PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Testes sebagai organ kelamin primer
mempunyai dua fungsi yaitu 1) mengahasilkan spermatozoa atau sel-sel kelamin
jantan, dan 2) mensekresikan hormon kelamin jantan, testosteron. Spermatozoa
dihasilkan dalam tubuli seminiferi atas pengaruh FSH (Follicle Stimulating
Hormone), sedangkan testosteron diproduksi oleh sel-sel intertitial dari Leydig
atas pengaruh ICSH (Intertitial Cell Stimulating Hormone) (Toelihere, 1979).
Tujuan
dan Manfaat
Tujuan
dari pelaksanaan praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengenali dan mengetahui
system organ reproduksi jantan,
MATERI DAN METODA
Waktu
dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan di Gedung C laboratorium Fisiologi Ternak, Fakultas Peternakan
Universitas Jambi, pada hari selasa dan dimulai pukul 10.00 WIB s.d selesai
Materi
Alat dan bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah saluran reproduksi jantan ternak kambing, saluran
reproduksi ternak unggas, cutter, dan plastic terpal.
Metode
Cara
kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah dengan mengamati saluran
reproduksi ternak kambing dan unggas sesuai dengan salurannya, yakni yang
dimulai dari testis sampai ke urethra, kemudian dilakukan pengukuran
masing-masing organ dan menuliskan hasilnya dalam bentuk table.
HASIL DAN PEMBAHASAN
ANATOMI
KELAMIN JANTAN RUMINANSIA
Organ reproduksi ternak jantan
tersiri dari testes, scrotum, corda spermaticus, kelenjar tambahan (glandula
accessories), penis, preputium, dan system saluran reproduksi jantan. System
saluran ini terdiri dari vasa, efferentia yang berlokasi di dalam testis,
epididymis, vas deferens, dan urethra external yang bersambung ke penis. Pada
masa ambrio, testis berasal dari corda genitalia primer, sedangkan system saluran
reproduksi berasal dari ductus wolffii. Perhatikan diagram organ reproduksi
jantan sebagaimana pada gambar di bawah ini:
Figure 3-1 Diagram of the
reproductive system of the (a) bull; (b) ram; (c) boar; and (d)
stallion.(Redrawn from Sorenson. 1979. Animal Reproduction: Principles and
Practices. McGraw-Hill.)
TESTIS
Adalah organ reproduksi primer pada
ternak jantan, karena berfungsi menghasilkan gamet jantan (spermatozoa) dan
hormone kelamin jantan (androgens). Testes berlokasi di dekat ginjal turun
melalui canalis inguinalis masuk ke dalam scrotum. Testes terletak dekat dengan
daerah inguinalis dan tekanan intra-abdominal membantu testes melalui canalis
inguinalis masuk scrotum. Hormone yang terlibat dalam pengaturan turunnya
testes adalah gonadotropins dan androgen.
Testis pada sapi mempunyai panjang
berkisar 10-13 cm, lebar berkisar 5-6,5 cm dan beratnya 300-400 gr. Pada semua
ternak, testis ditutupi oleh tunica vaginalis, sebuah jaringan serous yang
merupakan perluasan dari peritoneum. Lapisan ini diperoleh ketika testis turun
masuk ke dalam scrotum dari tempat asalnya dalam ruang abdominal yang melekat
sepanjang garis epididymis. Lapisan luar dari testis adalah tunica albuginea
testis, merupakan membrane jaringan ikat elastis berwarna putih. Pembuluh darah
dalam jumlah besar dijumpai tepat di bawah permukaan lapisan ini. Lapisan
fungsional dari testis, yaitu parenchyma terletak di bawah lapisan tunica
albuginea. Parenchyma ini berwarna kekuningan, terbagi-bagi oleh septa yang
tidak sempurna menjadi segmen-segmen. Parenchyma mempunyai pipa-pipa kecil
didalamnya yang disebut tubulus seminiferous (tunggal), tubuli seminiferi
(jamak). Tubuli seminiferi berasal dari primary sex cord yang berisi sel-sel
benih (germ cells), spermatogonia, dan sel-sel pemberi makan, yaitu sel
sertoli. Sel sertoli berukuran lebih besar dengan jumlah lebih sedikit daripada
spermatogonia. Hormone gonadotropin asala kelenjar pituitary, follicle
stimulating hormone (FSH) memacu sel-sel sertoli menghasilkan androgen binding
protein (ABP) dan inhibin. Panjang tubuli seminiferi dari sepasang testes sapi,
diperkirakan spanjang 5 km, sedangkan diameternya hamper 200. berat tubuli
seminiferi diperkirakan 80-90% dari berat testes. Tubuli seminiferi
bersambungan dengan sebuah tenunan tubulus, yaitu rete testes yang berhubungan
dengan 12-15 saluran kecil, yaitu vasa efferentia yang menyatu pada caput
epididymis.
Hormone testosterone diperlukan
untuk perkembangan tanda-tanda kelamin sekunder dan untuk tingkah laku
perkawinan secara normal. Testosterone juga berfungsi untuk mengontrol
aktivitas kelenjar-kelenjar tambahan (accessory glands), produksi spermatozoa,
dan pemeliharaan system saluran reproduksi jantan. Sedangkan perannya dalam
diri ternak sendiri adalah membantu mempertahankan kondisi optimum pada
spermatogenesis, transportasi spermatozoa dan deposisi spermatozoa ke dalam
saluran reproduksi betina.
VAS
DEFERENS DAN URETHRA
Vas deferens. Merupakan sebuah
saluran dengan satu ujung berawal dari bagian ujung distal dari cauda
epididymis. Kemudian dengan melekat pada peritoneum, membentang sepanjang corda
spermaticus, melalui daerah inguinalis masuk ruang pelvis, dimana vas deferens
bergabung dnegan urethra di suatu tempat dekat dengan lubang saluran kencing
dari vesica urinaria. Bagian vas deferens yang membesar dekar dengan urethra,
di sebut ampulla. Vas deferens mempunyai otot daging licin yang tebal pada
dindingnya dan mempunyai fungsi tunggal yaitu sebagai sarana transportasi
spermatozoa. Spermatozoa dikumpulkan dalam ampulla selama ejakulasi, sebelum
dikeluarkan ke dalam urethra.
KELENJAR
– KELENJAR TAMBAHAN
Kelenjar – kelenjar tambahan
(accessory glands) berada di sepanjang bagian uretra yang terletak di daerah
pelvis, mempunyai saluran –saluran yang mengeluarkan sekresi – sekresinya
kedalam uretra. Kelenjar – kelenjar tambahan ini terdiri dari kelenjar
vasikular, kelenjar, kelenjar prostate dan kelenjar bulbourethral atau kelenjar
cowper. Kelenjar –
kelenjar ini mempunyai sumbangan besar bagi volume cairan semen. Lebih lanjut
diketahui bahwa sekresi kelenjar – kelenjar tambahan ini mengandung sebuah
larutan buffers, zat – zat makanan dan substansi lain yang diperlukan bagi
motilitas dan fertlitas
Kelenjar vesicular. Kelenjar ini di
sebut juga sebagai kelenjar seminal vesicles, merupakan sepasang kelenjar yang
mempunyai lobuler, mudah dikenali karenamirip segerombol anggur, berbonggol –
bonggol. Panjang kelenjar ini sama pada beberapa jenis ternak seperti kuda,
sapid an babi yaitu berkisar 13 – 15 cm, tetapi lebar dan ketebalannya berbeda,
kelenjar vesicular pada sapi mempunyai ketebalan dan lebar hamper separuh dari
yang ada pada babi dan kuda. Domba mempunyai kelenjar vesicular jauh lebih
kecil, mempunyai panjang kira – kira 4 cm. saluran – saluran ekskretori
kelenjar vesicular terletek di dekat bifurcation ampulla dengan uretra. Pada
sapi, kelenjar vesicular memberikan sekresinya lebih dariseparuh volume total
dari semem dan pada jenis – jenis ternak lainnya rupanya juga sama sebagai mana
pada sapi. Sekresi kelenjar vesicular mengandung beberapa campuran organic yang
unik, yakni tidak dijumpai pada substansi – substansilain di mana saja ada
tubuh. Campuran – campuran anorganik ini di antaranya adalah fructose dan
sorbitol, merupakan sumber energi utama bagi spermatozoa sapid a spermatozoa
domba, tetapi pada kuda dan babi konsentrasinya rendah. Sekresi kelenjar
vesikula juga mengandung dua larutan buffer, yaitu phosphate dan carbonate
buffer yang penting sekali dalam mempertahankan pH semen agar tidak berubah,
karena jika terjadi perubahan pH semen, hal ini dapat berakibat jelek bagi
spermatozoa.
Berikut adalah perbandingan dari
kelenjar-kelenjar tambahan beberapa ternak:

Figure 3-6 Accessory glands of the bull, boar, ram, and stallion showing their relationship to the ampulla and urethra. (Redrawn from Ashdown and Hancock. 1974. Reproduction in Farm Animals.(3rd ed). ed. Hafez. Lea and Febiger.)

Figure 3-6 Accessory glands of the bull, boar, ram, and stallion showing their relationship to the ampulla and urethra. (Redrawn from Ashdown and Hancock. 1974. Reproduction in Farm Animals.(3rd ed). ed. Hafez. Lea and Febiger.)
PENIS
Merupakan organ kopulasi pada
ternak jantan, membentang dari titik urethra keluar dari ruang pelvis di bagian
dorsal sampai dengan pada orificium urethra eksternal pada ujung bebas dari
penis. Pada sapi, domba, kambing, dan babi penis mempunyai bagian yang
berbentuk seperti huruf “S” (sigmoid flexure) sehingga penis dapat ditarik dan
berada total dalam tubuh. Keempat jenis ternak tersebut dan kuda mempunyai
musculus retractor penis, yaitu sepasang otot daging licin, jika releks
memberikan kesempatan penis untuk memanjang dan jika kontraksi dapat menarik
penis ke dalam tubuh kembali.
Gambar
perbandingan bentuk glans penis antara sapi, domba, babi dan kuda, ditunjukkan
pada gambar di bawah ini.
Figure 3-7 Comparative diagram
showing the shape of the glans penis of the bull, boar, ram. and stallion. Note
the twisted groove containing the external urethral orifice in the bull, the
urethral proxess (filiform appendage)extending beyond the glands penis ing the
ram, the corkscrew spiral in the boar, and the flattened glans penis in the
stallion with the small urethral process extending beyond.(Redrawn from Ashdown
and Hancock. 1974. Reproduction in Farm Animals.(3rd ed.). ed. Hafez. Leaand Febiger.)
PREPUTIUM
Kata prepuce atau preputeum
mempunyai arti sama dengan sarung adalah ivaginato dari kulit yang membungkus
secara sempurna pada ujung bebas dari penis. Perkembangan embrionik dari organ
ini sama dengan perkembangan dari organ labia minira pada ternak betina.
Prepuce dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian prepenile, lipatan luar
dan bagian penile, lipatan dalam. Sekitar lubang prepuse ditumbuhi oleh rambut
panjang dan kasar. Pada saat penampungan semen dalam program inseminasi buatan,
perlu diadakan pencukuran terhadap rambut ini, untuk menjaga agar semen tidak
tercemar oleh kotoran yang kemungkinan besar menempel pada rambut tersebut
KESIMPULAN
Kesimpulan
Dari
praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa dalam
Saran
Praktikan
menyarankan pada setiap praktikan yang ikut serta dalam pelaksanaan praktikum
ini ada baiknya mempersiap diri lebih matang lagi agar pelaksanaan praktikum
ini dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan bersama.
REFERENSI
Anonymous.2009.The Male
Reproductive system.http:nongue.gsnu.ac.kr/~cspark/
teaching/chap3.html
Nuryadi.2000.Dasar-dasar Reproduksi Ternak.Malang:Universitas Brawijaya
teaching/chap3.html
Nuryadi.2000.Dasar-dasar Reproduksi Ternak.Malang:Universitas Brawijaya
Saran
praktikan untuk praktikum selanjutnya adalah untuk melaksanakan praktikum yang
lebih baik lagi supaya tercipta hasil praktikum yang lebih teliti.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus,
2007. Penuntun Kesehatan Masyarakat
Veteriner (susu, daging dan telur). Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Syiah Kuala. Banda Aceh.
Bastianelli,
D. and C.L. Bas. 2002. Evaluating the role of
animal feed in food safety: Perspectives for action. Proceeding of the
International Workshop on Food Safety Management in Developing Countries.
CIRAD-FAO, Montpellier, France. p. 11-13.
Eckles,
C.H., Combs and H. Macy. 1998. Milk and product. 4
th. Ed. Mc. Graw Hill Publishing Co. Ltd., New Delhi.
Hadiwiyoto, S., 1996.
Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Penerbit Liberty. Yogyakarta
Shiddieqy,
2008. Bakteri Menyebabkan Keracunan Susu.
http://netfarm. blogsome.com/bakterimenyebabkan-keracunan-susu.htm.
Ressang,
A.A. dan A.M. Nasution. 1998. Pedoman Ilmu
Kesehatan Susu. (Milk Hygiene). IPB. Bogor.
Winarno, F.G. 1996. Pangan, Gizi, Tekhnologi dan Konsumen.
PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar