Translate To

Kamis, 11 April 2013

Pemeriksaan Kebuntingan


Pemeriksaan Kebuntingan

Posted on by jogjavet
Suatu pemeriksaan kebuntingan secara tepat dan dini sangat penting bagi program pemulia-biakan ternak. Kesanggupan untuk menentukan kebuntingan secara tepat dan dini perlu dimiliki oleh setiap dokter hewan lapangan atau petugas pemeriksa kebuntingan. Palpasi perektal terhadap uterus, ovarium dan pembuluh darah uterus adalah cara diagnosa kebuntingan yang paling praktis dan akurat pada sapi. Pada pemeriksaan perektal tangan dimasukkan kedalam inlet pelvis dan dengan telapak tangan yang membuka kebawah, tangan digerakkan kesamping, keatas dan ke sisi lain. Apabila tidak ada struktur yang teraba, uterus berada di lantai pelvis, cervik atau uterus teraba di tepi pelvis pada sapi tua. Cervik yang keras dan ketat mudah dilokalisir pada lantai pelvis atau di kranialnya. Korpus, kornu uteri dan ligamentum interkornualis pada bifurcatio uteri dapat dipalpasi pada sapi yang tidak bunting atau pada kebuntingan muda. Ovarium dapat teraba dilateral dan agak cranial dari cerviknya ( Toelihere, 1985).
Berikut ini adalah tanda-tanda kebuntingan pada sapi yang diidentifikasi secara perektal:
Tabel 1. Tanda-tanda kebuntingan pada sapi yang di PKB
Bulan
Keterangan
3
Kornu sebesar bola voli, letaknya sudah sedikit tertarik ke rongga perut, arteri uterina media jelas teraba dan terasa seperti desiran air mengalir, teraba kotiledon sebesar kedelai, membran fetus teraba.
5
Fetus sudah masuk ke rongga abdomen dan sulit teraba. Servik teraba seperti selang pipih, karena uterus tertarik ke rongga perut disebabkan karena berat fetus dan volume amnion bertambah volumenya. Plasentom teraba sebesar uang seratus rupiah, fremitus arteria uterina media teraba mendesir dengan pembuluh darah yang sebesar sedotan
6
Posisi fetus sudah kembali sejajar dengan pelvis, osifikasi fetus sudah teraba jelas, teraba adanya fremitus arteria uterina media
7
Fetus sudah teraba teracak dan mulut, teraba adanya arteria uterina media.
9
Ujung kaki depan dan moncong fetus sangat dekat dengan rongga pelvis, pada akhir masa kebuntingan otot-otot sekitar tulang panggul kelihatan mengendur, vulva sedikit membengkak dan lendir banyak keluar. Teracak, mulut, ukuran fetus semakin membesar dan fremitus arteria uterina media semakin jelas.


Gangguan dan Penyakit Terkait Proses Kelahiran pada Sapi Potong

Pada usaha pembibitan sapi potong, tujuan utamanya adalah menghasilkan pedet-pedet berkualitas sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Untuk meraih hal tersebut, langkah pertama adalah bagaimana induk-induk sapi yang dipelihara dapat bunting dan melahirkan pedet yang sehat setiap tahunnya. 
Ada banyak gangguan dan penyakit yang dapat menjangkiti induk sapi pada akhir masa kebuntingan hingga proses melahirkan. Banyak kasus yang terjadi saat melahirkan (parturisi) bersifat mendadak dan membutuhkan tindakan yang cepat dan tepat pula, sehingga tidak menimbulkan efek yang permanen yang akan mempengaruhi status reproduksi dan fertilitas pada periode berikutnya.
Berikut ini merupakan uraian singkat mengenai gangguan dan penyakit yang umum terjadi, baik menjelang (Pre-calving), saat (calving) maupun pasca (post-calving) melahirkan.
PeriodePre-calving
1.ProlapsVagina/Rektal
Prolaps dapat didefinisikan sebagai reposisi abnormal dari sebagian/seluruh organ tubuh dari struktur anatominya (Powell, 2008), di mana organ tersebut normalnya secara anatomis berada di dalam rongga tubuh kemudian keluar, menonjol/menggantung. Pada induk sapi yang sedang bunting tua, umum ditemukan kasus prolaps vagina (Gambar 1) dan prolaps rectal.
Penyebab kasus ini dikarenakan adanya perubahan pada jaringan otot di sekitar saluran peranakan bagian luar yang mengalami relaksasi pada saat induk sapi memasuki kebuntingan trisemester ketiga (Cuneo, 2009). Selain itu, meningkatnya tekanan di dalam rongga perut seiring perkembangan foetus (janin sapi) dapat mendorong bagian dalam vagina/rectum keluar rongga tubuh. Pada banyak kasus, saluran kantung kemih tertutup oleh bagian vagina yang mengalami prolaps sehingga sapi tidak dapat kencing. Kasus ini lebih banyak dijumpai pada induk sapi yang berumur tua dan induk sapi yang baru pertama kali bunting (Bicknell, 2009). Sapi - sapi yang digembalakan pada area yang banyak tanaman legume (kacang-kacangan) dan sapi yang mengalami kegemukan, sapi bunting yang dipelihara dengan kontruksi lantai yang terlalu miring memiliki resiko yang tinggi terhadap kasus prolaps.
Prinsip dasar penanganan kasus ini adalah mengembalikan organ yang mengalami prolaps ke posisi normalnya. Tindakan penjahitan kadang dibutuhkan namun saat parturisi jahitan tersebut harus dilepas. Untuk tindakan tersebut dapat menghubungi dokter hewan terdekat.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat desain lantai kandang yang tepat/tidak terlalu miring. Kontrol manajemen pakan sehingga sapi-sapi yang bunting terutama pada trisemester ke tiga tidak mengalami kegemukan. Dan yang penting adalah jangan memelihara sapi yang pernah mengalami kejadian prolaps vagina/rektal pada saat bunting karena ada kecenderungan genetis berperan dalam kejadian kasus prolaps (Card, 2009).
2.Ketosis/PregnancyToxemia
Penyebab kasus ini biasanya karena sapi-sapi bunting tua (umur kebuntingan 2 bulan terakhir) mengalami kekurangan pakan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sapi bunting tua yang terlalu gemuk atau bunting kembar akan memiliki resiko yang lebih tinggi terkena ketosis.

Tidak ada komentar: