Translate To

Kamis, 11 April 2013

Sistem Organ Reproduksi Jantan


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Testes sebagai organ kelamin primer mempunyai dua fungsi yaitu 1) mengahasilkan spermatozoa atau sel-sel kelamin jantan, dan 2) mensekresikan hormon kelamin jantan, testosteron. Spermatozoa dihasilkan dalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (Follicle Stimulating Hormone), sedangkan testosteron diproduksi oleh sel-sel intertitial dari Leydig atas pengaruh ICSH (Intertitial Cell Stimulating Hormone) (Toelihere, 1979).

Tujuan dan Manfaat
                 Tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengenali dan mengetahui system organ reproduksi jantan,



MATERI DAN METODA
Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan di Gedung C laboratorium Fisiologi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Jambi, pada hari selasa dan dimulai pukul 10.00 WIB s.d selesai

Materi
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah saluran reproduksi jantan ternak kambing, saluran reproduksi ternak unggas, cutter, dan plastic terpal.

Metode
            Cara kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah dengan mengamati saluran reproduksi ternak kambing dan unggas sesuai dengan salurannya, yakni yang dimulai dari testis sampai ke urethra, kemudian dilakukan pengukuran masing-masing organ dan menuliskan hasilnya dalam bentuk table. 


HASIL DAN PEMBAHASAN
ANATOMI KELAMIN JANTAN RUMINANSIA
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsiHks2Tp-l-9K5u5rSjrkf-081sCLbZEI59PxFfGjbAnaNG2VXHwjVKJ64w9ZQTWeAvp9JMgtE4Pw0XSR_gKRHv2CJSe7DJqKcg_VyXH0PX2zoiqV33l5bC-eLo4_ieaId-HDx4AWEec/s320/fig_3_1_b.gifOrgan reproduksi ternak jantan tersiri dari testes, scrotum, corda spermaticus, kelenjar tambahan (glandula accessories), penis, preputium, dan system saluran reproduksi jantan. System saluran ini terdiri dari vasa, efferentia yang berlokasi di dalam testis, epididymis, vas deferens, dan urethra external yang bersambung ke penis. Pada masa ambrio, testis berasal dari corda genitalia primer, sedangkan system saluran reproduksi berasal dari ductus wolffii. Perhatikan diagram organ reproduksi jantan sebagaimana pada gambar di bawah ini:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjerpfa54cPCOCdZTf0A5Hj-5pNE3Q4sJibuCBGDJgdqy5FY0Q8wfxPh69GSoK9P7RKejfEsmM_xQawT8VeaxE5CnkGBhf0RMfJqK9JF_MuVpad_DhNHvZitfjJqz46uxS93wlGWaVylbY/s320/fig_3_1_a.gif









Figure 3-1 Diagram of the reproductive system of the (a) bull; (b) ram; (c) boar; and (d) stallion.(Redrawn from Sorenson. 1979. Animal Reproduction: Principles and Practices. McGraw-Hill.)


TESTIS
Adalah organ reproduksi primer pada ternak jantan, karena berfungsi menghasilkan gamet jantan (spermatozoa) dan hormone kelamin jantan (androgens). Testes berlokasi di dekat ginjal turun melalui canalis inguinalis masuk ke dalam scrotum. Testes terletak dekat dengan daerah inguinalis dan tekanan intra-abdominal membantu testes melalui canalis inguinalis masuk scrotum. Hormone yang terlibat dalam pengaturan turunnya testes adalah gonadotropins dan androgen. 
Testis pada sapi mempunyai panjang berkisar 10-13 cm, lebar berkisar 5-6,5 cm dan beratnya 300-400 gr. Pada semua ternak, testis ditutupi oleh tunica vaginalis, sebuah jaringan serous yang merupakan perluasan dari peritoneum. Lapisan ini diperoleh ketika testis turun masuk ke dalam scrotum dari tempat asalnya dalam ruang abdominal yang melekat sepanjang garis epididymis. Lapisan luar dari testis adalah tunica albuginea testis, merupakan membrane jaringan ikat elastis berwarna putih. Pembuluh darah dalam jumlah besar dijumpai tepat di bawah permukaan lapisan ini. Lapisan fungsional dari testis, yaitu parenchyma terletak di bawah lapisan tunica albuginea. Parenchyma ini berwarna kekuningan, terbagi-bagi oleh septa yang tidak sempurna menjadi segmen-segmen. Parenchyma mempunyai pipa-pipa kecil didalamnya yang disebut tubulus seminiferous (tunggal), tubuli seminiferi (jamak). Tubuli seminiferi berasal dari primary sex cord yang berisi sel-sel benih (germ cells), spermatogonia, dan sel-sel pemberi makan, yaitu sel sertoli. Sel sertoli berukuran lebih besar dengan jumlah lebih sedikit daripada spermatogonia. Hormone gonadotropin asala kelenjar pituitary, follicle stimulating hormone (FSH) memacu sel-sel sertoli menghasilkan androgen binding protein (ABP) dan inhibin. Panjang tubuli seminiferi dari sepasang testes sapi, diperkirakan spanjang 5 km, sedangkan diameternya hamper 200. berat tubuli seminiferi diperkirakan 80-90% dari berat testes. Tubuli seminiferi bersambungan dengan sebuah tenunan tubulus, yaitu rete testes yang berhubungan dengan 12-15 saluran kecil, yaitu vasa efferentia yang menyatu pada caput epididymis. 
Hormone testosterone diperlukan untuk perkembangan tanda-tanda kelamin sekunder dan untuk tingkah laku perkawinan secara normal. Testosterone juga berfungsi untuk mengontrol aktivitas kelenjar-kelenjar tambahan (accessory glands), produksi spermatozoa, dan pemeliharaan system saluran reproduksi jantan. Sedangkan perannya dalam diri ternak sendiri adalah membantu mempertahankan kondisi optimum pada spermatogenesis, transportasi spermatozoa dan deposisi spermatozoa ke dalam saluran reproduksi betina. 

VAS DEFERENS DAN URETHRA 
Vas deferens. Merupakan sebuah saluran dengan satu ujung berawal dari bagian ujung distal dari cauda epididymis. Kemudian dengan melekat pada peritoneum, membentang sepanjang corda spermaticus, melalui daerah inguinalis masuk ruang pelvis, dimana vas deferens bergabung dnegan urethra di suatu tempat dekat dengan lubang saluran kencing dari vesica urinaria. Bagian vas deferens yang membesar dekar dengan urethra, di sebut ampulla. Vas deferens mempunyai otot daging licin yang tebal pada dindingnya dan mempunyai fungsi tunggal yaitu sebagai sarana transportasi spermatozoa. Spermatozoa dikumpulkan dalam ampulla selama ejakulasi, sebelum dikeluarkan ke dalam urethra. 
KELENJAR – KELENJAR TAMBAHAN
Kelenjar – kelenjar tambahan (accessory glands) berada di sepanjang bagian uretra yang terletak di daerah pelvis, mempunyai saluran –saluran yang mengeluarkan sekresi – sekresinya kedalam uretra. Kelenjar – kelenjar tambahan ini terdiri dari kelenjar vasikular, kelenjar, kelenjar prostate dan kelenjar bulbourethral atau kelenjar cowper. Kelenjar – kelenjar ini mempunyai sumbangan besar bagi volume cairan semen. Lebih lanjut diketahui bahwa sekresi kelenjar – kelenjar tambahan ini mengandung sebuah larutan buffers, zat – zat makanan dan substansi lain yang diperlukan bagi motilitas dan fertlitas
Kelenjar vesicular. Kelenjar ini di sebut juga sebagai kelenjar seminal vesicles, merupakan sepasang kelenjar yang mempunyai lobuler, mudah dikenali karenamirip segerombol anggur, berbonggol – bonggol. Panjang kelenjar ini sama pada beberapa jenis ternak seperti kuda, sapid an babi yaitu berkisar 13 – 15 cm, tetapi lebar dan ketebalannya berbeda, kelenjar vesicular pada sapi mempunyai ketebalan dan lebar hamper separuh dari yang ada pada babi dan kuda. Domba mempunyai kelenjar vesicular jauh lebih kecil, mempunyai panjang kira – kira 4 cm. saluran – saluran ekskretori kelenjar vesicular terletek di dekat bifurcation ampulla dengan uretra. Pada sapi, kelenjar vesicular memberikan sekresinya lebih dariseparuh volume total dari semem dan pada jenis – jenis ternak lainnya rupanya juga sama sebagai mana pada sapi. Sekresi kelenjar vesicular mengandung beberapa campuran organic yang unik, yakni tidak dijumpai pada substansi – substansilain di mana saja ada tubuh. Campuran – campuran anorganik ini di antaranya adalah fructose dan sorbitol, merupakan sumber energi utama bagi spermatozoa sapid a spermatozoa domba, tetapi pada kuda dan babi konsentrasinya rendah. Sekresi kelenjar vesikula juga mengandung dua larutan buffer, yaitu phosphate dan carbonate buffer yang penting sekali dalam mempertahankan pH semen agar tidak berubah, karena jika terjadi perubahan pH semen, hal ini dapat berakibat jelek bagi spermatozoa.
Berikut adalah perbandingan dari kelenjar-kelenjar tambahan beberapa ternak:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxxrPtaD9YULrtdfyjWSxX79aXPK2WNHw_p0AB79aHnDsIIBdCzNz-k_MEbaCEQYpsRlaeeXAmnjvA-p5vfm5eKEoyuoqx7WnGzsfpMUo0xOfel97dyqhBysOvsSlBhHK2xYuM8e8SMQM/s320/fig_3_6.gif
Figure 3-6 Accessory glands of the bull, boar, ram, and stallion showing their relationship to the ampulla and urethra. (Redrawn from Ashdown and Hancock. 1974. Reproduction in Farm Animals.(3rd ed). ed. Hafez. Lea and Febiger.) 

PENIS
Merupakan organ kopulasi pada ternak jantan, membentang dari titik urethra keluar dari ruang pelvis di bagian dorsal sampai dengan pada orificium urethra eksternal pada ujung bebas dari penis. Pada sapi, domba, kambing, dan babi penis mempunyai bagian yang berbentuk seperti huruf “S” (sigmoid flexure) sehingga penis dapat ditarik dan berada total dalam tubuh. Keempat jenis ternak tersebut dan kuda mempunyai musculus retractor penis, yaitu sepasang otot daging licin, jika releks memberikan kesempatan penis untuk memanjang dan jika kontraksi dapat menarik penis ke dalam tubuh kembali. 
                 Gambar perbandingan bentuk glans penis antara sapi, domba, babi dan kuda, ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO0b8jlWv0Ymk7LtBFPn_89knNCewo8Fxc7KDrClvpYiuoJktCL9jeJaUEa-PUluz4PV6BZgUBvAvcLD__qDCfBsZr-i6Rss58b8M8nu5_bF5qZYBBqOJaT2A1oyQiN1hh1Zj_1NktmJg/s320/fig_3_7.gif







Figure 3-7 Comparative diagram showing the shape of the glans penis of the bull, boar, ram. and stallion. Note the twisted groove containing the external urethral orifice in the bull, the urethral proxess (filiform appendage)extending beyond the glands penis ing the ram, the corkscrew spiral in the boar, and the flattened glans penis in the stallion with the small urethral process extending beyond.(Redrawn from Ashdown and Hancock. 1974. Reproduction in Farm Animals.(3rd ed.). ed. Hafez. Leaand Febiger.)


PREPUTIUM
Kata prepuce atau preputeum mempunyai arti sama dengan sarung adalah ivaginato dari kulit yang membungkus secara sempurna pada ujung bebas dari penis. Perkembangan embrionik dari organ ini sama dengan perkembangan dari organ labia minira pada ternak betina. Prepuce dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian prepenile, lipatan luar dan bagian penile, lipatan dalam. Sekitar lubang prepuse ditumbuhi oleh rambut panjang dan kasar. Pada saat penampungan semen dalam program inseminasi buatan, perlu diadakan pencukuran terhadap rambut ini, untuk menjaga agar semen tidak tercemar oleh kotoran yang kemungkinan besar menempel pada rambut tersebut


KESIMPULAN
Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa dalam

Saran
Praktikan menyarankan pada setiap praktikan yang ikut serta dalam pelaksanaan praktikum ini ada baiknya mempersiap diri lebih matang lagi agar pelaksanaan praktikum ini dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan bersama.
REFERENSI
Anonymous.2009.The Male Reproductive system.http:nongue.gsnu.ac.kr/~cspark/
teaching/chap3.html

Nuryadi.2000.Dasar-dasar Reproduksi Ternak.Malang:Universitas Brawijaya


o@ � a i �/� 0�� New Roman","serif"'>            Dari hasil praktikum  yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa susu yang ditambah air adalah susu pada botol B, susu yang ditambah santan adalah susu yang ada pada botol A, susu yang ditambah pati adalah susu pada botol C, susu yang ditambah susu masak adalah susu pada botol D, dan susu yang ditambah formalin adalah susu yang ada botol E. 
Saran praktikan untuk praktikum selanjutnya adalah untuk melaksanakan praktikum yang lebih baik lagi supaya tercipta hasil praktikum yang lebih teliti.


DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 2007. Penuntun Kesehatan Masyarakat Veteriner (susu, daging dan telur). Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh.

Anonimus. (2004). Sapi Perah. www.jakarta.go.id/jakpus/ternak/datsu.htm.

Bastianelli, D. and C.L. Bas. 2002. Evaluating the role of animal feed in food safety: Perspectives for action. Proceeding of the International Workshop on Food Safety Management in Developing Countries. CIRAD-FAO, Montpellier, France. p. 11-13.

Eckles, C.H., Combs and H. Macy. 1998. Milk and product. 4 th. Ed. Mc. Graw Hill Publishing Co. Ltd., New Delhi.

Hadiwiyoto, S., 1996. Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Penerbit Liberty. Yogyakarta

Shiddieqy, 2008. Bakteri Menyebabkan Keracunan Susu. http://netfarm. blogsome.com/bakterimenyebabkan-keracunan-susu.htm.

Ressang, A.A. dan A.M. Nasution. 1998. Pedoman Ilmu Kesehatan Susu. (Milk Hygiene). IPB. Bogor.

Winarno, F.G. 1996. Pangan, Gizi, Tekhnologi dan Konsumen. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta


Tidak ada komentar: