ternak. Menurut Williamson dan Payne (1993), sistem ini dapat mengontrol faktor lingkungan yang tidak baik dan mengontrol aspek-aspek kebiasan kambing yang merusak. Untuk memudahkan dalam pengontrolan ternak, mulai melakukan rekording pada ternak. Kegiatan ini dilakukan untuk memudahkan dalam pengelolaan atau pemeliharaan ternak. Hal-hal yang dicatat dalam kartu rekording antara lain jenis kelamin, nomor ternak, penyakit, umur, keadaan ternak dan jenis pakan yang diberikan. Rekording di peternakan ini masih banyak kekurangannya, antara lain belum ada data tentang induk ternak, kebuntingan, dan cara perkawinan (IB atau alami)..
·         Perawatan Tubuh Ternak , Kandang dan Perlengkapanya
Perawatan tubuh ternak dilaksanakan setiap pagi mulai pukul 06.00 WIB dengan cara membersihkan kotoran ternak yang menempel pada bagian tubuhnya.Kandang dibersihkan setiap pagi hari bersamaan dengan membersihkan tubuh ternak, pembersihan bak pakan dibersihkan sebelum distribusi pemberian pakan. Untuk pembersihan alat kandang dari kotoran dengan sekop dan menempatkannya kedalam wadah baskom, kemudian lantai disapu menngunakan sapu lidi .pembersiahan kolong kandang dengan selang karet dan disiram dengan air kemudian membersihkan saluran air limbah setelah itu mengumpulkan seluruh kotoran ternak yang berada dimasing-masing baskom untuk dijual dengan harga Rp. 10.000/karung, dan itu juga merupakan bonus untuk karyawan.                                         Kambing yang baru didatangkan dari Palembang ataupun lampung diistirahatkan terlebih dahulu kemudian baru ditimbang, tentu saja berbeda perlakuannya antara kambing jantan dengan kambing betina,jika kambing betina yang telah ditimbang segera di tempatkan dikandang lain halnya dengan kambing jantan. Kambing jantan mempunyai perlakuan khusus yaitu di mandikan terlebih dahulu kemudian baru diberikan salep mata setelah itu baru diistirahatkan. Hal ini tidak lain karena kambing jantan selain dijual dipasaran juga dipersiapkan sebaik mungkin untuk keperluan akikah.
·         Kandang
Tipe kandang yang dimiliki peternakan ini merupakan tipe kandang panggung, sehingga ternak tidak langsung bersentuhan dengan lantai bawah kandang, akibatnya ternak tidak mudah terserang penyakit. Menurut Mulyono (2003), kandang panggung merupakan kandang yang konstruksinya dibuat panggung atau di bawah lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran. Kolong dapat menghindari kebecekan, menghindari kontak dengan tanah yang mungkin tercemar penyakit, dan memungkinkan ventilasi kandang yang lebih bagus. Kandang di peternakan ini mempunyai konstruksi yang kuat. Dinding kandang terbuat dari kayu yang disusun sedemikian rupa, supaya sinar matahari dapat masuk, dengan tiang penyangga yang terbuat dari kayu balok dan lantai yang disusun untuk memudahkan dalam sanitasi .Hal ini sesuai pendapat  Devendra dan Burns (1994) yaitu, apapun tipe kandang, kandang itu harus mendapat cukup sinar matahari, ventilasi serta drainasi yang baik dan mudah untuk dibersihkan.                                     Kandang yang yang disediakan terdiri dari 2 tingkat, tingkat 1 diisi penuh ternak kambing, sedangkan tingkat 2 di gunakan jika mereka memasok kambing dalam jumlah banyak misalnya pada saat lebaran. Karena jarak antara kandang tingkat 2 dengan tanah cukup tinggi maka dibawahnya di manfaatkan untuk kandang kambing betina, kandang tersebut lantainya berupa semen. Di peternakan ini kambing jantan dan betina kandangnya dipisahkan, hal ini dimaksudkan agar kambing-kambing tidak ribut.                                                                                                            Di peternakan ini juga tersedia tempat pemotongan ternak lengkap dengan tempat pembuangan limbahnya, karena selain pemotongan rutin untuk dipasarkan ke pasar Angso Duo,  konsumen yang datang baik untuk membeli kambing untuk keperluan akikah ataupun konsumsi sendiri juga meminta kambingnya untuk dipotong di sini.
·         Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa hijauan segar yang berupa rumput bulu dan rumput pahit. Pakan hijauan segar diberikan dua kali sehari pada pukul 07.00 WIB dan pukul 17.00 WIB secara .mungkin karena bukan merupakan usaha penggemukan maka pak mat beken   tidak memberikan konsentrat pada ternak kambing tersebut.sebenarnya hal ini cukup riskan mengingat konsentrat merupakan salah satu dari koponen penting untuk pemenuhan nutrisi ternak, hal ini sesuai dengan pendapat  Siregar (1994), pakan yang diberikan sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan zat gizinya terdiri atas rumput lapangan, daun ketela dan konsentrat. Dijelaskan lebih lanjut, hijauan merupakan pakan yang mengandung serat kasar atau bahan tidak tercerna relatif tinggi. Setiawan dan Tanius (2003), berpendapat bahwa secara umum jenis pakan yang diberikan pada kambing Peranakan Ettawa terdiri dari tiga jenis yaitu, pakan kasar, pakan penguat, dan pakan tambahan atau suplemen. Dijelaskan lebih lanjut, pakan kasar merupakan bahan pakan berkadar serat kasar tinggi. Bahan ini berupa pakan hijauan dan dedaunan. Pakan penguat merupakan bahan pakan berkadar serat rendah dan mudah dicerna seperti bekatul, ampas tahu, dan bubur singkong. Bahan pakan suplemen misalnya sejenis probiotik seperti Nutri Simba, yang dicampurkan pada hijauan. Probiotik ini berpengaruh pada peningkatan kesehatan ternak dan dapat mengurangi bau kotoran ternak. Hijauan yang diberikan pada ternak kambing ini berupa hijauan segar, maka dari itu ternak tidak di berikan lagi air minum, akan tetapi sebenarnya pemberian hijauan segar ini juga berisiko kembung.                                                                                                                    Untuk biaya pakan kambing pak mamat mengeluarkan uang Rp. 300.000/hari, yaitu untuk membeli rumput segar, rumput ini didatangkan pada sore hari, selain untuk pada waktu sore rumput tersebut jaga di sediakan sebagai pakan di waktu pagi keesokan harinya.

·         Sanitasi dan Penanganan Ternak yang Sakit

Sanitasi yang dilakukan di perternakan tersebut sudah cukup baik. Terbukti dari tidak adanya keluhan dari warga sekitar mengenai bau dan limbah, selain itu selama ini mereka belum pernah mendapati ternaknya dalam keadaan sakit yang menghawatirkan. Kegiatan sanitasi yang dilakukan meliputi, sanitasi kandang, sanitasi peralatan, sanitasi lingkungan perkandangan, dan sanitasi pekerja. Kandang dibersihkan 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari sebelum ternak makan.. Sanitasi pekerja dilakukan dua kali sehari (mandi) yaitu sebelum dan sesudah melakukan aktivitas di kandang. Sanitasi pekerja dilakukan agar kebersihan dan kesehatan pekerja dapat terjaga sehingga terhindar dari kuman penyakit yang mungkin berasal dari kambing yang sedang sakit. Pengobatan untuk kambing yang terkena penyakit mata dilakukan dengan cara mengolesi mata dengan salep Terramycin 0,1 %, dan Kambing-kambing yang akan di jual selalu diperiksa kesehatannya. Bukan hanya oleh para karyawan. Tapi juga diperiksa oleh dokter hewan Kota Jambi.

Pemotongan Dan Pemasaran

            61 ekor Kambing yang didatangkan pada hari kamis 31 maret 2011 semuanya kambing betina, karena pada saat itu persediaan kambing jantan masih banyak, dengan berat total 15.935 kg dan total pembyaran untuk 61 ekor kambing tersebut adalah Rp. 35.057.000. dan karena kambing tersebut kambing betina maka setelah di timbang  kambing langsung dikandangkan tanpa pemandian terlebih dahulu.            
Pemotongan kambing dilakukan setiap hari tergantung dari pemesanan, perlu diketahui bahwa konsumen yang meminta ternaknya dipotongkan di tempat ini tidak perlu membayar untuk biaya pemotongan alias gratis, maka dari itu sebagai tukang potong ternak tersebut diambil dari imam masjid.                                        Bobot kambing yang paling tinggi berkisar antara 50 kg, kambing tersebut biasanya berumur 2 th, system penjualannya jika untuk keperluan akikah maka perhitungannya adalah bobot hidup per ekor kambing dikalikan dengan harga jual yaitu Rp.55.000/kg, jika untuk keperluan daging maka dihitung bobot karkasnya, biasanya untuk keperluan tersebut maka yang dipotong adalah kambing betina.                       Jumlah ternak yang dipotong mulai dari tgl 28 maret sampai 3 april adalah 45 ekor, terdiri dari 27 ekor kambing jantan dan 18 ekor kambing betina.akan tetapi yang kami data bobot potongnya hanya 31 ekor ternak, yaitu data yang mulai diambil hari jum’at. Pemotong yang paling banyak adalah pada malam minggu.              

langkah-langkah dalam pemotongan ternak kambing
·         Ternak ditenangkan setelah itu di baringkan dengan posisi kepalanya berada diatas tempat pembuangan limbah, hal ini dimaksudkan agar darah yang keluar langsung dibuang melalui lobang pembuangan limbah.
·         disembelih dengan posisi menghadap kiblat, setelah bebrapa menit ternak tersebut benar-benar mati, lalu potong kepalanya beserta dua kaki bagian depan.
·         Ternak digantung dan mulai dikuliti, setelah selesai pengulitan peru ternak di bedah dan dikeluarkan organ-organnya kecuali ginjal dan testis.
·         Kemudian ternak ditimbang untuk melihat bobot karkasnya, setelah itu karkas mulai dibelah dan direcah.
Dari data yang kami ambil dapat dilihat bahwa rata-rata bobot karkasnya 50% dari bobot hidup, kebanyakan kambing yang jual karkasnya adalah kambing betina, sayangnya tidak jarang pula kambing betina yang dipotong tersebut dalam keadaan hamil, kondisi tentu saja tidak begitu baik karena alangkah baiknya jika kambing yang bunting tersebut di pelihara hingga beranak, dengan itu populasi ternak juga dapat bertambah.

Sedangkan kebanyakan kambing jantan dijual per ekor untuk akikah. Harga beli dan harga jual untuk kambing betina dan jantan tentu saja berbeda, untuk kambing jantan dibeli dengan harga Rp. 38.000/kg dan di jual kembali dengan harga Rp. 55.000/kg, sedangkan untuk kambing betina di beli dengan harga Rp.22.000/kg kemudian dijual dengan harga Rp. 55.000/kg untuk konsumen yang datang langsung dan Rp. 50.000 untuk pembeli yang akan menjual kembali dipasar. Baik kambing PE maupun Kambing Kacang dibeli dan dijual dengan harga yang sama.
Istimewanya disini konsumen terkadang di berikan discount pada saat pembelian, misalnya harga kambing Rp.1.550.000 maka pembeli hanya membayar Rp.1.500.000. dalam 1 minngu PBB kambing dapat mencapai 3 kg, akan tetapi tidak jarang juga kambing-kambing tersebut tidak mengalami pertambahan bobot. Jelas saja untung ruginya sudah dipikirkan baik-baik. Setiap pembeli tidak memerlukan waktu lama untuk bertransaksi, selain itu, kambingpun bisa diantar gratis ke alamat sipembeli.















KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah tatalaksana pemeliharaan ternaknya sudah dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya pengadaan pakan, pengelolaan ternak, sanitasi, pengendalian penyakit dan sistem perkandangannya.

Saran
Sangat disayangkan sekali bahwa usaha peternakan mat beken ini kurang mengindahkan PP yang menyatakan bahwa pelarangan pemotongan ternak betina produktif, karena hal ini dapat menurunkan populasi ternak kambing di Indonesia, dan alangkah baiknya juga jika di peternakan ini dibuat sentra pembibitan ternak kambing.Selain itu untuk menambah penghasilan alangkah baiknya jika limbah cair dari peternakan ini juga diolah.
















DAFTAR PUSTAKA

Devendra, C. Dan M. Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerbit  ITB, Bandung
Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Cetakan kesatu. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Jurgens. M. H. 1993. Animal Feeding and Nutrition. Seventh Edition. Kendall/ Hunt Publishing Company, Dubuque.
Mulyono, S. 2003. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan Ke -V. Penerbit PT Penebar Swadaya, Jakarta.
Mulyono, S dan B. Sarwono. 2005. Penggemukan Kambing Potong. Cetakan kedua. Penebar Swadaya, Jakarta.
Murtidjo, B.A. 2001. Memelihara Kambing sebagai Ternak Potong dan Perah. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
















LAMPIRAN


Lampiran 1. Bobot potong, bobot karkas dan bobot komponen non karkas
no
JK
Ukuran tubuh
Bobot non karkas
BP
(kg)
BK
(kg)
Kulit
(gr)
Kepala
(gr)
SP
(gr)
Kaki
(gr)
Jtg
(gr)
Hati
(gr)
Paru
(gr)
Total
(gr)
1
J
22
11
2000
1800
5500
700
200
450
250
10900
2
J
26
13,5
1700
1700
5500
800
200
500
300
10700
3
J
24
13
2200
1900
5000
730
200
600
250
10880
4
J
24
12
2000
2000
5000
750
250
660
200
10790
5
J
27
13
2700
1800
6500
900
260
450
250
12860
6
J
26
13
2400
1900
5800
880
200
600
300
12080
7
J
28
13,5
2500
1800
6700
700
250
450
250
12650
8
J
26
12
2300
2000
6500
730
200
550
250
12530
9
B
26
12,5
2100
2000
5500
800
250
450
280
11380
10
B
25
12
2000
1900
5400
700
250
450
250
10950
11
B
21
10,5
2200
1800
5500
680
200
430
200
11010
12
B
24
12
2200
2000
5500
730
230
450
250
11360
13
B
22
11
2000
1800
5300
700
200
430
230
10660
14
J
26
14
2800
2300
6500
900
190
450
300
13440
15
J
27
12
2500
2000
6500
900
250
600
300
13050
16
B
28
13
2400
1800
6900
750
250
600
300
13000
17
J
33
13,5
2250
2500
11700
1100
200
700
300
32250
18
J
31
13
2700
2400
10000
900
250
500
300
17050
19
J
29
13,5
2700
2100
8000
900
200
500
250
14650
20
J
21
10
2000
1600
6000
700
180
400
200
11080
21
J
28
14
2400
2500
6000
620
200
500
300
12520
22
J
29
14,5
2900
2400
6500
690
230
440
280
13440
23
J
24
11,5
2000
2000
6000
670
200
400
300
11570
24
B
27
13,5
2100
2200
6500
670
250
300
300
12320
25
B
28
14,5
2600
2500
7000
710
220
430
320
13780
26
B
24
12
2200
2100
6000
650
200
250
250
11650
27
B
22
10
2000
2000
6000
450
190
250
200
11090
28
B
28
14
2500
2400
6400
750
260
320
300
12930
29
B
25
13
2300
2100
6000
600
260
350
250
11860
30
B
23
11
2000
2000
5800
630
250
200
200
11080
31
B
27
13
2600
2400
6300
700
260
400
230
12890


Tidak ada komentar: