PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Mamalia memiliki alat
reproduksi yang lengkap dan sempurna. Pada mamalia jantan alat reproduksinya
meliputi gonad (testis) dan saluran reproduksi yang meliputi duktus genitalis,
kelenjar-kelenjar tambahan dan penis. Testis merupakan kelenjar tubuler
kompleks yang mempunyai dua fungsi yaitu fungsi reproduksi dan fungsi hormonal.
Testis dikelilingi oleh kapula jaringan penyambung kolagen, tunika albugenia.
Tunika albugenia mempunyai penebalan pada bagian posterior, mediastinum testis,
dimana septa fibrosa menonjol ke dalam kelenjar, membagi kelenjar menjadi 250
ruang-ruang pyramidal yang dinamakan lobulus testis. Sistem reproduksi betina
terdiri atas sepasang ovarium dan saluran reproduksi betina, serta serviks. Pada
mamalia dilengkapi organ kelamin luar (vulva) dan kelenjar, Reproduksi merupakan proses dimana suatu individu menghasilkan individu baru,melalui genetic atau keturunan
dan hal ini berguna untuk melangsungkan kehidupanspesies.
Semua mamalia bereproduksi secara seksual yaitu fertilisasi internal. (Lytle
andjohn.2000) Terdapat dua modus utama reproduksi
hewan. Reproduksi aseksual adalahpenciptaan individu baru yang semua gennya berasal
dari satu induk tanpa peleburantelur dan sperma. Pada sebagian besar kasus,
reproduksi aseksual secara keseluruhanmengandalkan pembelahan sel secara
mitosis. Reproduksi seksual adalah penciptaanketurunan melalui peleburan gamet
haploid untuk membentuk gamet yang diploid.Gamet dibentuk melalui
meiosis. (Campbell.2004).
Tujuan
dan Manfaat
Tujuan
dari pelaksanaan praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengenali dan mengetahui system
organ reproduksi ruminansia betina dan ayam betina.
MATERI
DAN METODA
Waktu
dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan di Gedung C laboratorium Fisiologi Ternak, Fakultas Peternakan
Universitas Jambi, pada hari selasa, tanggal 26 April 2011 dan dimulai pukul
10.00 WIB s.d selesai
Materi
Alat dan bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah saluran reproduksi jantan ternak kambing betina, saluran
reproduksi ternak unggas betina, cutter, dan plastic terpal.
Metode
Cara
kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah dengan mengamati saluran
reproduksi ternak kambing betina dan unggas betina sesuai dengan salurannya,
yakni yang dimulai dari ovarium sampai ke vulva, kemudian dilakukan pengukuran
masing-masing organ dan menuliskan hasilnya dalam bentuk laporan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Anatomi saluran reproduksi kambing betina
Kambing
lokal (Capra aegagrus hircus) adalah sub species dari kambing liar yang
tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa. Kambing merupakan suatu jenis
binatangmemamah biak yang berukuran sedang. Kambing liar jantan dan kambing
liar betinamemiliki perbedaan fisik yang tampak. Umumnya kambing memiliki
jenggot, dahicembung, ekor agak ke atas, dan kebanyakan berbulu kurus dan
keras.Panjang tubuhkambing liar, tidak termasuk ekor adalah 1.3 meter – 1.4
meter, sedangkan ekornya 12cm – 15 cm. Bobot yang betina 50 kg – 55 kg,
sedangkan jantan dapat mencapai 120kg Pada sebagian besar spesies mamalia organ reproduksi eksternal jantan adalahskrotum dan penis. Organ
reproduksi internal terdiri atas gonad yang menghasilakangamet dan hormon, kelenjar aksesoris yang mengsekresikan produk
yang esensial bagi pergerakan sperma, dan sekumpulan duktus yang membawa sperma dan sekresigrandula. Struktur reproduksi eksternal pada betina adalah
klitoris dan dua pasanglabia yang mengelilingi klitoris dan lubang vagina.
Organ reproduksi internal terdiridari sepasang gonad dan sebuah sistem yang terdiri dari duktus dan
ruangan untuk menghantarkan
gamet dan menampung embrio dan fetus. (Campbell.2004).Testis terletak diantara
dua kantong seretal dan di bawah rongga fortuneal (abdominal)yang merupakan awal dari pertumbuhan. Pada mamalia
jantan testis berkembang dariperitoneal menembus saluran
inguinal masuk ke kantung skroatal. Epididimisberkumpul membelit tubulus sepanjang satu bagian
pada masing-masing testis yangberhubungan dengan vas deferens. Dan penis
terletak hanya di bawah kulit posterior menuju ke tali umbilicus.
(Lytle and John.2005)Sistem reproduksi pada hewan
betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus. Sistem tersebut tidak hanya
menerima telur- telur yang diovulasikan oleh ovarium dan membawa telur-telur ke
tempat implantasi yaitu uterus,tetapi juga menerima sperma dan membawanya ke
tempat fertilisasi yaitu oviduk. Sistem reproduksi betina terdapat sepasang
ovarium. Ovarium tersebut terletak dekat ginjal, yaitu tempat ovarium pertama
kali mengalami diferensiasi. Ukuran ovarium sangat tergantung pada umur dan
status reproduksi betina.
Perbandingan
antara gambar hasil pemotretan dengan hasil gambar mekanik melalui pengamatan
hewan tersebut diamati dan digambar
|
||||
![]() |
||||
Gambar 3.1.1 Sistem reproduksi kambing betina
Anatomi saluran reproduksi Ayam betina
Organ betina menempel pada permukaan dorsal pada masing-masing
ovarium adalah sebuah bagian yang rumit,
yaitu tuba falopi yang terletak di rongga cilia,disebut infudibulum dan
berakhir di masing-masing tuba falopi. Pada bagian awal danakhir pada tuba
falopi disebut abdominal ostium. Bagan pada falopi yaitu usus, perut, pankreas dan limpa kecil. Dari hati,
darah didorong menuju pembuluh darah paru-paruke vena cava dan kembali ke hati.
(Lytle and John.2005)

Ovarium
Ovarium
pada unggas dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti
buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan
bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada
saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur
12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin.
Ovarium terbagi dalam dua bagian, yaitu cortex pada
bagian luar dan medulla pada bagian dalam. Cortex mengandung
folikel dan pada folikel terdapat sel-sel telur. Jumlah sel telur dapat
mencapai lebih dari 12.000 buah. Namun, sel telur yang mampu masak hanya beberapa
buah saja (pada ayam dara dapat mencapai jutaan buah).

Folikel akan masak pada 9-10 hari
sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid pakan ataupun karotenoid yang
tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun
folikel menjadikan lapisan konsentris tidak seragam. Proses pembentukan ovum
dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang merupakan sintesis asam lemak di
hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di
ovarium sebagai volikel atau ovum yang dinamakan yolk(kuning
telur).
Dikenal tiga fase perkembangan yolk, yaitu
fase cepat antara 4-7 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 10-8 hari
sebelum ovulasi, serta pada 1-2 hari sebelum ovulasi. Akibat perkembangan cepat
tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan kadar xantofil dan karotenoid pada pakan yang dibelah
oleh latebra yang menghubungkan antara inti yolk dan diskus
germinalis.
Folikel dikelilingi oleh pembuluh
darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek
sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui
pembuluh darah ini, ovarium mendapat suplai makanan dari aorta
dorsalis. Material kimiawi yang diangkut melalui sistem vaskularisasi
ke dalam ovarium harus melalui beberapa lapisan, antara lain theca
layer yang merupakan lapisan terluar yang bersifat permeabel sehingga
memungkinkan cairan plasma dalam menembus ke jaringan di sekelilingnya. Lapisan
kedua berupa lamina basalis yang berfungsi sebagai filter
untuk menyaring komponen cairan plasma yang lebih besar. Lapisan ketiga sebelum
sampai pada oocyte adalah lapisan perivitellin yang
berupa material protein bersifat fibrous (berongga).
Dalam membran plasma, oocyte (calon
folikel) berikatan dengan sejumlah reseptor yang akan membentuk endocitic sehingga
terbentuklah material penyusun kuning telur. Sehingga besar penyusutan kuning
telur adalah material granuler berupa high density lipoprotein (HDL)
dan lipovitelin. Senyawa ini dengan ion kuat dan pH tinggi akan membentuk
kompleks fosfoprotein, fosvitin, ion kalsium, dan ion besi. Senyawa-senyawa ini
membentuk vitelogenin, yaitu prekursor protein yang disintesis di dalam hati
sebagai respon terhadap estradiol.
Komponen vitelogenin lebih mudah larut dalam darah dalam
bentuk kompleks lipida kalsium dan besi. Oleh adanya reseptor pada oocyte,
akan terbentuk material kuning telur. proses pembentukan vitelogenin ini
dinamakan vitelogenesis.
Penyusun utama kuning telur adalah air,
lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur
diklasifikasikan menjadi dua kategori:
1. Livetin, yakni protein plasmatik yang
terakumulasi pada kuning telur dan disintesis di hati hampir 60% dari total
kuning telur.
2. Phosvitin dan lipoprptein yang
terdiri dari high density lipoprotein (HDL) dan low
density lipoprotein (LDL) yang disebut pula dengan granuler dan
keduanya disintesis dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari
disintesis 2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesis ini dikontrol oleh hormon
estrogen. Hasil sintesis bersama-sama dengan ion kalsium, besi dan zinc
membentuk molekul kompleks yang mudah larut kemudian masuk ke dalam kuning
telur.
Urutan
perjalanan terbentuknya sebutir telur pada saluran reproduksi ayam betina adalah
sebagai berikut:
a. Infundibulum/papilon : panjang 9 cm fungsi untuk menangkap
ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang
mengelilingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian ini berkisar 15-30
menit. Pembatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa
sebelum terjadi pembuahan.
b. Magnum : bagian yang terpanjang dari oviduk
(33cm). Magnum tersusun dari glandula tubiler yang sangat sensibel. Sintesis
dan sekresi putih telur terjadi disini. Mukosa dan magnum tersusun dari sel
gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur
berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam.
c.Isthmus: mensekresikan membran atau selaput
telur. Panjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini berkisar 1
jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum
berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh
darah sehingga memberikan warna merah.
d. Uterus : disebut juga glandula kerabang
telur, panjangnya 10 cm. Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu dehidrasi
putih telur atau /plumping/ kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur. Warna
kerabang telur yang terdiri atas sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini
pada akhir mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20 – 21 jam.
e. Vagina:
bagian ini hampir tidak ada sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali
pembentukan kutikula. Telur melewati vagina dengan cepat, yaitu sekitar tiga
menit, kemudian dikeluarkan (/oviposition/) dan 30 menit setelah peneluran akan
kembali terjadi ovulasi.
f. Kloaka:
merupakan bagian paling ujung luar dari induk tempat dikeluarkannya telur.
Total waktu untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Ini salah satu
penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari. Di
samping itu, saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal. Artinya, hanya
oviduk bagian kiri yang mampu berkembang. Padahal, ketika ada benda asing
seperti /yolk/ (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi.
Proses pengeluaran telur diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian
belakang.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Dari
praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa saluran reproduksi
ruminansia betina terdiri dari ovarium, oviduct, cornua uteri, uterus, serviks,
vagina dan vulva. Sedangkan saluran reproduksi unggas betina terdiri dari
ovarium, infundibulum, magnum, isthmus, uterus, dan vagina.
Saran
Praktikan
menyarankan pada setiap praktikan yang ikut serta dalam pelaksanaan praktikum
ini ada baiknya mempersiapkan diri terlebih dahulu supaya pelaksanaan praktikum
lebih kondusif dan memperoleh hasil praktikum yang lebih akurat dan tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2008.http://kambingIndonesia.blogspot.com/2008/11/sejarah
kambing-kambing-lokal-capra.html.
Diakses 02 April 2011
A, Neil Campbell, dkk.2004. BIOLOGI .Jakarta: Erlangga. Kaufman,
M.H. dan Bard J.B.L.2000.
General Zoology 13 th. Edition.Mc Graw HillCompanies.AmerikaLytle, F Charles dan Mejer R. John. 2005.
General Zoology 14 th Edition.
Mc Graw HillCompanies. Amerika
Junquera.L.Calos,dkk.Basic
Histology.1975.Appleton and Lange:USA
Nalbandov, A.V.Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas Edisi
Ketiga.1990.universitas indonesia:Jakarta
System reproduksi. http://geoweek.wordpress.com/2009/06/11/sistem-reproduksi/
diakses 11 Oktober 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar