PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak ruminansia kecil,
seperti kambing memiliki potensi dan peluang yang cukup besar untuk
dikembangkan secara optimal. Permintaan
akan produknya akan memberikan peningkatan pendapatan dalam masyarakat
disamping sebagai penyedia lapangan
kerja. Ditinjau dari aspek pasar,
pengembangan agribisnis kambing mempunyai prospek yang cukup baik untuk
dikembangkan.
Sub sektor peternakan
seperti halnya sub sektor lainnya pada sektor pertanian memiliki potensi dan
peluang yang cukup besar untuk dikembangkan sehingga perlu untuk diantisipasi
secara optimal. Permintaan produk
peternakan terhadap peningkatan pendapatan dalam masyarakat akan membawa
perubahan pada permintaan akan produk peternakan (Rismansyah, 2004).
Ternak kambing mempunyai beberapa keunggulan
diantaranya mudah menyesuaikan diri
dengan berbagai macam kondisi lingkungan yang ekstrim seperti suhu udara dan
ketersediaan pakan. Kebutuhan modal yang
diperlukan untuk kambing jauh lebih rendah dibandingkan untuk ternak ruminansia
besar seperti sapi dan kerbau. Ternak
kambing sudah lama diketahui sebagai ternak yang diusahakan oleh petani miskin
karena cocok dipelihara di daerah kering dengan kualitas tanah yang sangat
marginal. Digunakan sebagai tabungan
hidup yang sewaktu-waktu dapat dijual apabila diperlukan (Djafar, 2004).
Ditinjau dari aspek
pasar, pengembangan agribisnis kambing mempunyai prospek yang cukup baik untuk
dikembangkan. Kebutuhan konsumsi dalam
negeri saja dibutuhkan tidak kurang dari 5,6 juta ekor/tahun. Ditambah dengan permintaan dari luar negeri
seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Arab Saudi permintaan tersebut semakin
sulit untuk dipenuhi. Untuk memenuhi
kebutuhan jemaah haji pada hari raya Idul Adha, Arab Saudi memerlukan kambing
dan domba sebanyak 2,5 juta ekor/tahun.
Sementara itu, Malaysia dan Brunei Darussalam memerlukan 200 ribu/tahun
dengan harga penawaran Rp. 1,6 juta/ekor untuk satu tahun. Namun hampir semua potensi permintaan ekspor
tersebut belum dapat dipenuhi (Djafar, 2004).
Hingga saat ini ternak
kambing belum diusahakan secara komersial, dan masih merupakan komponen dari
sistem usahatani. Pengembangan usaha
yang lambat, saat ini masih bersifat sebagai usaha sampingan. Banyak hal yang mempengaruhi kondisi
demikian, antara lain : sumberdaya manusia, sumber daya alam, kemampuan
finansial petani yang rendah, serta akses permodalan yang lemah.
Secara konsepsional sistem agribisnis peternakan dapat diartikan
sebagai semua aktivitas, mulai dari pengadaan atau penyaluran sarana produksi, budidaya
ternak, sampai kepada pengolahan hasil serta pemasaran produk usaha
ternak. Suatu sistem dapat berjalan
dengan baik apabila ada dukungan dari berbagai kelembagaan yang difungsikan
sesuai dengan peranannya. Dengan demikian, sistem agribisnis peternakan
merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai sub sistem, yaitu sub sistem
sarana produksi, produksi dan budidaya, pengolahan dan pasca panen produk,
pemasaran serta kelembagaan pendukung (Karo Karo, 2004).
Peternakan kita yang
sebagian besar dikelola oleh petani dan peternak dengan jumlah kepemilikan
ternak yang relatif sedikit. Untuk
meningkatkan produktivitasnya tidaklah mudah karena permasalahan yang ada di
dalamnya demikian kompleks. Progam
pemerintah cukup banyak dalam mengembangkan agribisnis di wilayah pedesaan
seperti membangun sentra produksi dan berbagai jenis bantuan modal dan
teknologi, diharapkan dapat mengarahkan usaha pertanian dari yang bersifat
tradisional menjadi industri.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk belajar bekerja
secara langsung dalam pengelolaan usaha peternakan kambing yang ditekankan pada tatalaksana pemeliharaan
dan tata cara pemberian pakan, serta pemberian vaksin atau pemberian obat pada
ternak yang terkena penyakit di peternakan kambing Mat Beken. Manfaat yang
diperoleh dari praktikum adalah mahasiswa mampu merasakan dan menganalisa
masalah-masalah yang ada pada usaha peternakan kambing , yang pada gilirannya
mampu menerapkan strategi yang tepat untuk pemecahannya serta memberi tambahan
informasi dan wawasan ilmu pengetahuan di bidang peternakan. Selain itu,
mahasiswa memiliki pengalaman praktis dalam kegiatan pengelolaan usaha kambing sebagai bekal kesiapan mahasiswa dalam
menghadapi dunia kerja.
MATERI DAN METODA
Waktu dan
Tempat
Magang ternak
kambing dilaksanakan selama satu minggu di mulai tanggal 28 maret
– 3 april 2011 bertempat dikandang kambing mad beken.
Materi
Materi yang
digunakan dalam pelaksanaan magang kambing di mad beken adalah kandang kambing,
kambing PE dan kambing kacang, pakan, alat-alat untuk menyembelih ternak,timbangan
, sapu lidi, alat tulis , serta kamera.
Metode
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan
data kegiatan magang di Mad Beken
kambing PE dan Kambing kacang yaitu :
1. Pengamatan langsung partisipasi yaitu melakukan observasi
dengan cara mengamati dan ikut melakukan pekerjaan yang di lakukan dikandang.
2. Melakukan wawancara(interview) secara langsung dengan
pekerja.
3. Merekam situasi untuk dokumentasi misalnya foto.
4. Melakukan pencatatan pemotongan kambing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Usaha
Peternakan Kambing Di Mat Beken
Usaha
peternakan kambing ini berlokasi di jalan Tarumanegara, Kel. Tanjung Pinang,
kec. Jambi timur. Merintis usaha berjualan daging kambing di los Pasar Angso
Duo sejak tahun 1987 ternyata membuahkan hasil bagi Mamat yang lebih dikenal
dengan panggialn Mat Beken,. Usahanya cepat berkembang hingga kini memiliki
ratusan kambing untuk dijual. sejak
tahun 1996 mat beken sudah bisa punya tempat sendiri. Setahun lalu mat beken
merenovasi serta membeli tanah untuk perluasan kandang, dan menginvestasikan sekitar Rp 750 juta
untuk kandang kambingnya. Lokasi
peternakan ini sebenarnya sangat dekat dengan rumah penduduk, akan tetapi
sampai saat ini warga sekitar belum ada yang merasa terganggu dengan polusi
yang ditimbulkan dari limbah yang di berasal dari peternakan ini, terutama bau
yang tidak enak, hal ini dikarenakan di peternakan ini ada penanganan khusus
untuk hal-hal tersebut. Jumlah pekerja di peternakan ini
sebanyak 9 orang, yang masing-masing mempunyai tugas mulai memberi
makan, membersihkan kandang dan sanitasi dan memotong kambing,
khusus tukang potong merupakan imam masjid di sekitarnya. pemberian pakan sampai. biasanya bagi yang berhasil
menjual satu ekor kambing akan diberikan komisi Rp 20 ribu. Bisa dibayangkan
sendiri jika dalam satu bulan satu karyawan bisa menjual 100 ekor, maka hasilnya
sangat besar, ditambah lagi dengan gaji pokok untuk masing-masing karyawan
sebesar Rp 800 ribu. Sebenarnya bentuk dari usaha ini
adalah memasok ternak kambing dari beberapa daerah kemudian dijual kembali ke pasaran,
ternak kambing ini didatangkan dari Palembang dan Lampung kambing yang di pilih yaitu jenis kambing PE
dan kambing kacang. Biasanya tenak kambing ini didatangkan 2 kali seminggu.
Akan tetapi keadaan ini dapat berubah jika persediaan tarnak cukup banyak maka
pemasokan kambing hanya 1 kali seminggu. Pada awalnya pola pambelian kambing
ini yaitu dhargai per ekor, namun karena hasilnya kurang jelas maka Mat Beken
mengubah polanya menjadi pola timbang, yaitu 1 ekor kambing di hargai
berdasarkan bobot badannya.
Tatalaksana
pemeliharaan kambing
1. System Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan yang digunakan
di peternakan mat beken adalah sistem pemeliharaan secara intensif yaitu
menempatkan kambing dalam kandang terus-menerus, sehingga memudahkan dalam
pemberian pakan dan pemantauan kesehatan ternak. Menurut Williamson dan
Payne (1993), sistem ini dapat mengontrol faktor lingkungan yang tidak
baik dan mengontrol aspek-aspek kebiasan kambing yang merusak. Untuk memudahkan
dalam pengontrolan ternak, mulai melakukan rekording pada ternak. Kegiatan ini
dilakukan untuk memudahkan dalam pengelolaan atau pemeliharaan ternak. Hal-hal
yang dicatat dalam kartu rekording antara lain jenis kelamin, nomor ternak,
penyakit, umur, keadaan ternak dan jenis pakan yang diberikan. Rekording di
peternakan ini masih banyak kekurangannya, antara lain belum ada data tentang
induk ternak, kebuntingan, dan cara perkawinan (IB atau alami)..
·
Perawatan Tubuh Ternak
, Kandang dan Perlengkapanya
Perawatan
tubuh ternak dilaksanakan setiap pagi mulai pukul 06.00 WIB dengan cara membersihkan
kotoran ternak yang menempel pada bagian tubuhnya.Kandang dibersihkan setiap
pagi hari bersamaan dengan membersihkan tubuh ternak, pembersihan bak pakan
dibersihkan sebelum distribusi pemberian pakan. Untuk pembersihan alat kandang
dari kotoran dengan sekop dan menempatkannya kedalam wadah baskom, kemudian
lantai disapu menngunakan sapu lidi .pembersiahan kolong kandang dengan selang
karet dan disiram dengan air kemudian membersihkan saluran air limbah setelah
itu mengumpulkan seluruh kotoran ternak yang berada dimasing-masing baskom
untuk dijual dengan harga Rp. 10.000/karung, dan itu juga merupakan bonus untuk
karyawan. Kambing yang baru didatangkan dari
Palembang ataupun lampung diistirahatkan terlebih dahulu kemudian baru
ditimbang, tentu saja berbeda perlakuannya antara kambing jantan dengan kambing
betina,jika kambing betina yang telah ditimbang segera di tempatkan dikandang
lain halnya dengan kambing jantan. Kambing jantan mempunyai perlakuan khusus
yaitu di mandikan terlebih dahulu kemudian baru diberikan salep mata setelah
itu baru diistirahatkan. Hal ini tidak lain karena kambing jantan selain dijual
dipasaran juga dipersiapkan sebaik mungkin untuk keperluan akikah.
·
Kandang
Tipe kandang yang dimiliki
peternakan ini merupakan tipe kandang panggung, sehingga ternak tidak langsung
bersentuhan dengan lantai bawah kandang, akibatnya ternak tidak mudah terserang
penyakit. Menurut Mulyono (2003), kandang panggung merupakan kandang yang
konstruksinya dibuat panggung atau di bawah lantai kandang terdapat kolong
untuk menampung kotoran. Kolong dapat menghindari kebecekan, menghindari kontak
dengan tanah yang mungkin tercemar penyakit, dan memungkinkan ventilasi kandang
yang lebih bagus. Kandang di peternakan ini mempunyai konstruksi yang kuat.
Dinding kandang terbuat dari kayu yang disusun sedemikian rupa, supaya sinar
matahari dapat masuk, dengan tiang penyangga yang terbuat dari kayu balok dan
lantai yang disusun untuk memudahkan dalam sanitasi .Hal ini sesuai pendapat
Devendra dan Burns (1994) yaitu, apapun tipe kandang, kandang itu harus
mendapat cukup sinar matahari, ventilasi serta drainasi yang baik dan mudah
untuk dibersihkan. Kandang
yang yang disediakan terdiri dari 2 tingkat, tingkat 1 diisi penuh ternak
kambing, sedangkan tingkat 2 di gunakan jika mereka memasok kambing dalam
jumlah banyak misalnya pada saat lebaran. Karena jarak antara kandang tingkat 2
dengan tanah cukup tinggi maka dibawahnya di manfaatkan untuk kandang kambing
betina, kandang tersebut lantainya berupa semen. Di peternakan ini kambing
jantan dan betina kandangnya dipisahkan, hal ini dimaksudkan agar
kambing-kambing tidak ribut. Di
peternakan ini juga tersedia tempat pemotongan ternak lengkap dengan tempat
pembuangan limbahnya, karena selain pemotongan rutin untuk dipasarkan ke pasar
Angso Duo, konsumen yang datang baik
untuk membeli kambing untuk keperluan akikah ataupun konsumsi sendiri juga
meminta kambingnya untuk dipotong di sini.
·
Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa hijauan
segar yang berupa rumput bulu dan rumput pahit. Pakan hijauan segar diberikan
dua kali sehari pada pukul 07.00 WIB dan pukul 17.00 WIB secara .mungkin karena
bukan merupakan usaha penggemukan maka pak mat beken tidak memberikan konsentrat pada ternak
kambing tersebut.sebenarnya hal ini cukup riskan mengingat konsentrat merupakan
salah satu dari koponen penting untuk pemenuhan nutrisi ternak, hal ini sesuai
dengan pendapat Siregar (1994), pakan
yang diberikan sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak untuk
memenuhi kebutuhan zat gizinya terdiri atas rumput lapangan, daun ketela dan
konsentrat. Dijelaskan lebih lanjut, hijauan merupakan pakan yang mengandung
serat kasar atau bahan tidak tercerna relatif tinggi. Setiawan dan Tanius
(2003), berpendapat bahwa secara umum jenis pakan yang diberikan pada kambing
Peranakan Ettawa terdiri dari tiga jenis yaitu, pakan kasar, pakan penguat, dan
pakan tambahan atau suplemen. Dijelaskan lebih lanjut, pakan kasar merupakan
bahan pakan berkadar serat kasar tinggi. Bahan ini berupa pakan hijauan dan
dedaunan. Pakan penguat merupakan bahan pakan berkadar serat rendah dan mudah
dicerna seperti bekatul, ampas tahu, dan bubur singkong. Bahan pakan suplemen
misalnya sejenis probiotik seperti Nutri Simba, yang dicampurkan pada hijauan.
Probiotik ini berpengaruh pada peningkatan kesehatan ternak dan dapat
mengurangi bau kotoran ternak. Hijauan yang diberikan pada ternak kambing ini
berupa hijauan segar, maka dari itu ternak tidak di berikan lagi air minum,
akan tetapi sebenarnya pemberian hijauan segar ini juga berisiko kembung. Untuk
biaya pakan kambing pak mamat mengeluarkan uang Rp. 300.000/hari, yaitu untuk
membeli rumput segar, rumput ini didatangkan pada sore hari, selain untuk pada
waktu sore rumput tersebut jaga di sediakan sebagai pakan di waktu pagi
keesokan harinya.
·
Sanitasi
dan Penanganan Ternak yang Sakit
Sanitasi yang dilakukan di
perternakan tersebut sudah cukup baik. Terbukti dari tidak adanya keluhan dari
warga sekitar mengenai bau dan limbah, selain itu selama ini mereka belum
pernah mendapati ternaknya dalam keadaan sakit yang menghawatirkan. Kegiatan
sanitasi yang dilakukan meliputi, sanitasi kandang, sanitasi peralatan,
sanitasi lingkungan perkandangan, dan sanitasi pekerja. Kandang dibersihkan 2
kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari sebelum ternak makan.. Sanitasi
pekerja dilakukan dua kali sehari (mandi) yaitu sebelum dan sesudah melakukan
aktivitas di kandang. Sanitasi pekerja dilakukan agar kebersihan dan kesehatan
pekerja dapat terjaga sehingga terhindar dari kuman penyakit yang mungkin
berasal dari kambing yang sedang sakit. Pengobatan untuk kambing yang terkena
penyakit mata dilakukan dengan cara mengolesi mata dengan salep Terramycin 0,1
%, dan Kambing-kambing yang akan di jual selalu
diperiksa kesehatannya. Bukan hanya oleh para karyawan. Tapi juga diperiksa
oleh dokter hewan Kota Jambi.
Pemotongan Dan Pemasaran
61 ekor
Kambing yang didatangkan pada hari kamis 31 maret 2011 semuanya kambing betina,
karena pada saat itu persediaan kambing jantan masih banyak, dengan berat total
15.935 kg dan total pembyaran untuk 61 ekor kambing tersebut adalah Rp.
35.057.000. dan karena kambing tersebut kambing betina maka setelah di
timbang kambing langsung dikandangkan
tanpa pemandian terlebih dahulu.
Pemotongan kambing dilakukan setiap
hari tergantung dari pemesanan, perlu diketahui bahwa konsumen yang meminta
ternaknya dipotongkan di tempat ini tidak perlu membayar untuk biaya pemotongan
alias gratis, maka dari itu sebagai tukang potong ternak tersebut diambil dari
imam masjid. Bobot
kambing yang paling tinggi berkisar antara 50 kg, kambing tersebut biasanya
berumur 2 th, system penjualannya jika untuk keperluan akikah maka
perhitungannya adalah bobot hidup per ekor kambing dikalikan dengan harga jual
yaitu Rp.55.000/kg, jika untuk keperluan daging maka dihitung bobot karkasnya,
biasanya untuk keperluan tersebut maka yang dipotong adalah kambing betina. Jumlah ternak yang
dipotong mulai dari tgl 28 maret sampai 3 april adalah 45 ekor, terdiri dari 27
ekor kambing jantan dan 18 ekor kambing betina.akan tetapi yang kami data bobot
potongnya hanya 31 ekor ternak, yaitu data yang mulai diambil hari jum’at.
Pemotong yang paling banyak adalah pada malam minggu.
langkah-langkah dalam pemotongan ternak kambing
·
Ternak ditenangkan setelah itu di baringkan dengan posisi
kepalanya berada diatas tempat pembuangan limbah, hal ini dimaksudkan agar
darah yang keluar langsung dibuang melalui lobang pembuangan limbah.
·
disembelih dengan posisi menghadap kiblat, setelah bebrapa
menit ternak tersebut benar-benar mati, lalu potong kepalanya beserta dua kaki
bagian depan.
·
Ternak digantung dan mulai dikuliti, setelah selesai
pengulitan peru ternak di bedah dan dikeluarkan organ-organnya kecuali ginjal
dan testis.
·
Kemudian ternak ditimbang untuk melihat bobot karkasnya,
setelah itu karkas mulai dibelah dan direcah.
Dari data yang kami ambil dapat
dilihat bahwa rata-rata bobot karkasnya 50% dari bobot hidup, kebanyakan
kambing yang jual karkasnya adalah kambing betina, sayangnya
tidak jarang pula kambing betina yang dipotong tersebut dalam keadaan hamil,
kondisi tentu saja tidak begitu baik karena alangkah baiknya jika kambing yang
bunting tersebut di pelihara hingga beranak, dengan itu populasi ternak juga
dapat bertambah.
Sedangkan kebanyakan kambing jantan
dijual per ekor untuk akikah. Harga beli dan harga
jual untuk kambing betina dan jantan tentu saja berbeda, untuk kambing jantan
dibeli dengan harga Rp. 38.000/kg dan di jual kembali dengan harga Rp.
55.000/kg, sedangkan untuk kambing betina di beli dengan harga Rp.22.000/kg kemudian
dijual dengan harga Rp. 55.000/kg untuk konsumen yang datang langsung dan Rp.
50.000 untuk pembeli yang akan menjual kembali dipasar. Baik kambing PE maupun
Kambing Kacang dibeli dan dijual dengan harga yang sama.
Istimewanya
disini konsumen terkadang di berikan discount pada saat pembelian, misalnya
harga kambing Rp.1.550.000 maka pembeli hanya membayar Rp.1.500.000. dalam 1
minngu PBB kambing dapat mencapai 3 kg, akan tetapi tidak jarang juga
kambing-kambing tersebut tidak mengalami pertambahan bobot. Jelas saja untung
ruginya sudah dipikirkan baik-baik. Setiap pembeli tidak memerlukan waktu lama
untuk bertransaksi, selain itu, kambingpun bisa diantar gratis ke alamat
sipembeli.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum
ini adalah tatalaksana pemeliharaan ternaknya sudah dilaksanakan dengan baik.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya pengadaan pakan,
pengelolaan ternak, sanitasi, pengendalian penyakit dan sistem perkandangannya.
Saran
Sangat disayangkan sekali bahwa
usaha peternakan mat beken ini kurang mengindahkan PP yang menyatakan bahwa
pelarangan pemotongan ternak betina produktif, karena hal ini dapat menurunkan
populasi ternak kambing di Indonesia, dan alangkah baiknya juga jika di
peternakan ini dibuat sentra pembibitan ternak kambing.Selain itu untuk
menambah penghasilan alangkah baiknya jika limbah cair dari peternakan ini juga
diolah.
DAFTAR PUSTAKA
Devendra,
C. Dan M. Burns. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerbit ITB, Bandung
Kartadisastra,
H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Cetakan kesatu.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Jurgens.
M. H. 1993. Animal Feeding and Nutrition. Seventh Edition. Kendall/ Hunt
Publishing Company, Dubuque.
Mulyono,
S. 2003. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan Ke -V. Penerbit PT
Penebar Swadaya, Jakarta.
Mulyono, S
dan B. Sarwono. 2005. Penggemukan Kambing Potong. Cetakan kedua. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Murtidjo,
B.A. 2001. Memelihara Kambing sebagai Ternak Potong dan Perah. Penerbit
Kanisius, Yogyakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Bobot potong, bobot karkas dan bobot komponen
non karkas
|
no
|
JK
|
Ukuran tubuh
|
Bobot
non karkas
|
||||||||
|
BP
(kg)
|
BK
(kg)
|
Kulit
(gr)
|
Kepala
(gr)
|
SP
(gr)
|
Kaki
(gr)
|
Jtg
(gr)
|
Hati
(gr)
|
Paru
(gr)
|
Total
(gr)
|
||
|
1
|
J
|
22
|
11
|
2000
|
1800
|
5500
|
700
|
200
|
450
|
250
|
10900
|
|
2
|
J
|
26
|
13,5
|
1700
|
1700
|
5500
|
800
|
200
|
500
|
300
|
10700
|
|
3
|
J
|
24
|
13
|
2200
|
1900
|
5000
|
730
|
200
|
600
|
250
|
10880
|
|
4
|
J
|
24
|
12
|
2000
|
2000
|
5000
|
750
|
250
|
660
|
200
|
10790
|
|
5
|
J
|
27
|
13
|
2700
|
1800
|
6500
|
900
|
260
|
450
|
250
|
12860
|
|
6
|
J
|
26
|
13
|
2400
|
1900
|
5800
|
880
|
200
|
600
|
300
|
12080
|
|
7
|
J
|
28
|
13,5
|
2500
|
1800
|
6700
|
700
|
250
|
450
|
250
|
12650
|
|
8
|
J
|
26
|
12
|
2300
|
2000
|
6500
|
730
|
200
|
550
|
250
|
12530
|
|
9
|
B
|
26
|
12,5
|
2100
|
2000
|
5500
|
800
|
250
|
450
|
280
|
11380
|
|
10
|
B
|
25
|
12
|
2000
|
1900
|
5400
|
700
|
250
|
450
|
250
|
10950
|
|
11
|
B
|
21
|
10,5
|
2200
|
1800
|
5500
|
680
|
200
|
430
|
200
|
11010
|
|
12
|
B
|
24
|
12
|
2200
|
2000
|
5500
|
730
|
230
|
450
|
250
|
11360
|
|
13
|
B
|
22
|
11
|
2000
|
1800
|
5300
|
700
|
200
|
430
|
230
|
10660
|
|
14
|
J
|
26
|
14
|
2800
|
2300
|
6500
|
900
|
190
|
450
|
300
|
13440
|
|
15
|
J
|
27
|
12
|
2500
|
2000
|
6500
|
900
|
250
|
600
|
300
|
13050
|
|
16
|
B
|
28
|
13
|
2400
|
1800
|
6900
|
750
|
250
|
600
|
300
|
13000
|
|
17
|
J
|
33
|
13,5
|
2250
|
2500
|
11700
|
1100
|
200
|
700
|
300
|
32250
|
|
18
|
J
|
31
|
13
|
2700
|
2400
|
10000
|
900
|
250
|
500
|
300
|
17050
|
|
19
|
J
|
29
|
13,5
|
2700
|
2100
|
8000
|
900
|
200
|
500
|
250
|
14650
|
|
20
|
J
|
21
|
10
|
2000
|
1600
|
6000
|
700
|
180
|
400
|
200
|
11080
|
|
21
|
J
|
28
|
14
|
2400
|
2500
|
6000
|
620
|
200
|
500
|
300
|
12520
|
|
22
|
J
|
29
|
14,5
|
2900
|
2400
|
6500
|
690
|
230
|
440
|
280
|
13440
|
|
23
|
J
|
24
|
11,5
|
2000
|
2000
|
6000
|
670
|
200
|
400
|
300
|
11570
|
|
24
|
B
|
27
|
13,5
|
2100
|
2200
|
6500
|
670
|
250
|
300
|
300
|
12320
|
|
25
|
B
|
28
|
14,5
|
2600
|
2500
|
7000
|
710
|
220
|
430
|
320
|
13780
|
|
26
|
B
|
24
|
12
|
2200
|
2100
|
6000
|
650
|
200
|
250
|
250
|
11650
|
|
27
|
B
|
22
|
10
|
2000
|
2000
|
6000
|
450
|
190
|
250
|
200
|
11090
|
|
28
|
B
|
28
|
14
|
2500
|
2400
|
6400
|
750
|
260
|
320
|
300
|
12930
|
|
29
|
B
|
25
|
13
|
2300
|
2100
|
6000
|
600
|
260
|
350
|
250
|
11860
|
|
30
|
B
|
23
|
11
|
2000
|
2000
|
5800
|
630
|
250
|
200
|
200
|
11080
|
|
31
|
B
|
27
|
13
|
2600
|
2400
|
6300
|
700
|
260
|
400
|
230
|
12890
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar