Pemeriksaan Kebuntingan
Posted on March 18,
2008 by jogjavet
Suatu pemeriksaan
kebuntingan secara tepat dan dini sangat penting bagi program pemulia-biakan
ternak. Kesanggupan untuk menentukan kebuntingan secara tepat dan dini perlu
dimiliki oleh setiap dokter hewan lapangan atau petugas pemeriksa kebuntingan.
Palpasi perektal terhadap uterus, ovarium dan pembuluh darah uterus adalah cara
diagnosa kebuntingan yang paling praktis dan akurat pada sapi. Pada pemeriksaan
perektal tangan dimasukkan kedalam inlet pelvis dan dengan telapak tangan yang
membuka kebawah, tangan digerakkan kesamping, keatas dan ke sisi lain. Apabila
tidak ada struktur yang teraba, uterus berada di lantai pelvis, cervik atau
uterus teraba di tepi pelvis pada sapi tua. Cervik yang keras dan ketat mudah
dilokalisir pada lantai pelvis atau di kranialnya. Korpus, kornu uteri dan
ligamentum interkornualis pada bifurcatio uteri dapat dipalpasi pada sapi yang
tidak bunting atau pada kebuntingan muda. Ovarium dapat teraba dilateral dan
agak cranial dari cerviknya ( Toelihere, 1985).
Berikut ini adalah tanda-tanda kebuntingan
pada sapi yang diidentifikasi secara perektal:
Tabel 1. Tanda-tanda kebuntingan pada sapi yang di PKB
|
Bulan
|
Keterangan
|
|
3
|
Kornu sebesar bola voli, letaknya sudah sedikit tertarik ke rongga
perut, arteri uterina media jelas teraba dan terasa seperti desiran air
mengalir, teraba kotiledon sebesar kedelai, membran fetus teraba.
|
|
5
|
Fetus sudah masuk ke rongga
abdomen dan sulit teraba. Servik teraba seperti selang pipih, karena uterus
tertarik ke rongga perut disebabkan karena berat fetus dan volume amnion
bertambah volumenya. Plasentom teraba sebesar uang seratus rupiah, fremitus
arteria uterina media teraba mendesir dengan pembuluh darah yang sebesar
sedotan
|
|
6
|
Posisi fetus sudah kembali sejajar dengan pelvis, osifikasi fetus
sudah teraba jelas, teraba adanya fremitus arteria uterina media
|
|
7
|
Fetus sudah teraba teracak dan mulut, teraba adanya arteria
uterina media.
|
|
9
|
Ujung kaki depan dan moncong
fetus sangat dekat dengan rongga pelvis, pada akhir masa kebuntingan
otot-otot sekitar tulang panggul kelihatan mengendur, vulva sedikit
membengkak dan lendir banyak keluar. Teracak, mulut, ukuran fetus semakin
membesar dan fremitus arteria uterina media semakin jelas.
|
Gangguan dan Penyakit Terkait Proses Kelahiran pada Sapi
Potong
Pada usaha pembibitan sapi potong, tujuan utamanya adalah
menghasilkan pedet-pedet berkualitas sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang
tinggi. Untuk meraih hal tersebut, langkah pertama adalah bagaimana induk-induk
sapi yang dipelihara dapat bunting dan melahirkan pedet yang sehat setiap
tahunnya.
Berikut ini
merupakan uraian singkat mengenai gangguan dan penyakit yang umum terjadi, baik
menjelang (Pre-calving), saat (calving) maupun pasca (post-calving) melahirkan.
PeriodePre-calving
1.ProlapsVagina/Rektal
Prolaps dapat didefinisikan sebagai reposisi abnormal dari sebagian/seluruh organ tubuh dari struktur anatominya (Powell, 2008), di mana organ tersebut normalnya secara anatomis berada di dalam rongga tubuh kemudian keluar, menonjol/menggantung. Pada induk sapi yang sedang bunting tua, umum ditemukan kasus prolaps vagina (Gambar 1) dan prolaps rectal.
1.ProlapsVagina/Rektal
Prolaps dapat didefinisikan sebagai reposisi abnormal dari sebagian/seluruh organ tubuh dari struktur anatominya (Powell, 2008), di mana organ tersebut normalnya secara anatomis berada di dalam rongga tubuh kemudian keluar, menonjol/menggantung. Pada induk sapi yang sedang bunting tua, umum ditemukan kasus prolaps vagina (Gambar 1) dan prolaps rectal.
Penyebab kasus
ini dikarenakan adanya perubahan pada jaringan otot di sekitar saluran
peranakan bagian luar yang mengalami relaksasi pada saat induk sapi memasuki
kebuntingan trisemester ketiga (Cuneo ,
2009). Selain itu, meningkatnya tekanan di dalam rongga perut seiring
perkembangan foetus (janin sapi) dapat mendorong bagian dalam vagina/rectum
keluar rongga tubuh. Pada banyak kasus, saluran kantung kemih tertutup oleh
bagian vagina yang mengalami prolaps sehingga sapi tidak dapat kencing. Kasus
ini lebih banyak dijumpai pada induk sapi yang berumur tua dan induk sapi yang
baru pertama kali bunting (Bicknell, 2009). Sapi - sapi yang digembalakan pada
area yang banyak tanaman legume (kacang-kacangan) dan sapi yang mengalami
kegemukan, sapi bunting yang dipelihara dengan kontruksi lantai yang terlalu
miring memiliki resiko yang tinggi terhadap kasus prolaps.
Prinsip dasar
penanganan kasus ini adalah mengembalikan organ yang mengalami prolaps ke
posisi normalnya. Tindakan penjahitan kadang dibutuhkan namun saat parturisi
jahitan tersebut harus dilepas. Untuk tindakan tersebut dapat menghubungi
dokter hewan terdekat.
Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat desain lantai kandang
yang tepat/tidak terlalu miring. Kontrol manajemen pakan sehingga sapi-sapi
yang bunting terutama pada trisemester ke tiga tidak mengalami kegemukan. Dan
yang penting adalah jangan memelihara sapi yang pernah mengalami kejadian
prolaps vagina/rektal pada saat bunting karena ada kecenderungan genetis
berperan dalam kejadian kasus prolaps (Card, 2009).
2.Ketosis/PregnancyToxemia
Penyebab kasus ini biasanya karena sapi-sapi bunting tua (umur kebuntingan 2 bulan terakhir) mengalami kekurangan pakan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sapi bunting tua yang terlalu gemuk atau bunting kembar akan memiliki resiko yang lebih tinggi terkena ketosis.
Penyebab kasus ini biasanya karena sapi-sapi bunting tua (umur kebuntingan 2 bulan terakhir) mengalami kekurangan pakan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sapi bunting tua yang terlalu gemuk atau bunting kembar akan memiliki resiko yang lebih tinggi terkena ketosis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar