KEBUNTINGAN
Kebuntingan merupakan proses dimana suatu ternak telah memiliki zigot
ataupun embrio yang kemudian berkembang menjadi fetus. Peristiwa
ini terjadi sesudah proses fertilisasi dan penyatuan ke
dua inti dari spermatozoa dan ovum, dan diakhiri dengan
proses kelahiran.
Proses awal dari kebuntingan ini adalah fertilisasi yakni pembuahan
antara ovum dan spermatozoa, yang selanjutnya berlanjut
hingga penyatuan inti sel diantara keduanya. Selama
beberapa hari ovum yang telah dibuahi disebut sebagaiz
igot atau embrio yang hidup bebas
di dalam oviduct (tuba fallopii) atau uterus induk. Pada saat embrio tersebut mencapai uterus, sel tunggal ini akan mengalami
pembelahan sel selama beberapa kali tanpa pertambahan
volume sitoplasma, proses pembelahan sel tanpa
pertumbuhan ini disebutcleavage
(Luqman, 1999).
Pada waktu jumlah sel dalam zona pellucid mencapai 32 buah, embrio
kini disebutmor ula. Cairan mulai terlihat, terkumpul di antara beberapa sel dan
terbentuk suatu rongga bagian dalam yang disebutblastocole, sedang embrio kini disebut
blastocyst. Pada waktu blastocole telah terbentuk, maka tubuh embrio
seakan-akan
terbagi
menjadi dua, karena ada bagian sel yang tumbuh membentuk sel-sel tipis di
bagian permukaan, yang menyelubungi hamper seluruh bagian
blastocole. Bagian yang menyelubungi ini disebuttr ophoblas t, sedang bagian yang diselubungi
disebut
inner cell mass. Dalam pertumbuhan selanjutnya trophoblast akan tumbuh menjadi
plasenta,
sedangkan inner cell mass tumbuh menjadi makhluk baru yang akan lahir
(Luqman, 1999).
Pemeriksaan Kebuntingan
Suatu pemeriksaan kebuntingan secara tepat
dan dini sangat penting bagi program pemulia-biakan ternak. Kesanggupan untuk
menentukan kebuntingan secara tepat dan dini perlu dimiliki oleh setiap dokter
hewan lapangan atau petugas pemeriksa kebuntingan. Palpasi perektal terhadap
uterus, ovarium dan pembuluh darah uterus adalah cara diagnosa kebuntingan yang
paling praktis dan akurat pada sapi. Pada pemeriksaan perektal tangan
dimasukkan kedalam inlet pelvis dan dengan telapak tangan yang membuka kebawah,
tangan digerakkan kesamping, keatas dan ke sisi lain. Apabila tidak ada
struktur yang teraba, uterus berada di lantai pelvis, cervik atau uterus teraba
di tepi pelvis pada sapi tua. Cervik yang keras dan ketat mudah dilokalisir
pada lantai pelvis atau di kranialnya. Korpus, kornu uteri dan ligamentum
interkornualis pada bifurcatio uteri dapat dipalpasi pada sapi yang tidak
bunting atau pada kebuntingan muda. Ovarium dapat teraba dilateral dan agak
cranial dari cerviknya ( Toelihere, 1985).
Berikut ini adalah tanda-tanda kebuntingan pada sapi yang
diidentifikasi secara perektal:
Tabel 1.
Tanda-tanda kebuntingan pada sapi yang di PKB
Bulan
|
Keterangan
|
3
|
Kornu
sebesar bola voli, letaknya sudah sedikit tertarik ke rongga perut, arteri
uterina media jelas teraba dan terasa seperti desiran air mengalir, teraba
kotiledon sebesar kedelai, membran fetus teraba.
|
5
|
Fetus sudah masuk ke rongga abdomen dan sulit
teraba. Servik teraba seperti selang pipih, karena uterus tertarik ke rongga
perut disebabkan karena berat fetus dan volume amnion bertambah volumenya.
Plasentom teraba sebesar uang seratus rupiah, fremitus arteria uterina media
teraba mendesir dengan pembuluh darah yang sebesar sedotan
|
6
|
Posisi
fetus sudah kembali sejajar dengan pelvis, osifikasi fetus sudah teraba
jelas, teraba adanya fremitus arteria uterina media
|
7
|
Fetus
sudah teraba teracak dan mulut, teraba adanya arteria uterina media.
|
9
|
Ujung kaki depan dan moncong fetus sangat dekat
dengan rongga pelvis, pada akhir masa kebuntingan otot-otot sekitar tulang
panggul kelihatan mengendur, vulva sedikit membengkak dan lendir banyak
keluar. Teracak, mulut, ukuran fetus semakin membesar dan fremitus arteria
uterina media semakin jelas.
|
KELAHIRAN
Proses
kelahiran dimulai dengan hipotalamus fetus yang menyebabkan peningkatan kadar Corticotropin Releasing
Hormone (CRH), dimana CRH ini akan menstimulir
pengeluaranadrenocorticotropic
(ACTH) oleh hipofisa fetus dan Glukokortikoid fetus yang
merangsang hipofisa agar corteks adrenal memproduksi kortisol.
Kortisol ini akan merangsang plasenta sehingga enzim 17 α hidroksilase menjadi aktif, setelah itu
terjadi penurunan progresteron dan terjadi peningkatan estrogen
dalam darah. Peningkatan estrogen ini menstimulasi myometrium untuk memproduksi Prostaglandin (PGF2α). Prostaglandin menyebabkan kontraksi
myometrium yang akan meningkatkan tekanan intrauterin dan mendorong
fetus karah serviks dan menyebabkan serviks dilatasi. Pada peristiwa ini induk
akan menghasilkan oksitosin yang akan menyebabkan uterus
akan peka terhadap estrogen sehingga dapat membantu dalam
kontraksi myometrium dan terjadilah partus. Secara singkat,
proses ini di awali dengan adanya kontraksi otot yang terjadi pada dinding
uterus induk kemudian kontraksi ini akan menstimulus hipotalamus
sehingga akan mensekresikan hormon oksitosin melalui
peredaran darah yang berperan dalam keluarnya fetus dari
rahim induk (Purwo, 2009).
Gangguan
dan Penyakit Terkait Proses Kelahiran pada Sapi Potong
Pada usaha
pembibitan sapi potong, tujuan utamanya adalah menghasilkan pedet-pedet
berkualitas sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Untuk meraih hal
tersebut, langkah pertama adalah bagaimana induk-induk sapi yang dipelihara
dapat bunting dan melahirkan pedet yang sehat setiap tahunnya.
Berikut ini merupakan uraian
singkat mengenai gangguan dan penyakit yang umum terjadi, baik menjelang
(Pre-calving), saat (calving) maupun pasca (post-calving) melahirkan.
PeriodePre-calving
1.ProlapsVagina/Rektal
Prolaps dapat didefinisikan sebagai reposisi abnormal dari sebagian/seluruh organ tubuh dari struktur anatominya (Powell, 2008), di mana organ tersebut normalnya secara anatomis berada di dalam rongga tubuh kemudian keluar, menonjol/menggantung. Pada induk sapi yang sedang bunting tua, umum ditemukan kasus prolaps vagina (Gambar 1) dan prolaps rectal.
1.ProlapsVagina/Rektal
Prolaps dapat didefinisikan sebagai reposisi abnormal dari sebagian/seluruh organ tubuh dari struktur anatominya (Powell, 2008), di mana organ tersebut normalnya secara anatomis berada di dalam rongga tubuh kemudian keluar, menonjol/menggantung. Pada induk sapi yang sedang bunting tua, umum ditemukan kasus prolaps vagina (Gambar 1) dan prolaps rectal.
Penyebab kasus ini dikarenakan
adanya perubahan pada jaringan otot di sekitar saluran peranakan bagian luar
yang mengalami relaksasi pada saat induk sapi memasuki kebuntingan trisemester
ketiga (Cuneo ,
2009). Selain itu, meningkatnya tekanan di dalam rongga perut seiring
perkembangan foetus (janin sapi) dapat mendorong bagian dalam vagina/rectum
keluar rongga tubuh. Pada banyak kasus, saluran kantung kemih tertutup oleh
bagian vagina yang mengalami prolaps sehingga sapi tidak dapat kencing. Kasus
ini lebih banyak dijumpai pada induk sapi yang berumur tua dan induk sapi yang
baru pertama kali bunting (Bicknell, 2009). Sapi - sapi yang digembalakan pada
area yang banyak tanaman legume (kacang-kacangan) dan sapi yang mengalami
kegemukan, sapi bunting yang dipelihara dengan kontruksi lantai yang terlalu
miring memiliki resiko yang tinggi terhadap kasus prolaps.
Prinsip dasar penanganan kasus
ini adalah mengembalikan organ yang mengalami prolaps ke posisi normalnya.
Tindakan penjahitan kadang dibutuhkan namun saat parturisi jahitan tersebut
harus dilepas. Untuk tindakan tersebut dapat menghubungi dokter hewan terdekat.
Tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan adalah dengan membuat desain lantai kandang yang tepat/tidak terlalu
miring. Kontrol manajemen pakan sehingga sapi-sapi yang bunting terutama pada
trisemester ke tiga tidak mengalami kegemukan. Dan yang penting adalah jangan
memelihara sapi yang pernah mengalami kejadian prolaps vagina/rektal pada saat
bunting karena ada kecenderungan genetis berperan dalam kejadian kasus prolaps
(Card, 2009).
2.Ketosis/PregnancyToxemia
Penyebab kasus ini biasanya karena sapi-sapi bunting tua (umur kebuntingan 2 bulan terakhir) mengalami kekurangan pakan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sapi bunting tua yang terlalu gemuk atau bunting kembar akan memiliki resiko yang lebih tinggi terkena ketosis.
Penyebab kasus ini biasanya karena sapi-sapi bunting tua (umur kebuntingan 2 bulan terakhir) mengalami kekurangan pakan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sapi bunting tua yang terlalu gemuk atau bunting kembar akan memiliki resiko yang lebih tinggi terkena ketosis.
DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2009.
Bahan Ajar Dasar Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Hasanuddin. Makassar
Anonimb. 2009. http://www.fkh
unair/bahan ajar/ilmu mugidah/alat reproduksi ternak/20.08.09/7.43PM/
Anonimc. 2009. http://www.ilri.org/21.02.09/9.21PM/
Anonimd. 2009. http://www.wordpress.com/proses reproduksi/26.08.09/00.03AM/
Anonime. 2009. http://www.fkh unair/bahan ajar/ilmu
Anonimc. 2009. http://www.ilri.org/21.02.09/9.21PM/
Anonimd. 2009. http://www.wordpress.com/proses reproduksi/26.08.09/00.03AM/
Anonime. 2009. http://www.fkh unair/bahan ajar/ilmu
mugidah/embriogenesis/20.08.09/7.43PM/
Anonimf. 2009. http://www.fkh
unair/bahan ajar/ilmu
mugidah/implantasi/20.08.09/7.41PM/
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University
Press.
Imron, A. 2008.
Biologi Reproduksi. Universitas Brawijaya. Malang .
Luqman, M., 1999.
Fisiologi Reproduksi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga. Surabaya .
Poernomo, B. 1999.
Diktat Ilmu Mugidah. Universitas Airlangga. Surabaya .
Purwo, H. 2009.
Peran Fetus dan Induk dalam Inisiasi Kelahiran. Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga. Surabaya .
Toelihere, M. 1985.
Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa. Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar