Translate To

Minggu, 12 Februari 2012

Pregnancy And Partus (Kebuntingan dan Kelahiran)


KEBUNTINGAN
Kebuntingan merupakan proses dimana suatu ternak telah memiliki zigot ataupun embrio yang kemudian berkembang menjadi fetus. Peristiwa ini terjadi sesudah proses fertilisasi dan penyatuan ke dua inti dari spermatozoa dan ovum, dan diakhiri dengan proses kelahiran.
Proses awal dari kebuntingan ini adalah fertilisasi yakni pembuahan antara ovum dan spermatozoa, yang selanjutnya berlanjut hingga penyatuan inti sel diantara keduanya. Selama beberapa hari ovum yang telah dibuahi disebut sebagaiz igot atau embrio yang hidup bebas di dalam oviduct (tuba fallopii) atau uterus induk. Pada saat embrio tersebut mencapai uterus, sel tunggal ini akan mengalami pembelahan sel selama beberapa kali tanpa pertambahan volume sitoplasma, proses pembelahan sel tanpa pertumbuhan ini disebutcleavage (Luqman, 1999).
Pada waktu jumlah sel dalam zona pellucid mencapai 32 buah, embrio kini disebutmor ula. Cairan mulai terlihat, terkumpul di antara beberapa sel dan terbentuk suatu rongga bagian dalam yang disebutblastocole, sedang embrio kini disebut
blastocyst. Pada waktu blastocole telah terbentuk, maka tubuh embrio seakan-akan
terbagi menjadi dua, karena ada bagian sel yang tumbuh membentuk sel-sel tipis di bagian permukaan, yang menyelubungi hamper seluruh bagian blastocole. Bagian yang menyelubungi ini disebuttr ophoblas t, sedang bagian yang diselubungi disebut
inner cell mass. Dalam pertumbuhan selanjutnya trophoblast akan tumbuh menjadi
plasenta, sedangkan inner cell mass tumbuh menjadi makhluk baru yang akan lahir
(Luqman, 1999).

Pemeriksaan Kebuntingan

Suatu pemeriksaan kebuntingan secara tepat dan dini sangat penting bagi program pemulia-biakan ternak. Kesanggupan untuk menentukan kebuntingan secara tepat dan dini perlu dimiliki oleh setiap dokter hewan lapangan atau petugas pemeriksa kebuntingan. Palpasi perektal terhadap uterus, ovarium dan pembuluh darah uterus adalah cara diagnosa kebuntingan yang paling praktis dan akurat pada sapi. Pada pemeriksaan perektal tangan dimasukkan kedalam inlet pelvis dan dengan telapak tangan yang membuka kebawah, tangan digerakkan kesamping, keatas dan ke sisi lain. Apabila tidak ada struktur yang teraba, uterus berada di lantai pelvis, cervik atau uterus teraba di tepi pelvis pada sapi tua. Cervik yang keras dan ketat mudah dilokalisir pada lantai pelvis atau di kranialnya. Korpus, kornu uteri dan ligamentum interkornualis pada bifurcatio uteri dapat dipalpasi pada sapi yang tidak bunting atau pada kebuntingan muda. Ovarium dapat teraba dilateral dan agak cranial dari cerviknya ( Toelihere, 1985).
Berikut ini adalah tanda-tanda kebuntingan pada sapi yang diidentifikasi secara perektal:
Tabel 1. Tanda-tanda kebuntingan pada sapi yang di PKB
Bulan
Keterangan
3
Kornu sebesar bola voli, letaknya sudah sedikit tertarik ke rongga perut, arteri uterina media jelas teraba dan terasa seperti desiran air mengalir, teraba kotiledon sebesar kedelai, membran fetus teraba.
5
Fetus sudah masuk ke rongga abdomen dan sulit teraba. Servik teraba seperti selang pipih, karena uterus tertarik ke rongga perut disebabkan karena berat fetus dan volume amnion bertambah volumenya. Plasentom teraba sebesar uang seratus rupiah, fremitus arteria uterina media teraba mendesir dengan pembuluh darah yang sebesar sedotan
6
Posisi fetus sudah kembali sejajar dengan pelvis, osifikasi fetus sudah teraba jelas, teraba adanya fremitus arteria uterina media
7
Fetus sudah teraba teracak dan mulut, teraba adanya arteria uterina media.
9
Ujung kaki depan dan moncong fetus sangat dekat dengan rongga pelvis, pada akhir masa kebuntingan otot-otot sekitar tulang panggul kelihatan mengendur, vulva sedikit membengkak dan lendir banyak keluar. Teracak, mulut, ukuran fetus semakin membesar dan fremitus arteria uterina media semakin jelas.


KELAHIRAN

Proses kelahiran dimulai dengan hipotalamus fetus yang menyebabkan peningkatan kadar Corticotropin Releasing Hormone (CRH), dimana CRH ini akan menstimulir pengeluaranadrenocorticotropic (ACTH) oleh hipofisa fetus dan Glukokortikoid fetus yang merangsang hipofisa agar corteks adrenal memproduksi kortisol. Kortisol ini akan merangsang plasenta sehingga enzim 17 α hidroksilase menjadi aktif, setelah itu terjadi penurunan progresteron dan terjadi peningkatan estrogen dalam darah. Peningkatan estrogen ini menstimulasi myometrium untuk memproduksi Prostaglandin (PGF2α). Prostaglandin menyebabkan kontraksi myometrium yang akan meningkatkan tekanan intrauterin dan mendorong fetus karah serviks dan menyebabkan serviks dilatasi. Pada peristiwa ini induk akan menghasilkan oksitosin yang akan menyebabkan uterus akan peka terhadap estrogen sehingga dapat membantu dalam kontraksi myometrium dan terjadilah partus. Secara singkat, proses ini di awali dengan adanya kontraksi otot yang terjadi pada dinding uterus induk kemudian kontraksi ini akan menstimulus hipotalamus sehingga akan mensekresikan hormon oksitosin melalui peredaran darah yang berperan dalam keluarnya fetus dari rahim induk (Purwo, 2009).

 

Gangguan dan Penyakit Terkait Proses Kelahiran pada Sapi Potong

Pada usaha pembibitan sapi potong, tujuan utamanya adalah menghasilkan pedet-pedet berkualitas sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Untuk meraih hal tersebut, langkah pertama adalah bagaimana induk-induk sapi yang dipelihara dapat bunting dan melahirkan pedet yang sehat setiap tahunnya. 
Ada banyak gangguan dan penyakit yang dapat menjangkiti induk sapi pada akhir masa kebuntingan hingga proses melahirkan. Banyak kasus yang terjadi saat melahirkan (parturisi) bersifat mendadak dan membutuhkan tindakan yang cepat dan tepat pula, sehingga tidak menimbulkan efek yang permanen yang akan mempengaruhi status reproduksi dan fertilitas pada periode berikutnya.
Berikut ini merupakan uraian singkat mengenai gangguan dan penyakit yang umum terjadi, baik menjelang (Pre-calving), saat (calving) maupun pasca (post-calving) melahirkan.
PeriodePre-calving
1.ProlapsVagina/Rektal
Prolaps dapat didefinisikan sebagai reposisi abnormal dari sebagian/seluruh organ tubuh dari struktur anatominya (Powell, 2008), di mana organ tersebut normalnya secara anatomis berada di dalam rongga tubuh kemudian keluar, menonjol/menggantung. Pada induk sapi yang sedang bunting tua, umum ditemukan kasus prolaps vagina (Gambar 1) dan prolaps rectal.
Penyebab kasus ini dikarenakan adanya perubahan pada jaringan otot di sekitar saluran peranakan bagian luar yang mengalami relaksasi pada saat induk sapi memasuki kebuntingan trisemester ketiga (Cuneo, 2009). Selain itu, meningkatnya tekanan di dalam rongga perut seiring perkembangan foetus (janin sapi) dapat mendorong bagian dalam vagina/rectum keluar rongga tubuh. Pada banyak kasus, saluran kantung kemih tertutup oleh bagian vagina yang mengalami prolaps sehingga sapi tidak dapat kencing. Kasus ini lebih banyak dijumpai pada induk sapi yang berumur tua dan induk sapi yang baru pertama kali bunting (Bicknell, 2009). Sapi - sapi yang digembalakan pada area yang banyak tanaman legume (kacang-kacangan) dan sapi yang mengalami kegemukan, sapi bunting yang dipelihara dengan kontruksi lantai yang terlalu miring memiliki resiko yang tinggi terhadap kasus prolaps.
Prinsip dasar penanganan kasus ini adalah mengembalikan organ yang mengalami prolaps ke posisi normalnya. Tindakan penjahitan kadang dibutuhkan namun saat parturisi jahitan tersebut harus dilepas. Untuk tindakan tersebut dapat menghubungi dokter hewan terdekat.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat desain lantai kandang yang tepat/tidak terlalu miring. Kontrol manajemen pakan sehingga sapi-sapi yang bunting terutama pada trisemester ke tiga tidak mengalami kegemukan. Dan yang penting adalah jangan memelihara sapi yang pernah mengalami kejadian prolaps vagina/rektal pada saat bunting karena ada kecenderungan genetis berperan dalam kejadian kasus prolaps (Card, 2009).


2.Ketosis/PregnancyToxemia
Penyebab kasus ini biasanya karena sapi-sapi bunting tua (umur kebuntingan 2 bulan terakhir) mengalami kekurangan pakan baik dalam kualitas maupun kuantitas. Sapi bunting tua yang terlalu gemuk atau bunting kembar akan memiliki resiko yang lebih tinggi terkena ketosis.



















DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2009. Bahan Ajar Dasar Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Hasanuddin. Makassar
Anonimb. 2009. http://www.fkh unair/bahan ajar/ilmu mugidah/alat reproduksi ternak/20.08.09/7.43PM/
Anonimc. 2009. http://www.ilri.org/21.02.09/9.21PM/
Anonimd. 2009. http://www.wordpress.com/proses reproduksi/26.08.09/00.03AM/
Anonime. 2009. http://www.fkh unair/bahan ajar/ilmu
mugidah/embriogenesis/20.08.09/7.43PM/
Anonimf. 2009. http://www.fkh unair/bahan ajar/ilmu
mugidah/implantasi/20.08.09/7.41PM/
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press.
Surabaya.
Imron, A. 2008. Biologi Reproduksi. Universitas Brawijaya. Malang.
Luqman, M., 1999. Fisiologi Reproduksi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga. Surabaya.
Poernomo, B. 1999. Diktat Ilmu Mugidah. Universitas Airlangga. Surabaya.
Purwo, H. 2009. Peran Fetus dan Induk dalam Inisiasi Kelahiran. Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.
Toelihere, M. 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa. Bandung


Tidak ada komentar: